Ayat 67:8
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
Hampir-hampir ia meledak karena marah. Setiap kali suatu rombongan dilemparkan ke dalamnya, para penjaganya bertanya kepada mereka, “Bukankah seorang pemberi peringatan telah datang kepada kalian?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِtakaadu tamayyazu mina l-ghayzhihampir-hampir ia meledak karena marah
- كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌkullamaa ulqiya fiihaa fawjun sa'alahum khazanatuhaa a-lam ya'tikum nadziirunsetiap kali suatu rombongan dilemparkan ke dalamnya, para penjaganya bertanya kepada mereka, 'bukankah seorang pemberi peringatan telah datang kepada kalian?'
Terjemahan per kata (13 kata)
- تَكَادُtakaaduhampir
- تَمَيَّزُtamayyazuhampir terpecah
- مِنَminadari
- الْغَيْظِl-ghayzhikemarahan
- كُلَّمَاkullamaasetiap kali
- أُلْقِيَulqiyadijatuhkan
- فِيهَاfiihaake dalamnya
- فَوْجٌfawjunrombongan
- سَأَلَهُمْsa'alahumengkau menanyakan mereka
- خَزَنَتُهَاkhazanatuhaapara penjaganya
- أَلَمْa-lamtidakkah
- يَأْتِكُمْya'tikumdatang kepada kalian
- نَذِيرٌnadziirunpemberi peringatan
Inti bacaan
Konfrontasi terakhir yang menyingkap kelalaian: 'setiap kali suatu rombongan dilemparkan ke dalamnya, para penjaganya bertanya kepada mereka: bukankah seorang pemberi peringatan telah datang kepada kalian?', pertanyaan yang menegaskan bahwa konsekuensi bukan kejutan tanpa peringatan sebelumnya, setiap kelompok yang tiba dihadapkan pada bukti bahwa kesempatan mendengar peringatan sesungguhnya telah diberikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَمَيَّزُ, tamayyazu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:8. Kata (الْغَيْظِ, al-ghaizh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:119 dan 67:8. Kata (فَوْجٌ, fauj) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 38:59 dan 67:8.
Di 3:119 kata untuk kemarahan itu dipakai untuk manusia, yaitu ketika mereka menggigit ujung jari karena marah. Di 67:8 kata yang sama dilekatkan pada api. Jadi satu kata dipakai untuk perasaan manusia di satu tempat dan untuk keadaan sesuatu yang bukan manusia di tempat lain. Al-Qur'an tidak menerangkan bagaimana keduanya bisa disebut dengan kata yang sama.
Kata (خَزَنَتُهَا, khazanatuhaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 39:71, 39:73, dan 67:8. Yang menarik, dua di antaranya berada di dua ayat yang berdekatan tetapi menunjuk dua tempat yang berlawanan: di 39:71 mereka penjaga tempat yang buruk, dan di 39:73 mereka penjaga taman. Jadi kata yang sama dipakai untuk penjaga dua pintu yang berbeda arah, dan yang membedakan cuma kalimat di sekitarnya.
Di 39:71 penjaga itu bertanya juga, tetapi dengan susunan yang berbeda, yaitu menanyakan apakah belum datang kepada mereka para rasul dari kalangan mereka sendiri. Di 67:8 yang ditanyakan seorang pemberi peringatan. Dua tempat memakai bentuk pertanyaan yang sama, yaitu pertanyaan yang jawabannya sudah pasti, dan keduanya diajukan di tempat yang sama pula.
Kata (نَذِيرٌ, nadziir) muncul 22 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 11:2, 35:23, dan 51:50. Jadi yang ditanyakan penjaga itu bukan sesuatu yang jarang, melainkan sesuatu yang berulang disebut di banyak surah. Pertanyaannya menyangkut hal yang paling sering diberitakan, dan itu yang membuatnya tidak bisa dijawab dengan alasan tidak tahu.
Yang diajukan penjaga itu pertanyaan, bukan pengumuman hukuman. Mereka tidak menyebut dosa, tidak menyebut lamanya, dan tidak menyebut apa yang akan terjadi. Mereka cuma bertanya tentang satu hal yang sudah lewat. Pertanyaan yang diajukan sesudah semuanya selesai tidak menuntut jawaban untuk mengubah keadaan; ia menuntut yang ditanya mengucapkan sendiri apa yang dahulu terjadi.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa penjaganya, tidak disebut rupa mereka, dan tidak disebut apakah mereka menunggu jawaban. Yang disebut cuma pertanyaannya. Ayat berikutnya memuat jawabannya, dan jawaban itu keluar dari mulut yang ditanya, bukan dari keterangan yang ditambahkan.
Kata pembukanya menyatakan hampir, bukan terjadi, sama seperti bentuk yang dipakai untuk melukiskan tekanan di 68:51. Jadi yang dilaporkan bukan bahwa api itu benar-benar terpisah-pisah, melainkan bahwa keadaannya nyaris sampai ke situ. Terjemahan memakai 'hampir-hampir' dan menahan jarak tersebut, sebab menghilangkannya akan mengubah gambaran yang belum selesai menjadi laporan tentang sesuatu yang sudah terjadi.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan pertanyaan retoris penjaga neraka kepada penghuni baru tentang peringatan yang pernah datang kepada mereka.
Ayat ini menyebutkan sebab dari gambaran sebelumnya lalu memindahkan pembicaraan ke sebuah pertanyaan.
Kata (تَمَيَّزُ, tamayyazu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:8. Kata (الْغَيْظِ, al-ghaizh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:119 dan 67:8, dan di 3:119 ia dipakai untuk manusia yang menggigit ujung jari karena marah.
Kata (خَزَنَتُهَا, khazanatuhaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 39:71, 39:73, dan 67:8. Dua di antaranya berada di ayat yang berdekatan tetapi menunjuk dua tempat yang berlawanan, yaitu penjaga tempat yang buruk di 39:71 dan penjaga taman di 39:73.
Di 39:71 penjaga itu bertanya juga, tetapi menanyakan apakah belum datang para rasul dari kalangan mereka sendiri, sedangkan di sini yang ditanyakan seorang pemberi peringatan. Kata (نَذِيرٌ, nadziir) muncul 22 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 11:2, 35:23, dan 51:50. Yang diajukan penjaga itu pertanyaan, bukan pengumuman hukuman. Tidak disebut berapa penjaganya dan apakah mereka menunggu jawaban.
Kata pembukanya menyatakan hampir, bukan terjadi, sehingga yang dilaporkan keadaan yang nyaris sampai ke situ. Jawaban atas pertanyaan penjaga itu ada di ayat berikutnya, dan jawabannya keluar dari mulut yang ditanya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah menggambarkannya hampir meledak karena marah. Diberi perasaan. Yang tak bernyawa digambarkan punya amarah. Kata untuk kemarahan di ayat ini juga dipakai di 3:119, dan di sana ia menyebut manusia yang menggigit ujung jari karena marah. Di sini kata yang sama dilekatkan pada api. Jadi satu kata dipakai untuk perasaan manusia di satu tempat dan untuk keadaan sesuatu yang bukan manusia di tempat lain. Al-Qur'an tidak menerangkan bagaimana keduanya bisa disebut dengan kata yang sama. Satu kata yang menampung dua hal berbeda dibiarkan tanpa penjelasan penghubung.
- Yang bertanya para penjaganya. Bukan yang menghukum. Pertanyaannya datang dari pihak yang cuma bertugas menjaga. Yang diajukan penjaga itu pertanyaan, bukan pengumuman hukuman. Mereka tidak menyebut dosa, tidak menyebut lamanya, dan tidak menyebut apa yang akan terjadi. Mereka cuma bertanya tentang satu hal yang sudah lewat. Pertanyaan yang diajukan sesudah semuanya selesai tidak menuntut jawaban untuk mengubah keadaan; ia menuntut yang ditanya mengucapkan sendiri apa yang dahulu terjadi padanya. Pertanyaan sesudah semuanya selesai menuntut pengucapan, bukan perubahan.
- Allah merekam pertanyaannya bukankah pemberi peringatan telah datang. Tiap rombongan ditanya. Yang sama diulang, dan jawabannya selalu sama. Kata untuk pemberi peringatan muncul dua puluh dua kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 11:2, 35:23, dan 51:50. Jadi yang ditanyakan bukan sesuatu yang jarang, melainkan sesuatu yang berulang disebut di banyak surah. Pertanyaannya menyangkut hal yang paling sering diberitakan, dan itulah yang membuatnya tidak bisa dijawab dengan alasan tidak tahu oleh siapa pun yang ditanya. Hal yang paling sering diberitakan paling sulit dijawab dengan alasan tidak tahu.
- Kata untuk penjaga di ayat ini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 39:71, 39:73, dan 67:8. Dua di antaranya berada di ayat yang berdekatan tetapi menunjuk dua tempat yang berlawanan arah, yaitu penjaga tempat yang buruk dan penjaga taman. Allah memakai satu kata untuk penjaga dua pintu yang berbeda, dan yang membedakannya cuma kalimat di sekitarnya, bukan katanya. Kata yang sama untuk dua pintu memindahkan penentuan artinya ke kalimat di sekitarnya.
- Di 39:71 penjaga itu bertanya juga, tetapi menanyakan apakah belum datang kepada mereka para rasul dari kalangan mereka sendiri. Di ayat ini yang ditanyakan seorang pemberi peringatan. Dua tempat memakai bentuk pertanyaan yang sama, yaitu pertanyaan yang jawabannya sudah pasti, dan keduanya diajukan di tempat yang sama pula. Yang berubah cuma bagaimana yang datang itu disebut. Bentuk pertanyaan yang jawabannya sudah pasti dipakai di dua surah pada tempat yang sama.
- Mengapa yang keluar dari mulut penjaga itu pertanyaan, bukan pengumuman hukuman? Mereka tidak menyebut dosa dan tidak menyebut lamanya. Allah menyusun pertemuan pertama di sana sebagai tanya jawab. Jawabannya ada di ayat berikutnya, dan jawaban itu keluar dari mulut yang ditanya sendiri, bukan dari keterangan yang ditambahkan oleh suara dari luar cerita. Jawaban dari mulut yang ditanya sendiri tidak menuntut saksi tambahan.
Ayat 67:9
قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ
Mereka menjawab, “Benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan dan kami berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.’” “Kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang besar.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍqaaluu balaa qad jaa'anaa nadziirun fa-kadzdzabnaa wa-qulnaa maa nazzala llaahu min syay'inmereka menjawab, 'benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan dan kami berkata, Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'
- إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍin antum illaa fii dhalaalin kabiirin'kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang besar'
Terjemahan per kata (18 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- بَلَىٰbalaaya
- قَدْqadsungguh
- جَاءَنَاjaa'anaadatang kepada kami
- نَذِيرٌnadziirunpemberi peringatan
- فَكَذَّبْنَاfa-kadzdzabnaamaka kami mendustakan
- وَقُلْنَاwa-qulnaadan kami berkata
- مَاmaatidaklah
- نَزَّلَnazzalamenurunkan
- اللَّهُllaahuAllah
- مِنْmindari
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- إِنْintidaklah
- أَنْتُمْantumkalian
- إِلَّاillaakecuali
- فِيfiidi
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- كَبِيرٍkabiirinyang besar
Inti bacaan
Pengakuan jujur di akhirat: 'pernah! Sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(-nya)', pengakuan tegas bahwa penolakan bukan karena ketiadaan kesempatan, melainkan keputusan sadar untuk menolak peringatan yang jelas, penghapusan alasan 'tidak tahu' sebagai pembelaan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(-nya)' dan '(Para malaikat berkata,)' dihapus: atribusi penutur bagian terakhir 'in antum illaa fii dalaalin kabiirin' tidak ditandai eksplisit dengan verba 'qaala/qaalat' di teks Arab. Pembacaan bahwa ini ucapan malaikat (bukan lanjutan pengakuan penghuni neraka) adalah tafsir yang gramatikal masuk akal (bentuk jamak 'antum' cocok menyapa kelompok penghuni yang sedang bicara), dipertahankan sebagai kutip terpisah tanpa label penutur tersurat, sesuai disiplin larangan tambahan.
Rangkaian penutup ayat ini memakai kata sifat 'besar' untuk menyebut kesesatan. Bandingkan dengan rangkaian (ضَلَالٍ مُبِينٍ, dhalaalin mubiin), yang memakai kata sifat 'nyata' dan muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Jadi pasangan yang lazim bagi kata kesesatan itu bukan yang dipakai di sini. Kata yang mereka pilih menyebut ukuran, bukan kejelasan.
Jawaban mereka dibuka kata (بَلَىٰ, balaa), yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan berbentuk penafian. Jadi mereka tidak sekadar menjawab, melainkan membenarkan bahwa memang ada yang datang. Bahasa Indonesia tidak punya satu kata untuk membenarkan penafian, dan terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik.
Mereka mengutip ucapan mereka sendiri di dalam jawaban itu. Yang direkam bukan ringkasan sikapnya, melainkan kalimat yang dahulu mereka ucapkan, lengkap dengan tuduhan yang mereka lontarkan. Susunan tersebut memindahkan bebannya: bukan pihak lain yang melaporkan apa yang mereka katakan, melainkan mereka sendiri yang mengulanginya di tempat yang sudah tidak menyisakan jalan keluar.
Yang mereka bantah dahulu bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu rangkaian (مَا نَزَّلَ اللَّهُ, maa nazzalallaahu) yang berarti Allah tidak menurunkan. Bantahan itu menyeluruh dan tidak menyisakan pengecualian sedikit pun. Jadi yang mereka tolak bukan satu ajaran tertentu, melainkan kemungkinan adanya penurunan itu sendiri. Menolak pada tingkat itu menutup semua pembicaraan tentang isinya.
Sesudah membantah, mereka melontarkan tuduhan. Kata yang mereka pakai untuk menuduh kesesatan sekarang berada di dalam kalimat pengakuan mereka sendiri. Jadi kalimat yang dahulu dilemparkan keluar sekarang dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya, di tempat yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang tersesat. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penilaian pun atas pembalikan itu.
Ayat ini menjawab pertanyaan di 67:8 dengan lengkap, bahkan lebih lengkap daripada yang ditanyakan. Yang ditanya cuma apakah ada yang datang. Yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Jawaban yang melebihi pertanyaannya menandai bahwa yang menjawab tidak lagi menahan apa pun.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa pemberi peringatan itu, tidak disebut kapan ia datang, dan tidak disebut berapa lama mereka menolaknya. Yang disebut cuma isi penolakannya. Menahan nama dan waktu membuat pengakuan ini tidak terbaca sebagai catatan tentang satu peristiwa, melainkan sebagai bentuk penolakan yang bisa berulang.
Tafsiran
Ayat ini mencatat pengakuan penghuni neraka atas penolakan mereka terhadap peringatan yang pernah datang.
Ayat ini memuat jawaban atas pertanyaan sebelumnya, dan jawabannya lebih lengkap daripada yang ditanyakan.
Jawaban mereka dibuka kata yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan yang berbentuk penafian, jadi mereka membenarkan bahwa memang ada yang datang. Terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik.
Mereka mengutip ucapan mereka sendiri di dalam jawaban itu, lengkap dengan tuduhan yang dahulu mereka lontarkan. Yang mereka bantah bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu bahwa Allah menurunkan sesuatu, dan bantahan itu menyeluruh tanpa pengecualian.
Rangkaian penutupnya memakai kata sifat 'besar' untuk menyebut kesesatan, sedangkan rangkaian (ضَلَالٍ مُبِينٍ, dhalaalin mubiin) yang memakai kata sifat 'nyata' muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Jadi pasangan yang lazim bukan yang dipakai di sini. Tidak disebut siapa pemberi peringatan itu dan kapan ia datang.
Ayat ini menjawab pertanyaan di 67:8 dengan lebih lengkap daripada yang ditanyakan. Yang ditanya cuma apakah ada yang datang; yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Kalimat yang dahulu mereka lemparkan keluar kini dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya.
Renungan dan Hikmah
- Mereka tidak sekadar mengakui pernah diperingatkan; mereka mengutip ucapan mereka sendiri: 'Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'. Kalimat yang dulu diucapkan dengan yakin dibacakan ulang oleh mulut yang sama. Tak ada hukuman di situ, cuma pengulangan, dan itu sudah cukup. Jawaban ini melebihi pertanyaannya. Yang ditanya di 67:8 cuma apakah ada yang datang, dan yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Jawaban yang melebihi pertanyaannya menandai bahwa yang menjawab tidak lagi menahan apa pun, sebab menahan sudah tidak ada gunanya di tempat itu. Yang tidak lagi punya jalan keluar berhenti menakar apa yang diucapkannya.
- Pertanyaan apakah pernah datang pemberi peringatan dijawab 'benar'. Tak ada bantahan, tak ada pembelaan. Di hadapan Allah, hal yang paling sering diperdebatkan orang selama hidupnya diselesaikan dengan satu kata. Jawabannya dibuka kata yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan yang berbentuk penafian. Jadi mereka tidak sekadar menjawab, melainkan membenarkan bahwa memang ada yang datang. Bahasa Indonesia tidak punya satu kata untuk membenarkan penafian, dan terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik di telinga pembacanya. Kata pembenaran atas penafian tidak punya padanan sependek itu di bahasa Indonesia.
- Ucapan yang mereka akui bukan 'peringatan ini keliru', melainkan 'Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'. Yang ditolak bukan isi pesannya, melainkan adanya pesan sama sekali. Menolak dengan cara itu memang tak menuntut siapa pun memeriksa isinya lebih dulu. Yang mereka bantah dahulu bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu bahwa Allah menurunkan sesuatu. Bantahan itu menyeluruh dan tidak menyisakan pengecualian sedikit pun. Jadi yang ditolak bukan satu ajaran tertentu, melainkan kemungkinan adanya penurunan itu sendiri. Menolak pada tingkat itu menutup semua pembicaraan tentang isinya sebelum isinya sempat ditimbang. Menolak pada tingkat pokok menutup pembicaraan sebelum isinya sempat ditimbang.
- Kesesatan di ayat ini disifati dengan kata untuk ukuran, sedangkan pasangan yang lazim memakai kata untuk kejelasan dan muncul delapan belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Allah merekam pilihan kata mereka apa adanya. Yang menuduh memilih kata yang menyebut besarnya, bukan yang menyebut jelasnya, dan pilihan itu memperlihatkan bahwa tuduhannya diukur dengan perasaan. Pilihan kata sifat memperlihatkan dengan apa sebuah tuduhan diukur.
- Kalimat yang dahulu mereka lemparkan keluar sekarang dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya, di tempat yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang tersesat. Allah tidak menambahkan satu kata penilaian pun atas pembalikan itu. Kutipan yang diucapkan ulang oleh pengucapnya sendiri tidak menuntut komentar, sebab keadaan di sekelilingnya sudah mengerjakan seluruh penilaiannya. Kutipan yang diucapkan ulang oleh pengucapnya tidak menuntut komentar.
- Siapa pemberi peringatan itu? Kapan ia datang? Berapa lama mereka menolaknya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma isi penolakannya. Allah menahan nama dan waktunya, sehingga pengakuan ini tidak terbaca sebagai catatan tentang satu peristiwa yang sudah lewat, melainkan sebagai bentuk penolakan yang bisa berulang pada siapa saja yang menghadapi hal serupa. Bentuk penolakan yang bisa berulang lebih berguna dicatat daripada satu peristiwa.