وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ
Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang tidak putus-putus,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍwa-inna laka la-ajran ghayra mamnuunindan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang tidak putus-putus
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- لَكَlakabagimu
- لَأَجْرًاla-ajranbenar-benar upah
- غَيْرَghayraselain
- مَمْنُونٍmamnuuninyang terputus
Inti bacaan
Jaminan ganjaran yang berkelanjutan: 'sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang tidak putus-putus', penghiburan bagi yang menghadapi tuduhan tak berdasar, keyakinan bahwa konsistensi dalam menyampaikan kebenaran akan diganjar tanpa henti, kontras dengan tuduhan sementara yang akan berlalu.
Penjelasan pilihan kata
Sifat (غَيْرُ مَمْنُونٍ, ghairu mamnuun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6, dan di ketiganya ia menyifati pahala yang berkedudukan sebagai pokok kalimat. Di ayat ini sifat yang sama dipakai dengan ujung kata yang berbeda, yaitu (غَيْرَ مَمْنُونٍ, ghaira mamnuun), sebab pahalanya di sini berkedudukan sebagai keterangan. Perbedaannya cuma pada ujung katanya, sebab di tiga tempat itu ia menjadi sifat bagi pahala yang disebut sebagai pokok kalimat, sedangkan di sini ia menjadi sifat bagi pahala yang disebut sebagai keterangan. Yang dikatakan sama; kedudukan kalimatnya yang berbeda.
Akar (مَنَّ, manna) yang menjadi asal kata (مَمْنُونٍ, mamnuun) memikul dua arti yang saling berdekatan, yaitu memutus dan mengungkit pemberian. Karena itu 'tidak putus-putus' dan 'tidak diungkit-ungkit' dua-duanya terbaca dari kata yang sama. Terjemahan memilih 'tidak putus-putus' sebab itu yang paling sering dibaca dalam susunan seperti ini, dan arti yang kedua tetap tersimpan di dalam kata Arabnya tanpa dihilangkan.
Huruf (لَ, la) pada kata pahala menguatkan pernyataannya, sehingga kalimatnya bukan pemberitahuan biasa melainkan penegasan. Penegasan itu juga sudah ada pada (إِنَّ, inna) di awal kalimat. Jadi ada dua penguat sekaligus dalam satu kalimat pendek, dan penguat berlapis seperti itu dipakai ketika yang diajak bicara diandaikan sedang meragukan.
Kata (لَكَ, laka), bagimu, menaruh janji ini pada satu orang, bukan pada golongan. Kalimatnya tidak berbunyi bagi orang yang bersabar atau bagi orang yang teraniaya, melainkan bagimu. Terjemahan menahan kata ganti itu apa adanya, sebab memperluasnya menjadi sebutan golongan akan mengubah janji perorangan menjadi kaidah umum.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa besar pahalanya, tidak disebut kapan diberikan, dan tidak disebut atas amal yang mana. Yang disebut cuma sifatnya, yaitu tidak terputus. Sesuatu yang diterangkan lewat sifat dan bukan lewat jumlah tidak bisa dibandingkan dengan pemberian siapa pun, dan tidak bisa dinyatakan kurang oleh perhitungan mana pun.
Urutan katanya juga tidak biasa. Tertulis (وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا, wa-inna laka la-ajran), yaitu 'bagimu' disebut lebih dahulu daripada 'pahala'. Dalam susunan biasa, yang disebut lebih dahulu benda yang dijanjikan, baru kemudian penerimanya. Di sini penerimanya yang didahulukan. Susunan seperti itu memusatkan perhatian pada siapa yang menerima, bukan pada apa yang diterima, dan itu cocok dengan seluruh rangkaian 68:2 sampai 68:4 yang seluruhnya berbicara kepada satu orang. Terjemahan menahan urutan tersebut apa adanya dengan menaruh 'bagimu' sebelum 'pahala'.
Tafsiran
Ayat ini menjanjikan pahala yang tidak akan terputus bagi kesabaran Nabi.
Sifat (غَيْرُ مَمْنُونٍ, ghairu mamnuun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6, dan di ketiganya ia menyifati pahala yang berkedudukan sebagai pokok kalimat. Di ayat ini ujung katanya berbeda, sebab pahalanya berkedudukan sebagai keterangan.
Akar kata yang dipakai memikul dua arti yang berdekatan, yaitu memutus dan mengungkit pemberian, sehingga 'tidak putus-putus' dan 'tidak diungkit-ungkit' dua-duanya terbaca dari kata yang sama. Terjemahan memilih yang pertama, dan yang kedua tetap tersimpan di dalam kata Arabnya.
Kalimatnya memuat dua penguat sekaligus, yaitu pada awal kalimat dan pada kata pahala. Penguat berlapis dipakai ketika yang diajak bicara diandaikan sedang meragukan. Kata 'bagimu' menaruh janji ini pada satu orang dan bukan pada golongan, dan terjemahan menahan kata ganti itu apa adanya. Yang disebut cuma sifat pahalanya, bukan besarnya, bukan waktunya, dan bukan amal yang menjadi sebabnya.
Urutan katanya menaruh 'bagimu' lebih dahulu daripada 'pahala', kebalikan dari susunan yang biasa. Perhatian dipusatkan pada penerimanya, bukan pada yang diterima, dan itu sejalan dengan 68:2 sampai 68:4 yang seluruhnya berbicara kepada satu orang.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut pahalanya tidak putus, bukan besar. Yang dijanjikan lamanya. Bukan jumlahnya. Menjanjikan lamanya, bukan besarnya, cocok dengan keadaan orang yang sedang dituduh. Tuduhan tidak melukai lewat satu pukulan besar; ia melukai lewat pengulangan yang tidak berhenti. Yang dijanjikan di sini persis lawannya, yaitu sesuatu yang juga tidak berhenti.
- Janji ini datang sesudah membela akhlaknya. Dituduh. Lalu dijanjikan. Urutannya menaruh janji sesudah pembelaan, bukan sebelumnya. Yang lebih dahulu dibereskan kedudukannya di hadapan tuduhan, dan baru sesudah itu disebut apa yang menantinya. Orang yang belum jelas kedudukannya sulit menerima janji apa pun.
- Kata bagimu dipakai Allah, langsung menyapa. Bukan bagi orang saleh. Bagimu. Menyapa langsung juga membuat janji ini tidak bisa diambil orang lain sebagai miliknya begitu saja. Pembaca yang menemukan dirinya di dalam ayat ini harus melewati satu pertanyaan lebih dahulu, yaitu apakah keadaannya memang keadaan yang sedang dibicarakan.
- Sifat غَيْرُ مَمْنُونٍ muncul tiga kali di seluruh Al-Quran, di 41:8, 84:25, dan 95:6, dan di ketiganya ia menyifati pahala yang berkedudukan sebagai pokok kalimat. Di ayat ini ujung katanya berbeda karena kedudukannya di dalam kalimat berbeda. Di tiga tempat itu yang dijanjikan pahala bagi orang yang beriman dan beramal saleh, disebut sebagai kaidah umum. Di sini yang sama dijanjikan kepada satu orang yang sedang dituduh. Kaidah yang berlaku bagi banyak orang diturunkan menjadi janji bagi seorang saja, dan perubahan kedudukan itu terbaca dari ujung katanya.
- Akar kata yang dipakai untuk sifat pahala ini memikul dua arti sekaligus, yaitu memutus dan mengungkit pemberian. Keduanya masuk akal di tempat ini. Pahala yang tidak terputus menjawab kekhawatiran tentang lamanya, dan pahala yang tidak diungkit menjawab kekhawatiran yang jauh lebih halus, yaitu bahwa pemberian bisa berubah menjadi beban kalau terus-menerus disebut oleh yang memberi. Allah menutup dua kekhawatiran itu dengan satu kata, dan tidak memilih di antara keduanya.
- Allah tidak menyebut besarnya, tidak menyebut waktunya, dan tidak menyebut atas amal yang mana. Janji tanpa takaran seperti itu tidak bisa dihitung, tetapi juga tidak bisa dinyatakan kurang. Orang yang menerima janji bertakaran akan mengukur hasilnya dengan takaran tersebut dan berhak kecewa kalau meleset. Orang yang menerima janji tanpa takaran tidak punya alat untuk kecewa. Yang tersisa baginya cuma satu pekerjaan, yaitu mempercayai siapa yang menjanjikan. Kalau begitu, ukuran apa yang selama ini kita pakai diam-diam untuk menilai apakah kesabaran kita sudah dibalas? Ukuran yang tidak pernah kita ucapkan itu biasanya yang paling menentukan rasa kecewa, justru karena ia tidak pernah diperiksa dan karena itu tidak pernah sempat dikoreksi oleh siapa pun.