مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

Engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍmaa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuuninengkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. أَنْتَantaengkau
  3. بِنِعْمَةِbi-ni'matidengan nikmat
  4. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  5. بِمَجْنُونٍbi-majnuuninorang gila

Inti bacaan

Pembelaan langsung terhadap tuduhan personal: 'engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila', bantahan tegas terhadap fitnah karakter, dikaitkan langsung dengan anugerah ilahi sebagai bukti kewarasan dan kejernihan pikiran, bukan klaim tanpa dasar.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (بِنِعْمَةِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbik) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan 93:11. Di 93:11 tertulis (وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ, wa-ammaa bi-ni'mati rabbika fahaddits), dan terhadap nikmat Tuhanmu, kisahkanlah. Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk dua hal yang berbeda: di 93:11 nikmat itu yang diperintahkan diceritakan, sedangkan di sini nikmat itu yang menjadi alasan mengapa tuduhan kegilaan tidak berlaku.

Kata (بِمَجْنُونٍ, bi-majnuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan 81:22. Di 81:22 tertulis (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuun), dan teman kalian bukanlah orang gila. Dua-duanya kalimat penyangkalan, dan dua-duanya memakai huruf (بِ, bi) yang menguatkan penyangkalannya. Adapun bentuk (مَجْنُونٌ, majnuun) tanpa huruf itu muncul 7 kali di 6 surah, yaitu 15:6, 26:27, 44:14, 51:39, 51:52, 54:9, dan 68:51; tujuh kemunculan tetapi enam surah karena surah 51 memakainya dua kali. Di tempat-tempat itu kata tersebut berada di mulut penuduh, sedangkan di dua tempat penyangkalan ia berada di kalimat Allah sendiri.

Susunan kalimatnya menaruh 'dengan nikmat Tuhanmu' di tengah, di antara 'engkau' dan 'bukanlah orang gila'. Letak itu tidak biasa, dan ia memutus kalimat penyangkalan tepat sebelum kata yang disangkal. Akibatnya, sebab kewarasannya disebut lebih dahulu daripada penyangkalannya sendiri.

Terjemahan menahan susunan itu apa adanya dan tidak memindahkan keterangan tersebut ke belakang. Memindahkannya akan membuat kalimatnya lebih lancar dibaca, tetapi urutan yang dipilih Al-Qur'an akan hilang, padahal urutan itulah yang menaruh pemberian Allah sebagai sebab dan bukan sebagai tambahan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang menuduh, tidak disebut kapan tuduhan itu dilontarkan, dan tidak disebut apa yang membuat mereka menuduh. Yang disebut cuma penyangkalannya. Al-Qur'an tidak menyediakan bahan untuk membalas penuduhnya, dan pembelaannya seluruhnya diarahkan kepada yang dituduh.

Yang disapa di dua tempat penyangkalan itu pun berbeda. Di 81:22 tertulis (صَاحِبُكُمْ, shaahibukum), teman kalian, sehingga kalimatnya berbicara kepada para penuduh tentang orang yang mereka tuduh. Di sini tertulis (أَنْتَ, anta), engkau, sehingga kalimatnya berbicara kepada yang dituduh itu sendiri. Satu penyangkalan diarahkan kepada yang berkerumun, satu lagi kepada yang berdiri sendirian. Menyebutnya 'teman kalian' di 81:22 juga mengingatkan penuduhnya bahwa orang yang mereka tuduh bukan orang asing yang baru datang, melainkan orang yang mereka kenal seumur hidupnya.

Tafsiran

Ayat ini menjadi pembelaan langsung terhadap tuduhan gila kepada Nabi.

Rangkaian (بِنِعْمَةِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbik) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan 93:11. Di 93:11 nikmat itu yang diperintahkan diceritakan; di sini nikmat itu yang menjadi sebab mengapa tuduhan kegilaan tidak berlaku.

Kata (بِمَجْنُونٍ, bi-majnuun) muncul 2 kali, yaitu di 68:2 dan 81:22, dan dua-duanya kalimat penyangkalan. Adapun bentuk tanpa huruf penguat muncul 7 kali di 6 surah, yaitu 15:6, 26:27, 44:14, 51:39, 51:52, 54:9, dan 68:51; tujuh kemunculan tetapi enam surah karena surah 51 memakainya dua kali. Di tempat-tempat itu kata tersebut berada di mulut penuduh, sedangkan di dua tempat penyangkalan ia berada di kalimat Allah sendiri.

Susunan kalimatnya menaruh keterangan 'dengan nikmat Tuhanmu' di tengah, memutus penyangkalan tepat sebelum kata yang disangkal, sehingga sebab kewarasannya disebut lebih dahulu daripada penyangkalannya. Terjemahan menahan urutan itu apa adanya, sebab urutan tersebutlah yang menaruh pemberian Allah sebagai sebab dan bukan sebagai tambahan.

Yang disapa di dua tempat penyangkalan itu berbeda. Di 81:22 yang disebut 'teman kalian', sehingga kalimatnya berbicara kepada para penuduh; di sini yang disebut 'engkau', sehingga kalimatnya berbicara kepada yang dituduh sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membantah tuduhan itu langsung kepada yang dituduh. Bukan kepada penuduhnya. Kepada dia. Membantah langsung kepada yang dituduh, bukan kepada penuduhnya, mengubah kedudukan seluruh perkara. Bantahan kepada penuduh memerlukan mereka hadir dan bersedia mendengar. Bantahan kepada yang dituduh cuma memerlukan satu orang, dan orang itu memang yang paling perlu mendengarnya.
  • Kewarasannya disebut nikmat Tuhannya. Bukan pencapaian. Pemberian. Menyebutnya pemberian juga meniadakan kemungkinan membanggakannya. Yang waras karena diberi tidak punya alasan merasa lebih tinggi daripada yang tidak, sebab bukan dia yang mengusahakannya. Pembelaan ini menguatkan tanpa meninggikan.
  • Bantahan ini datang sesudah sumpah demi pena. Allah menyandingkan keduanya. Yang dituduh gila disumpahi dengan alat tulis. Urutan itu bekerja seperti bukti yang diletakkan sebelum tuntutan dibacakan. Pembaca sudah mendengar pena dan tulisan lebih dahulu, dan baru sesudah itu mendengar tuduhan kehilangan akal. Dua hal yang tak mungkin berkumpul pada satu orang.
  • Kata بِمَجْنُونٍ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 68:2 dan 81:22, dan dua-duanya kalimat penyangkalan yang diucapkan Allah sendiri. Bentuk tanpa huruf penguatnya muncul tujuh kali dalam enam surah, di 15:6, 26:27, 44:14, 51:39, 51:52, 54:9, dan 68:51; tujuh kemunculan tetapi enam surah karena surah 51 memakainya dua kali. Semua yang tujuh itu berada di mulut penuduh. Jadi tuduhannya diulang jauh lebih sering daripada bantahannya, dan itu memang gambaran yang jujur tentang bagaimana tuduhan bekerja.
  • Rangkaian بِنِعْمَةِ رَبِّكَ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 68:2 dan 93:11. Di 93:11 rangkaian itu menjadi obyek perintah, yaitu nikmat Tuhanmu, kisahkanlah. Di sini ia menjadi sebab, yaitu dengan nikmat Tuhanmu engkau bukanlah orang gila. Dua surah yang berdekatan memakai rangkaian yang sama untuk dua pekerjaan yang berbeda, dan keduanya berbicara kepada orang yang sedang berada di tekanan. Yang satu menyuruhnya bercerita, yang satu lagi memberitahunya apa yang sebenarnya sedang ia pegang.
  • Allah tidak membela dengan menyebut kedudukan, keturunan, atau kelebihan. Yang disebut cuma bahwa apa yang ada padanya pemberian Tuhannya. Pembelaan seperti itu tidak bisa dipakai untuk menyerang balik, sebab isinya bukan tentang penuduhnya sama sekali. Orang yang dituduh biasanya paling ingin membalikkan tuduhan, dan ayat ini tidak menyediakan bahan untuk itu. Yang diberikan kepadanya cuma satu hal, yaitu kepastian tentang dirinya sendiri. Ketika sedang dituduh, apa yang lebih dahulu kita cari: kepastian tentang diri, atau bahan untuk membalas? Yang pertama menenangkan lalu berhenti di situ; yang kedua tidak pernah cukup, sebab selalu ada satu tuduhan lagi yang belum terbalas, dan tenaga itu habis tanpa satu pun perkara selesai.