الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Sang Digdaya lagi Sang Pengampun.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًاalladzii khalaqa l-mawta wa-l-hayaata li-yabluwakum ayyukum ahsanu 'amalanyaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya
- وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُwa-huwa l-'aziizu l-ghafuurudan Dia Sang Digdaya lagi Sang Pengampun
Terjemahan per kata (11 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الْمَوْتَl-mawtakematian
- وَالْحَيَاةَwa-l-hayaatadan kehidupan
- لِيَبْلُوَكُمْli-yabluwakumagar Dia menguji kalian
- أَيُّكُمْayyukumsiapa di antara kalian
- أَحْسَنُahsanulebih baik
- عَمَلًا'amalanamal
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
Inti bacaan
Tujuan eksistensial kematian dan kehidupan: 'yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya', kerangka makna yang menjadikan seluruh rentang hidup-mati sebagai ujian bermakna, bukan siklus acak tanpa tujuan, dorongan untuk memandang setiap fase kehidupan sebagai kesempatan menunjukkan kualitas amal.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ, al-mawta wal-hayaata) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:2. Kata (لِيَبْلُوَكُمْ, li-yabluwakum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:48, 6:165, 11:7, dan 67:2. Rangkaian (أَحْسَنُ عَمَلًا, ahsanu 'amalan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:7, 18:7, dan 67:2.
Dua rangkaian terakhir itu bertemu di dua tempat, yaitu di 11:7 dan 67:2. Di 11:7 yang disebut sebagai sebab ujiannya penciptaan langit dan bumi dalam enam masa, dan di 18:7 yang disebut perhiasan yang ada di atas bumi. Di ayat ini yang disebut mati dan hidup. Jadi tiga tempat memakai ukuran yang sama, yaitu siapa yang terbaik amalnya, tetapi menyandarkannya pada tiga hal yang berbeda.
Mati disebut lebih dahulu daripada hidup. Susunan itu berlawanan dengan urutan yang dialami manusia. Terjemahan menahannya dan tidak membalik urutannya, sebab pembalikan akan menghilangkan yang justru dikerjakan ayatnya. Yang didahulukan biasanya yang lebih ditekankan, dan di ayat ini yang ditekankan justru bagian yang tidak bisa dipersiapkan siapa pun.
Kedua-duanya disebut sebagai yang diciptakan. Jadi yang berakhir pun sesuatu yang dibuat, bukan sekadar berhentinya sesuatu yang lain. Susunan tersebut menaruh keduanya pada kedudukan yang sama di hadapan yang menciptakan. Terjemahan memakai 'menciptakan kematian dan kehidupan' dan tidak mengubah salah satunya menjadi keterangan bagi yang lain.
Yang diuji disebut dengan kata untuk mutu, bukan untuk jumlah. Ayatnya tidak berkata siapa yang paling banyak amalnya. Perbedaan itu menentukan, sebab yang dihitung banyaknya bisa dikejar dengan menambah, sedangkan yang dinilai mutunya menuntut sesuatu yang lain sama sekali. Terjemahan memakai 'lebih baik amalnya' dan menahan ukuran itu apa adanya.
Rangkaian (الْعَزِيزُ الْغَفُورُ, al-'aziizul-ghafuur) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:2. Bandingkan dengan rangkaian (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizul-hakiim), yang muncul 29 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:129, 2:209, dan 2:220. Jadi nama pertama itu punya pasangan yang lazim, dan di ayat ini ia justru dipasangkan dengan nama yang lain. Yang menutup ayat tentang ujian bukan nama yang menyebut ketelitian, melainkan nama yang menyebut ampunan.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut ujiannya berupa apa, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apa hadiahnya. Yang disebut cuma ukurannya dan siapa yang menilai. Menahan bentuk ujiannya membuat seluruh isi hidup masuk ke dalamnya, sebab yang tidak dibatasi rupanya tidak bisa dipilah menjadi bagian yang diuji dan bagian yang tidak.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan penciptaan hidup dan mati sebagai ujian bagi amal terbaik manusia.
Ayat ini menyebutkan alasan mengapa mati dan hidup diadakan, dan alasannya berupa sebuah ujian dengan satu ukuran.
Rangkaian (الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ, al-mawta wal-hayaata) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:2. Kata (لِيَبْلُوَكُمْ, li-yabluwakum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:48, 6:165, 11:7, dan 67:2, dan rangkaian (أَحْسَنُ عَمَلًا, ahsanu 'amalan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:7, 18:7, dan 67:2.
Di 11:7 ujian itu disandarkan pada penciptaan langit dan bumi, di 18:7 pada perhiasan yang ada di atas bumi, dan di sini pada mati dan hidup. Mati disebut lebih dahulu daripada hidup, dan keduanya sama-sama disebut sebagai yang diciptakan.
Yang diuji disebut dengan kata untuk mutu, bukan untuk jumlah. Rangkaian (الْعَزِيزُ الْغَفُورُ, al-'aziizul-ghafuur) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:2, sedangkan rangkaian (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizul-hakiim) muncul 29 kali, misalnya di 2:129, 2:209, dan 2:220. Tidak disebut ujiannya berupa apa dan apa hadiahnya.
Mati disebut lebih dahulu daripada hidup, dan susunan itu berlawanan dengan urutan yang dialami manusia. Keduanya sama-sama disebut sebagai yang diciptakan, sehingga yang berakhir pun sesuatu yang dibuat dan bukan sekadar berhentinya sesuatu yang lain.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mati sebelum hidup. Urutannya tidak seperti kebiasaan kita. Yang berakhir disebut duluan. Susunan itu berlawanan dengan urutan yang dialami manusia. Terjemahan menahannya dan tidak membalik urutannya, sebab pembalikan akan menghilangkan yang justru dikerjakan ayatnya. Yang didahulukan biasanya yang lebih ditekankan, dan di sini yang ditekankan justru bagian yang tidak bisa disiapkan siapa pun. Keduanya pun disebut sebagai yang diciptakan, sehingga yang berakhir bukan sekadar berhentinya sesuatu yang lain. Yang tidak bisa disiapkan justru yang ditaruh paling depan.
- Yang diuji mutunya, bukan jumlahnya. Siapa yang lebih baik amalnya. Bukan siapa yang paling banyak. Yang diuji disebut dengan kata untuk mutu, bukan untuk jumlah. Ayatnya tidak berkata siapa yang paling banyak amalnya. Perbedaan itu menentukan, sebab yang dihitung banyaknya bisa dikejar dengan menambah, sedangkan yang dinilai mutunya menuntut sesuatu yang lain sama sekali. Ukuran yang sama dipakai di 11:7 dan 18:7, dan di ketiga tempat itu yang disandarkan padanya berbeda-beda. Ukuran mutu tidak bisa dikejar dengan menambah banyaknya.
- Dua sifat penutupnya digdaya dan pengampun. Allah menaruh kuasa bersama maaf. Yang menguji juga yang memaafkan. Nama yang menutup ayat ini dipasangkan dengan cara yang tidak lazim. Nama pertamanya biasa disandingkan dengan nama yang menyebut ketelitian, dan pasangan itu muncul dua puluh sembilan kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:129, 2:209, dan 2:220. Di sini ia justru disandingkan dengan nama yang menyebut ampunan, dan pasangan tersebut cuma ada di ayat ini. Yang menutup ayat tentang ujian bukan penilai yang ketat, melainkan yang mengampuni. Nama yang menutup sebuah kalimat menentukan nada seluruh kalimat itu.
- Ukuran yang dipakai di ayat ini juga dipakai di 11:7 dan 18:7. Di 11:7 ia disandarkan pada penciptaan langit dan bumi, di 18:7 pada perhiasan yang ada di atas bumi, dan di sini pada mati dan hidup. Allah memakai satu ukuran untuk tiga sandaran yang berbeda. Yang tetap pertanyaannya, dan yang berganti apa yang dipakai untuk mengajukannya, sehingga pembaca bertemu pertanyaan yang sama dari tiga arah. Pertanyaan yang sama dari tiga arah lebih sulit dilewati daripada satu arah.
- Nama penutup ayat ini muncul dalam pasangan yang cuma ada di sini, sedangkan pasangan yang lazim bagi nama pertamanya muncul dua puluh sembilan kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:129, 2:209, dan 2:220. Allah mengganti pasangannya justru pada ayat yang menyebutkan ujian. Yang diharapkan pembaca sesudah kata 'ujian' barangkali ketelitian penilaian; yang diberikan ampunan. Pasangan yang diganti pada tempat tertentu menandai maksud yang tertentu pula.
- Ujiannya berupa apa? Berapa lama ujian itu berlangsung? Apa hadiahnya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma ukurannya dan siapa yang menilai. Allah menahan bentuk ujiannya, dan penahanan itu bekerja: yang tidak dibatasi rupanya tidak bisa dipilah menjadi bagian yang diuji dan bagian yang bebas. Seluruh isi hidup masuk ke dalamnya justru karena tidak satu bagian pun disebutkan namanya. Yang tidak berbatas rupanya tidak bisa dipilah menjadi bagian yang aman.