إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya secara gaib akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌinna lladziina yakhsyawna rabbahum bi-l-ghaybi lahum maghfiratun wa-ajrun kabiirunsesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya secara gaib akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar
Terjemahan per kata (9 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- يَخْشَوْنَyakhsyawnamereka takut
- رَبَّهُمْrabbahumTuhan mereka
- بِالْغَيْبِbi-l-ghaybipada yang gaib
- لَهُمْlahumbagi mereka
- مَغْفِرَةٌmaghfiratunampunan
- وَأَجْرٌwa-ajrundan pahala
- كَبِيرٌkabiirunyang besar
Inti bacaan
Definisi ketakwaan sejati: 'orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar', pengakuan bahwa kualitas keimanan diuji justru dalam ketiadaan bukti visual langsung, kesetiaan yang bertahan tanpa memerlukan penglihatan konkret sebagai jaminan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ, yakhsyauna rabbahum bil-ghaib) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:49, 35:18, dan 67:12. Rangkaian (أَجْرٌ كَبِيرٌ, ajrun kabiir) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:11, 35:7, 57:7, dan 67:12. Dua-duanya rangkaian yang sudah dipakai di tempat lain, dan keduanya bertemu di ayat ini.
Di 21:49 rangkaian pertama disusul keterangan bahwa mereka juga takut terhadap saat itu, dan di 35:18 ia berada di dalam pembicaraan tentang beban yang tidak bisa dipikulkan kepada orang lain. Jadi di tiga tempat itu sifat yang sama dilekatkan pada orang yang berbeda-beda keadaannya. Yang tetap sifatnya, dan yang berganti keadaan yang mengelilinginya.
Kata (بِالْغَيْبِ, bil-ghaib) bisa dibaca dua arah, yaitu takut kepada yang tidak terlihat, atau takut ketika tidak ada yang melihat. Ayatnya tidak memilih salah satunya. Terjemahan memakai 'secara gaib' dan menahan dua arah bacaan itu tetap terbuka. Menyempitkannya ke salah satu akan menutup bacaan yang lain, padahal keduanya sama-sama didukung susunan katanya.
Yang dijanjikan dua hal, yaitu penghapusan yang lalu dan tambahan yang baru. Urutannya menaruh penghapusan lebih dahulu. Susunan itu sejalan dengan letak ayatnya, sebab ayat sebelumnya berisi pengakuan atas dosa yang tidak lagi berguna. Jadi yang di 67:11 diakui terlambat, di 67:12 disebut sebagai yang dihapus bagi pihak yang lain.
Sifat yang dipakai untuk menyebut mereka bukan perbuatan melainkan keadaan hati. Ayat ini tidak mendaftar amal, tidak menyebut ibadah tertentu, dan tidak menyebut jumlah. Bandingkan dengan enam ayat sebelumnya, yang justru merinci ucapan dan pengakuan pihak yang berlawanan sampai ke kalimatnya. Yang satu dirinci perbuatannya, dan yang satu lagi disebut dengan satu sifat saja.
Surah 35 muncul di dua rangkaian sekaligus di ayat ini, yaitu di 35:18 dan 35:7. Surah yang sama juga bertemu surah ini di 35:6, yang memuat rangkaian yang dipakai 67:10 dan 67:11. Jadi dalam tujuh ayat berturut-turut, surah 35 bertemu surah ini tiga kali di tiga rangkaian yang berbeda.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut seberapa besar pahalanya, tidak disebut kapan diberikan, dan tidak disebut apa yang diampuni. Yang disebut cuma sifatnya dan dua hal yang dijanjikan. Menahan ukurannya menjaga janji ini tetap terbaca sebagai janji, bukan sebagai perhitungan yang bisa ditakar lebih dahulu oleh yang mengejarnya.
Bentuk kalimatnya dibuka huruf penegas, sehingga ia berdiri sebagai pernyataan yang dikuatkan, bukan sebagai kemungkinan. Bandingkan dengan ayat sebelumnya, yang ditutup seruan tanpa kata kerja dan tanpa penegasan. Dua ayat berdampingan memakai dua bentuk yang berbeda kedudukannya, dan perbedaan bentuk itu sendiri sudah memisahkan dua pihak yang sedang dibicarakan.
Tafsiran
Ayat ini menjanjikan ampunan dan pahala besar bagi yang takut kepada Allah tanpa melihat-Nya secara langsung.
Ayat ini berpindah ke pihak yang berlawanan tanpa kalimat penghubung, dan menyebut mereka dengan satu sifat saja.
Rangkaian (يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ, yakhsyauna rabbahum bil-ghaib) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:49, 35:18, dan 67:12. Rangkaian (أَجْرٌ كَبِيرٌ, ajrun kabiir) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:11, 35:7, 57:7, dan 67:12.
Kata (بِالْغَيْبِ, bil-ghaib) bisa dibaca dua arah, yaitu takut kepada yang tidak terlihat atau takut ketika tidak ada yang melihat, dan ayatnya tidak memilih salah satunya. Terjemahan menahan dua arah bacaan itu tetap terbuka.
Yang dijanjikan dua hal, yaitu penghapusan yang lalu dan tambahan yang baru, dan urutannya menaruh penghapusan lebih dahulu. Sifat yang dipakai untuk menyebut mereka bukan perbuatan melainkan keadaan hati; ayat ini tidak mendaftar amal, ibadah tertentu, maupun jumlah. Tidak disebut seberapa besar pahalanya dan kapan diberikan.
Surah 35 muncul di dua rangkaian sekaligus di ayat ini, yaitu di 35:18 dan 35:7, dan surah yang sama juga bertemu surah ini di 35:6. Jadi dalam tujuh ayat berturut-turut, surah 35 bertemu surah ini tiga kali di tiga rangkaian yang berbeda, dan tidak satu pun pertemuan itu ditandai di dalam teksnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut takut tanpa melihat. Bukan takut karena terlihat. Takut kepada yang tidak tampak. Rangkaian yang menyebut sifat itu bisa dibaca dua arah, yaitu takut kepada yang tidak terlihat, atau takut ketika tidak ada yang melihat. Ayatnya tidak memilih salah satunya. Terjemahan memakai 'secara gaib' dan menahan dua arah bacaan itu tetap terbuka, sebab menyempitkannya ke salah satu akan menutup bacaan yang lain, padahal keduanya sama-sama didukung susunan katanya. Bacaan yang dibiarkan terbuka menampung dua keadaan sekaligus tanpa memilih.
- Dua hal dijanjikan: ampunan dan pahala. Yang lalu dihapus. Yang akan datang ditambah. Yang dijanjikan dua hal, yaitu penghapusan yang lalu dan tambahan yang baru, dan urutannya menaruh penghapusan lebih dahulu. Susunan itu sejalan dengan letak ayatnya, sebab ayat sebelumnya berisi pengakuan atas dosa yang tidak lagi berguna. Yang di 67:11 diakui terlambat, di ayat ini disebut sebagai yang dihapus bagi pihak yang lain. Urutan janji menyusul urutan masalah yang baru saja dibaca.
- Kata gaib menunjuk keadaan takutnya, bukan tempatnya. Allah menaruh ujiannya di situ. Yang tidak dilihat tetap ditakuti. Sifat yang dipakai untuk menyebut mereka bukan perbuatan melainkan keadaan hati. Ayat ini tidak mendaftar amal, tidak menyebut ibadah tertentu, dan tidak menyebut jumlah. Bandingkan dengan enam ayat sebelumnya, yang merinci ucapan dan pengakuan pihak yang berlawanan sampai ke kalimatnya. Yang satu dirinci perbuatannya, dan yang satu lagi cukup disebut dengan satu sifat. Satu sifat bisa menampung apa yang tidak tertampung oleh daftar perbuatan.
- Rangkaian yang menyebut sifat mereka muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:49, 35:18, dan 67:12. Di 21:49 ia disusul keterangan bahwa mereka juga takut terhadap saat itu, dan di 35:18 ia berada di dalam pembicaraan tentang beban yang tidak bisa dipikulkan kepada orang lain. Allah melekatkan sifat yang sama pada orang yang berbeda-beda keadaannya, dan yang berganti cuma yang mengelilinginya. Sifat yang sama pada keadaan yang berbeda menandai bahwa yang diukur bukan keadaannya.
- Dua rangkaian di ayat ini sama-sama punya pasangan di surah 35, yaitu di 35:18 dan 35:7. Surah yang sama juga bertemu surah ini di 35:6, yang memuat rangkaian yang dipakai 67:10 dan 67:11. Jadi dalam tujuh ayat berturut-turut, surah 35 bertemu surah ini tiga kali di tiga rangkaian yang berbeda. Allah tidak menandai satu pun pertemuan itu di dalam teksnya. Pertemuan yang tidak ditandai cuma terbaca oleh yang membandingkan sendiri.
- Seberapa besar pahalanya? Kapan diberikan? Apa yang diampuni? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma sifatnya dan dua hal yang dijanjikan. Allah menahan ukurannya, dan penahanan itu menjaga janji ini tetap terbaca sebagai janji. Yang bisa ditakar lebih dahulu berubah menjadi perhitungan, dan yang menghitung biasanya berhenti begitu angkanya sudah dianggap cukup. Yang bisa ditakar lebih dahulu berubah menjadi perhitungan, bukan lagi harapan.