وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka, azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَwa-li-lladziina kafaruu bi-rabbihim 'adzaabu jahannamadan bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka, azab Jahanam
  2. وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-mashiirudan itulah seburuk-buruk tempat kembali

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَلِلَّذِينَwa-li-lladziinadan bagi orang-orang yang
  2. كَفَرُواkafaruukufur
  3. بِرَبِّهِمْbi-rabbihimkepada Tuhan mereka
  4. عَذَابُ'adzaabuazab
  5. جَهَنَّمَjahannamaJahanam
  6. وَبِئْسَwa-bi'sadan seburuk-buruk
  7. الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali

Inti bacaan

Konsekuensi tegas bagi penolakan terhadap Pencipta: 'bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka, azab Jahanam', pernyataan langsung tanpa basa-basi tentang hasil akhir penolakan, konsistensi antara keindahan ciptaan yang telah dijelaskan dan keseriusan konsekuensi bagi yang menolaknya.

Penjelasan pilihan kata

'Jahannama' diterjemahkan 'neraka', konsisten dengan acuan rangkaian sebelumnya (66:9).

Rangkaian (وَبِئْسَ الْمَصِيرُ, wa-bi'sal-mashiir) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:126, 3:162, 8:16, 9:73, 22:72, 57:15, 64:10, 66:9, dan 67:6. Di semua tempat itu ia berdiri sebagai penutup kalimat, bukan sebagai keterangan di tengah. Rangkaian tersebut memang dirancang untuk menutup, dan pembaca yang bertemu dengannya sudah bisa mengukur bahwa kalimatnya sedang diakhiri.

Kata (الْمَصِيرُ, al-mashiir) berarti tempat kembali atau tempat berpulang, bukan sekadar tempat. Jadi yang disebut bukan lokasi melainkan ujung sebuah perjalanan. Terjemahan memakai 'tempat kembali' dan menahan gagasan pulang yang ada di dalam akarnya. Memakai 'tempat tinggal' akan menghilangkan gerak yang justru dibawa kata itu.

Yang mereka tolak disebut dengan rangkaian (بِرَبِّهِمْ, bi-rabbihim), yaitu 'kepada Tuhan mereka', bukan dengan nama. Susunan tersebut menempatkan yang ditolak sebagai pihak yang memelihara mereka sendiri. Lima ayat sebelumnya sudah merinci apa yang dikerjakan-Nya, mulai dari mencipta mati dan hidup sampai menghias langit. Jadi penolakan di ayat ini bukan penolakan terhadap sesuatu yang jauh, melainkan terhadap yang barusan diuraikan pekerjaannya.

Ayat ini memutar arah surah. Lima ayat pembuka menguraikan yang diciptakan, dan ayat ini menyebut akibat bagi yang menolak. Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat penghubung pun. Yang menyambungkan cuma huruf di awalnya, dan huruf sependek itu menanggung seluruh perpindahan dari uraian ke akibat.

Bentuk kalimatnya tidak memakai kata kerja. Susunannya menyandingkan dua bagian, yaitu pihaknya dan yang disediakan baginya. Bahasa Arab tidak menuntut kata kerja untuk kalimat semacam itu, sedangkan bahasa Indonesia biasanya menuntutnya. Terjemahan mengikuti susunan aslinya dan tidak menyisipkan kata kerja, sebab penyisipan akan menambahkan keterangan tentang waktu yang tidak ada di dalam ayatnya.

Ayat-ayat sesudahnya memerinci apa yang baru disebut di sini dengan satu kata. Yang di ayat ini cuma dinamai, di 67:7 dan 67:8 digambarkan bunyinya dan keadaannya. Jadi ayat ini bekerja sebagai judul, dan tiga ayat berikutnya sebagai isinya. Susunan seperti itu sama dengan cara 67:1 bekerja terhadap empat ayat sesudahnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut sejak kapan, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut siapa yang dimaksud dengan orang-orang itu. Yang disebut cuma sikapnya dan akibatnya. Menahan namanya membuat kalimat ini tidak berhenti pada satu kelompok tertentu, dan sikapnya yang disebut, bukan keturunan atau negerinya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan azab bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka.

Ayat ini memutar arah surah dari menguraikan ciptaan menjadi menyebutkan akibat bagi yang menolak.

Rangkaian (وَبِئْسَ الْمَصِيرُ, wa-bi'sal-mashiir) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:126, 3:162, 8:16, 9:73, 22:72, 57:15, 64:10, 66:9, dan 67:6, dan di semua tempat itu ia berdiri sebagai penutup kalimat.

Kata terakhirnya berarti tempat kembali, bukan sekadar tempat, sehingga yang disebut ujung sebuah perjalanan. Terjemahan menahan gagasan pulang itu dan tidak menggantinya dengan kata untuk tempat tinggal.

Yang mereka tolak disebut dengan sebutan 'Tuhan mereka', bukan dengan nama, sehingga yang ditolak ditempatkan sebagai pihak yang memelihara mereka sendiri. Lima ayat sebelumnya sudah merinci pekerjaan-Nya. Bentuk kalimatnya pun tidak memakai kata kerja, dan terjemahan mengikuti susunan aslinya supaya tidak menambahkan keterangan waktu. Tidak disebut sejak kapan, berapa lama, dan siapa yang dimaksud.

Ayat ini memutar arah tanpa satu kalimat penghubung pun; yang menyambungkan cuma huruf di awalnya. Yang di sini cuma dinamai, di 67:7 dan 67:8 digambarkan bunyinya dan keadaannya, sehingga ayat ini bekerja sebagai judul dan ayat-ayat berikutnya sebagai isinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kufurnya kepada Tuhan mereka sendiri. Bukan kepada tuhan asing. Yang ditolak yang memelihara. Yang mereka tolak disebut dengan sebutan 'Tuhan mereka', bukan dengan nama. Susunan itu menempatkan yang ditolak sebagai pihak yang memelihara mereka sendiri. Lima ayat sebelumnya sudah merinci apa yang dikerjakan-Nya, mulai dari mencipta mati dan hidup sampai menghias langit. Jadi yang ditolak bukan sesuatu yang jauh, melainkan yang barusan diuraikan pekerjaannya di depan mata pembaca. Yang menolak pemeliharanya sendiri berdiri di tempat yang lain dari yang menolak orang asing.
  • Ayat ini datang sesudah gambaran langit yang rapi. Keindahan tadi. Kini akibat menolaknya. Ayat ini memutar arah surah, dan perpindahannya terjadi tanpa satu kalimat penghubung pun. Yang menyambungkan cuma huruf di awalnya. Huruf sependek itu menanggung seluruh perpindahan dari uraian ke akibat, dan pembaca yang membaca berurutan merasakan perpindahannya sebelum menyadari sebabnya. Allah tidak memberi jeda antara langit yang dihias dan tempat kembali yang buruk. Sambungan sependek satu huruf menanggung perpindahan yang di bahasa lain butuh satu alinea.
  • Kata tempat kembali dipakai Allah. Bukan kata tempat hukuman. Yang disebut arah pulang. Kata terakhirnya berarti tempat kembali atau tempat berpulang, bukan sekadar tempat. Jadi yang disebut bukan lokasi melainkan ujung sebuah perjalanan. Terjemahan memakai 'tempat kembali' dan menahan gagasan pulang yang ada di dalam akarnya, sebab memakai kata untuk tempat tinggal akan menghilangkan gerak yang justru dibawa kata itu di seluruh pemakaiannya. Kata yang membawa gerak tidak bisa diganti kata yang cuma menunjuk tempat.
  • Rangkaian penutup ayat ini muncul sembilan kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:126, 8:16, dan 66:9, dan di semua tempat itu ia berdiri sebagai penutup kalimat, bukan sebagai keterangan di tengah. Allah memakainya sebagai tanda selesai. Pembaca yang bertemu rangkaian ini di surah mana pun sudah bisa mengukur bahwa kalimatnya sedang diakhiri, dan pengukuran itu bekerja tanpa perlu ia menghafalnya. Penanda selesai yang dikenali pembaca bekerja tanpa perlu dihafalkan lebih dahulu.
  • Yang di ayat ini cuma dinamai, di 67:7 dan 67:8 digambarkan bunyinya dan keadaannya. Jadi ayat ini bekerja sebagai judul, dan ayat-ayat berikutnya sebagai isinya. Susunan itu sama dengan cara 67:1 bekerja terhadap empat ayat sesudahnya. Allah memakai pola yang sama dua kali di dalam sepuluh ayat pertama, dan pengulangan pola membuat pembaca tahu bahwa yang disebut singkat akan dirinci. Pola yang berulang di sepuluh ayat pertama menyiapkan cara membaca sisa surahnya.
  • Sejak kapan? Berapa lama? Siapa yang dimaksud dengan orang-orang itu? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma sikapnya dan akibatnya. Allah menahan namanya, dan yang tersisa sebagai penanda cuma perbuatan menolak. Kalimat yang menandai orang lewat sikapnya, bukan lewat keturunan atau negerinya, tetap terbuka bagi siapa pun yang membacanya di zaman mana pun. Penanda berupa sikap tetap terbuka, sedangkan penanda berupa asal-usul menutup diri sendiri.