وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

Dan janganlah engkau menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍwa-laa tuthi' kulla hallaafin mahiinindan janganlah engkau menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَاwa-laadan janganlah
  2. تُطِعْtuthi'engkau menaati
  3. كُلَّkullasetiap
  4. حَلَّافٍhallaafinyang banyak bersumpah
  5. مَهِينٍmahiininyang hina

Inti bacaan

Kriteria spesifik untuk dihindari: 'janganlah engkau menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina', kombinasi dua tanda peringatan (sering bersumpah dan kehinaan karakter) sebagai indikator untuk menilai siapa yang tidak layak dijadikan sumber otoritas moral.

Penjelasan pilihan kata

Kata (حَلَّافٍ, hallaaf) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuknya bentuk yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan, bukan sekadar pelaku. Jadi yang disebut bukan orang yang pernah bersumpah, melainkan orang yang banyak bersumpah sampai menjadi tabiat. Terjemahan memakai 'yang banyak bersumpah' dan bukan 'yang bersumpah', sebab menghilangkan kelebihannya akan mengubah celaan menjadi keterangan biasa.

Kata (مَهِينٍ, mahiin) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 32:8, 68:10, dan 77:20. Di 32:8 dan 77:20 kata itu dipakai untuk air yang menjadi asal manusia, (مَاءٍ مَهِينٍ, maa'in mahiin), air yang hina. Jadi kata yang di dua tempat menyebut bahan awal setiap manusia, di sini menyebut kedudukan seseorang. Yang dipakai untuk asal-usul semua orang dipakai untuk menamai keadaan satu orang, dan perbandingan itu tidak diterangkan Al-Qur'an.

Huruf (وَ, wa) di awal ayat menyambungkannya dengan larangan di 68:8. Jadi ada dua larangan menaati yang berturut-turut: yang pertama tanpa rincian, yang kedua dengan daftar sifat yang panjang sampai 68:13. Susunan itu bergerak dari kaidah ke gambaran, dan gambarannya jauh lebih rinci daripada kaidahnya.

Kata (كُلَّ, kulla), setiap, membuat larangan ini tidak menunjuk satu orang tertentu. Daftar sifat yang menyusul sampai 68:13 memang terbaca seperti gambaran satu orang, tetapi kata di depannya menahan pembacaan itu. Terjemahan menahan kata tersebut apa adanya, sebab menghilangkannya akan mempersempit ayat menjadi cerita tentang seseorang, padahal susunannya sendiri menolak dipersempit.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut nama orangnya, tidak disebut apa yang disumpahkannya, dan tidak disebut mengapa ia disebut hina. Dua sifat itu diletakkan berdampingan tanpa dihubungkan sebab akibat, dan pembacanya sendiri yang menimbang mengapa banyak bersumpah dan kehinaan berkumpul pada satu orang.

Daftar yang dibuka ayat ini berlanjut sampai 68:13 dan memuat delapan sifat berturut-turut tanpa satu pun kata kerja yang berdiri sendiri. Semuanya sifat yang menempel pada satu kata di ayat ini, yaitu 'setiap orang'. Susunan seperti itu menumpuk keterangan tanpa memberi jeda, dan tumpukan itu sendiri bagian dari cara ayatnya bekerja: pendengarnya tidak diberi kesempatan menimbang satu per satu sampai daftarnya selesai.

Dua di antara sifat pada daftar tersebut juga muncul bersama di tempat lain. Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas, dan yang berbeda cuma kata ketiganya. Jadi daftar di surah ini bukan susunan yang berdiri sendiri; sebagiannya sudah dipakai di tempat lain dengan urutan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian sifat tercela orang yang tidak boleh ditaati.

Kata (حَلَّافٍ, hallaaf) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan bentuknya menyatakan kebiasaan yang berlebihan, bukan sekadar pelaku. Yang disebut bukan orang yang pernah bersumpah, melainkan orang yang banyak bersumpah sampai menjadi tabiat.

Kata (مَهِينٍ, mahiin) muncul 3 kali, yaitu di 32:8, 68:10, dan 77:20. Di dua tempat lainnya kata itu dipakai untuk air yang menjadi asal manusia; di sini ia dipakai untuk menyebut kedudukan seseorang.

Huruf penyambung di awal ayat mengikatnya dengan larangan di 68:8, sehingga ada dua larangan menaati yang berturut-turut: yang pertama tanpa rincian, yang kedua dengan daftar sifat yang panjang sampai 68:13. Kata 'setiap' membuat larangan ini tidak menunjuk satu orang tertentu, dan terjemahan menahan kata itu apa adanya. Dua sifat yang disebut diletakkan berdampingan tanpa dihubungkan sebab akibat.

Daftar yang dibuka ayat ini berlanjut sampai 68:13 dan memuat delapan sifat berturut-turut yang semuanya menempel pada kata 'setiap orang' di ayat ini. Tumpukan tanpa jeda itu bagian dari cara ayatnya bekerja. Dua di antara sifat tersebut juga muncul bersama di tempat lain: rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dua tanda sekaligus. Banyak bersumpah. Dan hina. Dua sifat itu diletakkan tanpa kata penghubung yang menerangkan hubungannya. Al-Qur'an tidak berkata bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Keduanya cuma disebut berdampingan, dan pembacanya yang menimbang mengapa keduanya sering berkumpul pada satu orang.
  • Banyak bersumpah disebut tanda buruk, bukan tanda sungguh-sungguh. Yang sering bersumpah. Justru kurang dipercaya. Sumpah dipakai untuk menutup keraguan, dan orang yang harus menutup keraguan berkali-kali biasanya memang sedang menghadapi keraguan yang tidak pernah tertutup. Yang perkataannya dipercaya tidak memerlukan sumpah, dan justru karena itu ia jarang bersumpah.
  • Yang dilarang menaatinya, bukan menemuinya. Allah menyebut ketaatan. Bukan pergaulan. Larangan yang kedua ini memakai kata yang sama dengan yang pertama di 68:8, sehingga keduanya satu perkara yang dijabarkan. Yang pertama menyebut kelompoknya, dan yang kedua menyebut cirinya satu per satu sampai 68:13.
  • Kata حَلَّافٍ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Bentuknya bukan bentuk pelaku biasa, melainkan bentuk yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan. Perbedaan itu menentukan siapa yang dimaksud. Yang dicela bukan orang yang pernah bersumpah, sebab bersumpah sendiri tidak terlarang dan bahkan dipakai Al-Quran. Yang dicela orang yang menjadikannya kebiasaan, dan kebiasaan itu sendiri yang menjadi tandanya: perkataannya sudah tidak berdiri sendiri lagi tanpa disangga sumpah.
  • Kata مَهِينٍ muncul tiga kali di seluruh Al-Quran, di 32:8, 68:10, dan 77:20. Di 32:8 dan 77:20 kata itu menyifati air yang menjadi asal setiap manusia. Di sini ia menyifati kedudukan seseorang. Perbandingan itu tidak diterangkan Allah, dan justru karena itu ia bekerja. Kata yang sama dipakai untuk sesuatu yang dilewati semua orang tanpa kecuali dan untuk keadaan yang cuma menimpa sebagian. Bedanya bukan pada asalnya, melainkan pada apakah seseorang tetap tinggal di sana.
  • Allah memakai kata setiap, sehingga larangan ini tidak menunjuk satu orang tertentu sekalipun daftar sifat yang menyusul terbaca seperti gambaran seseorang. Bentuk umum itu punya akibat yang tidak nyaman bagi pembaca mana pun. Selama ayatnya dibaca sebagai gambaran orang lain, ia aman. Begitu kata setiap diperhatikan, daftar sifat yang menyusul sampai 68:13 berubah menjadi ukuran yang bisa dipakai untuk memeriksa siapa saja, termasuk diri sendiri. Berapa banyak sumpah kecil yang kita ucapkan hari ini hanya supaya perkataan kita dipercaya? Sumpah kecil itu jarang dianggap sumpah, sebab bunyinya sudah menjadi kebiasaan berbicara. Tetapi bentuk kata yang dipakai Allah di sini justru menyasar kebiasaan, bukan peristiwa besar. Yang menjadi tanda bukan satu sumpah yang berat, melainkan banyaknya sumpah yang ringan sampai tak lagi terhitung.