بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. نnuunNun
  2. وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَwa-l-qalami wa-maa yasthuruunademi pena dan apa yang mereka tuliskan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. نnuunNuun
  2. وَالْقَلَمِwa-l-qalamidemi pena
  3. وَمَاwa-maadan apa yang
  4. يَسْطُرُونَyasthuruunamereka tuliskan

Inti bacaan

Pembukaan Al-Qalam dengan sumpah atas alat tulis: 'demi pena dan apa yang mereka tuliskan', pengangkatan derajat aktivitas menulis dan pencatatan pengetahuan, penghormatan terhadap tradisi literasi yang secara langsung membantah tuduhan bahwa pesan ini berasal dari kebodohan atau kegilaan.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama surah ini mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. 'Nuun' dipertahankan transliterasi apa adanya sesuai konvensi huruf muqatta'aat (seperti Alif Lam Mim di surah lain): maknanya tetap terbuka, tidak dijelaskan Al-Qur'an sendiri.

Kata (الْقَلَمِ, al-qalam) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 68:1 dan 96:4. Di 96:4 tertulis (الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, alladzii 'allama bil-qalam), Yang mengajar dengan pena. Jadi satu kata dipakai untuk dua kedudukan yang berbeda: di 96:4 pena alat yang dipakai Allah untuk mengajar, dan di sini pena yang dijadikan-Nya saksi. Dua-duanya berada di surah yang berhubungan dengan permulaan wahyu.

Kata (يَسْطُرُونَ, yasthuruun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya kata kerja sekarang, sehingga yang dinyatakan pekerjaan yang sedang dan terus dikerjakan, bukan yang sudah selesai. Pelakunya tidak dinamai. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menuliskan, dan ketiadaan itu membuat sumpahnya mencakup semua yang menulis, bukan satu golongan tertentu.

Tiga surah dibuka satu huruf tunggal yang langsung disusul sumpah, yaitu 38:1 dengan (ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ, shaad wal-qur'aani dzii adz-dzikr), 50:1 dengan (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ, qaaf wal-qur'aanil-majiid), dan ayat ini. Dua yang pertama bersumpah demi Al-Qur'an, sedangkan yang ketiga bersumpah demi pena dan apa yang dituliskan. Susunannya sama, isinya bergeser dari kitabnya kepada alat yang menuliskannya.

'Nuun' dipertahankan sebagai transliterasi apa adanya sesuai konvensi huruf muqatta'aat, sama seperti Alif Lam Mim di surah lain. Maknanya tetap terbuka, sebab Al-Qur'an sendiri tidak menerangkannya. Huruf (وَ, wa) di depan kata pena diterjemahkan 'demi', bukan 'dan', sebab dalam susunan seperti ini ia huruf sumpah. Menerjemahkannya 'dan' akan mengubah kalimat sumpah menjadi daftar.

Kata (مَا, maa) pada 'apa yang mereka tuliskan' dibiarkan seluas bunyinya. Ia tidak dibatasi menjadi wahyu saja, tidak pula menjadi tulisan manusia saja. Jadi yang disumpahkan bukan hanya pena sebagai benda, melainkan juga seluruh hasil pekerjaannya, dan hasil itu tidak disaring lebih dahulu menurut siapa yang menuliskannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang menulis, tidak disebut apa yang ditulis, dan tidak disebut hubungan sumpah ini dengan pernyataan di 68:2. Al-Qur'an menaruh keduanya berdampingan tanpa satu kalimat penghubung, dan pembacanya sendiri yang menimbang mengapa bantahan atas tuduhan kegilaan didahului sumpah demi alat tulis.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi pena dan tulisan, menegaskan otoritas wahyu tertulis.

Kata (الْقَلَمِ, al-qalam) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 68:1 dan 96:4, sedangkan (يَسْطُرُونَ, yasthuruun) muncul 1 kali, yaitu di ayat ini. Di 96:4 pena disebut sebagai alat yang dipakai Allah untuk mengajar; di sini ia dijadikan saksi.

Tiga surah dibuka satu huruf tunggal yang langsung disusul sumpah, yaitu 38:1, 50:1, dan ayat ini. Dua yang pertama bersumpah demi Al-Qur'an, dan yang ketiga demi pena serta apa yang dituliskan. Susunannya sama, isinya bergeser dari kitabnya kepada alatnya.

Bentuk kata kerja pada 'yang mereka tuliskan' menyatakan pekerjaan yang sedang berlangsung, dan pelakunya tidak dinamai. Kata 'apa' dibiarkan seluas bunyinya, tidak dibatasi pada wahyu maupun pada tulisan manusia, sehingga yang disumpahkan mencakup alat sekaligus hasil pekerjaannya tanpa disaring menurut siapa yang menuliskannya.

'Nuun' dipertahankan sebagai transliterasi apa adanya sesuai konvensi huruf muqatta'aat, dan maknanya tetap terbuka sebab Al-Qur'an sendiri tidak menerangkannya. Huruf di depan kata pena diterjemahkan 'demi', bukan 'dan', sebab dalam susunan seperti ini ia huruf sumpah; menerjemahkannya 'dan' akan mengubah kalimat sumpah menjadi daftar. Tidak disebut siapa yang menulis, tidak disebut apa yang ditulis, dan tidak disebut hubungan sumpah ini dengan pernyataan di 68:2.

Renungan dan Hikmah

  • Allah bersumpah dengan pena dan apa yang mereka tuliskan. Alat tulis. Yang diangkat sebagai saksi benda yang paling sederhana di meja siapa pun. Benda itu juga benda yang paling mudah diabaikan justru oleh yang paling sering memakainya. Sumpah menaikkan kedudukan sesuatu di mata pendengarnya, dan yang dinaikkan di sini bukan barang langka melainkan barang yang tergeletak di mana-mana.
  • Bukan penanya saja, melainkan juga apa yang dituliskan dengannya. Alat dan hasilnya. Sumpah itu mencakup pekerjaan menulis, bukan sekadar bendanya. Menyebut hasilnya juga berarti menyebut sesuatu yang bertahan sesudah orangnya tiada. Pena berhenti dipakai, tangan yang memegangnya berhenti bergerak, dan yang dituliskan tetap ada. Dari dua yang disumpahkan, yang kedua justru yang berumur lebih panjang.
  • Allah membuka surah yang membantah tuduhan kegilaan dengan menyebut pena. Pembukanya sudah menjawab. Yang dituduh tak berakal diperkenalkan lewat lambang penalaran yang tersimpan. Menaruh alat tulis di kalimat pembuka juga menyiapkan pembacanya untuk seluruh isi surah. Yang datang sesudahnya bukan mukjizat dan bukan ancaman, melainkan uraian tentang perangai: perangai yang dituduh dan perangai yang menuduh.
  • Kata الْقَلَمِ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 68:1 dan 96:4. Di 96:4 pena disebut sebagai alat yang dipakai Allah untuk mengajar manusia apa yang belum diketahuinya, dan di sini pena dijadikan saksi atas kewarasan orang yang dituduh hilang akal. Dua kedudukan yang berbeda untuk satu benda yang sama. Yang menarik, keduanya berada di surah yang berkaitan dengan awal turunnya wahyu, dan di kedua tempat itu pena berdiri di pihak pengetahuan, bukan di pihak kekuasaan.
  • Hanya tiga surah dalam Al-Quran yang dibuka satu huruf tunggal lalu langsung disusul sumpah, yaitu 38:1, 50:1, dan ayat ini. Dua yang pertama bersumpah demi Al-Quran, dan yang ketiga bersumpah demi pena beserta apa yang dituliskan. Susunannya sama persis, tetapi isinya bergeser dari kitab kepada alat yang menuliskannya. Pergeseran itu tidak diterangkan Allah sedikit pun, dan yang bisa dibaca cuma letaknya: surah yang hendak membela seseorang dari tuduhan kehilangan akal dibuka dengan benda yang paling berlawanan dengan kehilangan akal.
  • Allah menyebut apa yang mereka tuliskan tanpa menyebut siapa mereka. Ketiadaan nama itu membuat sumpahnya tidak terbatas pada malaikat pencatat, tidak pula pada juru tulis wahyu, dan tidak pula pada manusia pada umumnya. Semuanya masuk. Bagi pembaca hari ini hal itu punya akibat yang tidak enak: apa pun yang kita tuliskan hari ini termasuk di dalam apa yang disumpahkan Allah, bukan karena mutunya, melainkan karena tulisan memang bertahan lebih lama daripada yang menuliskannya. Apa yang kita tinggalkan dalam bentuk tulisan hari ini, dan sudahkah kita pernah menimbangnya seberat itu?