بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Berkahlah Yang di tangan-Nya kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُtabaaraka lladzii bi-yadihi l-mulkuBerkahlah Yang di tangan-Nya kekuasaan
  2. وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌwa-huwa 'alaa kulli syay'in qadiirundan Dia berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. تَبَارَكَtabaarakaMahasuci
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. بِيَدِهِbi-yadihidi tangan-Nya
  4. الْمُلْكُl-mulkukerajaan
  5. وَهُوَwa-huwadan Dia
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. كُلِّkullisegala
  8. شَيْءٍsyay'insesuatu
  9. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Pembukaan Al-Mulk dengan penegasan kedaulatan: 'Mahaberkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu', pernyataan otoritas yang membingkai seluruh tema surah tentang penciptaan sempurna dan kekuasaan tak terbatas.

Penjelasan pilihan kata

Kata (تَبَارَكَ, tabaaraka) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:54, 23:14, 25:1, 25:10, 25:61, 40:64, 43:85, 55:78, dan 67:1. Dari sembilan tempat itu, cuma dua yang memakainya sebagai kata pertama sebuah surah, yaitu 25:1 dan 67:1. Jadi kata ini lebih sering muncul di tengah pembicaraan, dan pemakaiannya sebagai pembuka surah jarang.

Rangkaian (بِيَدِهِ الْمُلْكُ, bi-yadihil-mulk) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:1. Di 43:85 gagasan yang mirip disusun dengan cara lain, yaitu dengan menyebut bahwa milik-Nya kerajaan langit dan bumi, dan ayat itu pun dibuka kata yang sama dengan ayat ini. Dua tempat memakai pembuka yang sama lalu melanjutkannya dengan susunan yang berbeda.

Bentuk kata kerja pembukanya tidak punya bentuk pelaku dan tidak dipakai untuk siapa pun selain Allah di seluruh Al-Qur'an. Terjemahan memakai 'Berkahlah' dan menahan bentuknya sebagai kata kerja, bukan mengubahnya menjadi kata sifat. Memakai 'Mahasuci' akan memindahkannya ke akar yang berbeda, dan memakai 'Terpuji' akan menghilangkan gagasan bertambah dan melimpah yang ada di dalam akarnya.

Yang disebut bukan bahwa Dia memiliki, melainkan bahwa kekuasaan itu berada di tangan-Nya. Susunan tersebut menaruh benda yang dikuasai di tempat yang bisa digenggam. Terjemahan menahannya dengan 'di tangan-Nya kekuasaan' dan tidak meratakannya menjadi 'Dia berkuasa', sebab perataan itu akan membuang gambaran yang justru dipilih ayatnya.

Susunan kalimatnya mendahulukan keterangan tempat, yaitu 'di tangan-Nya', sebelum menyebut apa yang ada di sana. Dalam bahasa Arab pendahuluan seperti itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa kekuasaan ada pada-Nya, melainkan bahwa cuma di sana tempatnya. Bahasa Indonesia tidak punya alat sependek itu untuk membatasi, dan terjemahan mengikuti urutan aslinya supaya penekanannya tetap terasa.

Paruh keduanya menutup dengan sifat yang menyebut kesanggupan atas segala hal. Jadi ayat pertama surah ini memuat dua keterangan sekaligus, yaitu di mana kekuasaan berada dan seberapa jauh jangkauannya. Ayat-ayat berikutnya mengisi dua keterangan itu dengan contoh, mulai dari mencipta mati dan hidup sampai menghias langit.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kekuasaan atas apa, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut kepada siapa ayat ini ditujukan. Yang disebut cuma letaknya dan luasnya. Membuka surah dengan keterangan tanpa sasaran membuat seluruh isi surah yang menyusul terbaca sebagai penjabaran satu kalimat pembuka ini.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh kerajaan dan ciptaan.

Ayat pembuka surah ini menyebutkan di mana kekuasaan berada dan seberapa jauh jangkauannya, tanpa menyebut sasarannya.

Kata (تَبَارَكَ, tabaaraka) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:54, 23:14, 25:1, 25:10, 25:61, 40:64, 43:85, 55:78, dan 67:1. Dari sembilan tempat itu cuma dua yang memakainya sebagai kata pertama sebuah surah, yaitu 25:1 dan 67:1.

Rangkaian (بِيَدِهِ الْمُلْكُ, bi-yadihil-mulk) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:1. Di 43:85 gagasan yang mirip disusun dengan cara lain, dan ayat itu pun dibuka kata yang sama.

Bentuk kata kerja pembukanya tidak dipakai untuk siapa pun selain Allah, dan terjemahan memakai 'Berkahlah' untuk menahan bentuknya sebagai kata kerja. Yang disebut bukan bahwa Dia memiliki, melainkan bahwa kekuasaan itu berada di tangan-Nya, dan susunannya mendahulukan keterangan tempat sehingga menyatakan pembatasan. Tidak disebut kekuasaan atas apa, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut kepada siapa ayat ini ditujukan.

Paruh keduanya menutup dengan sifat yang menyebut kesanggupan atas segala hal, sehingga ayat pertama surah ini memuat dua keterangan sekaligus. Ayat-ayat berikutnya mengisi dua keterangan itu dengan contoh, mulai dari mencipta mati dan hidup sampai menghias langit.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka surah dengan menyebut siapa yang memegang. Di tangan-Nya kekuasaan. Bukan di tangan siapa pun. Yang disebut bukan bahwa Dia memiliki, melainkan bahwa kekuasaan itu berada di tangan-Nya. Susunan tersebut menaruh benda yang dikuasai di tempat yang bisa digenggam. Terjemahan menahannya dan tidak meratakannya menjadi pernyataan bahwa Dia berkuasa, sebab perataan itu membuang gambaran yang justru dipilih ayatnya. Gambaran genggaman menerangkan sesuatu yang tidak diterangkan kata 'memiliki'. Gambaran yang dipilih selalu membawa keterangan yang tidak dibawa kata umum.
  • Frasa di tangan-Nya dipakai, bukan milik-Nya. Bahasanya bahasa genggaman. Yang dipegang, bukan yang diwarisi. Susunan kalimatnya mendahulukan keterangan tempat sebelum menyebut apa yang ada di sana, dan dalam bahasa Arab pendahuluan seperti itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa kekuasaan ada pada-Nya, melainkan bahwa cuma di sana tempatnya. Bahasa Indonesia tidak punya alat sependek itu, dan terjemahan mengikuti urutan aslinya supaya penekanannya tetap terasa. Urutan kata dalam bahasa Arab menanggung beban yang di bahasa lain butuh kalimat tambahan.
  • Kalimat ini membingkai isi surah sesudahnya. Allah menaruhnya di depan. Kekuasaan dulu, buktinya kemudian. Ayat pertama ini memuat dua keterangan sekaligus, yaitu di mana kekuasaan berada dan seberapa jauh jangkauannya. Ayat-ayat berikutnya mengisi dua keterangan itu dengan contoh, mulai dari mencipta mati dan hidup di 67:2 sampai menghias langit di 67:5. Jadi pembukanya bukan salam melainkan kerangka, dan seluruh surah menyusul sebagai penjabarannya. Pembuka yang berupa kerangka menuntut pembacanya membaca sampai habis.
  • Kata pembuka ayat ini muncul sembilan kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 7:54, 23:14, dan 55:78, tetapi cuma dua kali dipakai sebagai kata pertama sebuah surah, yaitu di 25:1 dan 67:1. Di tujuh tempat lainnya ia berada di tengah pembicaraan. Allah memakainya di sini untuk membuka, dan pembuka yang jarang menandai bahwa yang menyusul dimaksudkan dibaca sebagai satu bangunan, bukan sebagai lanjutan pembicaraan sebelumnya. Yang membuka dengan cara tak biasa sedang menandai bahwa isinya juga tidak biasa.
  • Kata pembuka ini juga dipakai di 43:85, dan di sana ia disusul pernyataan bahwa milik-Nya kerajaan langit dan bumi. Dua tempat memakai pembuka yang sama lalu melanjutkannya dengan susunan yang berbeda: yang satu menyebut kepemilikan, dan yang satu lagi menyebut genggaman. Allah memakai kata yang sama untuk membuka dua kalimat yang tidak sama, dan perbedaan lanjutannya yang menentukan isinya. Kata yang sama bisa membuka dua kalimat yang isinya berjauhan.
  • Kekuasaan atas apa? Sejak kapan? Kepada siapa ayat ini ditujukan? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma letaknya dan luasnya. Allah membuka surah ini dengan keterangan tanpa sasaran, sehingga seluruh isi yang menyusul terbaca sebagai penjabaran satu kalimat pembuka. Pembaca yang mencari sasaran di ayat pertama akan menemukannya di ayat kedua, dan sasaran itu ternyata dirinya sendiri. Sasaran yang baru muncul di ayat kedua membuat pembaca terlanjur masuk sebelum tahu.