وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍwa-innaka la-'alaa khuluqin 'azhiiminsesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِنَّكَwa-innakadan sesungguhnya engkau
- لَعَلَىٰla-'alaabenar-benar atas
- خُلُقٍkhuluqinbudi pekerti
- عَظِيمٍ'azhiiminyang besar
Inti bacaan
Pengakuan karakter tertinggi: 'sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung', pujian eksplisit terhadap kualitas moral sebagai bukti kredibilitas, standar bahwa karakter yang konsisten dan mulia adalah argumen paling kuat melawan tuduhan tak berdasar terhadap kewarasan atau motif seseorang.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (خُلُقٍ عَظِيمٍ, khuluqin 'azhiim) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk (خُلُقُ, khuluqu) tanpa sifat itu muncul 1 kali juga, yaitu di 26:137, dan di sana ia dipakai untuk kebiasaan orang-orang terdahulu, bukan untuk pujian. Jadi kata yang sama dipakai untuk kebiasaan yang diwarisi dan untuk perangai yang dipuji, dan yang membedakan bukan katanya melainkan sifat yang menyertainya.
Huruf (لَ, la) pada kata (لَعَلَىٰ, la'alaa) menguatkan pernyataannya, dan (إِنَّ, inna) di awal kalimat menguatkannya sekali lagi. Sama seperti di 68:3, penguat berlapis itu dipakai ketika yang diajak bicara diandaikan sedang berada di bawah tekanan yang membuatnya meragukan dirinya sendiri.
Kata depan (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti di atas tidak biasa dipakai untuk perangai. Susunan seperti itu menggambarkan seseorang yang berdiri di atas sesuatu, bukan yang memilikinya. Perbedaannya terasa: yang memiliki bisa meletakkan miliknya, sedangkan yang berdiri di atas sesuatu bertumpu padanya. Terjemahan memakai 'benar-benar berbudi pekerti yang agung' dan tidak memaksakan gambaran berdiri itu ke dalam bahasa Indonesia, sebab susunan serupa tidak dikenal dalam pemakaian sehari-hari.
Letak ayat ini menerangkan maksudnya. Ia datang sesudah bantahan atas tuduhan kegilaan di 68:2 dan sesudah janji pahala di 68:3, dan sesudahnya menyusul 68:5 yang menyerahkan pembuktian kepada waktu. Jadi yang dijadikan bukti bukan mukjizat, bukan tanda di langit, dan bukan bantahan susun kata. Yang dijadikan bukti perangai orangnya, sesuatu yang bisa disaksikan siapa pun yang pernah bergaul dengannya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut perangai yang mana, tidak disebut ukurannya, dan tidak disebut siapa yang menilainya. Yang menilai jelas dari kalimatnya sendiri, sebab yang berbicara Allah. Al-Qur'an tidak menurunkan pujian ini menjadi daftar sifat yang bisa dicentang, dan karena itu ia tidak bisa dipakai siapa pun untuk mengukur dirinya sudah sampai atau belum.
Tiga ayat berturut-turut, yaitu 68:2, 68:3, dan 68:4, seluruhnya memakai penguat. Yang pertama memakai (مَا, maa) yang menyangkal dengan tegas, dan dua berikutnya dibuka (وَإِنَّ, wa-inna) lalu ditambah huruf penguat lagi di tengah kalimatnya. Jadi tiga pernyataan beruntun tentang satu orang, semuanya dikuatkan, dan tidak satu pun disampaikan sebagai kabar biasa. Susunan sepadat itu menandakan bahwa yang diajak bicara memang sedang berada di keadaan yang membuat kabar biasa tidak cukup.
Tafsiran
Ayat ini memuji langsung akhlak Nabi yang agung: landasan pembelaan terhadap tuduhan di ayat sebelumnya.
Rangkaian (خُلُقٍ عَظِيمٍ, khuluqin 'azhiim) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk tanpa sifatnya muncul 1 kali juga, yaitu di 26:137, dan di sana ia dipakai untuk kebiasaan orang-orang terdahulu, bukan untuk pujian.
Kalimatnya memuat dua penguat sekaligus, sama seperti 68:3, dan penguat berlapis dipakai ketika yang diajak bicara diandaikan sedang meragukan dirinya. Kata depan yang berarti di atas tidak biasa dipakai untuk perangai; susunannya menggambarkan orang yang bertumpu pada sesuatu, bukan yang memilikinya. Terjemahan tidak memaksakan gambaran itu ke dalam bahasa Indonesia sebab susunan serupa tidak dikenal dalam pemakaian sehari-hari.
Letaknya menerangkan maksudnya: ia datang sesudah bantahan atas tuduhan kegilaan dan sesudah janji pahala, lalu disusul penyerahan pembuktian kepada waktu. Yang dijadikan bukti perangai orangnya, bukan mukjizat dan bukan bantahan susun kata. Al-Qur'an tidak menurunkan pujian ini menjadi daftar sifat yang bisa dicentang.
Tiga ayat berturut-turut, yaitu 68:2, 68:3, dan 68:4, seluruhnya memakai penguat, dan tidak satu pun disampaikan sebagai kabar biasa.
Renungan dan Hikmah
- Allah membela Nabi-Nya dengan menyebut akhlaknya. Bukan dengan membantah tuduhan. Dengan menunjuk kelakuannya. Bukti berupa perangai punya sifat yang tidak dimiliki bukti lain, yaitu bisa diperiksa oleh siapa pun yang pernah dekat, dan tidak bisa dibuat dalam sehari. Mukjizat bisa dibantah dengan menyebutnya sihir; perangai yang panjang tidak menyediakan bantahan seperti itu.
- Yang dijadikan bukti perangainya, bukan mukjizatnya. Bukan tongkat. Bukan belah bulan. Memilih bukti yang paling sehari-hari juga menaruh ukuran yang bisa dipakai pembacanya. Tak seorang pun bisa meniru mukjizat, dan karena itu mukjizat tidak menuntut apa-apa dari yang mendengarnya. Perangai menuntut, sebab semua orang punya.
- Kalimatnya diucapkan Allah langsung kepadanya. Bukan tentang dia. Kepadanya. Pujian yang diucapkan langsung kepada orangnya, bukan tentang dia kepada orang lain, mengubah kedudukan kalimatnya. Ia bukan keterangan bagi umum, melainkan penguat bagi seseorang yang sedang perlu dikuatkan.
- Rangkaian خُلُقٍ عَظِيمٍ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini, dan bentuk telanjangnya juga hanya sekali, yaitu di 26:137. Di 26:137 kata itu dipakai kaum Hud untuk menyebut kebiasaan orang-orang terdahulu yang mereka pertahankan, dan di sana ia sama sekali bukan pujian. Jadi satu kata memikul kebiasaan yang diwarisi tanpa diperiksa dan perangai yang dipuji Allah. Yang membedakan keduanya bukan katanya, melainkan apakah ada sifat yang menyertainya dan siapa yang menyandangkannya.
- Untuk membantah tuduhan sebesar kehilangan akal, yang diajukan Allah bukan tanda di langit melainkan perangai sehari-hari. Pilihan itu punya akibat yang jauh. Tanda di langit selesai begitu ia lewat, dan yang tidak menyaksikannya cuma menerima kabar. Perangai berjalan terus, bisa diperiksa siapa saja yang tinggal berdekatan, dan tidak bisa dipertunjukkan pada hari tertentu lalu disimpan lagi. Bukti seperti itu paling sulit dipalsukan justru karena ia paling biasa.
- Allah tidak menyebutkan perangai yang mana, tidak memberi ukurannya, dan tidak menyusun daftarnya. Ketiadaan daftar itu menutup satu jalan yang paling sering diambil orang, yaitu menjadikan akhlak sebagai pekerjaan yang bisa diselesaikan. Daftar bisa dicentang sampai habis, dan orangnya lalu merasa sudah sampai. Perangai tanpa daftar tidak punya titik selesai, sehingga tidak ada hari ketika seseorang boleh berhenti memperbaikinya. Kalau ukurannya memang tidak pernah diberikan, dari mana selama ini kita merasa yakin bahwa akhlak kita sudah cukup? Rasa cukup itu hampir selalu datang dari membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk, dan pembanding seperti itu selalu tersedia berapa pun keadaan kita. Ayat ini tidak menyediakan pembanding sama sekali; yang disebut di situ cuma satu orang, dan orang itu jelas bukan kita.