قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
Katakanlah, “Bagaimana pendapat kalian, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍqul a-ra'aytum in ashbaha maa'ukum ghawran fa-man ya'tiikum bi-maa'in ma'iininkatakanlah, 'bagaimana pendapat kalian, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?'
Terjemahan per kata (10 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَرَأَيْتُمْa-ra'aytumapakah kalian melihat
- إِنْinjika
- أَصْبَحَashbahamenjadi
- مَاؤُكُمْmaa'ukumair kalian
- غَوْرًاghawransurut
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- يَأْتِيكُمْya'tiikumdatang kepada kalian
- بِمَاءٍbi-maa'indengan air
- مَعِينٍma'iininyang mengalir
Inti bacaan
Pertanyaan reflektif tentang ketergantungan pada air: 'jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?', pengingat penutup surah tentang kerapuhan akses terhadap sumber daya paling mendasar, kesadaran bahwa ketersediaan air yang dianggap sudah semestinya sesungguhnya bergantung pada faktor di luar kendali manusia.
Penjelasan pilihan kata
Kata (غَوْرًا, ghauran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:41 dan 67:30. Kata (مَعِينٍ, ma'iin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:50, 37:45, 56:18, dan 67:30. Jadi keadaan yang ditanyakan memakai kata yang punya satu pasangan, dan yang diminta memakai kata yang sudah dipakai di tiga surah lain.
Di 18:41 kata pertama itu berada di dalam kisah dua kebun, yaitu ketika disebutkan kemungkinan airnya surut sehingga tidak bisa dicari lagi. Susunan kalimatnya pun mirip, sebab di sana dipakai bentuk 'menjadi surut' seperti di ayat ini. Jadi dua tempat memakai gambaran yang sama, dan dua-duanya di dalam kalimat tentang sesuatu yang bisa hilang dari orang yang merasa memilikinya.
Di 23:50, 37:45, dan 56:18 kata kedua itu selalu menyebut sumber air yang mengalir sebagai pemberian, baik sebagai tempat berlindung maupun sebagai minuman yang dijanjikan. Di 67:30 kata yang sama dipakai untuk sesuatu yang ditanyakan siapa yang bisa mendatangkannya. Jadi yang di tiga tempat lain berupa pemberian, di sini berupa pertanyaan.
Yang dipilih sebagai contoh air, bukan harta dan bukan kekuasaan. Air yang paling dekat, paling murah, dan paling jarang dipikirkan. Surah ini ditutup dengan menunjuk sesuatu yang dipakai setiap hari oleh setiap orang tanpa dianggap sebagai pemberian. Menutup dengan yang paling biasa membuat pertanyaannya tidak bisa dijawab dengan menunjuk kekayaan atau kedudukan.
Bentuk pertanyaan pembukanya sama dengan yang dipakai di 67:28, yaitu bentuk yang menyuruh membayangkan lebih dahulu. Dua ayat dalam tiga ayat terakhir memakai bentuk itu. Jadi surah ini ditutup dengan dua keadaan yang harus dibayangkan sendiri oleh yang membacanya, dan dua-duanya berupa keadaan yang tidak bisa diatur olehnya.
Pertanyaan penutupnya menuntut penyebutan nama, bukan penjelasan. Susunan tersebut sama dengan yang dipakai di 67:20 dan 67:21, yaitu menanyakan siapa gerangan yang bisa. Jadi surah ini tiga kali menuntut satu nama disebutkan, dan tiga-tiganya tidak dijawab di dalam teksnya sampai surah ini selesai.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan, tidak disebut sebabnya, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya. Ayat ini juga tidak menyebutkan jawabannya, dan surah ini berakhir di sini. Menutup surah dengan pertanyaan yang tidak dijawab meninggalkan pekerjaan itu pada yang membacanya, dan pekerjaan tersebut menyusul setiap kali ia menuangkan air. Surah yang dibuka dengan kekuasaan atas segala sesuatu ternyata ditutup dengan segelas air yang bisa hilang.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menghadirkan pertanyaan retoris tentang sumber air, menegaskan hanya Allah yang dapat menyediakannya jika sumber mengering.
Ayat terakhir surah ini menutup dengan pertanyaan tentang sesuatu yang paling biasa dipakai setiap hari.
Kata (غَوْرًا, ghauran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:41 dan 67:30. Kata (مَعِينٍ, ma'iin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:50, 37:45, 56:18, dan 67:30.
Di 18:41 kata pertama berada di dalam kisah dua kebun, yaitu ketika disebutkan kemungkinan airnya surut sehingga tidak bisa dicari lagi, dan susunan kalimatnya pun mirip. Di tiga tempat lain kata kedua selalu menyebut sumber air yang mengalir sebagai pemberian, sedangkan di sini ia berupa pertanyaan.
Yang dipilih sebagai contoh air, bukan harta dan bukan kekuasaan. Bentuk pertanyaan pembukanya sama dengan yang dipakai di 67:28. Pertanyaan penutupnya menuntut penyebutan nama, sama seperti di 67:20 dan 67:21. Tidak disebut kapan, sebabnya, dan apa yang terjadi sesudahnya.
Menutup dengan yang paling biasa membuat pertanyaannya tidak bisa dijawab dengan menunjuk kekayaan atau kedudukan. Ayat ini juga tidak menyebutkan jawabannya, dan surah ini berakhir di sini, sehingga pekerjaan menjawabnya tertinggal pada yang membacanya.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini ditutup Allah dengan pertanyaan tentang air, bukan tentang azab. Yang ditanyakan barang sehari-hari. Yang paling dekat justru paling rapuh. Yang dipilih sebagai contoh air, bukan harta dan bukan kekuasaan. Air yang paling dekat, paling murah, dan paling jarang dipikirkan asalnya. Surah ini ditutup dengan menunjuk sesuatu yang dipakai setiap hari oleh setiap orang tanpa dianggap sebagai pemberian. Menutup dengan yang paling biasa membuat pertanyaannya tidak bisa dijawab dengan menunjuk kekayaan atau kedudukan siapa pun. Yang dipakai setiap hari paling jarang dihitung sebagai pemberian.
- Airnya disebut surut ke dalam tanah, bukan habis. Ia masih ada di sana. Cuma tidak terjangkau lagi. Kata untuk surut di ayat ini juga dipakai di 18:41, yaitu di dalam kisah dua kebun ketika disebutkan kemungkinan airnya surut sehingga tidak bisa dicari lagi. Susunan kalimatnya pun mirip. Jadi dua tempat memakai gambaran yang sama, dan dua-duanya di dalam kalimat tentang sesuatu yang bisa hilang dari orang yang merasa memilikinya dengan aman. Yang merasa memiliki dengan aman paling terkejut ketika miliknya surut.
- Pertanyaannya menuntut nama, bukan penjelasan. Siapa yang mendatangkan. Allah membiarkan mereka mencari jawabannya sendiri. Pertanyaan penutupnya menuntut penyebutan nama, bukan penjelasan. Susunan tersebut sama dengan yang dipakai di 67:20 dan 67:21, yaitu menanyakan siapa gerangan yang bisa. Jadi surah ini tiga kali menuntut satu nama disebutkan, dan tiga-tiganya tidak dijawab di dalam teksnya sampai surah ini selesai pada ayat ini juga. Tiga tuntutan nama di satu surah, dan tidak satu pun dijawab di dalamnya.
- Kata untuk sumber yang mengalir di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:50, 37:45, 56:18, dan 67:30. Di tiga tempat lainnya ia selalu menyebut air yang mengalir sebagai pemberian, baik sebagai tempat berlindung maupun sebagai minuman yang dijanjikan. Di ayat ini kata yang sama dipakai untuk sesuatu yang ditanyakan siapa yang bisa mendatangkannya. Kata yang di tempat lain berupa anugerah di sini berupa pertanyaan.
- Bentuk pertanyaan pembukanya sama dengan yang dipakai di 67:28, yaitu bentuk yang menyuruh membayangkan lebih dahulu. Dua ayat dalam tiga ayat terakhir memakai bentuk itu. Jadi Allah menutup surah ini dengan dua keadaan yang harus dibayangkan sendiri oleh yang membacanya, dan dua-duanya berupa keadaan yang sama sekali tidak bisa diatur olehnya. Dua keadaan penutupnya sama-sama di luar jangkauan yang membacanya.
- Kapan airnya surut? Apa sebabnya? Apa yang menyusul sesudahnya? Tidak satu pun disebut, dan jawabannya pun tidak. Surah ini berakhir di sini. Allah menutupnya dengan pertanyaan yang tidak dijawab, sehingga pekerjaan menjawabnya tertinggal pada yang membacanya. Pekerjaan itu menyusul setiap kali ia menuangkan air, dan air dituangkan lebih sering daripada surah ini dibaca. Air dituangkan lebih sering daripada surah ini dibaca.