أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi, lalu tiba-tiba ia terguncang?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَa-amintum man fii s-samaa'i an yakhsifa bikumu l-ardhaapakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi
  2. فَإِذَا هِيَ تَمُورُfa-idzaa hiya tamuurulalu tiba-tiba ia terguncang

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. أَأَمِنْتُمْa-amintumapakah kalian merasa aman
  2. مَنْmanorang yang
  3. فِيfiidi
  4. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  5. أَنْanbahwa
  6. يَخْسِفَyakhsifamembenamkan
  7. بِكُمُbikumudengan kalian
  8. الْأَرْضَl-ardhabumi
  9. فَإِذَاfa-idzaamaka seketika itu
  10. هِيَhiyaia
  11. تَمُورُtamuuruberguncang

Inti bacaan

Peringatan tentang kerentanan yang tak disadari: 'apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi, lalu tiba-tiba ia terguncang?', pengingat bahwa rasa aman yang tidak disertai kesadaran spiritual bisa menjadi kelengahan berbahaya, stabilitas yang dianggap pasti sesungguhnya rentan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَأَمِنْتُمْ, a-amintum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:16. Rangkaian (مَنْ فِي السَّمَاءِ, man fis-samaa') muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:16 dan 67:17. Dua-duanya berada di surah ini, dan dua-duanya di ayat yang berdampingan. Jadi rangkaian tersebut tidak dipakai di surah mana pun selain surah ini.

Kata (يَخْسِفَ, yakhsifa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:45, 17:68, dan 67:16. Di 16:45 yang dibicarakan orang yang menyusun muslihat, dan di 17:68 yang dibicarakan orang yang baru saja diselamatkan lalu berpaling. Jadi di tiga tempat itu ancaman yang sama diajukan kepada tiga keadaan yang berbeda, dan selalu dalam bentuk pertanyaan tentang rasa aman.

Kata (تَمُورُ, tamuuru) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 52:9 dan 67:16. Di 52:9 kata itu dipakai untuk langit yang berguncang pada suatu hari, sedangkan di ayat ini ia dipakai untuk bumi. Satu kata untuk dua benda yang letaknya berlawanan, yaitu yang di atas dan yang di bawah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua pemakaian itu dengan satu kalimat pun.

Yang ditanyakan perasaan, bukan pengetahuan. Ayat ini tidak bertanya apakah mereka tahu, dan tidak bertanya apakah mereka percaya. Yang ditanya apakah mereka merasa aman. Terjemahan memakai 'merasa aman' dan menahan bahwa yang diperiksa keadaan hati, bukan isi kepala. Pertanyaan tentang perasaan lebih sulit dielakkan, sebab jawabannya tidak menuntut alasan yang bisa disusun.

Rangkaian yang menyebut pihak yang ditanyakan memakai kata tanya untuk orang, bukan kata untuk benda. Terjemahan memakai 'Dia yang di langit' dan menahan susunan itu tanpa menggantinya dengan nama. Menggantinya dengan nama akan menghilangkan bentuk yang dipilih ayatnya, yaitu bentuk yang menyebut kedudukan dan bukan sebutan.

Bagian penutupnya memakai susunan yang menyatakan kejadian mendadak, yaitu 'lalu tiba-tiba'. Jadi antara pembenaman dan guncangannya tidak ada jeda yang diceritakan. Terjemahan menahan kemendadakan itu. Menghilangkannya akan mengubah gambaran yang berlangsung seketika menjadi urutan yang bertahap, padahal yang dilukiskan justru ketiadaan tahapan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan, tidak disebut di mana, dan tidak disebut apa tandanya sebelum itu. Yang disebut cuma kemungkinannya dan kemendadakannya. Menahan tandanya membuat pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan menunjuk keadaan yang sedang tenang, sebab yang ditanyakan justru rasa aman yang bersandar pada ketenangan itu.

Tafsiran

Ayat ini memperingatkan ancaman gempa dari Allah bagi orang yang merasa lengah dan aman.

Ayat ini memeriksa rasa aman, bukan pengetahuan, dan memeriksanya lewat sesuatu yang paling dianggap tidak bergerak.

Kata (أَأَمِنْتُمْ, a-amintum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:16. Rangkaian (مَنْ فِي السَّمَاءِ, man fis-samaa') muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:16 dan 67:17, dua-duanya di surah ini dan di ayat yang berdampingan.

Kata (يَخْسِفَ, yakhsifa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:45, 17:68, dan 67:16, dan selalu dalam bentuk pertanyaan tentang rasa aman. Kata (تَمُورُ, tamuuru) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 52:9 dan 67:16; di 52:9 ia dipakai untuk langit, sedangkan di sini untuk bumi.

Yang ditanyakan perasaan, bukan pengetahuan, dan terjemahan menahan hal itu dengan 'merasa aman'. Bagian penutupnya memakai susunan yang menyatakan kejadian mendadak, sehingga antara pembenaman dan guncangannya tidak ada jeda. Tidak disebut kapan, di mana, dan apa tandanya sebelum itu.

Rangkaian yang menyebut pihak yang ditanyakan memakai kata tanya untuk orang, bukan kata untuk benda, dan terjemahan menahan susunan itu tanpa menggantinya dengan nama. Menggantinya akan menghilangkan bentuk yang dipilih ayatnya, yaitu bentuk yang menyebut kedudukan dan bukan sebutan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah bertanya tentang rasa aman, bukan tentang keyakinan. Yang ditanya perasaannya. Bukan pendapatnya. Ayat ini tidak bertanya apakah mereka tahu, dan tidak bertanya apakah mereka percaya. Yang ditanya apakah mereka merasa aman. Terjemahan memakai 'merasa aman' dan menahan bahwa yang diperiksa keadaan hati, bukan isi kepala. Pertanyaan tentang perasaan lebih sulit dielakkan, sebab jawabannya tidak menuntut alasan yang bisa disusun rapi lebih dahulu oleh yang menjawabnya. Yang ditanya keadaan hati tidak bisa menyiapkan jawabannya lebih dahulu.
  • Ancamannya justru dari bawah, sedang yang mengancam disebut di langit. Arahnya berlawanan. Yang di atas menggerakkan yang di bawah. Kata untuk guncangan di ayat ini juga dipakai di 52:9, dan di sana ia menyebut langit yang berguncang pada suatu hari. Di sini kata yang sama dipakai untuk bumi. Satu kata untuk dua benda yang letaknya berlawanan, yaitu yang di atas dan yang di bawah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua pemakaian itu dengan satu kalimat penghubung pun. Dua benda yang letaknya berlawanan disebut dengan satu kata kerja yang sama.
  • Kata tiba-tiba ditaruh di ujung. Allah menutup dengan kejutan. Tidak ada tanda sebelumnya. Bagian penutupnya memakai susunan yang menyatakan kejadian mendadak, sehingga antara pembenaman dan guncangannya tidak ada jeda yang diceritakan. Terjemahan menahan kemendadakan itu. Menghilangkannya akan mengubah gambaran yang berlangsung seketika menjadi urutan yang bertahap, padahal yang dilukiskan justru ketiadaan tahapan di antara keduanya. Ketiadaan tahapan itu sendiri bagian dari yang sedang dilukiskan.
  • Rangkaian yang menyebut pihak yang ditanyakan muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua-duanya di surah ini pada ayat yang berdampingan, yaitu 67:16 dan 67:17. Jadi susunan itu tidak dipakai di surah mana pun yang lain. Allah memakai kata tanya untuk orang, bukan kata untuk benda, dan bentuk itu menyebut kedudukan tanpa menyebut sebutan, sehingga yang tertinggal pada pembaca arahnya, bukan namanya. Bentuk yang menyebut kedudukan meninggalkan arahnya, bukan sebutannya.
  • Kata untuk pembenaman di ayat ini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:45, 17:68, dan 67:16. Di 16:45 yang dibicarakan orang yang menyusun muslihat, dan di 17:68 orang yang baru saja diselamatkan lalu berpaling. Allah mengajukan kemungkinan yang sama kepada tiga keadaan yang berbeda, dan selalu dalam bentuk pertanyaan tentang rasa aman, bukan dalam bentuk ancaman langsung. Kemungkinan yang sama diajukan kepada keadaan yang berbeda-beda.
  • Kapan itu terjadi? Di mana? Apa tandanya sebelum itu? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma kemungkinannya dan kemendadakannya. Allah menahan tandanya, dan penahanan itu bekerja: pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan menunjuk keadaan yang sedang tenang, sebab yang ditanyakan justru rasa aman yang bersandar pada ketenangan tersebut. Rasa aman yang bersandar pada ketenangan runtuh bersama ketenangan itu.