Ayat 67:10

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, tentulah kami tidak termasuk di antara para penghuni api yang menyala-nyala.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِwa-qaaluu law kunnaa nasma'u aw na'qilu maa kunnaa fii ashaabi s-sa'iirimereka juga berkata, 'andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, tentulah kami tidak termasuk di antara para penghuni api yang menyala-nyala'

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  2. لَوْlawsekiranya
  3. كُنَّاkunnaakami adalah
  4. نَسْمَعُnasma'ukami mendengar
  5. أَوْawatau
  6. نَعْقِلُna'qilukami memahami
  7. مَاmaatidaklah
  8. كُنَّاkunnaakami adalah
  9. فِيfiitermasuk
  10. أَصْحَابِashaabipenghuni
  11. السَّعِيرِs-sa'iiriapi yang menyala

Inti bacaan

Penyesalan tentang kegagalan mendengar dan berpikir: 'andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka)', pengakuan bahwa kombinasi mendengar (menerima informasi) dan berpikir (memproses secara mendalam) adalah dua langkah yang keduanya diperlukan, kegagalan pada salah satunya sudah cukup membawa konsekuensi serius.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(peringatan itu)', '(golongan)', '(neraka)', dan '(yang menyala-nyala)' seluruhnya tidak dipakai.

Kata (نَعْقِلُ, na'qilu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:10. Rangkaian (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ash-haabis-sa'iir) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11. Dua di antaranya berada di surah ini dan berdampingan, sedangkan yang satu lagi di surah 35.

Di 35:6 rangkaian itu dipakai untuk menyebut ke mana setan mengajak golongannya. Jadi di sana ia sebutan bagi tujuan sebuah ajakan. Di 67:10 rangkaian yang sama dipakai orang untuk menyebut dirinya sendiri. Yang di satu tempat menjadi arah yang ditawarkan, di tempat lain menjadi kedudukan yang diakui.

Mereka menyebut dua hal yang seandainya dikerjakan akan mengubah keadaannya, yaitu mendengar dan memikirkan. Keduanya disambung kata yang berarti 'atau', bukan 'dan'. Jadi yang mereka nyatakan bukan bahwa keduanya diperlukan bersama-sama, melainkan bahwa salah satu saja sudah cukup. Terjemahan menahan pilihan kata itu dan tidak menggantinya dengan kata penghubung yang menjumlahkan.

Kata pertama menyebut mendengar, yaitu menerima dari luar. Kata kedua menyebut mengolah dengan akal, yaitu mengerjakan sendiri di dalam. Jadi dua jalan yang disebut berbeda arahnya: yang satu masuk dari luar, dan yang satu lagi bekerja dari dalam. Keduanya ditutup pada saat yang sama, dan penyesalan mereka menyebut dua-duanya.

Kalimatnya berbentuk pengandaian yang sudah tidak bisa dipenuhi. Bentuk itu dipakai untuk sesuatu yang waktunya sudah lewat. Terjemahan memakai 'andaikan dahulu' dan menahan bahwa yang diandaikan bukan kemungkinan yang masih terbuka. Menghilangkan kata untuk masa lalu akan membuat kalimatnya terbaca seperti permintaan, padahal ia pengakuan.

Mereka tidak menyalahkan siapa pun di dalam kalimat ini. Tidak ada penyebutan penggoda, tidak ada penyebutan keadaan yang memaksa, dan tidak ada penyebutan orang yang menyesatkan. Yang disebut cuma dua hal yang tidak mereka kerjakan. Pengakuan yang tidak menunjuk pihak lain jarang keluar, dan ayat ini merekamnya tanpa satu kalimat pengantar pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang seharusnya mereka dengar, tidak disebut apa yang seharusnya mereka pikirkan, dan tidak disebut kapan kesempatan itu ada. Yang disebut cuma dua kata kerja. Menahan isinya membuat kalimat ini berlaku untuk segala hal yang pernah sampai kepada mereka, bukan cuma untuk satu peringatan tertentu yang bisa dibantah kedatangannya. Kalimat yang tidak menyebut isi tidak menyisakan celah untuk berdalih bahwa yang terlewat kebetulan bukan yang penting.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan penyesalan penghuni neraka karena tidak mendengar dan berpikir semasa hidup.

Ayat ini memuat kelanjutan pengakuan mereka, dan kali ini yang disebut dua hal yang tidak mereka kerjakan.

Kata (نَعْقِلُ, na'qilu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:10. Rangkaian (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ash-haabis-sa'iir) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11. Di 35:6 rangkaian itu dipakai untuk menyebut ke mana setan mengajak golongannya, sedangkan di sini ia dipakai orang untuk menyebut dirinya sendiri.

Mereka menyebut dua hal yang seandainya dikerjakan akan mengubah keadaannya, yaitu mendengar dan memikirkan, dan keduanya disambung kata yang berarti 'atau', bukan 'dan'. Jadi salah satu saja sudah cukup.

Kalimatnya berbentuk pengandaian yang sudah tidak bisa dipenuhi, dan terjemahan menahan bahwa yang diandaikan bukan kemungkinan yang masih terbuka. Mereka tidak menyalahkan siapa pun di dalam kalimat ini. Tidak disebut apa yang seharusnya mereka dengar dan kapan kesempatan itu ada.

Kata pertama menyebut menerima dari luar, dan kata kedua menyebut mengolah dengan akal di dalam, sehingga dua jalan yang disebut berbeda arahnya. Keduanya tertutup pada saat yang sama, dan penyesalan mereka menyebut dua-duanya tanpa memilih salah satunya sebagai yang lebih menentukan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam mereka menyebut dua hal: mendengarkan atau memikirkan. Salah satunya saja. Satu pintu pun sudah cukup, dan dua-duanya mereka tutup. Kata pertama menyebut mendengar, yaitu menerima dari luar, dan kata kedua menyebut mengolah dengan akal, yaitu mengerjakan sendiri di dalam. Jadi dua jalan yang disebut berbeda arahnya: yang satu masuk dari luar, dan yang satu lagi bekerja dari dalam. Keduanya tertutup pada saat yang sama, dan penyesalan mereka menyebut dua-duanya tanpa memilih salah satunya sebagai yang lebih menentukan. Dua jalan yang berlawanan arah tertutup pada saat yang sama.
  • Kata yang dipakai atau, bukan dan. Pilihan, bukan syarat berganda. Yang menyesal tahu sendiri betapa rendah ambang masuknya. Dua hal itu disambung kata yang berarti 'atau', bukan 'dan'. Jadi yang mereka nyatakan bukan bahwa keduanya diperlukan bersama-sama, melainkan bahwa salah satu saja sudah cukup. Terjemahan menahan pilihan kata tersebut dan tidak menggantinya dengan kata penghubung yang menjumlahkan, sebab penggantian itu akan membuat tuntutannya terbaca lebih berat daripada yang mereka akui sendiri. Kata penghubung yang memilih meringankan tuntutan yang diakui.
  • Allah merekam penyesalan yang menyebut sebabnya sendiri. Tanpa menyalahkan siapa pun. Tak ada penggoda yang disebut di dalam kalimat itu. Mereka tidak menyalahkan siapa pun di dalam kalimat ini. Tidak ada penyebutan penggoda, tidak ada penyebutan keadaan yang memaksa, dan tidak ada penyebutan orang yang menyesatkan. Yang disebut cuma dua hal yang tidak mereka kerjakan. Pengakuan yang tidak menunjuk pihak lain jarang keluar, dan Allah merekamnya tanpa satu kalimat pengantar yang menerangkan mengapa demikian. Pengakuan yang tidak menunjuk pihak lain jarang keluar dari mulut siapa pun.
  • Rangkaian yang mereka pakai untuk menyebut diri sendiri muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11. Di 35:6 ia menyebut ke mana setan mengajak golongannya, jadi di sana ia sebutan bagi tujuan sebuah ajakan. Di ayat ini ia menjadi kedudukan yang diakui sendiri. Allah memakai satu sebutan untuk arah yang ditawarkan dan untuk tempat yang akhirnya ditempati. Satu sebutan dipakai untuk arah yang ditawarkan dan untuk tempat yang ditempati.
  • Kalimatnya berbentuk pengandaian yang sudah tidak bisa dipenuhi, dan bentuk itu dipakai untuk sesuatu yang waktunya sudah lewat. Terjemahan memakai 'andaikan dahulu' untuk menahan hal tersebut. Menghilangkan kata untuk masa lalu akan membuat kalimatnya terbaca seperti permintaan, padahal ia pengakuan. Allah merekam penyesalan pada bentuk kalimat yang sejak tata bahasanya sudah menutup pintunya. Tata bahasa yang menutup pintunya sendiri tidak perlu diberi keterangan tambahan.
  • Apa yang seharusnya mereka dengar? Apa yang seharusnya mereka pikirkan? Kapan kesempatan itu ada? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma dua kata kerja. Allah menahan isinya, dan penahanan itu melebarkan jangkauannya: kalimat ini berlaku untuk segala hal yang pernah sampai kepada mereka, bukan cuma untuk satu peringatan tertentu yang bisa dibantah kedatangannya. Yang tidak disebut isinya tidak bisa dibantah dengan menyanggah satu contohnya.

Ayat 67:11

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka jauhlah bagi para penghuni api yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِfa-'tarafuu bi-dzanbihim fa-suhqan li-ashaabi s-sa'iirimaka mereka mengakui dosa mereka; maka jauhlah bagi para penghuni api yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَاعْتَرَفُواfa-'tarafuumaka mereka mengakui
  2. بِذَنْبِهِمْbi-dzanbihimkarena dosa mereka
  3. فَسُحْقًاfa-suhqanmaka kebinasaan
  4. لِأَصْحَابِli-ashaabibagi golongan
  5. السَّعِيرِs-sa'iiriapi yang menyala

Inti bacaan

Pengakuan dosa yang datang terlambat: 'mereka mengakui dosa mereka; maka jauhlah bagi para penghuni api yang menyala-nyala', pengakuan yang benar namun terlambat waktunya, pelajaran bahwa kejujuran terhadap kesalahan diri paling berharga ketika dilakukan sebelum konsekuensi tak terhindarkan, bukan setelahnya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَاعْتَرَفُوا, fa'tarafuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:11. Kata (فَسُحْقًا, fa-suhqan) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:11. Rangkaian (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ash-haabis-sa'iir) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11.

Kata yang mereka akui berbentuk tunggal, yaitu 'dosa mereka', bukan bentuk jamak. Padahal dua ayat sebelumnya menyebut beberapa hal sekaligus, yaitu mendustakan, membantah adanya penurunan, dan melontarkan tuduhan. Semuanya dirangkum menjadi satu. Terjemahan menahan bentuk tunggal itu, sebab menjamakkannya akan memecah lagi apa yang sudah dijadikan satu oleh ayatnya.

Kata kedua berasal dari akar yang berarti jauh dan hancur. Terjemahan memakai 'jauhlah' dan menahan gagasan jarak yang ada di dalamnya. Susunannya berbentuk seruan yang tidak memakai kata kerja, sehingga tidak ada yang disebut sebagai pelakunya. Bahasa Indonesia menuntut kata kerja untuk seruan semacam itu, dan terjemahan memilih bentuk yang paling pendek supaya panjangnya tidak menjauh dari aslinya.

Pengakuan mereka diterima sebagai kenyataan, bukan dibantah. Ayat ini tidak berkata bahwa pengakuannya palsu, dan tidak berkata bahwa mereka masih menyembunyikan sesuatu. Yang datang sesudahnya bukan penilaian atas kejujurannya, melainkan seruan tentang jarak. Jadi yang menentukan bukan benar tidaknya ucapan itu, melainkan kapan ia diucapkan.

Letaknya menutup rangkaian yang dimulai di 67:6. Rangkaiannya bergerak dari penyebutan tempatnya, ke bunyinya, ke pertanyaan penjaganya, ke jawaban mereka, ke penyesalannya, dan berakhir pada pengakuan ini. Enam ayat berturut-turut membangun satu adegan tanpa satu kalimat pengantar pun yang menerangkan bahwa adegan itu sedang dimulai atau ditutup.

Ayat berikutnya langsung berpindah ke pihak yang berlawanan. Tidak ada kalimat penghubung, tidak ada penanda perpindahan, dan tidak ada ringkasan. Susunan seperti itu sama dengan cara 67:6 masuk sesudah 67:5. Surah ini berpindah antarpokok dengan cara memotong, bukan dengan cara menyambung.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kepada siapa mereka mengaku, tidak disebut apakah ada yang menjawab, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya. Yang disebut cuma pengakuannya dan seruan tentang jarak. Menahan kelanjutannya membuat adegan itu berhenti pada satu kalimat pendek, dan berhenti mendadak lebih berat daripada uraian yang panjang.

Bunyi seruan penutupnya pendek dan berhenti mendadak, berbeda dari dua ayat sebelumnya yang memuat kalimat panjang berisi kutipan ucapan. Perbedaan panjang itu ikut bekerja: sesudah mereka berbicara panjang lebar di 67:9 dan 67:10, yang menjawab cuma satu seruan yang tidak sampai empat kata. Perbandingan panjangnya sendiri sudah menyatakan siapa yang masih perlu menjelaskan dan siapa yang tidak.

Tafsiran

Ayat ini mencatat pengakuan dosa disertai kutukan jauh bagi penghuni neraka.

Ayat ini menutup adegan yang dimulai di 67:6 dengan sebuah pengakuan dan sebuah seruan tentang jarak.

Kata (فَاعْتَرَفُوا, fa'tarafuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:11. Kata (فَسُحْقًا, fa-suhqan) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:11. Rangkaian (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ash-haabis-sa'iir) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11.

Kata yang mereka akui berbentuk tunggal, padahal dua ayat sebelumnya menyebut beberapa hal sekaligus. Semuanya dirangkum menjadi satu, dan terjemahan menahan bentuk tunggal itu.

Kata kedua berasal dari akar yang berarti jauh dan hancur, dan susunannya berbentuk seruan tanpa kata kerja sehingga tidak ada yang disebut sebagai pelakunya. Pengakuan mereka diterima sebagai kenyataan dan tidak dibantah; yang datang sesudahnya bukan penilaian atas kejujurannya melainkan seruan tentang jarak. Tidak disebut kepada siapa mereka mengaku dan apa yang terjadi sesudahnya.

Letaknya menutup rangkaian yang dimulai di 67:6, yang bergerak dari penyebutan tempatnya, ke bunyinya, ke pertanyaan penjaganya, ke jawaban mereka, ke penyesalannya, dan berakhir pada pengakuan ini. Ayat berikutnya langsung berpindah ke pihak yang berlawanan tanpa kalimat penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut pengakuan itu datang, tetapi tidak menolong. Diakui. Tetap jauh. Pengakuan mereka diterima sebagai kenyataan, bukan dibantah. Ayat ini tidak berkata bahwa pengakuannya palsu, dan tidak berkata bahwa mereka masih menyembunyikan sesuatu. Yang datang sesudahnya bukan penilaian atas kejujurannya, melainkan seruan tentang jarak. Jadi yang menentukan bukan benar tidaknya ucapan itu, melainkan kapan ia diucapkan, dan waktunya sudah lewat. Waktu ucapan menentukan nilainya, bahkan ketika isinya sudah tepat.
  • Kata jauhlah dipakai, bukan kata celakalah. Bahasanya bahasa jarak. Disingkirkan. Kata kedua berasal dari akar yang berarti jauh dan hancur, dan terjemahan memakai 'jauhlah' untuk menahan gagasan jarak di dalamnya. Susunannya berbentuk seruan yang tidak memakai kata kerja, sehingga tidak ada yang disebut sebagai pelakunya. Yang dinyatakan keadaan, bukan perbuatan seseorang, dan keadaan yang dinyatakan tanpa pelaku tidak bisa dimintakan peninjauan kepada siapa pun. Keadaan yang dinyatakan tanpa pelaku tidak bisa dimintakan peninjauan kepada siapa pun.
  • Pengakuan disebut lebih dahulu, penjauhan menyusul. Allah menaruh urutannya. Jujur pun sudah lewat waktunya. Kata yang mereka akui berbentuk tunggal, padahal dua ayat sebelumnya menyebut beberapa hal sekaligus, yaitu mendustakan, membantah adanya penurunan, dan melontarkan tuduhan. Semuanya dirangkum menjadi satu. Terjemahan menahan bentuk tunggal itu, sebab menjamakkannya akan memecah lagi apa yang sudah dijadikan satu oleh ayatnya sendiri. Yang sudah dijadikan satu tidak perlu dipecah lagi oleh yang menerjemahkannya.
  • Rangkaian yang ditutup ayat ini dimulai di 67:6. Ia bergerak dari penyebutan tempatnya, ke bunyinya, ke pertanyaan penjaganya, ke jawaban mereka, ke penyesalannya, dan berakhir pada pengakuan ini. Enam ayat berturut-turut membangun satu adegan tanpa satu kalimat pengantar pun. Allah tidak memberi tahu bahwa adegan sedang dimulai atau ditutup; urutan ayatnya yang mengerjakan seluruh penandaan itu. Enam ayat yang berturut-turut membentuk satu adegan tanpa satu pengantar pun.
  • Ayat berikutnya langsung berpindah ke pihak yang berlawanan, tanpa kalimat penghubung, tanpa penanda perpindahan, dan tanpa ringkasan. Susunan itu sama dengan cara 67:6 masuk sesudah 67:5. Allah berpindah antarpokok dengan cara memotong, bukan menyambung. Pembaca yang membaca berurutan merasakan jatuhnya perpindahan itu pada pergantian baris, bukan pada satu kalimat yang menjelaskannya. Perpindahan yang memotong terasa pada pergantian baris, bukan pada kalimatnya.
  • Kepada siapa mereka mengaku? Adakah yang menjawab? Apa yang terjadi sesudahnya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma pengakuannya dan seruan tentang jarak. Allah menahan kelanjutannya, sehingga adegan itu berhenti pada satu kalimat pendek. Berhenti mendadak lebih berat daripada uraian yang panjang, sebab yang membaca terlanjur menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Berhenti mendadak menahan pembaca lebih lama daripada uraian yang lengkap.