بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ
Siapa di antara kalian yang gila.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُbi-ayyikumu l-maftuunusiapa di antara kalian yang gila
Terjemahan per kata (2 kata)
- بِأَيْيِكُمُbi-ayyikumusiapa di antara kalian
- الْمَفْتُونُl-maftuunuyang gila
Inti bacaan
Pembalikan tuduhan yang akan terungkap: 'siapa di antara kalian yang gila', pertanyaan yang menyiratkan bahwa tuduhan kegilaan justru akan berbalik kepada para penuduh sendiri ketika kebenaran terungkap, ironi yang menempatkan penilaian sejati pada waktunya.
Penjelasan pilihan kata
'Al-maftuunu' diterjemahkan 'gila': interpretasi leksikal yang menggemakan 'majnuun' di 68:2, acuan sudah ada di draf awal.
Kata (الْمَفْتُونُ, al-maftuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ia bentuk yang menyatakan orang yang dikenai perbuatan, dari akar yang berarti menguji sampai terbakar, sehingga arti dasarnya orang yang tertimpa ujian atau orang yang akalnya terganggu karenanya. Terjemahan memakai 'yang gila' supaya sambungannya dengan tuduhan di 68:2 tetap terbaca, sebab yang sedang dibalikkan memang tuduhan itu.
Ayat ini bukan kalimat yang berdiri sendiri. Ia sambungan langsung dari 68:5, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipotong menjadi dua. Bunyi utuhnya: kelak engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kalian yang gila. Pemotongan seperti itu menahan pendengarnya satu tarikan napas sebelum bagian yang paling menohok datang.
Huruf (بِ, bi) pada (بِأَيْيِكُمُ, bi-ayyikum) menempel pada kata tanya 'yang mana', dan susunannya berbunyi 'pada siapa di antara kalian'. Kata (كُمْ, kum) di ujungnya kata ganti jamak yang mencakup yang dituduh sekaligus para penuduhnya. Jadi pertanyaannya tidak membelah dua pihak lebih dahulu lalu menunjuk salah satunya; ia menaruh semuanya dalam satu kumpulan dan membiarkan hasilnya yang memisahkan.
Bentuk kalimatnya pertanyaan, bukan pernyataan. Al-Qur'an tidak berkata bahwa merekalah yang gila. Yang dilakukan cuma memindahkan tuduhan dari pernyataan sepihak menjadi perkara yang akan terbukti sendiri. Cara itu jauh lebih telak daripada tuduhan balasan, sebab tuduhan balasan bisa dibantah sedangkan pertanyaan yang jawabannya diserahkan kepada waktu tidak menyediakan bahan untuk dibantah.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan hal itu akan terlihat, tidak disebut lewat apa, dan tidak disebut siapa yang akan menyatakannya. Pertanyaannya dibiarkan tanpa jawaban di tempatnya. Susunan seperti itu meninggalkan pembacanya memegang pertanyaan tersebut, dan pertanyaan yang belum dijawab selalu bertahan lebih lama di kepala daripada jawaban yang sudah diberikan.
Dari akar yang sama lahir kata untuk fitnah, yaitu ujian yang memisahkan yang murni dari yang tidak. Gambaran dasarnya melebur logam dengan api sampai kotorannya terpisah. Jadi kata yang dipakai di sini bukan sekadar sebutan untuk orang yang hilang akal, melainkan sebutan untuk orang yang sudah dilewatkan pada api dan hasilnya kelihatan. Bentuknya pun bentuk yang dikenai perbuatan, bukan pelaku, sehingga yang disebut orang yang ditimpa keadaan itu, bukan yang memilihnya.
Kalau kata itu dibaca begitu, seluruh ayatnya berubah nada. Yang ditanyakan bukan siapa yang lebih waras menurut ukuran orang, melainkan siapa yang akan tampak isinya ketika ujian berjalan. Ujian tidak menciptakan apa pun; ia cuma memperlihatkan apa yang sudah ada. Dan yang memperlihatkannya bukan perdebatan, melainkan waktu.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan pertanyaan retoris tentang siapa sebenarnya yang gila.
Kata (الْمَفْتُونُ, al-maftuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ia bentuk yang menyatakan orang yang dikenai perbuatan, dari akar yang berarti menguji sampai terbakar. Terjemahan memakai 'yang gila' supaya sambungannya dengan tuduhan di 68:2 tetap terbaca.
Ayat ini sambungan langsung dari 68:5, dan keduanya satu kalimat yang dipotong menjadi dua. Pemotongan itu menahan pendengarnya satu tarikan napas sebelum bagian yang paling menohok datang.
Kata ganti di ujung kata tanyanya berbentuk jamak yang mencakup yang dituduh sekaligus para penuduhnya, sehingga pertanyaannya tidak membelah dua pihak lebih dahulu melainkan menaruh semuanya dalam satu kumpulan. Bentuk kalimatnya pertanyaan, bukan pernyataan; Al-Qur'an tidak berkata bahwa merekalah yang gila, melainkan memindahkan tuduhan menjadi perkara yang akan terbukti sendiri. Tidak disebut kapan hal itu akan terlihat, tidak disebut lewat apa, dan tidak disebut siapa yang akan menyatakannya.
Dari akar yang sama lahir kata untuk fitnah, yaitu ujian yang memisahkan yang murni dari yang tidak, dengan gambaran dasar melebur logam sampai kotorannya terpisah. Bentuk katanya pun bentuk yang dikenai perbuatan, sehingga yang disebut orang yang ditimpa keadaan itu dan bukan yang memilihnya. Yang ditanyakan karena itu bukan siapa yang lebih waras menurut ukuran orang, melainkan siapa yang akan tampak isinya ketika ujian berjalan.
Renungan dan Hikmah
- Allah membalikkan tuduhan dengan pertanyaan, bukan dengan bantahan. Siapa yang gila. Yang menuduh ikut masuk hitungan. Memasukkan semua pihak ke dalam satu pertanyaan juga meniadakan kedudukan penonton. Tidak ada yang berdiri di luar untuk menilai; semuanya berada di dalam kumpulan yang sedang ditanyakan, termasuk yang merasa cuma menyaksikan perselisihan orang lain.
- Kalimatnya menyambung dari ayat sebelumnya. Kelak kalian akan melihat. Lalu siapa yang gila. Karena dua ayat itu satu kalimat, tidak boleh dibaca terpisah tanpa kehilangan maksudnya. Yang di 68:5 tanpa objek, dan objeknya baru datang di sini. Membaca 68:5 sendirian akan meninggalkan janji yang menggantung; membaca ayat ini sendirian akan meninggalkan tuduhan tanpa penyelesaian.
- Waktunya ditunda Allah ke kemudian. Bukan dijawab sekarang. Yang membuktikan peristiwa, bukan perdebatan. Menyerahkan pembuktian kepada peristiwa juga memindahkan beban dari pihak yang dituduh. Selama pembuktiannya lewat perdebatan, yang dituduh harus bekerja terus-menerus. Begitu pembuktiannya diserahkan kepada waktu, pekerjaannya berhenti dan yang tersisa cuma menjalani hari-harinya dengan cara yang sama.
- Kata الْمَفْتُونُ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Tidak ada tempat kedua yang memakainya, sehingga tidak ada ayat pembanding yang bisa dipakai untuk mempersempit artinya. Akarnya berarti menguji dengan api sampai yang diuji menampakkan isinya yang sebenarnya, dan dari akar itulah lahir kata untuk fitnah. Jadi kata yang dipakai untuk membalikkan tuduhan kegilaan ternyata kata yang pokoknya tentang pengujian, dan itu sesuai dengan seluruh isi ayatnya: yang ditawarkan bukan bantahan melainkan ujian yang akan berjalan sendiri.
- Allah tidak menyatakan bahwa merekalah yang gila. Yang dipakai bentuk pertanyaan, dan kata gantinya jamak yang mencakup semua yang hadir, baik yang menuduh maupun yang dituduh. Susunan itu punya dua akibat sekaligus. Pertama, tuduhan tidak dibalas dengan tuduhan, sehingga tidak ada yang bisa dijadikan bahan perkelahian baru. Kedua, semua orang yang mendengarnya, termasuk yang merasa netral, terpaksa memasukkan dirinya ke dalam hitungan sebelum jawabannya diketahui.
- Pertanyaan itu dibiarkan tanpa jawaban di ayatnya. Tidak disebut kapan hal itu akan terlihat, tidak disebut lewat apa, dan tidak disebut siapa yang akan menyatakannya. Pertanyaan yang belum dijawab bekerja berbeda dari pernyataan yang sudah selesai. Pernyataan bisa diterima atau ditolak lalu ditinggalkan, sedangkan pertanyaan tinggal di kepala orang dan kembali sendiri pada saat-saat yang tidak dipilihnya. Kalau Allah memilih menutup perkara sebesar ini dengan pertanyaan dan bukan dengan keputusan, berapa banyak perselisihan kita yang sebenarnya juga tidak memerlukan keputusan hari ini juga di hadapan orang lain?