الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Engkau tidak akan melihat pada ciptaan Ar-Rahman ketidakseimbangan sedikit pun. Maka lihatlah sekali lagi, adakah engkau melihat suatu cela?
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًاalladzii khalaqa sab'a samaawaatin thibaaqanyang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis
- مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍmaa taraa fii khalqi r-rahmaani min tafaawutinengkau tidak akan melihat pada ciptaan Ar-Rahman ketidakseimbangan sedikit pun
- فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍfa-rji'i l-bashara hal taraa min futhuurinmaka lihatlah sekali lagi, adakah engkau melihat suatu cela
Terjemahan per kata (18 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- سَبْعَsab'atujuh
- سَمَاوَاتٍsamaawaatinlangit
- طِبَاقًاthibaaqanberlapis-lapis
- مَاmaatidaklah
- تَرَىٰtaraaengkau melihat
- فِيfiipada
- خَلْقِkhalqipenciptaan
- الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
- مِنْmindari
- تَفَاوُتٍtafaawutinketidakseimbangan
- فَارْجِعِfa-rji'imaka lihatlah kembali
- الْبَصَرَl-basharapenglihatan
- هَلْhalapakah
- تَرَىٰtaraaengkau melihat
- مِنْmindari
- فُطُورٍfuthuurincacat
Inti bacaan
Tantangan mencari cacat yang tak akan ditemukan: 'engkau tidak akan melihat pada ciptaan Ar-Rahman ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah engkau melihat suatu cela?', undangan aktif untuk menguji secara empiris kesempurnaan penciptaan, bukan klaim yang harus diterima begitu saja tanpa verifikasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Dia juga)' tidak dipakai.
Kata (طِبَاقًا, thibaaqan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3 dan 71:15. Kata (تَفَاوُتٍ, tafaawut) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3. Kata (فُطُورٍ, futhuur) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3. Jadi satu ayat memuat dua kata sekali pakai, dan keduanya justru kata yang dipakai untuk menyebut cacat.
Di 71:15 kata yang pertama muncul di dalam pertanyaan, yaitu tidakkah kalian melihat bagaimana tujuh langit diciptakan berlapis-lapis. Di ayat ini kata yang sama muncul di dalam pernyataan, dan pertanyaannya justru datang sesudahnya. Dua tempat memakai kata yang sama dengan urutan yang berkebalikan: yang satu bertanya lalu menerangkan, dan yang satu lagi menerangkan lalu menyuruh memeriksa.
Nama yang dipakai untuk menyebut yang mencipta bukan nama kekuasaan, melainkan nama yang menyebut kasih sayang. Ayat ini berada di surah yang dibuka dengan kekuasaan, dan justru di sini yang disebut nama tersebut. Terjemahan menahannya dan tidak menggantinya dengan 'Allah', sebab penggantian itu akan menghilangkan pilihan yang jelas terbaca di dalam ayatnya.
Perintah 'lihatlah sekali lagi' ditujukan kepada satu orang, bukan kepada banyak. Susunan itu memindahkan ayat ini dari keterangan menjadi tugas. Pembaca tidak diberi tahu kesimpulannya lalu disuruh menerimanya; ia disuruh memeriksa sendiri. Cara begitu jarang dipakai untuk hal yang bisa dibantah, sebab menyuruh memeriksa berarti menerima kemungkinan ditemukannya sesuatu.
Dua kata yang menyebut cacat di ayat ini berbeda maksudnya. Yang pertama menunjuk ketidakserasian di antara bagian-bagiannya, dan yang kedua menunjuk sobek atau retak pada barangnya. Jadi yang dinafikan dua macam cacat sekaligus, yaitu cacat hubungan antarbagian dan cacat pada bagiannya sendiri. Terjemahan memakai 'ketidakseimbangan' dan 'cela' untuk membedakan keduanya.
Susunan penafiannya memakai kata yang menyatakan 'sedikit pun'. Jadi yang ditiadakan bukan cacat besar saja, melainkan cacat pada kadar berapa pun. Sesudah penafian sekuat itu, perintah memeriksa terdengar lebih berani, sebab yang menyuruh sudah menutup semua kemungkinan lebih dahulu dan tetap membuka pemeriksaannya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa lama memeriksa, tidak disebut dengan alat apa, dan tidak disebut apa yang harus dilakukan bila menemukan sesuatu. Yang disebut cuma perintahnya dan pertanyaannya. Ayat berikutnya melanjutkan perintah yang sama, sehingga pemeriksaan itu ternyata tidak selesai dalam satu ayat.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesempurnaan penciptaan tujuh langit berlapis tanpa cela, menantang pembaca mengulang pengamatan.
Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada cacat pada ciptaan, lalu menyuruh pembacanya memeriksa sendiri pernyataan itu.
Kata (طِبَاقًا, thibaaqan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3 dan 71:15. Kata (تَفَاوُتٍ, tafaawut) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3, dan kata (فُطُورٍ, futhuur) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:3.
Di 71:15 kata pertama muncul di dalam pertanyaan, sedangkan di sini ia muncul di dalam pernyataan dan pertanyaannya justru datang sesudahnya. Nama yang dipakai untuk menyebut yang mencipta bukan nama kekuasaan melainkan nama yang menyebut kasih sayang, padahal surah ini dibuka dengan kekuasaan.
Dua kata yang menyebut cacat di ayat ini berbeda maksudnya: yang pertama menunjuk ketidakserasian antarbagian, dan yang kedua menunjuk sobek pada barangnya. Susunan penafiannya memakai kata yang menyatakan sedikit pun, sehingga yang ditiadakan cacat pada kadar berapa pun. Tidak disebut berapa lama memeriksa dan dengan alat apa.
Perintah memeriksa di penutupnya ditujukan kepada satu orang, bukan kepada banyak, sehingga ayat ini berpindah dari keterangan menjadi tugas. Pembaca tidak diberi kesimpulan lalu disuruh menerimanya; ia disuruh memeriksa sendiri, dan ayat berikutnya menyuruh mengulanginya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menantang mencari cacat, bukan meminta percaya. Lihatlah sekali lagi. Ujiannya dibuka untuk siapa pun. Perintah memeriksa ditujukan kepada satu orang, bukan kepada banyak, dan susunan itu memindahkan ayat ini dari keterangan menjadi tugas. Pembaca tidak diberi kesimpulan lalu disuruh menerimanya; ia disuruh memeriksa sendiri. Cara begitu jarang dipakai untuk hal yang bisa dibantah, sebab menyuruh memeriksa berarti menerima kemungkinan ditemukannya sesuatu oleh yang diperintah. Menyuruh memeriksa menuntut keberanian yang tidak dituntut oleh menyuruh percaya.
- Kata sekali lagi menandai pengulangan yang disengaja. Sekali belum cukup. Pemeriksaannya diminta berulang. Susunan penafiannya memakai kata yang menyatakan sedikit pun, sehingga yang ditiadakan bukan cacat besar saja melainkan cacat pada kadar berapa pun. Sesudah penafian sekuat itu, perintah memeriksa terdengar lebih berani. Yang menyuruh sudah menutup semua kemungkinan lebih dahulu dan tetap membuka pemeriksaannya, dan ayat berikutnya bahkan menyuruh mengulanginya sekali lagi. Penafian yang menutup semua kadar tidak menyisakan ruang bagi tawar-menawar.
- Yang dipakai nama Ar-Rahman untuk penciptanya. Allah menyebut kasih di tengah ayat tentang keteraturan. Rapi dan pengasih ditaruh bersama. Nama yang dipakai untuk menyebut yang mencipta bukan nama kekuasaan, melainkan nama yang menyebut kasih sayang. Padahal surah ini dibuka dengan kekuasaan di 67:1. Terjemahan menahan pilihan itu dan tidak menggantinya dengan sebutan umum, sebab penggantian akan menghilangkan pilihan yang jelas terbaca. Keteraturan yang tanpa cacat dilekatkan pada nama yang berbicara tentang sayang, bukan tentang kuasa. Nama yang dipilih untuk menyebut pencipta ikut menerangkan apa yang diciptakan.
- Dua kata yang menyebut cacat di ayat ini berbeda maksudnya. Yang pertama menunjuk ketidakserasian di antara bagian-bagiannya, dan yang kedua menunjuk sobek atau retak pada barangnya sendiri. Jadi yang ditiadakan dua macam sekaligus, yaitu cacat pada hubungan antarbagian dan cacat pada bagiannya. Allah memakai dua kata yang tidak muncul lagi di mana pun untuk menutup dua arah pemeriksaan yang berbeda. Dua kata untuk dua macam cacat menutup dua arah pemeriksaan sekaligus.
- Kata untuk berlapis-lapis di ayat ini juga dipakai di 71:15, dan di sana ia berada di dalam pertanyaan, yaitu tidakkah kalian melihat bagaimana tujuh langit diciptakan. Di sini kata yang sama berada di dalam pernyataan, dan pertanyaannya datang sesudahnya. Allah memakai satu kata dengan dua urutan yang berkebalikan: yang satu bertanya lalu menerangkan, dan yang satu lagi menerangkan lalu menyuruh memeriksa. Urutan bertanya dan menerangkan bisa dibalik tanpa mengubah bahannya.
- Berapa lama harus memeriksa? Dengan alat apa? Apa yang dikerjakan bila menemukan sesuatu? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma perintahnya dan pertanyaannya. Allah menyuruh memeriksa sesudah menutup semua kemungkinan lebih dahulu, dan susunan itu menyerahkan pembuktiannya kepada orang yang diperintah. Kesimpulan yang ditemukan sendiri melekat lebih lama daripada yang diterima sudah jadi. Yang menutup sendiri tidak akan membantah penutupannya sendiri.