أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
Atau, apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia akan mengirimkan kepada kalian badai batu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana peringatan-Ku.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًاam amintum man fii s-samaa'i an yursila 'alaykum haashibanatau, apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia akan mengirimkan kepada kalian badai batu
- فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِfa-sa-ta'lamuuna kayfa nadziirikelak kalian akan mengetahui bagaimana peringatan-Ku
Terjemahan per kata (12 kata)
- أَمْamatau
- أَمِنْتُمْamintumkalian merasa aman
- مَنْmanorang yang
- فِيfiidi
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- أَنْanbahwa
- يُرْسِلَyursilamengirimkan
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- حَاصِبًاhaashibanbadai kerikil
- فَسَتَعْلَمُونَfa-sa-ta'lamuunamaka kelak kalian mengetahui
- كَيْفَkayfabagaimana
- نَذِيرِnadziiriperingatan-Ku
Inti bacaan
Pertanyaan kedua tentang keamanan semu: 'sudah merasa amankah kalian dari Zat yang di langit, yaitu dikirimkannya badai batu?', variasi peringatan yang sama dengan bentuk bencana berbeda, penekanan berulang bahwa berbagai jenis konsekuensi bisa datang dari sumber yang sama.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(dari bencana)' dan '(akibat mendustakan)' tidak dipakai, demikian pula kata 'Zat' yang tidak berpadanan kata Arab (man = 'Dia yang', tanpa perlu istilah filosofis tambahan).
Kata (حَاصِبًا, haashiban) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:68, 29:40, 54:34, dan 67:17. Kata terakhirnya memakai bentuk kepemilikan orang pertama tunggal, yaitu (نَذِيرِ, nadziiri). Jadi ancamannya memakai kata yang sudah dipakai di tiga surah lain, sedangkan penutupnya memakai bentuk kepemilikan yang mengubah suaranya.
Yang paling dekat dengan ayat ini 17:68. Di sana dua kemungkinan yang sama disebut berdampingan di dalam satu ayat, yaitu dibenamkan dan dikirimi badai batu. Di surah ini dua kemungkinan itu dipisah ke dua ayat, yaitu 67:16 dan 67:17, dan masing-masing diberi pertanyaan sendiri. Jadi bahan yang sama disusun dengan dua cara: yang satu dirangkum, dan yang satu lagi dipecah supaya masing-masing menuntut jawaban.
Di 29:40 kata itu berada di dalam daftar berbagai cara, dan di 54:34 ia dipakai untuk satu kaum tertentu. Jadi di tiga tempat selain ayat ini kata tersebut selalu menyebut sesuatu yang sudah terjadi. Di 67:17 ia menyebut sesuatu yang ditanyakan kemungkinannya. Yang di tempat lain laporan, di sini pertanyaan.
Penutupnya memakai bentuk yang akan datang, yaitu 'kelak kalian akan mengetahui'. Jadi ayat ini tidak menutup pertanyaannya dengan jawaban, melainkan dengan janji bahwa jawabannya akan datang sendiri. Terjemahan memakai 'kelak' dan menahan bentuk masa depannya, sebab menghilangkannya akan mengubah janji menjadi pernyataan yang berlaku sekarang.
Kata terakhirnya memakai bentuk milik orang pertama tunggal, yaitu peringatan-Ku. Padahal sepanjang dua ayat ini yang berbicara tidak memakai bentuk tunggal, melainkan menyebut pihak yang di langit dengan kata tanya untuk orang. Jadi pada kata terakhir suaranya berpindah menjadi orang pertama. Perpindahan itu terjadi tepat pada kata penutup, dan sesudahnya ayat berikutnya melanjutkannya dengan bentuk yang sama.
Ayat ini dibuka kata yang berarti 'atau', sama seperti yang dipakai di 67:10 dan 67:13. Jadi dalam delapan ayat, kata penghubung yang sama dipakai tiga kali untuk tiga maksud yang berbeda: menyatakan bahwa salah satu cukup, menyatakan bahwa keduanya sama saja, dan di sini menyatakan kemungkinan kedua yang sama beratnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan, tidak disebut dari mana, dan tidak disebut siapa yang akan mengalaminya. Yang disebut cuma kemungkinannya dan janji bahwa mereka akan tahu. Menahan waktunya membuat janji di penutupnya tidak bisa dihitung mundur, dan yang tidak bisa dihitung mundur tidak bisa pula ditunggu sampai menjelang batasnya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan peringatan terhadap ancaman badai batu dari langit.
Ayat ini mengulang bentuk pertanyaan sebelumnya dengan kemungkinan yang berbeda, lalu menutupnya dengan sebuah janji.
Kata (حَاصِبًا, haashiban) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:68, 29:40, 54:34, dan 67:17. Kata terakhirnya memakai bentuk kepemilikan orang pertama tunggal, yaitu (نَذِيرِ, nadziiri).
Yang paling dekat dengan ayat ini 17:68, sebab di sana dua kemungkinan yang sama disebut berdampingan di dalam satu ayat, sedangkan di surah ini keduanya dipisah ke 67:16 dan 67:17 dan masing-masing diberi pertanyaan sendiri.
Di tiga tempat selain ayat ini kata tersebut selalu menyebut sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan di sini ia menyebut sesuatu yang ditanyakan kemungkinannya. Penutupnya memakai bentuk yang akan datang, sehingga pertanyaannya tidak ditutup dengan jawaban melainkan dengan janji. Tidak disebut kapan, dari mana, dan siapa yang akan mengalaminya.
Kata terakhirnya memakai bentuk milik orang pertama tunggal, padahal sepanjang dua ayat ini yang berbicara disebut dengan kata tanya untuk orang. Jadi pada kata penutup suaranya berpindah, dan ayat berikutnya melanjutkannya dengan bentuk yang sama. Ayat ini pun dibuka kata yang berarti 'atau', sama seperti yang dipakai di 67:10 dan 67:13.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengganti bentuk bencananya di pertanyaan kedua: badai batu. Berbeda dari yang pertama. Yang sama pertanyaannya, yang berganti caranya. Yang paling dekat dengan ayat ini 17:68, sebab di sana dua kemungkinan yang sama disebut berdampingan di dalam satu ayat berupa dibenamkan dan dikirimi badai batu. Di surah ini keduanya dipisah ke dua ayat dan masing-masing diberi pertanyaan sendiri. Bahan yang sama disusun dengan dua cara: yang satu dirangkum, dan yang satu lagi dipecah supaya tiap kemungkinan menuntut jawabannya sendiri. Bahan yang dirangkum dan bahan yang dipecah menuntut kerja yang berbeda dari pembacanya.
- Yang digugat rasa aman mereka. Bukan perbuatannya. Yang dipersoalkan bahwa mereka merasa tak mungkin ditimpa apa pun. Di 29:40 kata itu berada di dalam daftar aneka cara, dan di 54:34 ia dipakai untuk satu kaum tertentu. Jadi di tiga tempat selain ayat ini kata tersebut selalu menyebut sesuatu yang sudah terjadi. Di sini ia menyebut sesuatu yang ditanyakan kemungkinannya. Yang di tempat lain berupa laporan, di ayat ini berupa pertanyaan, dan perbedaan itu memindahkan kedudukan pembacanya. Laporan menempatkan pembaca di luar, sedangkan pertanyaan menariknya ke dalam.
- Allah menutup dengan kelak kalian akan mengetahui bagaimana peringatan-Ku. Ditunda. Yang dijanjikan bukan bencananya, melainkan mengertinya mereka. Penutupnya memakai bentuk yang akan datang, sehingga ayat ini tidak menutup pertanyaannya dengan jawaban melainkan dengan janji bahwa jawabannya akan datang sendiri. Terjemahan memakai 'kelak' dan menahan bentuk masa depan itu, sebab menghilangkannya akan mengubah sebuah janji menjadi pernyataan yang berlaku sekarang dan sudah bisa diperiksa. Janji yang belum bisa diperiksa tetap menggantung sampai waktunya tiba.
- Kata terakhirnya memakai bentuk milik orang pertama tunggal, padahal sepanjang dua ayat ini yang berbicara menyebut pihak yang di langit dengan kata tanya untuk orang. Jadi pada kata penutup suaranya berpindah menjadi orang pertama. Allah memindahkan suaranya tepat pada kata terakhir, dan ayat berikutnya melanjutkannya dengan bentuk yang sama, sehingga perpindahan itu ternyata bukan pergeseran sesaat. Perpindahan suara pada kata terakhir ternyata bukan pergeseran sesaat.
- Ayat ini dibuka kata yang berarti 'atau', sama seperti yang dipakai di 67:10 dan 67:13. Jadi dalam delapan ayat kata penghubung yang sama dipakai tiga kali untuk tiga maksud yang berbeda: menyatakan bahwa salah satu cukup, menyatakan bahwa keduanya sama saja, dan di sini menyatakan kemungkinan kedua yang sama beratnya. Allah memakai satu alat kecil untuk tiga pekerjaan yang berlainan. Satu alat kecil dipakai untuk tiga pekerjaan yang berlainan dalam delapan ayat.
- Kapan kiriman itu datang? Dari mana datangnya? Siapa yang akan mengalaminya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma kemungkinannya dan janji bahwa mereka akan tahu. Allah menahan waktunya, dan penahanan itu menutup satu jalan keluar: janji yang tidak bisa dihitung mundur tidak bisa pula ditunggu sampai menjelang batasnya, sebab batas itu tidak pernah diberitahukan. Batas yang tidak diberitahukan tidak bisa dijadikan tanggal untuk bersiap.