وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan mereka berkata, “Kapankah janji ini, jika kalian orang-orang yang benar?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَwa-yaquuluuna mataa haadzaa l-wa'du in kuntum shaadiqiinadan mereka berkata, 'kapankah janji ini, jika kalian orang-orang yang benar?'

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَيَقُولُونَwa-yaquuluunadan mereka berkata
  2. مَتَىٰmataakapan
  3. هَٰذَاhaadzaaini
  4. الْوَعْدُl-wa'dujanji
  5. إِنْinjika
  6. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  7. صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Tantangan skeptis tentang waktu: 'kapankah janji ini, jika kalian orang-orang yang benar?', pertanyaan yang mengungkap ketidaksabaran atau ketidakpercayaan yang menuntut bukti instan, pola pikir yang menuntut kepastian waktu sebagai syarat kepercayaan.

Penjelasan pilihan kata

'Haadzaa' (dekat) sudah benar diterjemahkan 'ini' pada draf.

Rangkaian (مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ, mataa haadzal-wa'du) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:48, 21:38, 27:71, 34:29, 36:48, dan 67:25. Di semua tempat itu ia diucapkan pihak yang menolak, dan di semua tempat itu pula ia berbentuk pertanyaan tentang waktu, bukan tentang isi. Jadi yang berulang bukan cuma kalimatnya, melainkan juga jenis keberatannya.

Rangkaian (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, in kuntum shaadiqiin) muncul 28 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:23, 2:111, dan 3:93. Di banyak tempat ia dipakai untuk menutup tantangan yang diajukan kepada pihak yang menolak. Di ayat ini susunan itu dibalik: yang memakainya justru pihak yang menolak, dan yang ditantang pihak yang menyampaikan.

Yang mereka tanyakan waktunya, bukan kebenarannya. Mereka tidak bertanya apakah hal itu akan terjadi, dan tidak bertanya bagaimana. Pertanyaan tentang waktu terdengar seperti permintaan keterangan, padahal yang dikerjakannya meminta sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan akan diberitahukan. Susunan seperti itu memindahkan beban pembuktian ke hal yang paling tidak mungkin dipenuhi.

Letaknya tepat sesudah ayat yang menyebut pengumpulan kembali tanpa menyebut waktunya. Jadi pertanyaan mereka masuk lewat celah yang baru saja terbuka. Al-Qur'an tidak menutup celah itu di ayat berikutnya dengan menyebutkan waktunya, melainkan dengan menyatakan siapa yang memegang keterangannya. Jadi yang dijawab bukan pertanyaannya, melainkan kedudukan yang bertanya.

Kata kerjanya berbentuk yang sedang berlangsung, yaitu 'mereka berkata', bukan bentuk yang sudah lewat. Jadi yang direkam bukan satu ucapan pada satu peristiwa, melainkan sesuatu yang terus mereka ucapkan. Bentuk tersebut sejalan dengan berulangnya kalimat itu di enam tempat, sebab yang berulang di dalam korpus juga berulang di dalam mulut mereka.

Sasaran bicaranya jamak, yaitu 'kalian', padahal yang menyampaikan disebut tunggal di 67:23 dan 67:24. Jadi mereka tidak menanyai satu orang melainkan satu pihak. Terjemahan menahan bentuk jamak itu, sebab menunggalkannya akan menyempitkan pertanyaan mereka menjadi tuntutan kepada satu orang, padahal susunannya menunjuk semua yang membawa berita yang sama.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang berkata, tidak disebut kepada siapa, dan tidak disebut apakah ada yang menjawab saat itu. Yang disebut cuma pertanyaannya dan syarat yang mereka pasang. Menahan namanya membuat keberatan ini terbaca sebagai jenis keberatan, bukan sebagai catatan tentang satu percakapan yang pernah terjadi.

Tafsiran

Ayat ini mencatat tantangan orang kafir menagih kepastian waktu janji kebangkitan.

Ayat ini merekam keberatan mereka, dan keberatannya menyangkut waktu, bukan isi.

Rangkaian (مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ, mataa haadzal-wa'du) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:48, 21:38, 27:71, 34:29, 36:48, dan 67:25, dan di semua tempat itu ia diucapkan pihak yang menolak.

Rangkaian (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, in kuntum shaadiqiin) muncul 28 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:23, 2:111, dan 3:93, dan di banyak tempat ia menutup tantangan yang diajukan kepada pihak yang menolak. Di sini susunan itu dibalik.

Yang mereka tanyakan waktunya, bukan kebenarannya, sehingga beban pembuktiannya dipindahkan ke hal yang memang tidak pernah dijanjikan akan diberitahukan. Letaknya tepat sesudah ayat yang menyebut pengumpulan kembali tanpa menyebut waktunya. Kata kerjanya berbentuk yang sedang berlangsung, jadi yang direkam bukan satu ucapan pada satu peristiwa. Tidak disebut siapa yang berkata dan kepada siapa.

Sasaran bicaranya jamak, padahal yang menyampaikan disebut tunggal di 67:23 dan 67:24, jadi mereka tidak menanyai satu orang melainkan satu pihak. Terjemahan menahan bentuk jamak itu supaya keberatan mereka tidak menyempit menjadi tuntutan kepada seseorang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam mereka menagih tanggal, bukan bukti. Kapan. Bukan mengapa. Mereka tidak bertanya apakah hal itu akan terjadi, dan tidak bertanya bagaimana. Pertanyaan tentang waktu terdengar seperti permintaan keterangan, padahal yang dikerjakannya meminta sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan akan diberitahukan. Susunan seperti itu memindahkan beban pembuktian ke hal yang paling tidak mungkin dipenuhi, sehingga penolakannya terlihat berdasar padahal tidak. Meminta yang tidak pernah dijanjikan membuat penolakan terlihat berdasar.
  • Kalimatnya diakhiri dengan syarat. Jika kalian benar. Menagih sambil menuduh. Rangkaian penutupnya dipakai dua puluh delapan kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:23, 2:111, dan 3:93, dan di banyak tempat ia menutup ujian yang diajukan kepada pihak yang menolak. Di ayat ini susunan tersebut dibalik: yang memakainya justru pihak yang menolak, dan yang diuji pihak yang menyampaikan. Allah merekam pembalikan itu apa adanya, tanpa satu kata penilaian pun atasnya. Alat yang biasa dipakai untuk menguji dipakai balik oleh yang diuji.
  • Pertanyaan bentuk ini muncul berulang di surah lain juga. Allah merekamnya tiap kali. Yang berulang caranya, bukan orangnya. Letaknya tepat sesudah ayat yang menyebut pengumpulan kembali tanpa menyebut waktunya. Jadi pertanyaan mereka masuk lewat celah yang baru saja terbuka. Allah tidak menutup celah itu di ayat berikutnya dengan menyebutkan waktunya, melainkan dengan menyatakan siapa yang memegang keterangannya. Yang dijawab bukan pertanyaannya, melainkan kedudukan pihak yang bertanya. Yang dijawab kedudukan penanyanya, bukan pertanyaannya.
  • Kalimat keberatan ini muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:48, 21:38, 27:71, 34:29, 36:48, dan 67:25. Di semua tempat itu ia diucapkan pihak yang menolak, dan selalu berbentuk pertanyaan tentang waktu. Jadi yang berulang bukan cuma kalimatnya melainkan juga jenis keberatannya. Allah merekamnya di enam surah dengan bunyi yang sama, sehingga kesamaannya terbaca oleh yang membaca lebih dari satu surah. Kesamaan yang berulang di enam surah terbaca oleh yang membaca lebih dari satu.
  • Kata kerjanya berbentuk yang sedang berlangsung, bukan bentuk yang sudah lewat. Jadi yang direkam bukan satu ucapan pada satu peristiwa, melainkan sesuatu yang terus mereka ucapkan. Bentuk itu sejalan dengan berulangnya kalimat tersebut di enam tempat, sebab yang berulang di dalam korpus juga berulang di dalam mulut mereka, dan Allah memilih bentuk kata yang menampung keduanya. Bentuk kata yang menampung pengulangan sejalan dengan berulangnya di korpus.
  • Sasaran bicaranya jamak, yaitu 'kalian', padahal yang menyampaikan disebut tunggal di 67:23 dan 67:24. Jadi siapa sebenarnya yang mereka tanyai? Bukan satu orang, melainkan satu pihak. Terjemahan menahan bentuk jamak itu, sebab menunggalkannya akan menyempitkan keberatan mereka menjadi tuntutan kepada seseorang, padahal susunannya menunjuk semua yang membawa berita yang sama. Bentuk jamak menunjuk semua yang membawa berita yang sama, bukan satu orang.