وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Dan sungguh orang-orang sebelum mereka telah mendustakan, maka betapa pengingkaran-Ku!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِwa-la-qad kadzdzaba lladziina min qablihim fa-kayfa kaana nakiiridan sungguh orang-orang sebelum mereka telah mendustakan, maka betapa pengingkaran-Ku

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. كَذَّبَkadzdzabamendustakan
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. مِنْmindari
  5. قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
  6. فَكَيْفَfa-kayfamaka bagaimana
  7. كَانَkaanaadalah
  8. نَكِيرِnakiirikemurkaan-Ku

Inti bacaan

contoh serupa historis sebagai bukti pola konsisten: 'sungguh orang-orang sebelum mereka telah mendustakan; maka betapa (hebat) pengingkaran-Ku!', penggunaan sejarah sebagai bukti bahwa pola penolakan-konsekuensi bukan ancaman kosong, melainkan sesuatu yang sudah terverifikasi berulang kali.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(hebat)' tidak dipakai.

Kata (نَكِيرِ, nakiiri) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18. Di 22:44 ia menutup penyebutan beberapa kaum yang mendustakan, di 35:26 ia menutup kalimat tentang orang kufur yang dirunut sesudah diberi tenggang, dan di 67:18 ia menutup kalimat yang menyebut orang-orang sebelum mereka. Jadi di semua tempat itu kata tersebut selalu berdiri sebagai penutup, dan selalu sesudah penyebutan pendustaan.

Bentuknya memakai kepemilikan orang pertama tunggal, sama seperti kata terakhir di 67:17. Dua ayat berturut-turut memakai bentuk itu, sedangkan ayat-ayat sebelumnya tidak. Jadi ada satu bagian pendek di dalam surah ini yang memakai suara orang pertama tunggal, dan bagian itu tepat berada di antara dua pertanyaan tentang rasa aman dan ayat tentang burung.

Kalimatnya berbentuk seruan, bukan pernyataan. Susunan Arabnya memakai kata tanya yang dipakai untuk menyatakan kagum atau ngeri, bukan untuk menanyakan. Terjemahan memakai 'betapa' dan menahan bentuk seruan itu. Mengubahnya menjadi pernyataan akan menghilangkan nada yang justru dikerjakan ayatnya, sebab yang dinyatakan bukan besarnya melainkan sikap terhadap besarnya.

Isi seruannya tidak dilengkapi. Ayat ini tidak menyebutkan berupa apa, tidak menyebutkan seberapa, dan tidak menyebutkan berapa lama. Yang disebut cuma bahwa hal itu terjadi dan bahwa keadaannya begitu. Seruan yang tidak dilengkapi isinya menyerahkan pengisiannya kepada yang membaca, dan pengisian itu dibatasi oleh apa yang sudah dibacanya di ayat-ayat sebelumnya.

Kata kerja pertamanya berbentuk yang sudah lewat, dan yang disebut rangkaian (الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, alladziina min qablihim). Jadi yang dijadikan bukti bukan ancaman melainkan kejadian. Susunan tersebut memindahkan pembicaraan dari kemungkinan di 67:16 dan 67:17 menjadi sesuatu yang sudah punya wujud. Dua ayat sebelumnya menanyakan rasa aman, dan ayat ini menyebutkan bahwa pertanyaan itu pernah terjawab dengan sendirinya.

Yang tidak disebut siapa mereka. Ayat ini tidak menyebut nama kaum, tidak menyebut negeri, dan tidak menyebut zaman. Padahal Al-Qur'an di tempat lain menyebutkan nama-nama itu. Menahan namanya di sini menjaga kalimatnya tetap pendek dan tetap terbuka, sehingga yang membaca tidak sibuk mengingat siapa dan bisa berhenti pada pola kejadiannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang mereka dustakan, tidak disebut bagaimana akhirnya, dan tidak disebut apakah ada yang selamat. Yang disebut cuma bahwa mereka mendustakan dan bahwa tanggapannya begitu. Ayat berikutnya berpindah sama sekali, ke burung yang terbang di atas kepala, tanpa satu kalimat penghubung pun.

Tafsiran

Ayat ini membandingkan dengan kaum terdahulu yang juga mendustakan dan merasakan pengingkaran Allah.

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari kemungkinan menjadi kejadian, dan menutupnya dengan sebuah seruan.

Kata (نَكِيرِ, nakiiri) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18. Di semua tempat itu ia berdiri sebagai penutup, dan selalu sesudah penyebutan pendustaan.

Bentuknya memakai kepemilikan orang pertama tunggal, sama seperti kata terakhir di 67:17, sehingga dua ayat berturut-turut memakai suara yang sama sedangkan ayat-ayat sebelumnya tidak.

Kalimatnya berbentuk seruan, bukan pernyataan, dan terjemahan memakai 'betapa' untuk menahan bentuk itu. Isi seruannya tidak dilengkapi: tidak disebutkan berupa apa, seberapa, dan berapa lama. Kata kerja pertamanya berbentuk yang sudah lewat, sehingga yang dijadikan bukti bukan ancaman melainkan kejadian. Tidak disebut siapa mereka, apa yang mereka dustakan, dan bagaimana akhirnya.

Susunan Arabnya memakai kata tanya yang dipakai untuk menyatakan kagum atau ngeri, bukan untuk menanyakan. Mengubahnya menjadi pernyataan akan menghilangkan nada yang justru dikerjakan ayatnya, sebab yang dinyatakan bukan besarnya melainkan sikap terhadap besarnya. Ayat berikutnya berpindah sama sekali, ke burung yang terbang di atas kepala, tanpa satu kalimat penghubung pun.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai sejarah sebagai bukti, bukan sebagai cerita. Sudah pernah terjadi. Hasilnya sudah kelihatan. Kata kerja pertamanya berbentuk yang sudah lewat, dan yang disebut orang-orang sebelum mereka. Jadi yang dijadikan bukti bukan ancaman melainkan kejadian. Susunan itu memindahkan pembicaraan dari kemungkinan di 67:16 dan 67:17 menjadi sesuatu yang sudah punya wujud. Dua ayat sebelumnya menanyakan rasa aman, dan ayat ini menyebutkan bahwa pertanyaan tersebut pernah terjawab dengan sendirinya. Kejadian yang sudah berwujud menuntut tanggapan yang berbeda dari kemungkinan.
  • Kata pengingkaran-Ku dipakai, bukan kata azab-Ku. Yang disebut penolakan-Nya. Bahasanya bahasa hubungan. Bentuk kata terakhirnya memakai kepemilikan orang pertama tunggal, sama seperti kata terakhir di 67:17. Dua ayat berturut-turut memakai bentuk itu, sedangkan ayat-ayat sebelumnya tidak. Jadi ada satu bagian pendek di dalam surah ini yang memakai suara orang pertama tunggal, dan bagian itu tepat berada di antara dua pertanyaan tentang rasa aman dan ayat tentang burung di udara. Satu bagian pendek bersuara tunggal, dan letaknya menandai batas dua pokok.
  • Bentuknya seru, bukan keterangan. Allah menaikkan nadanya. Betapa, tanpa dilengkapi. Isi seruannya tidak dilengkapi. Ayat ini tidak menyebutkan berupa apa, tidak menyebutkan seberapa, dan tidak menyebutkan berapa lama. Yang disebut cuma bahwa hal itu terjadi dan bahwa keadaannya begitu. Seruan yang tidak dilengkapi isinya menyerahkan pengisiannya kepada yang membaca, dan pengisian tersebut dibatasi oleh apa yang sudah dibacanya di ayat-ayat sebelumnya. Seruan yang dibiarkan tanpa isi diisi oleh yang membacanya, dengan bahan yang baru dibacanya.
  • Kata penutup ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18. Di 22:44 ia menutup penyebutan beberapa kaum yang mendustakan, dan di 35:26 ia menutup kalimat tentang orang kufur yang dirunut sesudah diberi tenggang. Allah memakainya selalu di ujung, dan selalu sesudah penyebutan pendustaan, sehingga letaknya sendiri sudah menjadi penanda bagi pembaca. Letak yang tetap membuat sebuah kata bekerja sebagai penanda bagi pembaca.
  • Susunan Arabnya memakai kata tanya yang dipakai untuk menyatakan kagum atau ngeri, bukan untuk menanyakan. Terjemahan memakai 'betapa' dan menahan bentuk seruan itu. Mengubahnya menjadi pernyataan akan menghilangkan nada yang justru dikerjakan ayatnya, sebab yang dinyatakan bukan besarnya melainkan sikap terhadap besarnya, dan sikap tidak bisa disampaikan oleh angka. Sikap tidak bisa disampaikan oleh angka, dan angka tidak dipakai di sini.
  • Siapa mereka? Apa yang mereka dustakan? Bagaimana akhirnya? Tidak satu pun disebut, padahal Al-Qur'an di tempat lain menyebutkan nama-nama itu. Allah menahannya di sini, sehingga yang membaca tidak sibuk mengingat siapa dan bisa berhenti pada pola kejadiannya. Nama yang disebut mengubah kalimat menjadi riwayat; nama yang ditahan menjaganya tetap berupa keterangan tentang cara. Nama yang ditahan menjaga kalimatnya tetap berupa keterangan tentang cara.