أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Maka apakah orang yang berjalan tertelungkup atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍa-fa-man yamsyii mukibban 'alaa wajhihi ahdaa amman yamsyii sawiyyan 'alaa shiraathin mustaqiiminmaka apakah orang yang berjalan tertelungkup atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus
Terjemahan per kata (12 kata)
- أَفَمَنْa-fa-manmaka apakah orang yang
- يَمْشِيyamsyiiberjalan
- مُكِبًّاmukibbantersungkur
- عَلَىٰ'alaaatas
- وَجْهِهِwajhihiwajah-Nya
- أَهْدَىٰahdaalebih mendapat petunjuk
- أَمَّنْammanataukah siapa
- يَمْشِيyamsyiiberjalan
- سَوِيًّاsawiyyanyang sempurna
- عَلَىٰ'alaaatas
- صِرَاطٍshiraathinjalan
- مُسْتَقِيمٍmustaqiiminyang lurus
Inti bacaan
Perumpamaan tajam dua cara berjalan: 'apakah orang yang berjalan tertelungkup atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?', citra visual yang kuat membandingkan kekacauan tanpa arah (tertelungkup, tidak bisa melihat ke depan) dengan kejelasan tujuan (tegak, jalan lurus), metafora yang mudah dipahami untuk membedakan hidup tanpa arah dari hidup yang terarah.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُكِبًّا, mukibban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:22. Kata (سَوِيًّا, sawiyyan) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 19:10, 19:17, 19:43, dan 67:22. Jadi keadaan yang pertama disebut dengan kata yang tidak berulang di mana pun, sedangkan keadaan yang kedua memakai kata yang sudah dipakai tiga kali di surah 19.
Kata kerja yang dipakai untuk keduanya sama, yaitu berjalan, dan ia diulang dua kali di dalam ayat ini. Yang berbeda cuma keterangan caranya. Jadi yang dibandingkan bukan dua perbuatan melainkan satu perbuatan yang dikerjakan dua cara. Susunan tersebut menutup bacaan bahwa yang satu berjalan dan yang lain diam; dua-duanya bergerak, dan dua-duanya sampai ke suatu tempat.
Kata pertama menggambarkan orang yang tertelungkup di atas wajahnya. Jadi yang dilukiskan bukan orang yang menunduk, melainkan orang yang wajahnya menghadap ke tanah sepanjang jalannya. Terjemahan menahan gambaran itu dan tidak melembutkannya menjadi sekadar menunduk, sebab pelembutan akan menghilangkan kesulitan yang justru sedang dilukiskan.
Kata kedua berarti tegak dan lurus, dan di tiga tempat lainnya ia dipakai untuk keadaan tubuh yang utuh. Di 19:10 dan 19:17 ia menyebut keadaan sempurna, dan di 19:43 ia berada di dalam ajakan menempuh jalan. Jadi kata itu selalu tentang keadaan yang tidak cacat, dan di ayat ini keadaan tersebut dipasangkan dengan jalan yang lurus.
Yang ditanyakan bukan siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih mendapat petunjuk. Susunan Arabnya memakai bentuk perbandingan. Terjemahan menahan bentuk itu dan tidak mengubahnya menjadi pernyataan mutlak. Bentuk perbandingan menyisakan ruang bagi yang ditanya untuk menjawab sendiri, sedangkan pernyataan mutlak menutup ruang tersebut sebelum dipakai.
Ayat ini tidak menyebutkan jawabannya. Sesudah pertanyaan diajukan, ayat berikutnya berpindah ke perintah menyampaikan sesuatu yang lain sama sekali. Jadi pertanyaan tersebut ditinggalkan terbuka, sama seperti pertanyaan di 67:20 dan 67:21. Tiga ayat berturut-turut mengajukan pertanyaan tanpa satu pun jawaban yang dituliskan.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang berjalan begitu, tidak disebut ke mana, dan tidak disebut mengapa ia berjalan dengan cara itu. Yang disebut cuma dua cara dan satu pertanyaan. Menahan namanya membuat perbandingan ini tidak berhenti pada satu pihak, dan yang membacanya menimbang caranya sendiri berjalan.
Ayat ini melanjutkan dua pertanyaan sebelumnya dengan bentuk yang berbeda. Di 67:20 dan 67:21 yang ditanyakan siapa, sedangkan di sini yang ditanyakan mana di antara dua. Jadi tiga ayat berturut-turut mengajukan tiga pertanyaan dengan tiga bentuk yang tidak sama, dan tidak satu pun diberi jawaban tertulis. Yang berpindah bukan pokoknya melainkan cara menanyakannya.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan perumpamaan orang yang tersungkur dibandingkan orang yang berjalan tegak di jalan lurus.
Ayat ini membandingkan dua cara berjalan dengan satu kata kerja yang sama, lalu bertanya tanpa memberi jawaban.
Kata (مُكِبًّا, mukibban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:22. Kata (سَوِيًّا, sawiyyan) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 19:10, 19:17, 19:43, dan 67:22.
Kata kerja yang dipakai untuk keduanya sama, yaitu berjalan, dan ia diulang dua kali di dalam ayat ini, sehingga yang dibandingkan satu perbuatan yang dikerjakan dua cara.
Kata pertama menggambarkan orang yang tertelungkup di atas wajahnya, dan terjemahan menahan gambaran itu tanpa melembutkannya. Kata kedua berarti tegak dan lurus, dan di tiga tempat lainnya ia dipakai untuk keadaan tubuh yang utuh. Yang ditanyakan bukan siapa yang lebih benar melainkan siapa yang lebih mendapat petunjuk, dan bentuk perbandingannya ditahan terjemahan. Tidak disebut siapa yang berjalan begitu dan ke mana.
Kata kerja yang dipakai untuk keduanya sama, yaitu berjalan, dan ia diulang dua kali di dalam ayat ini, sehingga yang dibandingkan satu perbuatan yang dikerjakan dua cara. Ayat ini pun tidak menyebutkan jawabannya, sama seperti dua ayat sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah membandingkan dua cara berjalan, bukan dua keyakinan. Yang satu tersungkur. Yang lain tegak. Kata kerja yang dipakai untuk keduanya sama, dan ia diulang dua kali di dalam ayat ini. Yang berbeda cuma keterangan caranya. Jadi yang dibandingkan bukan dua perbuatan melainkan satu perbuatan yang dikerjakan dua cara. Susunan itu menutup bacaan bahwa yang satu berjalan dan yang lain diam; dua-duanya bergerak, dan dua-duanya sampai ke suatu tempat, tetapi tidak ke tempat yang sama. Dua-duanya bergerak, dan dua-duanya sampai, tetapi tidak ke tempat yang sama.
- Yang tertelungkup tidak bisa melihat ke depan. Wajahnya menghadap tanah. Arah pun tak kelihatan olehnya. Kata pertama menggambarkan orang yang tertelungkup di atas wajahnya, jadi yang dilukiskan bukan orang yang menunduk melainkan orang yang wajahnya menghadap ke tanah sepanjang jalannya. Terjemahan menahan gambaran itu dan tidak melembutkannya, sebab pelembutan akan menghilangkan kesulitan yang justru sedang dilukiskan, yaitu bahwa ia tidak bisa melihat ke mana kakinya melangkah. Yang wajahnya menghadap tanah tidak bisa melihat ke mana kakinya melangkah.
- Pertanyaan itu dibiarkan Allah tanpa jawaban tertulis. Jawabannya terlalu jelas untuk dituliskan. Yang membaca menjawab sendiri. Yang ditanyakan bukan siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih mendapat petunjuk, dan susunan Arabnya memakai bentuk perbandingan. Terjemahan menahan bentuk itu dan tidak mengubahnya menjadi pernyataan mutlak. Bentuk perbandingan menyisakan ruang bagi yang ditanya untuk menjawab sendiri, sedangkan pernyataan mutlak menutup ruang tersebut sebelum sempat dipakai. Bentuk perbandingan menyisakan ruang yang ditutup oleh pernyataan mutlak.
- Kata untuk berjalan tegak di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 19:10, 19:17, 19:43, dan 67:22. Di 19:10 dan 19:17 ia menyebut keadaan yang sempurna, dan di 19:43 ia berada di dalam ajakan menempuh jalan. Allah selalu memakainya untuk keadaan yang tidak cacat, dan di ayat ini keadaan tersebut dipasangkan dengan jalan yang lurus, sehingga keutuhan tubuh dan lurusnya jalan disebut bersama. Keutuhan tubuh dan lurusnya jalan disebut bersama dalam satu kalimat.
- Ayat ini tidak menyebutkan jawabannya. Sesudah pertanyaannya diajukan, ayat berikutnya berpindah ke perintah menyampaikan sesuatu yang lain sama sekali. Jadi pertanyaan tersebut ditinggalkan terbuka, sama seperti pertanyaan di 67:20 dan 67:21. Allah mengajukan tiga pertanyaan berturut-turut tanpa satu pun jawaban yang dituliskan, dan yang menjawabnya harus pembacanya sendiri. Yang menjawabnya harus pembacanya sendiri, sebab tidak ada jawaban yang dituliskan.
- Siapa yang berjalan dengan cara itu? Ke mana? Mengapa ia berjalan begitu? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma dua cara dan satu pertanyaan. Allah menahan namanya, dan penahanan itu menutup satu jalan keluar: perbandingan ini tidak berhenti pada satu pihak yang bisa ditunjuk, sehingga yang membacanya mau tidak mau menimbang caranya sendiri berjalan. Perbandingan tanpa nama membuat pembacanya menimbang caranya sendiri berjalan.