فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ
Maka janganlah engkau menaati orang-orang yang mendustakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَfa-laa tuthi'i l-mukadzdzibiinamaka janganlah engkau menaati orang-orang yang mendustakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَلَاfa-laamaka janganlah
- تُطِعِtuthi'iengkau menaati
- الْمُكَذِّبِينَl-mukadzdzibiinaorang-orang yang mendustakan
Inti bacaan
Batas ketaatan yang jelas: 'janganlah engkau menaati orang-orang yang mendustakan', prinsip tegas bahwa ketaatan tidak diberikan kepada siapa pun yang secara aktif menolak kebenaran, batas yang melindungi integritas dari tekanan kompromi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمُكَذِّبِينَ, al-mukadzdzibiin) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Bentuknya menyatakan pelaku yang mengerjakan sesuatu berulang-ulang dan dengan sungguh-sungguh, bukan orang yang sekali terpeleset. Terjemahan memakai 'orang-orang yang mendustakan' dan bukan 'orang-orang yang salah', sebab yang disebut perbuatannya yang berulang, bukan kekeliruan sesaat.
Yang dilarang menaati, bukan menemui, bukan berbicara dengan, dan bukan berdagang dengan. Kata (تُطِعِ, tuthi') berasal dari akar yang berarti menurut dan tunduk pada kehendak pihak lain. Perbedaan itu penting: larangan ini tidak memutus hubungan, dan tidak menyuruh menjauh. Yang diputus cuma satu, yaitu kesediaan mengikuti kemauan mereka.
Huruf (فَ, fa) di awal ayat menyambungkannya dengan 68:7. Susunannya berbunyi: karena Tuhanmu yang paling mengetahui siapa yang sesat, maka janganlah engkau menaati orang-orang yang mendustakan. Jadi larangan ini bukan perintah yang berdiri sendiri, melainkan akibat yang ditarik dari keterangan sebelumnya. Kalau penilaian akhir memang bukan milik manusia, maka menyerahkan arah langkah kepada manusia juga tidak masuk akal.
Kalimatnya pendek dan tidak menyebut dalam perkara apa. Tidak disebut jangan menaati mereka dalam urusan agama, dalam urusan dagang, atau dalam urusan tertentu lainnya. Ketiadaan batas itu memperluas, bukan mengaburkan. Yang dilarang cara berdiri terhadap mereka, bukan satu perkara yang bisa dihindari lalu dianggap selesai.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang mereka minta, dan hal itu baru datang di 68:9. Penundaan tersebut membuat larangannya lebih dahulu berdiri sebagai kaidah, dan baru sesudah itu diberi contoh. Kalau contohnya diberikan lebih dahulu, pembaca akan mengira larangannya cuma berlaku untuk satu keadaan tertentu.
Kata kerja larangan (تُطِعْ, tuthi') muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, yaitu di 6:116, 18:28, 25:52, 29:8, 31:15, 33:1, 33:48, 68:8, 68:10, 76:24, dan 96:19; sebelas kemunculan tetapi sembilan surah karena surah 33 dan surah 68 masing-masing memakainya dua kali. Baris di ujung katanya berubah menurut kata yang mengikutinya, dan perubahan itu tidak mengubah maknanya sedikit pun.
Yang menarik dari sebelas tempat itu, dua di antaranya berada di surah ini sendiri, yaitu di ayat ini dan di 68:10. Jadi larangan yang sama diulang dua kali dalam jarak dua ayat, sekali tanpa rincian dan sekali dengan daftar sifat yang panjang. Pengulangan sedekat itu menandakan bahwa yang dibicarakan satu perkara yang sama, bukan dua perkara yang kebetulan berdampingan.
Tafsiran
Ayat ini melarang Nabi menaati para pendusta.
Kata (الْمُكَذِّبِينَ, al-mukadzdzibiin) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Bentuknya menyatakan pelaku yang mengerjakan sesuatu berulang-ulang, bukan orang yang sekali terpeleset.
Yang dilarang menaati, bukan menemui dan bukan berbicara dengan. Akar kata yang dipakai berarti menurut dan tunduk pada kehendak pihak lain, sehingga larangan ini tidak memutus hubungan dan tidak menyuruh menjauh; yang diputus cuma kesediaan mengikuti kemauan mereka.
Huruf penyambung di awal ayat mengikatnya dengan 68:7, sehingga larangan ini akibat yang ditarik dari keterangan bahwa penilaian akhir bukan milik manusia. Kalimatnya tidak menyebut dalam perkara apa, dan ketiadaan batas itu memperluas alih-alih mengaburkan. Apa yang mereka minta baru disebut di 68:9, sehingga larangannya lebih dahulu berdiri sebagai kaidah dan baru kemudian diberi contoh.
Kata kerja larangan (تُطِعْ, tuthi') muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, yaitu di 6:116, 18:28, 25:52, 29:8, 31:15, 33:1, 33:48, 68:8, 68:10, 76:24, dan 96:19. Baris di ujung katanya berubah menurut kata yang mengikutinya, dan perubahan itu tidak mengubah maknanya. Dua di antara sebelas tempat tersebut berada di surah ini, yaitu di ayat ini dan di 68:10.
Renungan dan Hikmah
- Larangan itu Allah sebutkan sesudah tuduhan gila dibantah. Tuduhannya dibalik. Lalu jangan menaati. Menaruh larangan ini tepat sesudah keterangan tentang siapa yang paling mengetahui juga menutup satu jalan pikiran yang halus. Orang yang menyerahkan penilaian kepada Allah kadang menyimpulkan bahwa karena itu semua pendapat sama saja. Ayat ini menolak kesimpulan tersebut di kalimat berikutnya juga.
- Yang dilarang menaati, bukan menemui. Bukan menjauh. Tidak menurut. Perbedaan itu menyelamatkan pembacanya dari dua kekeliruan sekaligus. Yang satu mengikuti supaya tidak bertengkar, dan yang satu lagi memutus hubungan supaya tidak terpengaruh. Ayat ini tidak menyuruh keduanya. Yang diminta tetap berada di tengah orang tanpa menyerahkan arah langkahnya kepada mereka.
- Yang mereka inginkan disebut Allah di ayat sesudahnya. Bersikap lunak. Supaya dibalas lunak. Menyebut keinginan mereka di ayat berikutnya, bukan di ayat ini, membuat larangannya berdiri lebih dahulu sebagai kaidah. Pembaca sudah memegang aturannya sebelum mengetahui contohnya, sehingga contohnya tidak menjadi batas.
- Kata الْمُكَذِّبِينَ muncul tujuh kali di seluruh Al-Quran, di 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Di hampir semua tempat itu sebutan tersebut dipakai untuk menyebut akibat yang menimpa mereka, dan di sini ia dipakai untuk menyebut sikap yang harus diambil terhadap mereka. Bentuk katanya sendiri menyatakan pekerjaan yang berulang dan disengaja, bukan kekeliruan sekali jalan. Jadi yang dilarang bukan menuruti orang yang sedang keliru, melainkan menuruti orang yang mendustakan sebagai kebiasaan.
- Allah melarang menaati, bukan melarang menemui, berbicara, atau bekerja sama. Perbedaan itu sering hilang dalam praktik. Orang yang ingin menjaga dirinya biasanya memilih menjauh, sebab menjauh lebih mudah daripada tetap dekat sambil menahan diri. Ayat ini menuntut yang lebih sulit: tetap berada di tengah orang, tetap berhubungan, dan tetap tidak menyerahkan arah langkahnya. Hubungan yang diputus menghilangkan godaannya sekaligus menghilangkan gunanya.
- Kalimatnya tidak menyebut dalam perkara apa larangan ini berlaku. Ketiadaan batas itu membuatnya tidak bisa diselesaikan dengan satu tindakan lalu dianggap tuntas. Sesuatu yang berbatas bisa dijaga di titik batasnya, dan di luar titik itu orang merasa bebas. Yang tidak berbatas menuntut perhatian yang berjalan terus. Di perkara apa saja kita sebenarnya sedang menuruti kemauan orang yang tidak kita percayai penilaiannya, tanpa pernah menyebutnya menuruti? Menuruti jarang terasa seperti menuruti; ia terasa seperti menjaga hubungan, menghindari keributan, atau bersikap dewasa. Allah tidak menyebut satu pun dari alasan itu di sini, dan yang dilarang tetap satu perbuatan yang sama apa pun namanya di kepala pelakunya, dan apa pun alasan yang kita siapkan sesudahnya.