قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
Katakanlah, “Bagaimana pendapat kalian, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍqul ara'aytum in asbaha maa'ukum ghawran fa-man ya'tiikum bi-maa'in ma'iininkatakanlah, 'bagaimana pendapat kalian, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?'
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar q-w-l, r-a-y, s-b-h, m-w-h, gh-w-r, a-t-y, '-y-n): asbaha maa'ukum ghawran diterjemahkan 'air kalian surut' (akar m-w-h + akar gh-w-r); man ya'tiikum bi-maa' ma'iin diterjemahkan 'siapa mendatangkan air mengalir' (akar '-t-y + akar m-'-n, ketergantungan pada karunia Allah, argumen tanda). gloss '(Nabi Muhammad)/(sumber)' dibuang.
Aplikasi
Pertanyaan reflektif tentang ketergantungan pada air: 'jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, maka siapa yang mendatangkan kepada kalian air yang mengalir?', pengingat penutup surah tentang kerapuhan akses terhadap sumber daya paling mendasar, kesadaran bahwa ketersediaan air yang dianggap sudah semestinya sesungguhnya bergantung pada faktor di luar kendali manusia.