فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ
Kelak engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَfa-sa-tubshiru wa-yubshiruunakelak engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَسَتُبْصِرُfa-sa-tubshirumaka kelak engkau akan melihat
- وَيُبْصِرُونَwa-yubshiruunadan mereka melihat
Inti bacaan
Kepastian pembuktian di masa depan: 'kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat', janji bahwa waktu akan mengungkap kebenaran bagi kedua belah pihak, penghibur bagi yang menghadapi tuduhan tak berdasar bahwa klarifikasi pasti akan datang.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(orang-orang kafir)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab.
Kata (فَسَتُبْصِرُ, fa-satubshir) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan kata (وَيُبْصِرُونَ, wa-yubshiruun) juga muncul 1 kali, yaitu di ayat ini. Jadi ayat sependek ini memuat dua bentuk yang keduanya tidak dipakai lagi di mana pun. Keduanya dari akar yang sama, dan yang membedakan cuma pelakunya: yang pertama engkau, yang kedua mereka.
Huruf (سَ, sa) pada kata pertama menunjuk masa depan yang dekat, sedangkan kata kedua berbentuk sekarang tanpa penanda waktu. Susunan seperti itu menaruh keduanya pada satu peristiwa yang sama tanpa perlu mengulang penanda waktunya. Terjemahan memakai 'kelak' satu kali di depan dan membiarkannya menaungi kedua kata kerja, mengikuti susunan Arabnya.
Objek yang dilihat tidak disebutkan. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang akan tampak, dan ketiadaan itu bukan kelalaian susunan melainkan pilihan yang dijaga, sebab di 68:6 yang menyusul pun berbentuk pertanyaan dan bukan pernyataan. Tambahan kurung '(orang-orang kafir)' tidak dipakai dalam terjemahan ini, sebab tidak berpadanan kata Arab; kata 'mereka' di ayat ini terbaca dari alur pembicaraan, bukan dari kata yang tertulis.
Kedua belah pihak disebut akan melihat hal yang sama. Kalimatnya tidak berbunyi bahwa engkau akan melihat dan mereka akan mendengar, atau bahwa engkau akan mengetahui dan mereka akan menyesal. Yang dipakai satu kata kerja untuk dua pihak. Jadi yang dijanjikan bukan kemenangan satu pihak atas pihak lain, melainkan kejelasan yang sama bagi keduanya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan, tidak disebut apa, dan tidak disebut siapa yang akan terbukti benar. Penundaan itu sendiri jawabannya. Perkara yang diserahkan kepada waktu tidak memerlukan bantahan hari ini, dan orang yang mempercayai penyelesaian seperti itu tidak perlu memenangkan perdebatan apa pun untuk bisa tenang.
Ayat ini juga belum selesai sebagai kalimat. Yang dilihat baru disebutkan di 68:6, yaitu (بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ, bi-ayyikumul-maftuun), siapa di antara kalian yang gila. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipotong menjadi dua, dan pemotongan tersebut menahan pendengarnya satu tarikan napas sebelum bagian yang paling menohok datang. Di dalam bagian yang menyusul itu pun tuduhannya tidak dibalikkan dengan tuduhan balasan, melainkan dengan pertanyaan yang memasukkan kedua pihak ke dalam satu hitungan yang sama, dan pertanyaan itu pun dibiarkan tanpa jawaban di tempatnya, sehingga tuduhan yang tadi dilontarkan berbalik menjadi perkara yang harus diperiksa sendiri oleh yang melontarkannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran akan tampak jelas bagi kedua pihak kelak.
Kata (فَسَتُبْصِرُ, fa-satubshir) dan kata (وَيُبْصِرُونَ, wa-yubshiruun) masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Keduanya dari akar yang sama, dan yang membedakan cuma pelakunya.
Huruf penanda masa depan cuma dipasang pada kata pertama, sedangkan kata kedua dibiarkan tanpa penanda. Susunan itu menaruh keduanya pada satu peristiwa yang sama, dan terjemahan memakai 'kelak' satu kali di depan supaya menaungi kedua kata kerja.
Objek yang dilihat tidak disebutkan, dan ketiadaan itu dijaga sampai ayat berikutnya yang juga berbentuk pertanyaan. Tambahan kurung '(orang-orang kafir)' tidak dipakai sebab tidak berpadanan kata Arab. Kedua pihak disebut akan melihat dengan satu kata kerja yang sama, sehingga yang dijanjikan bukan kemenangan satu pihak melainkan kejelasan yang sama bagi keduanya.
Ayat ini belum selesai sebagai kalimat. Yang dilihat baru disebutkan di 68:6, yaitu siapa di antara mereka yang gila. Dua ayat itu satu kalimat yang dipotong menjadi dua, dan pemotongan tersebut menahan pendengarnya satu tarikan napas sebelum bagian yang paling menohok datang. Tidak disebut kapan, tidak disebut apa yang akan tampak, dan tidak disebut siapa yang akan terbukti benar.
Renungan dan Hikmah
- Allah menjanjikan waktu akan menjelaskan. Bukan bantahan sekarang. Penglihatan nanti. Menyerahkan perkara kepada waktu bukan sikap pasrah yang lemah. Ia pilihan yang cuma bisa diambil pihak yang yakin kebenarannya akan bertahan. Yang tidak yakin harus menang sekarang, sebab besok belum tentu masih ada yang mendengarkan.
- Kedua pihak disebut akan sama-sama melihat. Bukan cuma yang benar. Yang menuduh juga. Menyebut kedua pihak melihat hal yang sama meniadakan bayangan bahwa yang satu akan diberi tahu dan yang lain akan dibiarkan gelap. Tidak ada yang perlu menjelaskan kepada siapa pun. Yang tampak tampak bagi semua, dan itu bentuk penyelesaian yang paling tidak memerlukan kata.
- Objek yang dilihat tidak disebut. Allah membiarkannya kosong. Yang akan tampak sudah cukup jelas tanpa dinamai. Membiarkan objeknya kosong juga menahan pembacanya dari membayangkan satu peristiwa tertentu lalu menunggunya. Yang menunggu peristiwa tertentu akan kecewa kalau yang datang bukan itu. Yang menunggu kejelasan tidak punya bentuk yang bisa meleset.
- Ayat ini memuat dua bentuk yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: فَسَتُبْصِرُ dan وَيُبْصِرُونَ. Keduanya dari akar yang sama dan berada dalam satu kalimat yang cuma terdiri atas dua kata. Kelangkaan seperti itu berdesakan di tempat yang sangat sempit. Yang membedakan keduanya cuma pelakunya, dan justru itu yang menjadi isi ayatnya: perbuatan yang sama, dikerjakan dua pihak yang sedang berselisih, pada waktu yang sama.
- Penanda masa depan cuma dipasang pada kata kerja yang pertama, dan kata kerja yang kedua dibiarkan tanpa penanda. Dalam bahasa Arab hal itu cukup untuk menaruh keduanya pada waktu yang sama. Akibatnya, tidak ada jarak yang tersisa di antara dua penglihatan tersebut. Yang dituduh tidak melihat lebih dahulu lalu menunggu penuduhnya menyusul. Keduanya melihat pada saat yang sama, dan susunan sependek itu sudah menutup kemungkinan salah satunya merasa lebih dahulu tahu. Allah menyamakan waktu keduanya lewat susunan kata, bukan lewat pernyataan, dan cara seperti itu tidak menyisakan celah untuk dibantah.
- Allah tidak menyuruh membantah, tidak menyuruh mengumpulkan saksi, dan tidak menyuruh membuktikan apa pun hari itu juga. Yang disebut cuma bahwa kelak akan terlihat. Penundaan itu menuntut sesuatu yang berat, yaitu bersedia hidup dengan salah paham yang belum diluruskan. Orang yang tidak sanggup menanggungnya akan menghabiskan umurnya membela diri di depan orang yang tidak berniat mendengar. Berapa banyak tenaga kita yang habis untuk meluruskan pandangan orang, padahal waktu akan mengerjakannya tanpa kita minta? Yang paling melelahkan dari salah paham bukan salah pahamnya, melainkan keyakinan bahwa kita sendiri yang harus meluruskannya sekarang juga, seorang diri, di depan orang yang belum tentu mau mendengar.