قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

Mereka menjawab, “Benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan dan kami berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.’” “Kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang besar.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍqaaluu balaa qad jaa'anaa nadziirun fa-kadzdzabnaa wa-qulnaa maa nazzala llaahu min syay'inmereka menjawab, 'benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan dan kami berkata, Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'
  2. إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍin antum illaa fii dhalaalin kabiirin'kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang besar'

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. بَلَىٰbalaaya
  3. قَدْqadsungguh
  4. جَاءَنَاjaa'anaadatang kepada kami
  5. نَذِيرٌnadziirunpemberi peringatan
  6. فَكَذَّبْنَاfa-kadzdzabnaamaka kami mendustakan
  7. وَقُلْنَاwa-qulnaadan kami berkata
  8. مَاmaatidaklah
  9. نَزَّلَnazzalamenurunkan
  10. اللَّهُllaahuAllah
  11. مِنْmindari
  12. شَيْءٍsyay'insesuatu
  13. إِنْinjika
  14. أَنْتُمْantumkalian
  15. إِلَّاillaakecuali
  16. فِيfiidi
  17. ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
  18. كَبِيرٍkabiirinyang besar

Inti bacaan

Pengakuan jujur di akhirat: 'pernah! Sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(-nya)', pengakuan tegas bahwa penolakan bukan karena ketiadaan kesempatan, melainkan keputusan sadar untuk menolak peringatan yang jelas, penghapusan alasan 'tidak tahu' sebagai pembelaan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(-nya)' dan '(Para malaikat berkata,)' dihapus: atribusi penutur bagian terakhir 'in antum illaa fii dalaalin kabiirin' tidak ditandai eksplisit dengan verba 'qaala/qaalat' di teks Arab. Pembacaan bahwa ini ucapan malaikat (bukan lanjutan pengakuan penghuni neraka) adalah tafsir yang gramatikal masuk akal (bentuk jamak 'antum' cocok menyapa kelompok penghuni yang sedang bicara), dipertahankan sebagai kutip terpisah tanpa label penutur tersurat, sesuai disiplin larangan tambahan.

Rangkaian penutup ayat ini memakai kata sifat 'besar' untuk menyebut kesesatan. Bandingkan dengan rangkaian (ضَلَالٍ مُبِينٍ, dhalaalin mubiin), yang memakai kata sifat 'nyata' dan muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Jadi pasangan yang lazim bagi kata kesesatan itu bukan yang dipakai di sini. Kata yang mereka pilih menyebut ukuran, bukan kejelasan.

Jawaban mereka dibuka kata (بَلَىٰ, balaa), yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan berbentuk penafian. Jadi mereka tidak sekadar menjawab, melainkan membenarkan bahwa memang ada yang datang. Bahasa Indonesia tidak punya satu kata untuk membenarkan penafian, dan terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik.

Mereka mengutip ucapan mereka sendiri di dalam jawaban itu. Yang direkam bukan ringkasan sikapnya, melainkan kalimat yang dahulu mereka ucapkan, lengkap dengan tuduhan yang mereka lontarkan. Susunan tersebut memindahkan bebannya: bukan pihak lain yang melaporkan apa yang mereka katakan, melainkan mereka sendiri yang mengulanginya di tempat yang sudah tidak menyisakan jalan keluar.

Yang mereka bantah dahulu bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu rangkaian (مَا نَزَّلَ اللَّهُ, maa nazzalallaahu) yang berarti Allah tidak menurunkan. Bantahan itu menyeluruh dan tidak menyisakan pengecualian sedikit pun. Jadi yang mereka tolak bukan satu ajaran tertentu, melainkan kemungkinan adanya penurunan itu sendiri. Menolak pada tingkat itu menutup semua pembicaraan tentang isinya.

Sesudah membantah, mereka melontarkan tuduhan. Kata yang mereka pakai untuk menuduh kesesatan sekarang berada di dalam kalimat pengakuan mereka sendiri. Jadi kalimat yang dahulu dilemparkan keluar sekarang dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya, di tempat yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang tersesat. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penilaian pun atas pembalikan itu.

Ayat ini menjawab pertanyaan di 67:8 dengan lengkap, bahkan lebih lengkap daripada yang ditanyakan. Yang ditanya cuma apakah ada yang datang. Yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Jawaban yang melebihi pertanyaannya menandai bahwa yang menjawab tidak lagi menahan apa pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa pemberi peringatan itu, tidak disebut kapan ia datang, dan tidak disebut berapa lama mereka menolaknya. Yang disebut cuma isi penolakannya. Menahan nama dan waktu membuat pengakuan ini tidak terbaca sebagai catatan tentang satu peristiwa, melainkan sebagai bentuk penolakan yang bisa berulang.

Tafsiran

Ayat ini mencatat pengakuan penghuni neraka atas penolakan mereka terhadap peringatan yang pernah datang.

Ayat ini memuat jawaban atas pertanyaan sebelumnya, dan jawabannya lebih lengkap daripada yang ditanyakan.

Jawaban mereka dibuka kata yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan yang berbentuk penafian, jadi mereka membenarkan bahwa memang ada yang datang. Terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik.

Mereka mengutip ucapan mereka sendiri di dalam jawaban itu, lengkap dengan tuduhan yang dahulu mereka lontarkan. Yang mereka bantah bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu bahwa Allah menurunkan sesuatu, dan bantahan itu menyeluruh tanpa pengecualian.

Rangkaian penutupnya memakai kata sifat 'besar' untuk menyebut kesesatan, sedangkan rangkaian (ضَلَالٍ مُبِينٍ, dhalaalin mubiin) yang memakai kata sifat 'nyata' muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Jadi pasangan yang lazim bukan yang dipakai di sini. Tidak disebut siapa pemberi peringatan itu dan kapan ia datang.

Ayat ini menjawab pertanyaan di 67:8 dengan lebih lengkap daripada yang ditanyakan. Yang ditanya cuma apakah ada yang datang; yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Kalimat yang dahulu mereka lemparkan keluar kini dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka tidak sekadar mengakui pernah diperingatkan; mereka mengutip ucapan mereka sendiri: 'Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'. Kalimat yang dulu diucapkan dengan yakin dibacakan ulang oleh mulut yang sama. Tak ada hukuman di situ, cuma pengulangan, dan itu sudah cukup. Jawaban ini melebihi pertanyaannya. Yang ditanya di 67:8 cuma apakah ada yang datang, dan yang dijawab bahwa ada yang datang, bahwa mereka mendustakannya, apa yang mereka katakan, dan tuduhan apa yang mereka lontarkan. Jawaban yang melebihi pertanyaannya menandai bahwa yang menjawab tidak lagi menahan apa pun, sebab menahan sudah tidak ada gunanya di tempat itu. Yang tidak lagi punya jalan keluar berhenti menakar apa yang diucapkannya.
  • Pertanyaan apakah pernah datang pemberi peringatan dijawab 'benar'. Tak ada bantahan, tak ada pembelaan. Di hadapan Allah, hal yang paling sering diperdebatkan orang selama hidupnya diselesaikan dengan satu kata. Jawabannya dibuka kata yang menyatakan pembenaran atas pertanyaan yang berbentuk penafian. Jadi mereka tidak sekadar menjawab, melainkan membenarkan bahwa memang ada yang datang. Bahasa Indonesia tidak punya satu kata untuk membenarkan penafian, dan terjemahan memakai 'benar' lalu melanjutkannya dengan kalimat penegas supaya arah jawabannya tidak terbalik di telinga pembacanya. Kata pembenaran atas penafian tidak punya padanan sependek itu di bahasa Indonesia.
  • Ucapan yang mereka akui bukan 'peringatan ini keliru', melainkan 'Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun'. Yang ditolak bukan isi pesannya, melainkan adanya pesan sama sekali. Menolak dengan cara itu memang tak menuntut siapa pun memeriksa isinya lebih dulu. Yang mereka bantah dahulu bukan orangnya melainkan pokoknya, yaitu bahwa Allah menurunkan sesuatu. Bantahan itu menyeluruh dan tidak menyisakan pengecualian sedikit pun. Jadi yang ditolak bukan satu ajaran tertentu, melainkan kemungkinan adanya penurunan itu sendiri. Menolak pada tingkat itu menutup semua pembicaraan tentang isinya sebelum isinya sempat ditimbang. Menolak pada tingkat pokok menutup pembicaraan sebelum isinya sempat ditimbang.
  • Kesesatan di ayat ini disifati dengan kata untuk ukuran, sedangkan pasangan yang lazim memakai kata untuk kejelasan dan muncul delapan belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 3:164, 26:97, dan 36:24. Allah merekam pilihan kata mereka apa adanya. Yang menuduh memilih kata yang menyebut besarnya, bukan yang menyebut jelasnya, dan pilihan itu memperlihatkan bahwa tuduhannya diukur dengan perasaan. Pilihan kata sifat memperlihatkan dengan apa sebuah tuduhan diukur.
  • Kalimat yang dahulu mereka lemparkan keluar sekarang dibacakan kembali oleh mulut yang melemparkannya, di tempat yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang tersesat. Allah tidak menambahkan satu kata penilaian pun atas pembalikan itu. Kutipan yang diucapkan ulang oleh pengucapnya sendiri tidak menuntut komentar, sebab keadaan di sekelilingnya sudah mengerjakan seluruh penilaiannya. Kutipan yang diucapkan ulang oleh pengucapnya tidak menuntut komentar.
  • Siapa pemberi peringatan itu? Kapan ia datang? Berapa lama mereka menolaknya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma isi penolakannya. Allah menahan nama dan waktunya, sehingga pengakuan ini tidak terbaca sebagai catatan tentang satu peristiwa yang sudah lewat, melainkan sebagai bentuk penolakan yang bisa berulang pada siapa saja yang menghadapi hal serupa. Bentuk penolakan yang bisa berulang lebih berguna dicatat daripada satu peristiwa.