قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَنْ مَعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَنْ يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Katakanlah, “Tahukah kalian, jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku, atau memberi rahmat kepada kami, maka siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَنْ مَعِيَ أَوْ رَحِمَنَاqul a-ra'aytum in ahlakaniya llaahu wa-man ma'iya aw rahimanaakatakanlah, 'tahukah kalian, jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku, atau memberi rahmat kepada kami'
- فَمَنْ يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍfa-man yujiiru l-kaafiriina min 'adzaabin aliimin'maka siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?'
Terjemahan per kata (15 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَرَأَيْتُمْa-ra'aytumapakah kalian melihat
- إِنْinjika
- أَهْلَكَنِيَahlakaniyamembinasakanku
- اللَّهُllaahuAllah
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- مَعِيَma'iyabersamaku
- أَوْawatau
- رَحِمَنَاrahimanaamerahmati kami
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- يُجِيرُyujiirumelindungi
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
- مِنْmindari
- عَذَابٍ'adzaabinazab
- أَلِيمٍaliiminyang pedih
Inti bacaan
Tantangan logis terhadap harapan kematian lawan: 'jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku. lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?', pembalikan argumen yang menunjukkan bahwa kematian penyampai kebenaran tidak menyelesaikan masalah fundamental yang dihadapi penentangnya, mengalihkan fokus dari harapan sia-sia kepada konsekuensi yang tetap mengancam.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Muhammad)' dan '(dengan memperpanjang umur kami,)' tidak dipakai.
Kata (أَهْلَكَنِيَ, ahlakaniya) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:28. Kata (يُجِيرُ, yujiiru) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:88 dan 67:28. Rangkaian (أَرَأَيْتُمْ, a-ra-aitum) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 6:46, 28:71, dan 46:4, dan dua di antaranya berada di surah ini, yaitu di 67:28 dan 67:30.
Di 23:88 kata untuk melindungi itu berada di dalam pertanyaan tentang siapa yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, dan di sana dinyatakan bahwa Dia melindungi sedangkan tidak ada yang bisa dilindungi dari-Nya. Jadi kata tersebut di dua tempat sama-sama berada di dalam pertanyaan yang menuntut penyebutan, dan sama-sama tentang perlindungan yang tidak ada bandingnya.
Pertanyaannya dialihkan di tengah jalan. Paruh pertamanya tentang apa yang akan menimpa yang menyampaikan dan orang yang bersamanya, dan paruh keduanya justru tentang siapa yang akan melindungi pihak yang menolak. Jadi yang ditanyakan bukan nasib pihak pertama melainkan nasib pihak kedua. Susunan tersebut memindahkan pertanyaan tanpa memberi tanda perpindahan.
Dua kemungkinan disebut berdampingan, yaitu dimatikan atau diberi rahmat. Keduanya dibiarkan terbuka dan tidak dipilih. Terjemahan menahan dua kemungkinan itu dan tidak mengubah salah satunya menjadi yang lebih mungkin. Membiarkan keduanya terbuka menutup satu jalan keluar, sebab apa pun yang terjadi pada pihak pertama tidak mengubah pertanyaan tentang pihak kedua.
Yang disebut bersamanya bukan pengikut dan bukan kaum, melainkan 'orang yang bersamaku'. Sebutan itu tidak menyebut jumlah, tidak menyebut nama, dan tidak menyebut kedudukan. Terjemahan menahan sebutan tersebut apa adanya. Menyebutnya dengan nama kelompok akan menambahkan keterangan yang tidak ada, dan menyempitkan sesuatu yang sengaja dibiarkan luas.
Bentuk pertanyaan pembukanya menyuruh yang ditanya membayangkan lebih dahulu, baru menjawab. Susunan itu dipakai empat belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 6:46, 28:71, dan 46:4, dan selalu untuk menyodorkan keadaan yang harus ditimbang, bukan keterangan yang harus diterima. Surah ini memakainya dua kali, dan dua-duanya di tiga ayat terakhir.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan, tidak disebut berapa orang yang bersamanya, dan tidak disebut apa jawaban mereka. Yang disebut cuma dua kemungkinan dan satu pertanyaan. Menahan jawabannya membuat pertanyaan ini tetap menggantung, dan ayat berikutnya tidak menjawabnya melainkan menyatakan sikap pihak yang bertanya.
Tafsiran
Ayat ini menantang secara retoris: kematian Nabi tidak mengubah nasib orang kafir dari azab.
Ayat ini menyodorkan dua kemungkinan tentang satu pihak, lalu bertanya tentang pihak yang lain.
Kata (أَهْلَكَنِيَ, ahlakaniya) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 67:28. Kata (يُجِيرُ, yujiiru) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:88 dan 67:28. Rangkaian (أَرَأَيْتُمْ, a-ra-aitum) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 6:46, 28:71, dan 46:4, dan dua di antaranya di surah ini.
Di 23:88 kata untuk melindungi berada di dalam pertanyaan tentang siapa yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, sehingga di dua tempat itu ia sama-sama berada di dalam pertanyaan yang menuntut penyebutan.
Pertanyaannya dialihkan di tengah jalan, sebab paruh pertamanya tentang pihak yang menyampaikan dan paruh keduanya tentang pihak yang menolak. Dua kemungkinan disebut berdampingan dan tidak dipilih. Yang disebut bersamanya bukan pengikut dan bukan kaum. Tidak disebut kapan dan apa jawaban mereka.
Bentuk pertanyaan pembukanya menyuruh yang ditanya membayangkan lebih dahulu, baru menjawab, dan selalu dipakai untuk menyodorkan keadaan yang harus ditimbang. Surah ini memakainya dua kali, dan dua-duanya di tiga ayat terakhir, sehingga penutupnya menuntut pembacanya bekerja.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh menjawab dengan mengalihkan pertanyaan. Bukan membela diri. Yang ditanyakan bukan nasib yang diancam, melainkan nasib yang mengancam. Paruh pertamanya tentang apa yang akan menimpa yang menyampaikan dan orang yang bersamanya, dan paruh keduanya justru tentang siapa yang akan melindungi pihak yang menolak. Jadi yang ditanyakan bukan nasib pihak pertama melainkan nasib pihak kedua. Susunan tersebut memindahkan pertanyaan tanpa memberi tanda perpindahan, dan yang mendengarnya baru sadar di ujung kalimat. Yang mendengarnya baru sadar arah pertanyaannya di ujung kalimat.
- Dua kemungkinan disebut untuk dirinya: dimatikan, atau diberi rahmat. Dua-duanya. Yang mana pun tak mengubah keadaan pihak lain. Dua kemungkinan disebut berdampingan, yaitu dimatikan atau diberi rahmat, dan keduanya dibiarkan terbuka tanpa dipilih. Terjemahan menahan dua kemungkinan itu dan tidak mengubah salah satunya menjadi yang lebih mungkin. Membiarkan keduanya terbuka menutup satu jalan keluar, sebab apa pun yang terjadi pada pihak pertama tidak mengubah pertanyaan tentang pihak kedua. Apa pun yang terjadi pada pihak pertama tidak mengubah pertanyaan tentang pihak kedua.
- Allah menyebut orang-orang yang bersamaku. Bukan aku saja. Yang dipertaruhkan bukan satu orang, dan itu tetap tak mengubah apa pun. Yang disebut bersamanya bukan pengikut dan bukan kaum, melainkan orang yang bersamanya. Sebutan itu tidak menyebut jumlah, tidak menyebut nama, dan tidak menyebut kedudukan. Terjemahan menahan sebutan tersebut apa adanya. Menyebutnya dengan nama kelompok akan menambahkan keterangan yang tidak ada, dan menyempitkan sesuatu yang sengaja dibiarkan luas oleh ayatnya. Sebutan yang tidak menyebut jumlah menjaga yang disebut tetap luas.
- Kata untuk melindungi di ayat ini juga dipakai di 23:88, dan di sana ia berada di dalam pertanyaan tentang siapa yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, disusul pernyataan bahwa Dia melindungi sedangkan tidak ada yang bisa dilindungi dari-Nya. Allah memakainya di dua tempat yang sama-sama berupa pertanyaan yang menuntut penyebutan, dan sama-sama tentang perlindungan yang tidak ada bandingnya. Perlindungan yang tidak ada bandingnya ditanyakan, bukan dinyatakan.
- Bentuk pertanyaan pembukanya menyuruh yang ditanya membayangkan lebih dahulu, baru menjawab. Susunan itu dipakai empat belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 6:46, 28:71, dan 46:4, dan selalu untuk menyodorkan keadaan yang harus ditimbang. Surah ini memakainya dua kali, dan dua-duanya di tiga ayat terakhir, sehingga penutupnya menuntut pembacanya bekerja, bukan sekadar menerima. Penutup surah menuntut pembacanya bekerja, bukan sekadar menerima.
- Kapan hal itu akan berlaku? Berapa orang yang bersamanya? Apa jawaban mereka? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma dua kemungkinan dan satu pertanyaan. Allah membiarkan pertanyaan ini menggantung, dan ayat berikutnya tidak menjawabnya melainkan menyatakan sikap pihak yang bertanya. Jadi yang datang sesudah pertanyaan bukan jawaban, melainkan pendirian. Yang datang sesudah pertanyaan bukan jawaban, melainkan pendirian.