هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian. Maka berjalanlah di penjuru-penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan kepada-Nyalah kebangkitan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًاhuwa lladzii ja'ala lakumu l-ardha dzaluulanDialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian
  2. فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِfa-msyuu fii manaakibihaa wa-kuluu min rizqihimaka berjalanlah di penjuru-penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya
  3. وَإِلَيْهِ النُّشُورُwa-ilayhi n-nusyuurudan kepada-Nyalah kebangkitan

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. جَعَلَja'alamenjadikan
  4. لَكُمُlakumubagi kalian
  5. الْأَرْضَl-ardhabumi
  6. ذَلُولًاdzaluulanjinak
  7. فَامْشُواfa-msyuumaka berjalanlah kalian
  8. فِيfiidi
  9. مَنَاكِبِهَاmanaakibihaapenjurunya
  10. وَكُلُواwa-kuluudan makanlah kalian
  11. مِنْmindari
  12. رِزْقِهِrizqihirezeki-Nya
  13. وَإِلَيْهِwa-ilayhidan kepada-Nya
  14. النُّشُورُn-nusyuurukebangkitan

Inti bacaan

Anugerah kemudahan yang disertai tanggung jawab: 'Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian; maka berjalanlah di penjuru-penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya', pengakuan bahwa kemudahan akses terhadap sumber daya bumi datang dengan undangan aktif untuk menjelajah dan memanfaatkannya, bukan sekadar berpangku tangan menunggu.

Penjelasan pilihan kata

Kata (ذَلُولًا, dzaluulan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:15. Kata (مَنَاكِبِهَا, manaakibihaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:15. Kata (النُّشُورُ, an-nusyuur) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:9 dan 67:15. Jadi dua kata sekali pakai berkumpul di paruh pertama, dan penutupnya memakai kata yang punya pasangan di surah 35.

Kata pertama berasal dari akar yang berarti tunduk dan mudah dikendalikan. Ia biasa dipakai untuk sesuatu yang tidak melawan ketika dipakai. Terjemahan memakai 'mudah' dan menahan gagasan tidak melawan itu. Memakai 'luas' akan memindahkannya ke ukuran, padahal kata aslinya tentang sifat, yaitu bahwa ia tidak menyulitkan yang memakainya.

Kata kedua berarti bahu, dan bentuknya jamak. Jadi yang dilukiskan berjalan di bahu-bahunya. Gambaran itu memperlakukan bumi seperti sesuatu yang punya tubuh, dan bahu bagian yang paling tidak nyaman untuk dilalui pada tubuh mana pun. Terjemahan memakai 'penjuru-penjurunya' dan kehilangan gambaran tubuhnya, sebab bahasa Indonesia tidak memakai kata bahu untuk permukaan tempat orang berjalan.

Ayat ini memuat dua perintah, yaitu berjalan dan makan. Keduanya perbuatan yang paling biasa dan tidak menuntut keahlian apa pun. Sesudah tiga ayat tentang isi hati dan pengetahuan yang menjangkau segalanya, yang diperintahkan justru dua hal yang dikerjakan setiap orang setiap hari. Terjemahan menahan dua bentuk perintah itu tanpa melembutkannya menjadi anjuran.

Penutupnya menyebut tempat kembali, dan susunannya mendahulukan keterangan arah sebelum menyebut kata bendanya. Dalam bahasa Arab pendahuluan seperti itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa kebangkitan itu kepada-Nya, melainkan bahwa cuma kepada-Nya. Susunan yang sama sudah dipakai di 67:1, ketika kekuasaan disebut berada di tangan-Nya.

Tiga bagian ayat ini bergerak dari yang sudah disediakan, ke yang harus dikerjakan, lalu ke yang akan terjadi. Urutan tersebut menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan yang paling akhir tanpa satu kalimat pengantar pun. Yang menyambungkannya cuma huruf di awal bagian terakhirnya, dan pembaca yang membaca berurutan sampai ke sana tanpa merasa berpindah pokok.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berjalan ke mana, tidak disebut makan apa, dan tidak disebut kapan yang terakhir itu terjadi. Yang disebut cuma perintahnya dan arah akhirnya. Menahan tujuannya membuat dua perintah itu berlaku bagi setiap langkah dan setiap suap, bukan bagi satu jenis pekerjaan yang bisa dipisahkan dari yang lain.

Tafsiran

Ayat penutup rangkaian ini menegaskan bumi yang dijadikan mudah untuk dijelajahi dan dicari rezekinya, berujung pada kebangkitan kepada Allah.

Ayat ini menutup rangkaian dengan dua perintah yang paling sehari-hari, lalu menyambungkannya ke yang paling akhir.

Kata (ذَلُولًا, dzaluulan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:15. Kata (مَنَاكِبِهَا, manaakibihaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:15. Kata (النُّشُورُ, an-nusyuur) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:9 dan 67:15.

Kata pertama berasal dari akar yang berarti tunduk dan mudah dikendalikan, dan terjemahan memakai 'mudah' untuk menahan gagasan tidak melawan itu. Kata kedua berarti bahu dan bentuknya jamak, sehingga yang dilukiskan berjalan di bahu-bahunya.

Ayat ini memuat dua perintah, yaitu berjalan dan makan, dan keduanya perbuatan yang paling biasa. Penutupnya mendahulukan keterangan arah sebelum kata bendanya, dan susunan itu menyatakan pembatasan, sama seperti yang dipakai di 67:1. Tidak disebut berjalan ke mana, makan apa, dan kapan yang terakhir itu terjadi.

Tiga bagian ayat ini bergerak dari yang sudah disediakan, ke yang harus dikerjakan, lalu ke yang akan terjadi. Urutan itu menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan yang paling akhir tanpa satu kalimat pengantar pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf di awal bagian terakhirnya.

Renungan dan Hikmah

  • Perintahnya berjalan dan makan, bukan berdiam menunggu. Bumi sudah dimudahkan. Allah menyisakan bagian kita melangkah. Ayat ini memuat dua perintah, yaitu berjalan dan makan, dan keduanya perbuatan yang paling biasa serta tidak menuntut keahlian apa pun. Sesudah tiga ayat tentang isi hati dan pengetahuan yang menjangkau segalanya, yang diperintahkan justru dua hal yang dikerjakan setiap orang setiap hari. Terjemahan menahan dua bentuk perintah itu tanpa melembutkannya menjadi anjuran. Yang paling biasa dipilih justru sesudah pembicaraan yang paling dalam.
  • Kata mudah dipakai untuk bumi, bukan kata luas. Yang ditekankan bisa dijalani. Bukan besarnya. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti tunduk dan mudah dikendalikan, dan ia biasa dipakai untuk sesuatu yang tidak melawan ketika dipakai. Terjemahan memakai 'mudah' dan menahan gagasan tidak melawan itu. Memakai kata untuk ukuran akan memindahkannya ke besar kecilnya, padahal kata aslinya tentang sifat, yaitu bahwa ia tidak menyulitkan yang memakainya. Sifat tidak menyulitkan berbeda dari ukuran besar kecilnya.
  • Kalimat terakhirnya menyebut kebangkitan. Allah menutup ayat tentang mencari nafkah dengan hari kembali. Yang sehari-hari disambungkan ke yang terakhir. Tiga bagian ayat ini bergerak dari yang sudah disediakan, ke yang harus dikerjakan, lalu ke yang akan terjadi. Urutan tersebut menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan yang paling akhir tanpa satu kalimat pengantar pun. Yang menyambungkannya cuma huruf di awal bagian terakhirnya, dan pembaca yang membaca berurutan sampai ke sana tanpa merasa berpindah pokok. Satu huruf di awal bagian terakhir menanggung sambungan yang tidak terasa.
  • Kata kedua ayat ini berarti bahu, dan bentuknya jamak, jadi yang dilukiskan berjalan di bahu-bahunya. Gambaran itu memperlakukan bumi seperti sesuatu yang punya tubuh, dan bahu bagian yang paling tidak nyaman untuk dilalui pada tubuh mana pun. Terjemahan memakai 'penjuru-penjurunya' dan kehilangan gambaran tubuh itu, sebab bahasa Indonesia tidak memakai kata bahu untuk permukaan tempat orang berjalan. Gambaran tubuh pada bumi menahan pembaca dari membacanya sebagai hamparan datar.
  • Penutupnya mendahulukan keterangan arah sebelum menyebut kata bendanya, dan dalam bahasa Arab pendahuluan seperti itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa kebangkitan kepada-Nya, melainkan bahwa cuma kepada-Nya. Susunan yang sama sudah dipakai Allah di 67:1, ketika kekuasaan disebut berada di tangan-Nya, sehingga awal dan bagian ini dibangun dengan alat yang sama. Alat pembatas yang sama di awal dan di sini mengikat dua bagian surah.
  • Berjalan ke mana? Makan apa? Kapan yang terakhir itu terjadi? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma perintahnya dan arah akhirnya. Allah menahan tujuannya, dan penahanan itu melebarkan jangkauannya: dua perintah tersebut berlaku bagi setiap langkah dan setiap suap, bukan bagi satu jenis pekerjaan yang bisa dipisahkan dari sisa hidup seseorang. Perintah yang tidak menyebut tujuan berlaku bagi setiap langkah, bukan bagi satu jenis kerja.