إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

Apabila dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suaranya yang mengerikan, sedangkan ia membara.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُidzaa ulquu fiihaa sami'uu lahaa syahiiqan wa-hiya tafuuruapabila dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suaranya yang mengerikan, sedangkan ia membara

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. أُلْقُواulquumereka dilemparkan
  3. فِيهَاfiihaake dalamnya
  4. سَمِعُواsami'uumereka mendengar
  5. لَهَاlahaadarinya
  6. شَهِيقًاsyahiiqansuara mengerang
  7. وَهِيَwa-hiyadan ia
  8. تَفُورُtafuurumendidih

Inti bacaan

Detail sensorik pengalaman konsekuensi: 'apabila dilemparkan ke dalamnya, mereka pasti mendengar suaranya yang mengerikan saat ia membara', deskripsi yang melibatkan indra pendengaran, menjadikan peringatan lebih konkret dan nyata dibanding abstraksi verbal semata.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(neraka)' dihapus, tidak berpadanan kata Arab tersendiri. Kata 'pasti' pada draf juga dihapus, tidak berpadanan partikel penekanan Arab.

Kata (شَهِيقًا, syahiiqan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:7. Kata (تَفُورُ, tafuuru) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:7. Dua kata sekali pakai berkumpul di satu ayat yang cuma delapan kata, dan keduanya menanggung seluruh gambarannya.

Yang lebih dahulu disebut bunyinya, bukan rupanya. Ayat ini tidak melukiskan warna, tidak melukiskan besarnya, dan tidak melukiskan panasnya. Yang disebut apa yang mereka dengar. Gambaran yang masuk lewat telinga bekerja berbeda dari gambaran yang masuk lewat mata, sebab yang mendengar tidak bisa memilih arah pandangnya untuk menghindar.

Kata pertama menyebut tarikan napas yang panjang dan kasar, yaitu bunyi yang biasanya keluar dari makhluk yang bernapas. Terjemahan memakai 'suaranya yang mengerikan' dan menahan bahwa yang disebut memang bunyi, bukan gerak. Memakai 'gemuruh' akan memindahkannya ke bunyi benda, padahal kata aslinya menunjuk bunyi yang berasal dari dada.

Kata kedua menyebut keadaan mendidih dan meluap. Bentuknya menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung, bukan yang terjadi sekali. Jadi yang digambarkan bukan letusan melainkan keadaan yang terus-menerus. Terjemahan memakai 'membara' dan menahan gambaran gerak yang tidak berhenti itu.

Bentuk kata kerja pembukanya menyatakan yang dikenai perbuatan, yaitu mereka dilemparkan. Yang melemparkan tidak disebut. Susunan tersebut menaruh mereka pada kedudukan yang tidak punya pilihan, dan kekosongan tentang pelakunya membuat pembaca tidak berhenti pada siapa yang mengerjakan, melainkan pada apa yang dialami.

Susunan (إِذَا, idzaa) di awalnya menyatakan sesuatu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan. Bahasa Arab punya kata lain untuk kemungkinan, dan kata itu tidak dipakai di sini. Terjemahan memakai 'apabila' dan menahan kepastiannya, sebab memakai 'jika' akan membuka celah yang tidak dibuka ayatnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang melempar, tidak disebut dari mana, dan tidak disebut apa yang mereka rasakan. Yang disebut cuma apa yang terdengar dan keadaan yang mengeluarkannya. Ayat berikutnya melanjutkan gambaran itu dengan menyebut sebabnya, sehingga bunyi lebih dahulu diberikan dan alasannya menyusul satu ayat kemudian.

Ayat ini melanjutkan 67:6 dengan cara yang sama seperti 67:2 melanjutkan 67:1, yaitu memerinci sesuatu yang tadi cuma dinamai. Jadi surah ini memakai pola yang sama dua kali di dalam tujuh ayat pertama: sebuah nama disebut lebih dahulu, dan gambarannya menyusul di ayat-ayat sesudahnya. Pembaca yang mengenali pola itu sudah bisa menduga bahwa 67:8 pun masih memerinci hal yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan suara mengerikan neraka saat menerima penghuni baru.

Ayat ini melukiskan tempat yang tadi cuma dinamai, dan gambarannya masuk lewat telinga sebelum lewat mata.

Kata (شَهِيقًا, syahiiqan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:7. Kata (تَفُورُ, tafuuru) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:7.

Kata pertama menyebut tarikan napas yang panjang dan kasar, yaitu bunyi yang biasanya keluar dari makhluk yang bernapas, dan terjemahan menahan bahwa yang disebut memang bunyi. Kata kedua menyebut keadaan mendidih dan meluap dengan bentuk yang menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung, jadi yang digambarkan bukan letusan melainkan keadaan yang terus-menerus.

Bentuk kata kerja pembukanya menyatakan yang dikenai perbuatan, dan yang melemparkan tidak disebut, sehingga pembaca tidak berhenti pada siapa yang mengerjakan melainkan pada apa yang dialami. Susunan awal ayatnya menyatakan sesuatu yang pasti, bukan kemungkinan. Tidak disebut siapa yang melempar, dari mana, dan apa yang mereka rasakan.

Ayat ini memerinci sesuatu yang di 67:6 cuma dinamai, sama seperti 67:2 memerinci 67:1. Yang lebih dahulu disebut bunyinya, bukan rupanya, sebab ayat ini tidak melukiskan warna, besarnya, maupun panasnya. Ayat berikutnya melanjutkan gambaran itu dengan menyebut sebabnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai pendengaran, bukan penglihatan. Yang disebut suaranya. Gambarannya masuk lewat telinga. Yang lebih dahulu disebut bunyinya, bukan rupanya. Ayat ini tidak melukiskan warna, tidak melukiskan besarnya, dan tidak melukiskan panasnya. Yang disebut apa yang terdengar. Gambaran yang masuk lewat telinga bekerja berbeda dari yang masuk lewat mata, sebab yang mendengar tidak bisa memilih arah pandangnya untuk menghindar, dan Allah memilih pintu masuk yang tidak bisa ditutup itu. Pintu masuk yang tidak bisa ditutup dipilih lebih dahulu daripada yang bisa dipalingkan.
  • Suara itu terdengar saat mereka dilemparkan. Bukan dari jauh. Jaraknya nol. Bentuk kata kerja pembukanya menyatakan yang dikenai perbuatan, yaitu mereka dilemparkan, dan yang melemparkan tidak disebut. Susunan tersebut menaruh mereka pada kedudukan yang tidak punya pilihan. Kekosongan tentang pelakunya membuat pembaca tidak berhenti pada siapa yang mengerjakan, melainkan pada apa yang dialami, dan itulah yang dikehendaki susunan kalimatnya. Kekosongan tentang pelaku memindahkan seluruh berat kalimat ke yang mengalaminya.
  • Kata membara dipakai Allah untuk keadaannya saat itu. Bukan menunggu dingin. Ia sedang bekerja. Kata kedua menyebut keadaan mendidih dan meluap, dan bentuknya menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung, bukan yang terjadi sekali. Jadi yang digambarkan bukan letusan melainkan keadaan yang terus-menerus. Terjemahan memakai 'membara' dan menahan gambaran gerak yang tidak berhenti itu, sebab kata yang menunjuk satu kejadian akan memendekkan sesuatu yang sengaja dibuat tidak berujung. Keadaan yang tidak berujung tidak bisa diringkas menjadi satu kejadian.
  • Ayat delapan kata ini memuat dua kata yang tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya menanggung seluruh gambarannya. Allah memakai kata sekali pakai justru pada ayat yang pertama kali melukiskan apa yang di 67:6 baru dinamai. Kata yang tidak punya pasangan di tempat lain menahan pembaca dari menyamakan gambarannya dengan gambaran mana pun yang sudah dikenalnya. Kata tanpa pasangan di tempat lain menahan pembaca dari menyamakan gambarannya.
  • Kata pertamanya menyebut tarikan napas yang panjang dan kasar, yaitu bunyi yang biasanya keluar dari makhluk yang bernapas. Terjemahan menahan bahwa yang disebut memang bunyi dan bukan gerak. Memakai kata untuk bunyi benda akan memindahkannya ke jenis suara yang lain sama sekali. Allah memilih bunyi yang menyerupai napas, dan pilihan itu menyiapkan ayat berikutnya yang menyebut kemarahan. Bunyi yang menyerupai napas menyiapkan ayat berikutnya yang menyebut kemarahan.
  • Siapa yang melempar? Dari mana? Apa yang mereka rasakan? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma apa yang terdengar dan keadaan yang mengeluarkannya. Allah menahan pelakunya, sehingga tidak ada pihak yang bisa dijadikan sasaran pertanyaan oleh yang membaca. Yang tersisa cuma peristiwanya, dan peristiwa tanpa pelaku yang bisa ditanyai berhenti sepenuhnya pada yang mengalaminya. Peristiwa tanpa pelaku yang bisa ditanyai berhenti sepenuhnya pada yang mengalaminya.