ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luts. Keduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada keduanya. Maka keduanya tidak dapat menolong keduanya sedikit pun dari Allah, dan dikatakan, “Masuklah kalian berdua ke api bersama orang-orang yang masuk.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍdharaba llaahu matsalan li-lladziina kafaruu imra'ata nuuhin wa-mra'ata luuthinAllah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luts
- كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَاkaanataa tahta 'abdayni min 'ibaadinaa shaalihayni fa-khaanataahumaakeduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada keduanya
- فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَfa-lam yughniyaa 'anhumaa mina llaahi syay'an wa-qiila dkhulaa n-naara ma'a d-daakhiliinamaka keduanya tidak dapat menolong keduanya sedikit pun dari Allah, dan dikatakan, 'masuklah kalian berdua ke api bersama orang-orang yang masuk'
Terjemahan per kata (27 kata)
- ضَرَبَdharabamembuat
- اللَّهُllaahuAllah
- مَثَلًاmatsalanperumpamaan
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- امْرَأَتَimra'ataistri
- نُوحٍnuuhinNuh
- وَامْرَأَتَwa-mra'atadan istri
- لُوطٍluuthinLut
- كَانَتَاkaanataakeduanya adalah
- تَحْتَtahtadi bawah
- عَبْدَيْنِ'abdaynidua hamba
- مِنْmindari
- عِبَادِنَا'ibaadinaahamba-hamba Kami
- صَالِحَيْنِshaalihaynidua orang saleh
- فَخَانَتَاهُمَاfa-khaanataahumaamaka keduanya berkhianat kepada keduanya
- فَلَمْfa-lammaka tidak
- يُغْنِيَاyughniyaakeduanya menolong
- عَنْهُمَا'anhumaadari keduanya
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
- وَقِيلَwa-qiiladan dikatakan
- ادْخُلَاdkhulaamasuklah kalian berdua
- النَّارَn-naaraapi
- مَعَma'abersama
- الدَّاخِلِينَd-daakhiliinaorang-orang yang masuk
Inti bacaan
Peringatan bahwa kedekatan tidak menjamin keselamatan: perumpamaan istri Nuh dan istri Lut yang 'berada di bawah tanggung jawab dua orang hamba yang saleh. lalu keduanya berkhianat. tidak dapat mencukupkan keduanya sedikit pun dari (siksaan) Allah'. Konkretnya: kedekatan dengan orang saleh (bahkan sebagai pasangan hidup nabi) tidak secara otomatis menjamin keselamatan spiritual jika pilihan pribadi tetap mengkhianati kebenaran, akuntabilitas tetap personal terlepas dari afiliasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(tanggung jawab)', '(suami-suami)', '(kedua suami itu)', '(siksaan)', '(kepada kedua istri itu)', dan '(neraka)' pada akhir ayat seluruhnya dihapus. Catatan struktural: bentuk dual berlapis Arab (istri-istri dan suami-suami masing-masing dual) menciptakan ambiguitas rujukan kata ganti 'keduanya' berulang dalam terjemahan Indonesia yang tidak membedakan dual, dipertahankan apa adanya sesuai disiplin larangan tambahan, bukan cacat penerjemahan. 'Nuuhin'/'luutin' nama diri eksplisit dipertahankan sebagai 'Nuh'/'Luts'.
Rangkaian (ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا, dharaballaahu matsalan) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 39:29, 66:10, dan 66:11. Dua di antaranya berada di surah ini dan berdampingan. Rangkaian (امْرَأَتَ نُوحٍ, imra-ata nuuh) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 66:10.
Kata (فَخَانَتَاهُمَا, fa-khaanataahumaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 66:10. Rangkaian (عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا, 'abdaini min 'ibaadinaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 66:10. Jadi ayat ini memuat tiga bahan sekali pakai sekaligus, dan ketiganya menanggung bagian terpentingnya.
Dua orang yang dijadikan contoh disebut dengan kedudukannya di dalam rumah, bukan dengan namanya sendiri. Yang dinamai justru suaminya. Susunan tersebut membuat yang dibicarakan hubungan, bukan perorangan. Terjemahan menahan cara penyebutan itu dan tidak menambahkan nama yang tidak ada di dalam ayatnya.
Dua orang yang dinamai disebut dengan sebutan 'dua hamba dari hamba-hamba Kami'. Sebutan itu tidak menyebut kedudukan kenabian dan tidak menyebut mukjizat. Yang disebut kedudukan penghambaan. Jadi ayat ini menyamakan mereka dengan hamba mana pun pada bagian yang justru sedang dipersoalkan, yaitu bahwa kedekatan tidak bisa dipinjamkan.
Bentuk kata kerja pengkhianatannya menunjuk dua pelaku perempuan sekaligus. Bahasa Arab punya bentuk khusus untuk dua, dan bentuk itu dipakai di sini, sama seperti di 66:4. Jadi surah ini dua kali memakai bentuk untuk dua orang, sekali untuk yang disapa dan sekali untuk yang dijadikan contoh. Terjemahan memakai 'keduanya' untuk menahannya.
Penutupnya menyatakan bahwa dua orang itu tidak dapat menolong sedikit pun dari Allah. Jadi yang ditutup bukan kemungkinan bahwa suami mereka membela, melainkan kemungkinan bahwa kedekatan itu sendiri menolong. Susunan tersebut menjawab pertanyaan yang tidak diajukan siapa pun, dan menjawabnya lebih dahulu menutup pintu sebelum ada yang mencoba membukanya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa bentuk pengkhianatannya, tidak disebut kapan, dan tidak disebut bagaimana akhirnya di dunia. Yang disebut cuma kedudukan mereka, perbuatannya, dan akibatnya. Menahan bentuk perbuatannya menjaga perumpamaan ini tetap berupa keterangan tentang batas kedekatan, bukan cerita tentang dua rumah tangga.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan perumpamaan istri Nuh dan istri Luts sebagai peringatan bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak menyelamatkan tanpa iman pribadi.
Ayat ini menyodorkan perumpamaan yang bahannya diambil dari rumah yang paling dekat dengan wahyu.
Rangkaian (ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا, dharaballaahu matsalan) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 39:29, 66:10, dan 66:11, dan dua di antaranya berdampingan di surah ini. Kata (فَخَانَتَاهُمَا, fa-khaanataahumaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 66:10, dan rangkaian (عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا, 'abdaini min 'ibaadinaa) juga cuma di 66:10.
Dua orang yang dijadikan contoh disebut dengan kedudukannya di dalam rumah, bukan dengan namanya sendiri, sedangkan yang dinamai justru suaminya. Dua yang dinamai itu pun disebut dengan sebutan penghambaan, bukan dengan kedudukan kenabian.
Bentuk kata kerja pengkhianatannya menunjuk dua pelaku sekaligus, sama seperti bentuk yang dipakai di 66:4. Penutupnya menyatakan bahwa kedekatan itu sendiri tidak menolong. Tidak disebut apa bentuk pengkhianatannya dan kapan.
Tiga bahan sekali pakai berkumpul di ayat ini, yaitu sebutan istri Nuh, kata kerja pengkhianatannya, dan sebutan dua hamba. Ketiganya menanggung bagian terpentingnya, yaitu siapa yang dibicarakan, apa yang dikerjakan, dan dengan kedudukan apa mereka disebut.
Renungan dan Hikmah
- Untuk menggambarkan orang yang kufur, Allah tidak mengambil contoh dari musuh para nabi, melainkan dari dalam rumah mereka sendiri. Perumpamaan yang dipilih sengaja yang paling tidak nyaman. Kedekatan yang paling dekat pun disebut tidak menular, dan itu tak bisa dibantah dengan mengatakan contohnya terlalu jauh. Dua orang yang dijadikan contoh disebut dengan kedudukannya di dalam rumah, bukan dengan namanya sendiri, dan yang dinamai justru suaminya. Susunan tersebut membuat yang dibicarakan hubungan, bukan perorangan. Terjemahan menahan cara penyebutan itu dan tidak menambahkan nama yang tidak ada di dalam ayatnya, sebab penambahan akan memindahkan sorotannya ke orangnya. Penambahan nama akan memindahkan sorotannya dari hubungan ke orangnya.
- Kedua suami itu disebut 'dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami'. Bukan sebagai nabi, melainkan sebagai hamba, sama seperti yang lain. Di rumah tangga yang sedang dinilai ini, tak seorang pun berdiri di kedudukan yang membuatnya bisa meminjamkan keselamatan kepada orang lain. Dua orang yang dinamai disebut dengan sebutan 'dua hamba dari hamba-hamba Kami'. Sebutan itu tidak menyebut kedudukan kenabian dan tidak menyebut mukjizat. Yang disebut kedudukan penghambaan. Jadi ayat ini menyamakan mereka dengan hamba mana pun pada bagian yang justru sedang dipersoalkan, yaitu bahwa kedekatan tidak bisa dipinjamkan kepada siapa pun. Kedekatan tidak bisa dipinjamkan, bahkan dari rumah yang paling dekat.
- Pengkhianatannya disebut terhadap kedua suami itu, tetapi yang tidak bisa ditolong adalah 'sedikit pun dari Allah'. Perbuatan yang dilakukan kepada seorang manusia diperhitungkan di tempat lain. Yang bisa memaafkan di dunia bukan yang memutuskan di sana, dan kedua hal itu tidak pernah bisa saling menggantikan. Penutupnya menyatakan bahwa dua orang itu tidak dapat menolong sedikit pun dari Allah. Jadi yang ditutup bukan kemungkinan bahwa suami mereka membela, melainkan kemungkinan bahwa kedekatan itu sendiri menolong. Susunan tersebut menjawab pertanyaan yang tidak diajukan siapa pun, dan menjawabnya lebih dahulu menutup pintu sebelum ada yang mencoba membukanya. Menjawab lebih dahulu menutup pintu sebelum ada yang mencoba membukanya.
- Rangkaian pembuka ayat ini muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 39:29, 66:10, dan 66:11. Dua di antaranya berada di surah ini dan berdampingan. Jadi Allah menyodorkan dua perumpamaan berturut-turut di ujung surah ini, dan pembaca yang mengenali pembukanya sudah tahu bahwa yang menyusul akan dipasangkan dengan yang sebelumnya. Pembuka yang dikenali membuat pembaca menduga pasangannya akan menyusul.
- Bentuk kata kerja pengkhianatannya menunjuk dua pelaku perempuan sekaligus. Bahasa Arab punya bentuk khusus untuk dua, dan Allah memakainya di sini, sama seperti di 66:4. Jadi surah ini dua kali memakai bentuk untuk dua orang, sekali untuk yang disapa dan sekali untuk yang dijadikan contoh, dan dua tempat itu saling menerangkan tanpa satu penunjuk pun. Dua pemakaian bentuk untuk dua orang itu saling menerangkan tanpa penunjuk.
- Apa bentuk pengkhianatannya? Kapan itu berlangsung? Bagaimana akhirnya di dunia? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma kedudukan mereka, perbuatannya, dan akibatnya. Allah menahan bentuk perbuatannya, dan penahanan itu menjaga perumpamaan ini tetap berupa keterangan tentang batas kedekatan, bukan cerita tentang dua rumah tangga yang bisa dibicarakan orang. Cerita tentang dua rumah tangga akan berhenti di rumah itu saja.