إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِinna rabbaka huwa a'lamu bi-man dhalla 'an sabiilihisesungguhnya Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya
  2. وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَwa-huwa a'lamu bi-l-muhtadiinadan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  3. هُوَhuwaDialah
  4. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  5. بِمَنْbi-manterhadap siapa
  6. ضَلَّdhallasesat
  7. عَنْ'andari
  8. سَبِيلِهِsabiilihijalan-Nya
  9. وَهُوَwa-huwadan Dia
  10. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  11. بِالْمُهْتَدِينَbi-l-muhtadiinaorang-orang yang mendapat petunjuk

Inti bacaan

Otoritas penilaian yang tepat: 'Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk', pengalihan sumber penilaian akhir dari opini publik yang bisa keliru kepada pengetahuan yang benar-benar menyeluruh dan akurat.

Penjelasan pilihan kata

'A'lamu' (bentuk elatif/komparatif, bukan siighat mubaalaghah) diterjemahkan 'yang paling mengetahui': kategori gramatikal berbeda dari larangan awalan superlatif terlarang, sehingga bukan pelanggaran disiplin.

Seluruh kalimat ayat ini juga berdiri di 16:125 sebagai penutupnya, huruf demi huruf. Rangkaian (إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ, inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilih) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:125, 53:30, dan ayat ini. Adapun (أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ, a'lamu bil-muhtadiin) muncul 4 kali, yaitu di 6:117, 16:125, 28:56, dan ayat ini.

Ketiga tempat itu tidak persis sama. Di 6:117 bagian pertamanya memakai kata kerja sekarang, (مَنْ يَضِلُّ, man yadhillu), siapa yang sedang tersesat, sedangkan di sini dan di 16:125 memakai bentuk lampau, (بِمَنْ ضَلَّ, biman dhalla), siapa yang telah tersesat. Di 53:30 bagian keduanya berbunyi (بِمَنِ اهْتَدَىٰ, biman ihtadaa), siapa yang telah mendapat petunjuk, bukan (بِالْمُهْتَدِينَ, bil-muhtadiin). Jadi satu kalimat dipakai empat kali dengan tiga bentuk yang sedikit berbeda.

Letak ketiganya berbeda jauh. Di 16:125 kalimat ini menutup perintah mengajak dengan hikmah dan berdebat dengan cara yang terbaik. Di 53:30 ia menutup keterangan bahwa itulah batas pengetahuan mereka. Di sini ia menutup pembalikan tuduhan kegilaan. Tiga keadaan yang berbeda, satu kalimat yang sama, dan di ketiganya kalimat itu mengerjakan pekerjaan yang sama, yaitu menutup perkara dengan menyerahkan putusannya kepada Yang mengetahui.

Bentuk (أَعْلَمُ, a'lamu) bentuk perbandingan yang berarti lebih atau paling mengetahui. Ia tidak menyangkal bahwa manusia mengetahui sesuatu; ia menaruh pengetahuan manusia di bawahnya. Terjemahan memakai 'yang paling mengetahui' dan bukan 'yang mengetahui', sebab menghilangkan perbandingannya akan mengubah kalimat ini dari penataan kedudukan menjadi pernyataan biasa.

Dua sisi disebut, bukan satu. Yang sesat dan yang mendapat petunjuk sama-sama disebut diketahui-Nya. Kalimat yang cuma menyebut satu sisi akan terbaca sebagai ancaman; kalimat yang menyebut dua sisi terbaca sebagai penataan. Yang tidak disebut di sini juga menerangkan: tidak disebut siapa yang termasuk di sisi mana, dan tidak disebut kapan hal itu akan diberitahukan kepada manusia.

Kata (هُوَ, huwa) di tengah kalimat sebenarnya tidak diperlukan untuk menyusun kalimatnya, sebab bentuk kata sesudahnya sudah memuat pelakunya. Kehadirannya menambah penegasan, dan dalam bahasa Indonesia penegasan itu ditahan lewat imbuhan pada 'Tuhanmulah'. Tanpa imbuhan tersebut, kalimatnya akan terbaca sebagai keterangan biasa dan bukan sebagai pembatasan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa Allah paling tahu siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk.

Seluruh kalimat ayat ini juga berdiri di 16:125 sebagai penutupnya, huruf demi huruf. Rangkaian (إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ, inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilih) muncul 3 kali, yaitu di 16:125, 53:30, dan ayat ini, sedangkan (أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ, a'lamu bil-muhtadiin) muncul 4 kali, yaitu di 6:117, 16:125, 28:56, dan ayat ini.

Ketiganya tidak persis sama. Di 6:117 bagian pertamanya memakai bentuk sekarang, dan di 53:30 bagian keduanya memakai kata kerja, bukan kata benda. Letaknya pun berbeda jauh: di 16:125 kalimat ini menutup perintah mengajak dengan hikmah, di 53:30 menutup keterangan tentang batas pengetahuan mereka, dan di sini menutup pembalikan tuduhan kegilaan.

Bentuk yang dipakai bentuk perbandingan, sehingga pengetahuan manusia tidak disangkal melainkan ditaruh di bawahnya. Dua sisi disebut sekaligus, yaitu yang sesat dan yang mendapat petunjuk, sehingga kalimatnya terbaca sebagai penataan kedudukan dan bukan sebagai ancaman. Kata ganti di tengah kalimatnya menambah penegasan yang dalam bahasa Indonesia ditahan lewat imbuhan pada 'Tuhanmulah', dan tanpa imbuhan itu kalimatnya akan terbaca sebagai keterangan biasa.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dua-duanya diketahui-Nya: yang sesat dan yang mendapat petunjuk. Berpasangan. Penilaiannya lengkap ke dua arah, bukan cuma yang buruk. Menyebut dua sisi juga menutup satu kebiasaan yang lazim, yaitu memakai kalimat seperti ini untuk menakuti pihak lain. Kalau yang disebut cuma yang sesat, kalimatnya bisa dipakai sebagai senjata. Karena yang mendapat petunjuk ikut disebut, yang memakainya sebagai senjata juga sedang menyerahkan dirinya untuk dinilai.
  • Bentuk yang dipakai yang paling mengetahui. Perbandingan. Pengetahuan orang lain tak disangkal, cuma ditaruh di bawahnya. Bentuk perbandingan itu juga menyisakan tempat bagi pengetahuan manusia, dan tempat itu penting. Kalau pengetahuan manusia disangkal sama sekali, tidak ada gunanya lagi memeriksa apa pun. Yang ditutup bukan pemeriksaan, melainkan keputusan akhir tentang siapa yang sesat.
  • Allah menaruh ayat ini sesudah tuduhan gila terhadap Nabi. Menjawab. Yang menuduh dan yang dituduh sama-sama diserahkan kepada yang paling tahu. Menutup perkara dengan menyerahkan penilaian kepada Allah juga membebaskan orang yang dituduh dari kewajiban membuktikan dirinya. Selama penilaian dianggap milik manusia, yang dituduh harus terus membela diri di depan orang yang tidak berniat mengubah penilaiannya.
  • Kalimat di ayat ini juga berdiri di 16:125 sebagai penutupnya, huruf demi huruf. Bagian pertamanya muncul tiga kali, di 16:125, 53:30, dan 68:7, sedangkan bagian keduanya muncul empat kali, di 6:117, 16:125, 28:56, dan 68:7. Di 6:117 bagian pertamanya memakai bentuk sekarang, dan di 53:30 bagian keduanya memakai kata kerja. Jadi satu kalimat dipakai berulang dengan perubahan kecil di ujungnya, dan di setiap tempat ia mengerjakan pekerjaan yang sama, yaitu menutup perkara dengan menyerahkan penilaiannya kepada Allah.
  • Yang menarik bukan pengulangannya, melainkan tiga keadaan yang ditutupnya. Di 16:125 kalimat ini menutup perintah mengajak dengan hikmah dan berdebat dengan cara yang terbaik. Di 53:30 ia menutup keterangan bahwa itulah batas pengetahuan mereka. Di sini ia menutup pembalikan tuduhan kegilaan. Tiga keadaan itu berbeda jauh, tetapi kebutuhannya sama: semuanya perkara yang bisa membuat orang merasa harus memastikan pihak mana yang di atas kebenaran. Di ketiganya Allah menaruh kalimat yang sama sebagai pengganti kepastian tersebut, dan penggantian itu sendiri yang menenangkan.
  • Menyebut bahwa Allah yang paling mengetahui kedua belah pihak sebenarnya membebaskan pembacanya dari satu pekerjaan berat, yaitu memutuskan sudah tersesat atau belumnya orang lain. Pekerjaan itu menghabiskan tenaga, tidak pernah selesai, dan hampir selalu meleset sebab bahannya cuma yang tampak dari luar. Yang tersisa bagi kita pekerjaan yang jauh lebih kecil, yaitu memeriksa langkah sendiri. Kalau memang begitu pembagiannya, mengapa yang bukan bagian kita justru yang paling sering kita kerjakan?