ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
Kemudian lihatlah sekali lagi, sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِtsumma rji'i l-bashara karrataynikemudian lihatlah sekali lagi, sekali lagi
- يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌyanqalib ilayka l-basharu khaasi'an wa-huwa hasiirunniscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih
Terjemahan per kata (10 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- ارْجِعِrji'ikembalilah
- الْبَصَرَl-basharapenglihatan
- كَرَّتَيْنِkarrataynidua kali
- يَنْقَلِبْyanqalibberbalik
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- الْبَصَرُl-basharupenglihatan
- خَاسِئًاkhaasi'anhina
- وَهُوَwa-huwadan ia
- حَسِيرٌhasiirunletih
Inti bacaan
Hasil pengulangan pencarian yang mengecewakan (bagi pencari cela): 'lihatlah sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih', penekanan pada pengulangan usaha yang konsisten menghasilkan kesimpulan yang sama, ketelitian berulang yang justru memperkuat bukti kesempurnaan alih-alih menemukan kelemahan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(dan)', '(untuk mencari cela dalam ciptaan Allah)', dan '(karena tidak menemukannya)' seluruhnya tidak dipakai.
Kata (كَرَّتَيْنِ, karratain) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4. Kata (خَاسِئًا, khaasi'an) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4. Kata (حَسِيرٌ, hasiir) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4. Ayat yang cuma sembilan kata ini memuat tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun.
Bentuk jamak dari kata kedua, yaitu (خَاسِئِينَ, khaasi'iin), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:65 dan 7:166. Di dua tempat itu kata tersebut dipakai untuk menyebut keadaan yang sangat hina, yaitu ketika suatu kaum yang melanggar diperintahkan menjadi kera yang hina. Di 67:4 kata dari akar yang sama dipakai untuk pandangan mata yang kembali. Yang di dua tempat lain melekat pada orangnya, di sini melekat pada pandangannya.
Kata pertama berarti dua kali, bukan sekali. Padahal ayat sebelumnya sudah menyuruh memeriksa. Jadi perintah di ayat ini menambah, bukan mengulangi yang sama. Terjemahan memakai 'sekali lagi, sekali lagi' untuk menahan bilangan itu. Menyingkatnya menjadi 'berulang kali' akan menghilangkan bilangan yang justru disebut ayatnya.
Yang kembali bukan orangnya melainkan pandangannya. Susunan itu memisahkan pandangan dari pemiliknya dan memperlakukannya seakan pihak yang berangkat lalu pulang. Terjemahan menahan susunan tersebut dengan 'pandanganmu akan kembali kepadamu'. Meratakannya menjadi 'engkau tidak akan menemukan apa-apa' akan menghilangkan gambaran perjalanan yang ada di dalam ayatnya.
Dua kata yang menutup ayat ini menyebutkan dua hal yang berbeda. Yang pertama menyebut keadaan terusir dan tidak mendapat apa yang dicari, dan yang kedua menyebut keletihan sesudah bekerja keras. Jadi yang dilaporkan bukan cuma hasilnya kosong, melainkan juga bahwa tenaga sudah habis. Dua-duanya melekat pada pandangan, bukan pada orangnya.
Perintah ini disusun sebagai kalimat bersyarat tanpa kata syarat. Bentuk kata kerja keduanya menyatakan bahwa yang kedua terjadi karena yang pertama dikerjakan. Jadi hasilnya sudah diberitahukan sebelum pemeriksaannya dimulai. Menyuruh memeriksa sambil menyebutkan hasilnya lebih dahulu cuma bisa dilakukan oleh yang tidak khawatir hasilnya berbeda.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang dicari, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudah pandangan itu kembali. Yang disebut cuma perintahnya dan keadaan yang menutupnya. Ayat berikutnya berpindah ke pokok lain, sehingga pemeriksaan itu ditutup tanpa satu kalimat kesimpulan pun.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan tantangan mencari cela: mata akan kembali dalam keadaan lelah tanpa hasil.
Ayat ini melanjutkan perintah memeriksa dan sekaligus menyebutkan hasilnya sebelum pemeriksaannya dikerjakan.
Kata (كَرَّتَيْنِ, karratain) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4. Kata (خَاسِئًا, khaasi'an) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4, dan kata (حَسِيرٌ, hasiir) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:4.
Bentuk jamak dari kata kedua, yaitu (خَاسِئِينَ, khaasi'iin), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:65 dan 7:166, dan di dua tempat itu ia menyebut keadaan yang sangat hina. Di sini kata dari akar yang sama melekat pada pandangan mata, bukan pada orangnya.
Kata pertamanya berarti dua kali, bukan sekali, padahal ayat sebelumnya sudah menyuruh memeriksa, sehingga perintah ini menambah dan bukan mengulangi. Yang kembali pun bukan orangnya melainkan pandangannya. Dua kata penutupnya menyebut dua hal berbeda, yaitu keadaan terusir tanpa hasil dan keletihan sesudah bekerja keras. Tidak disebut apa yang dicari dan berapa lama.
Perintahnya disusun sehingga hasilnya sudah disebutkan sebelum pemeriksaannya dimulai, sebab bentuk kata kerja keduanya menyatakan bahwa yang kedua terjadi karena yang pertama dikerjakan. Ayat berikutnya berpindah ke pokok lain tanpa satu kalimat kesimpulan pun.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh melihat berulang kali. Bukan sekali. Pemeriksaannya diminta diulang, dan itu bagian dari tantangannya. Kata bilangannya berarti dua kali, bukan sekali, padahal ayat sebelumnya sudah menyuruh memeriksa. Jadi perintah di sini menambah dan bukan mengulangi yang sama. Terjemahan memakai 'sekali lagi, sekali lagi' untuk menahan bilangan tersebut, sebab menyingkatnya menjadi keterangan yang samar akan menghilangkan bilangan yang justru disebut ayatnya secara terang. Bilangan yang disebut jelas menahan pembaca dari menganggapnya kiasan.
- Yang kembali disebut pandanganmu. Bukan engkau. Mata itu yang pulang, dan pulang dengan tangan kosong. Yang kembali bukan orangnya melainkan pandangannya. Susunan itu memisahkan pandangan dari pemiliknya dan memperlakukannya seakan pihak yang berangkat lalu pulang. Terjemahan menahan susunan tersebut dan tidak meratakannya menjadi pernyataan bahwa tidak ada yang ditemukan, sebab perataan itu menghilangkan gambaran perjalanan yang ada di dalam ayatnya. Gambaran perjalanan menyimpan keterangan yang hilang begitu diringkas.
- Allah menyebut dua keadaan: kecewa dan letih. Dua-duanya. Yang gagal bukan cuma tak menemukan, melainkan kehabisan tenaga. Dua kata yang menutup ayat ini menyebutkan dua hal yang berbeda. Yang pertama menyebut keadaan terusir dan tidak mendapat yang dicari, dan yang kedua menyebut keletihan sesudah bekerja keras. Jadi yang dilaporkan bukan cuma bahwa hasilnya kosong, melainkan juga bahwa tenaganya sudah habis. Dua-duanya dilekatkan pada pandangan, bukan pada orang yang memandang. Kosongnya hasil dan habisnya tenaga dua laporan yang berbeda.
- Bentuk jamak dari kata kedua ayat ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:65 dan 7:166, dan di dua tempat itu ia menyebut keadaan yang sangat hina bagi suatu kaum yang melanggar. Di sini kata dari akar yang sama dilekatkan pada pandangan mata yang pulang. Allah memindahkan kata itu dari orangnya kepada pandangannya, dan pemindahan tersebut menahan ayat ini dari terbaca sebagai penghinaan atas pembacanya. Memindahkan kata dari orangnya ke pandangannya menjaga jarak yang perlu dijaga.
- Perintahnya disusun sehingga hasilnya sudah disebutkan sebelum pemeriksaannya dimulai. Bentuk kata kerja keduanya menyatakan bahwa yang kedua terjadi karena yang pertama dikerjakan. Menyuruh memeriksa sambil menyebutkan hasilnya lebih dahulu cuma bisa dilakukan oleh yang tidak khawatir hasilnya berbeda. Allah menutup dua arah sekaligus: yang tidak memeriksa tidak punya alasan, dan yang memeriksa sudah diberi tahu ujungnya. Yang menutup dua arah sekaligus tidak menyisakan alasan bagi kedua pihak.
- Apa sebenarnya yang dicari? Berapa lama pemeriksaannya harus dijalankan? Apa yang terjadi sesudah pandangan itu pulang? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma perintahnya dan keadaan yang menutupnya. Ayat berikutnya berpindah ke pokok lain, sehingga pemeriksaan ini ditutup tanpa satu kalimat kesimpulan pun. Allah membiarkan pembacanya menutup sendiri, dan penutup yang dikerjakan sendiri tidak bisa dibantah oleh dirinya. Penutup yang dikerjakan sendiri tidak bisa dibantah oleh yang mengerjakannya.