أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya selain Ar-Rahman. Sesungguhnya Dia melihat segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَa-wa-lam yaraw ilaa th-thayri fawqahum shaaffaatin wa-yaqbidhnatidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka
  2. مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُmaa yumsikuhunna illaa r-rahmaanutidak ada yang menahannya selain Ar-Rahman
  3. إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌinnahu bi-kulli syay'in bashiirunsesungguhnya Dia melihat segala sesuatu

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
  2. يَرَوْاyarawmereka melihat
  3. إِلَىilaakepada
  4. الطَّيْرِth-thayriburung
  5. فَوْقَهُمْfawqahumdi atas mereka
  6. صَافَّاتٍshaaffaatinmengembangkan sayap
  7. وَيَقْبِضْنَwa-yaqbidhnadan mengatupkan
  8. مَاmaatidaklah
  9. يُمْسِكُهُنَّyumsikuhunnamenahan mereka
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
  12. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  13. بِكُلِّbi-kullipada segala
  14. شَيْءٍsyay'insesuatu
  15. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Ajakan observasi alam sebagai bukti kekuasaan: 'tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Ar-Rahman', fenomena sehari-hari (burung terbang) yang jarang direnungkan mendalam, padahal menunjukkan hukum fisika yang bekerja atas kehendak yang lebih besar dari sekadar mekanisme biologis semata.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(di udara)' tidak dipakai.

Kata (صَافَّاتٍ, shaaffaatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 24:41 dan 67:19. Kata (وَيَقْبِضْنَ, wa-yaqbidhna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:19. Jadi keadaan yang pertama sudah pernah disebut di surah lain, sedangkan keadaan yang kedua cuma disebut di sini.

Di 24:41 kata pertama itu berada di dalam kalimat tentang bertasbihnya segala yang di langit dan di bumi, dan burung disebut sebagai bagian dari yang bertasbih. Di 67:19 burung yang sama disebut sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan mata. Jadi dua tempat memakai gambaran yang sama untuk dua pekerjaan yang berbeda: yang satu memasukkannya ke dalam daftar, dan yang satu lagi menyuruh melihatnya.

Dua keadaan sayapnya disebut dengan dua bentuk kata yang berbeda. Yang pertama berbentuk kata sifat, dan yang kedua berbentuk kata kerja. Jadi yang satu digambarkan sebagai keadaan yang berlangsung, dan yang satu lagi sebagai perbuatan yang dikerjakan berulang. Terjemahan memakai 'mengembangkan dan mengatupkan' dan tidak menyamakan bentuk keduanya, sebab penyamaan akan menghilangkan perbedaan yang ada di dalam ayatnya.

Nama yang dipakai untuk menyebut yang menahan burung itu bukan nama kekuasaan, melainkan nama yang menyebut kasih sayang. Di surah ini nama tersebut dipakai di 67:3, 67:19, 67:20, dan 67:29. Jadi ia muncul dua kali berturut-turut di ayat ini dan ayat sesudahnya. Terjemahan menahannya dan tidak menggantinya dengan sebutan umum, sebab pilihan nama itu terbaca jelas di dalam susunan ayatnya.

Kata kerjanya berarti menahan atau memegang, bukan menciptakan. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Dia membuat burung itu, melainkan bahwa Dia menahannya supaya tidak jatuh, dan penahanan itu berlangsung terus selama burung tersebut di udara. Terjemahan memakai 'menahannya' dan menahan gagasan kesinambungan itu, sebab memakai kata untuk mencipta akan memindahkannya ke satu peristiwa di masa lalu.

Bentuk kalimatnya pertanyaan yang menyuruh melihat, bukan perintah langsung. Susunan seperti itu sudah dipakai di 67:3 dan 67:4, ketika pembacanya disuruh memeriksa langit. Jadi surah ini dua kali menyuruh pembacanya memakai matanya sendiri, sekali ke atas dan sekali ke sesuatu yang terbang di antara keduanya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut burung apa, tidak disebut berapa, dan tidak disebut bagaimana caranya ditahan. Yang disebut cuma keadaannya dan siapa yang menahannya. Menahan keterangan tentang caranya membuat ayat ini tetap terbaca oleh siapa pun yang memandang burung, tanpa bergantung pada bagaimana ia menjelaskan apa yang dilihatnya.

Tafsiran

Ayat ini menghadirkan tanda kekuasaan Allah pada burung yang terbang tanpa jatuh, semata karena kuasa Ar-Rahman.

Ayat ini menyuruh pembacanya melihat sesuatu yang bisa dilihat setiap hari, lalu menyebut siapa yang menahannya.

Kata (صَافَّاتٍ, shaaffaatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 24:41 dan 67:19. Kata (وَيَقْبِضْنَ, wa-yaqbidhna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:19.

Di 24:41 kata pertama berada di dalam kalimat tentang bertasbihnya segala yang di langit dan di bumi, sedangkan di sini burung yang sama disebut sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan mata.

Dua keadaan sayapnya disebut dengan dua bentuk kata yang berbeda, yaitu kata sifat dan kata kerja, dan terjemahan tidak menyamakan bentuk keduanya. Nama yang dipakai untuk menyebut yang menahannya bukan nama kekuasaan melainkan nama yang menyebut kasih sayang; di surah ini nama tersebut dipakai di 67:3, 67:19, 67:20, dan 67:29. Kata kerjanya berarti menahan, bukan menciptakan. Tidak disebut burung apa, berapa, dan bagaimana caranya ditahan.

Bentuk kalimatnya pertanyaan yang menyuruh melihat, bukan perintah langsung, dan susunan seperti itu sudah dipakai di 67:3 dan 67:4 ketika pembacanya disuruh memeriksa langit. Jadi surah ini dua kali menyuruh pembacanya memakai matanya sendiri, sekali ke atas dan sekali ke sesuatu yang terbang di antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya. Di atas kepala mereka. Yang dipakai sebagai bukti sesuatu yang lewat tiap hari. Kata kerjanya berarti menahan atau memegang, bukan menciptakan. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Dia membuat burung itu, melainkan bahwa Dia menahannya supaya tidak jatuh, dan penahanan tersebut berlangsung terus selama burung itu di udara. Terjemahan memakai 'menahannya' dan menahan gagasan kesinambungannya, sebab memakai kata untuk mencipta akan memindahkannya ke satu peristiwa di masa lalu. Menahan berlangsung terus, sedangkan mencipta berhenti pada satu titik.
  • Yang menahannya disebut Ar-Rahman. Nama kasih. Yang membuat burung tak jatuh disebut dengan sifat yang menyayangi. Nama yang dipakai untuk menyebut yang menahan burung itu bukan nama kekuasaan, melainkan nama yang menyebut kasih sayang. Di surah ini nama tersebut dipakai di 67:3, 67:19, 67:20, dan 67:29, sehingga ia muncul dua kali berturut-turut di ayat ini dan ayat sesudahnya. Terjemahan menahannya dan tidak menggantinya dengan sebutan umum, sebab pilihan itu terbaca jelas di dalam susunan ayatnya. Nama yang menyebut kasih sayang dipakai pada ayat yang menyebut penopangan.
  • Allah menutup dengan Dia melihat segala sesuatu. Sesudah menyebut burung. Yang memperhatikan seekor burung disebut memperhatikan semuanya. Bentuk kalimatnya pertanyaan yang menyuruh melihat, bukan perintah langsung, dan susunan seperti itu sudah dipakai di 67:3 dan 67:4 ketika pembacanya disuruh memeriksa langit. Jadi surah ini dua kali menyuruh pembacanya memakai matanya sendiri, sekali ke atas dan sekali ke sesuatu yang terbang di antara keduanya. Yang diminta pemeriksaan, bukan penerimaan. Yang diminta pemeriksaan sendiri, bukan penerimaan atas keterangan orang lain.
  • Dua keadaan sayapnya disebut dengan dua bentuk kata yang berbeda. Yang pertama berbentuk kata sifat, dan yang kedua berbentuk kata kerja. Jadi yang satu digambarkan sebagai keadaan yang berlangsung, dan yang satu lagi sebagai perbuatan yang dikerjakan berulang. Allah membedakan keduanya lewat bentuk kata saja, tanpa satu keterangan tambahan, dan terjemahan tidak menyamakan bentuknya. Perbedaan bentuk kata mengerjakan apa yang biasanya butuh kalimat tambahan.
  • Kata untuk sayap yang terbentang juga dipakai di 24:41, dan di sana burung disebut sebagai bagian dari yang bertasbih kepada Allah. Di ayat ini burung yang sama disebut sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan mata. Dua tempat memakai gambaran yang sama untuk dua pekerjaan yang berbeda: yang satu memasukkannya ke dalam daftar, dan yang satu lagi menyuruh melihatnya sendiri. Satu gambaran bisa dipakai untuk memasukkan ke daftar dan untuk menyuruh melihat.
  • Burung apa? Berapa banyak? Bagaimana caranya ditahan? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma keadaannya dan siapa yang menahannya. Allah menahan keterangan tentang caranya, dan penahanan itu membuat ayat ini tetap terbaca oleh siapa pun yang memandang burung, tanpa bergantung pada bagaimana ia menjelaskan apa yang dilihatnya di atas kepalanya. Keterangan yang tidak menyebut cara tidak menjadi usang oleh penjelasan yang berganti.