Ayat 68:11

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Yang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍhammaazin masysyaa'in bi-namiiminyang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. هَمَّازٍhammaazinyang suka mencela
  2. مَشَّاءٍmasysyaa'inyang banyak berjalan
  3. بِنَمِيمٍbi-namiimindengan adu domba

Inti bacaan

Identifikasi perilaku toksik: 'yang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah', deskripsi konkret tentang pola perilaku merusak yang aktif menyebar (bukan pasif), peringatan untuk menjauhi sumber gosip dan fitnah yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Penjelasan pilihan kata

Ketiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu (هَمَّازٍ, hammaaz), (مَشَّاءٍ, masysyaa'), dan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim). Tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun berdesakan dalam satu ayat yang cuma terdiri atas tiga kata. Kelangkaan sepadat itu jarang terjadi, dan ia menandakan bahwa gambaran yang dibangun di sini memang disusun khusus, bukan diambil dari perbendaharaan kata yang sudah dipakai di tempat lain.

Dua kata pertama memakai pola yang sama, yaitu pola yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan. Pola itu juga dipakai pada (حَلَّافٍ, hallaaf) di 68:10 dan pada (مَنَّاعٍ, mannaa') di 68:12. Jadi empat sifat berturut-turut dalam daftar ini memakai satu pola yang sama, dan pola tersebut tidak menyebut perbuatan sekali jalan melainkan tabiat yang sudah mengeras.

Kata (هَمَّازٍ, hammaaz) berasal dari akar yang berarti mencela dan menusuk dengan perkataan. Akar yang sama memberi kata (هُمَزَةٍ, humazah) di 104:1, yang menjadi nama surah tersebut. Jadi sifat yang di sini cuma satu butir dalam daftar panjang, di tempat lain menjadi pokok satu surah utuh.

Kata (مَشَّاءٍ, masysyaa') berasal dari akar berjalan, dan bentuknya menyatakan orang yang banyak berjalan. Ia disandingkan dengan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim), yaitu perkataan yang dibawa dari satu pihak ke pihak lain untuk merusak hubungan. Gabungan keduanya melukiskan gerak, bukan sifat diam: orangnya berpindah tempat sambil membawa muatan. Terjemahan memakai 'yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah' supaya gerak itu tetap terbaca; memakai kata 'tukang fitnah' saja akan menghilangkan bagian yang justru dipilih Al-Qur'an untuk disebut.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang dicelanya, tidak disebut kepada siapa cerita itu dibawa, dan tidak disebut apa akibatnya. Yang dilukiskan cara kerjanya saja. Melukiskan cara kerja, bukan menyebut sifat buruk secara umum, membuat gambaran ini bisa dikenali di lapangan, dan gambaran yang bisa dikenali jauh lebih berguna daripada celaan yang tidak berbentuk.

Ketiga kata itu tersusun sebagai satu gerak yang berurutan. Yang pertama melukiskan apa yang dikerjakannya di tempat orangnya berada, yaitu mencela. Yang kedua melukiskan perpindahannya. Yang ketiga melukiskan muatan yang dibawanya dalam perpindahan tersebut. Jadi satu ayat tiga kata memuat tiga tahap sekaligus: berbuat, berpindah, dan menyampaikan.

Huruf (بِ, bi) pada kata ketiga mengikatnya kepada kata kedua sebagai muatan yang dibawa, bukan sebagai perbuatan yang berdiri sendiri. Susunan itu penting. Kalau kata ketiga berdiri sendiri, yang disebut cuma perbuatannya. Karena ia terikat kepada gerak, yang disebut orang yang perbuatannya menempel pada perjalanannya, sehingga di mana pun ia berada, muatan itu ikut.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan daftar sifat tercela: suka mencela dan menyebarkan fitnah.

Ketiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu (هَمَّازٍ, hammaaz), (مَشَّاءٍ, masysyaa'), dan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim). Tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun berdesakan dalam satu ayat yang cuma terdiri atas tiga kata.

Dua kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan, pola yang sama dengan (حَلَّافٍ, hallaaf) di 68:10 dan (مَنَّاعٍ, mannaa') di 68:12. Empat sifat berturut-turut dalam daftar ini karena itu tidak menyebut perbuatan sekali jalan, melainkan tabiat yang sudah mengeras.

Akar kata yang pertama berarti mencela dan menusuk dengan perkataan, dan akar yang sama memberi kata (هُمَزَةٍ, humazah) di 104:1 yang menjadi nama surah tersebut. Kata kedua berasal dari akar berjalan dan disandingkan dengan perkataan yang dibawa dari satu pihak ke pihak lain, sehingga yang dilukiskan gerak, bukan sifat diam. Terjemahan menahan gerak itu supaya bagian yang justru dipilih Al-Qur'an untuk disebut tidak hilang.

Ketiga kata itu tersusun sebagai satu gerak berurutan: mencela di tempatnya, berpindah, lalu menyampaikan muatan yang dibawanya. Huruf di depan kata ketiga mengikatnya kepada kata kedua sebagai muatan, bukan sebagai perbuatan yang berdiri sendiri, sehingga yang disebut orang yang perbuatannya menempel pada perjalanannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dia bergerak, bukan diam. Berjalan ke sana-sini. Membawa cerita. Menyebut geraknya juga menerangkan mengapa kerusakannya menyebar. Perkataan yang tinggal di satu tempat berhenti sendiri; yang dibawa berkeliling tidak pernah berhenti, sebab di setiap tempat ia menemukan pendengar baru yang belum sempat memeriksanya.
  • Dua kelakuan digabung: mencela dan menyebarkan. Yang satu di depan. Yang lain di belakang. Dua kelakuan itu saling menutupi. Yang mencela di depan tampak berterus terang, dan keterusterangan itu membuat orang mengira ia tidak menyimpan apa-apa di belakang. Justru gabungan keduanya yang membuat orangnya sulit dikenali dari salah satu sisinya saja.
  • Yang digambarkan cara kerjanya, bukan sifatnya. Allah melukiskan geraknya. Bukan menyebut dia jahat. Melukiskan cara kerja, bukan menempelkan sebutan, juga membuat pembacanya tidak bisa sekadar menyetujui ayatnya. Sebutan cuma perlu dibenarkan; gambaran harus dicocokkan dengan yang ada di sekitar kita, dan kadang dengan yang ada pada diri sendiri.
  • Ayat ini terdiri atas tiga kata, dan ketiganya masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: هَمَّازٍ, مَشَّاءٍ, dan بِنَمِيمٍ. Tidak ada ayat lain yang memakai satu pun di antaranya, sehingga tidak ada pembanding yang bisa dipakai untuk memperlembut atau memperluas maknanya. Kepadatan seperti itu menandakan gambaran ini disusun khusus. Allah tidak mengambil kata yang sudah tersedia lalu memakainya kembali; Dia menyusun tiga kata yang tidak dipakai lagi sesudahnya.
  • Dua kata pertama di ayat ini memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, pola yang sama dengan kata untuk banyak bersumpah di 68:10 dan kata untuk sangat menghalangi di 68:12. Jadi empat sifat berturut-turut dalam satu daftar memakai satu bentuk yang sama. Pilihan itu menentukan siapa yang dimaksud. Yang dicela bukan orang yang pernah mencela, pernah membawa cerita, atau pernah bersumpah, sebab hampir semua orang pernah. Yang dicela orang yang menjadikannya kebiasaan sampai ia tidak lagi memutuskannya setiap kali.
  • Akar kata yang pertama juga memberi kata yang menjadi nama surah 104, yaitu di 104:1. Di sana sifat tersebut berdiri sendiri sebagai pokok satu surah utuh, lengkap dengan akibatnya. Di sini ia cuma satu butir dalam daftar delapan sifat. Perbandingan itu menerangkan sesuatu tentang orang yang sedang digambarkan: satu sifat yang di tempat lain sudah cukup berat untuk dibicarakan sendirian, pada orang ini cuma bagian kecil dari daftar. Berapa banyak kebiasaan kita yang kita anggap kecil karena berada di antara hal-hal lain yang terasa lebih besar? Allah menyebutnya di sini tanpa memberi bobot yang berbeda-beda pada satu pun butirnya, dan ketiadaan urutan berat itu sendiri sebuah keterangan: yang kecil menurut kita tidak selalu kecil menurut yang menghitungnya.

Ayat 68:12

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

Yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍmannaa'in li-l-khayri mu'tadin atsiiminyang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مَنَّاعٍmannaa'inyang sangat menghalangi
  2. لِلْخَيْرِli-l-khayrikepada kebaikan
  3. مُعْتَدٍmu'tadinyang melampaui batas
  4. أَثِيمٍatsiiminyang banyak berdosa

Inti bacaan

Rangkaian sifat destruktif: 'yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa', kombinasi menghalangi kebaikan orang lain (bukan sekadar tidak berbuat baik) dengan pelanggaran batas dan dosa berulang, profil karakter yang secara aktif merusak lingkungan sosialnya.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya: di 50:25 tertulis (مُرِيبٍ, muriib), yang ragu, sedangkan di sini (أَثِيمٍ, atsiim), yang banyak dosa. Jadi dua ayat di dua surah memakai dua kata pertama yang sama persis dengan urutan yang sama, lalu berpisah di kata terakhir.

Kata (مُعْتَدٍ, mu'tad) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25, 68:12, dan 83:12. Kata (أَثِيمٍ, atsiim) muncul 5 kali, yaitu di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Kedua kata itu bertemu di dua tempat, yaitu di ayat ini dan di 83:12. Jadi pasangannya sendiri berulang, dan surah 83 juga memuat ayat yang sama persis dengan 68:15.

Kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, sama seperti dua kata di 68:11 dan satu kata di 68:10. Terjemahan memakai 'yang sangat menghalangi kebaikan' dan bukan 'yang tidak berbuat baik', sebab yang disebut bukan ketiadaan perbuatan melainkan perbuatan menahan. Menahan menuntut tenaga; tidak berbuat tidak menuntut apa pun.

Kata (الْخَيْرِ, al-khair) bertakrif dan tidak dibatasi jenisnya. Ia tidak disempitkan menjadi harta, menjadi ilmu, atau menjadi pertolongan tertentu. Terjemahan menahan keluasan itu dengan memakai 'kebaikan' tanpa keterangan tambahan, sebab menyempitkannya akan membuat pembaca merasa aman selama ia tidak menahan jenis kebaikan yang disebutkan.

Urutan tiga sifat di ayat ini bergerak dari luar ke dalam. Yang pertama tentang perbuatannya terhadap orang lain, yaitu menahan kebaikan. Yang kedua tentang batas yang dilanggarnya. Yang ketiga tentang keadaan dirinya sendiri. Susunan itu memperlihatkan bahwa kerusakan yang mengenai orang lain disebut lebih dahulu daripada kerusakan yang mengenai pelakunya, dan urutan tersebut tidak diterangkan Al-Qur'an sedikit pun.

Huruf (لِ, li) pada (لِلْخَيْرِ, lil-khair) menyatakan arah, sehingga bunyinya menahan terhadap kebaikan. Susunan itu tidak menyebut siapa yang dirugikan. Ia juga tidak menyebut bahwa kebaikan tersebut miliknya. Jadi yang digambarkan orang yang berdiri di jalan kebaikan lalu menutupnya, entah kebaikan itu berasal dari tangannya sendiri atau dari tangan orang lain yang hendak lewat.

Di 50:25 kata yang sama berdiri dalam rangkaian perintah melemparkan ke dalam neraka setiap orang yang ingkar lagi keras kepala. Letaknya di sana berbeda jauh dari letaknya di sini, sebab di sana ia bagian dari keputusan, sedangkan di sini bagian dari alasan supaya tidak dituruti. Satu susunan kata dipakai untuk dua keperluan: sekali menerangkan siapa yang dijatuhi hukuman, sekali menerangkan siapa yang tidak boleh diikuti selagi masih hidup.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan daftar sifat tercela: menghalangi kebaikan dan melampaui batas.

Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya.

Kata (مُعْتَدٍ, mu'tad) muncul 3 kali, yaitu di 50:25, 68:12, dan 83:12, sedangkan (أَثِيمٍ, atsiim) muncul 5 kali, yaitu di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Kedua kata itu bertemu di dua tempat, yaitu di ayat ini dan di 83:12.

Kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, sama seperti dua kata di 68:11 dan satu kata di 68:10. Terjemahan memakai 'yang sangat menghalangi kebaikan' dan bukan 'yang tidak berbuat baik', sebab yang disebut perbuatan menahan dan bukan ketiadaan perbuatan. Kata untuk kebaikan tidak dibatasi jenisnya, dan terjemahan menahan keluasan itu apa adanya. Urutan tiga sifatnya bergerak dari perbuatan terhadap orang lain menuju keadaan diri pelakunya.

Huruf di depan kata untuk kebaikan menyatakan arah, sehingga bunyinya menahan terhadap kebaikan, tanpa menyebut siapa yang dirugikan dan tanpa menyebut bahwa kebaikan itu miliknya. Yang digambarkan orang yang berdiri di jalan kebaikan lalu menutupnya. Di 50:25 susunan yang sama berdiri dalam rangkaian keputusan, sedangkan di sini ia bagian dari alasan supaya tidak dituruti.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menderetkan tiga sifat sekaligus. Menghalangi kebaikan. Melampaui batas. Banyak dosa. Tiga sifat itu disebut tanpa kata penghubung yang menerangkan hubungannya. Al-Qur'an tidak berkata bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Ketiganya cuma ditumpuk, dan tumpukan itu sendiri yang menjadi keterangannya.
  • Yang pertama tentang orang lain, dua berikutnya tentang dirinya. Merusak keluar. Lalu merusak diri. Urutan dari luar ke dalam itu tidak biasa. Biasanya orang menerangkan kerusakan mulai dari sebabnya di dalam diri, lalu akibatnya ke luar. Di sini urutannya dibalik, dan akibatnya pembaca lebih dahulu melihat apa yang dialami orang lain sebelum melihat keadaan pelakunya.
  • Kata sangat ditambahkan Allah pada yang pertama. Bukan sekadar tidak membantu. Menghalangi keras. Menahan menuntut tenaga yang tidak diperlukan untuk sekadar berpangku tangan. Orang yang cuma diam tidak mengeluarkan apa-apa. Orang yang menahan harus hadir, harus memperhatikan, dan harus bertindak, cuma arahnya berlawanan.
  • Rangkaian مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 50:25 dan 68:12, dan di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya: di 50:25 yang disebut sifat ragu, dan di sini sifat banyak dosa. Dua ayat di dua surah yang berjauhan memakai dua kata pertama yang sama persis lalu berpisah di ujung. Yang diperlihatkan bukan dua orang yang berlainan, melainkan satu watak yang bisa berakhir di dua tempat: pada keraguan, atau pada dosa yang menumpuk. Allah memakai susunan yang sama untuk keduanya, dan yang membedakan cuma satu kata di ujungnya.
  • Kata untuk melampaui batas muncul tiga kali di seluruh Al-Quran, di 50:25, 68:12, dan 83:12, sedangkan kata untuk banyak dosa muncul lima kali, di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Keduanya bertemu di dua tempat saja, yaitu di ayat ini dan di 83:12. Kaitan antara dua surah itu tidak berhenti di sini, sebab 68:15 dan 83:13 pun sama persis huruf demi huruf. Dua surah yang tidak berdampingan ternyata memakai bahan yang sama untuk menggambarkan orang yang sama wataknya.
  • Allah tidak menyebut kebaikan yang mana. Tidak disebut harta, tidak disebut ilmu, dan tidak disebut pertolongan tertentu. Keluasan itu menutup satu jalan keluar yang paling sering dipakai, yaitu merasa aman karena tidak menahan jenis kebaikan yang disebutkan. Menahan kebaikan pun tidak selalu berbentuk penolakan terbuka. Ia bisa berupa menunda tanpa alasan, mempersulit yang bisa dipermudah, atau diam ketika satu kata sudah cukup menolong. Berapa banyak kebaikan yang lewat di tangan kita hari ini dan tertahan bukan karena kita menolak, melainkan karena kita tidak menggerakkannya? Menahan tanpa menolak adalah bentuk yang paling sulit dikenali, sebab ia tidak meninggalkan jejak apa pun yang bisa dituntut orang lain.

Ayat 68:13

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

Yang bertabiat kasar, sesudah itu terkenal kejahatannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ'utullin ba'da dzaalika zaniiminyang bertabiat kasar, sesudah itu terkenal kejahatannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. عُتُلٍّ'utullinyang kasar
  2. بَعْدَba'dasesudah
  3. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  4. زَنِيمٍzaniiminyang tidak jelas asal-usulnya

Inti bacaan

Penutup deskripsi karakter buruk: 'yang bertabiat kasar, di samping itu terkenal kejahatannya', reputasi buruk yang sudah dikenal luas, bukan kejahatan tersembunyi, peringatan bahwa pola perilaku konsisten pada akhirnya membangun reputasi yang sulit disembunyikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عُتُلٍّ, 'utull) dan kata (زَنِيمٍ, zaniim) masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Dengan tiga kata langka di 68:11 dan satu di 68:10, daftar sifat ini memuat enam kata yang tidak dipakai lagi di mana pun dalam empat ayat berturut-turut.

Kata (عُتُلٍّ, 'utull) berarti kasar dan keras, dengan gambaran dasar sesuatu yang ditarik dengan paksa. Ia bukan sekadar tidak halus; ia menyiratkan tenaga yang dipakai untuk menyeret. Terjemahan memakai 'yang bertabiat kasar' supaya sifatnya terbaca sebagai watak yang menetap, bukan sebagai kelakuan sesaat.

Kata (زَنِيمٍ, zaniim) berasal dari akar yang dipakai untuk sesuatu yang menggantung dan tidak menyatu dengan pokoknya, seperti daging yang tergantung di telinga kambing. Dari situ lahir arti orang yang dikenal karena tanda buruk yang menempel padanya. Terjemahan memakai 'terkenal kejahatannya' supaya bagian yang menyangkut nama di mata orang tidak hilang, sebab itulah yang membedakannya dari sifat-sifat sebelumnya yang seluruhnya menyangkut perbuatan.

Rangkaian (بَعْدَ ذَٰلِكَ, ba'da dzaalik) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, antara lain di 2:178, 3:82, 5:12, 23:15, dan 68:13. Di dalam ayat ini ia tidak menyatakan urutan waktu, melainkan tambahan pada apa yang sudah disebut. Terjemahan memakai 'sesudah itu' dan tidak memakai 'kemudian', sebab 'kemudian' akan membuatnya terbaca sebagai kejadian yang menyusul, padahal yang dimaksud sifat yang ditambahkan pada daftar.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa tanda buruk yang menempel padanya, tidak disebut siapa yang menempelkannya, dan tidak disebut sejak kapan. Yang disebut cuma bahwa hal itu sudah melekat. Daftar yang dimulai dengan kelakuan berakhir pada nama, dan nama tidak dibuat dalam sehari.

Ayat ini menutup daftar yang dibuka di 68:10. Kalau dihitung, daftar tersebut memuat delapan sifat dalam empat ayat: banyak bersumpah, hina, suka mencela, banyak berjalan membawa cerita, sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, banyak dosa, dan bertabiat kasar, lalu ditutup dengan sifat kesembilan yang berbeda jenisnya, yaitu sudah dikenal keburukannya. Delapan yang pertama menyangkut orangnya, dan yang terakhir menyangkut kedudukannya di mata orang lain.

Tidak ada satu pun kata kerja penuh dalam empat ayat itu. Semuanya kata sifat yang menempel pada satu kata di 68:10, yaitu setiap orang. Susunan seperti itu menahan pembacanya dari membayangkan satu peristiwa tertentu, sebab tidak ada peristiwa yang diceritakan. Yang ada cuma gambaran yang menetap, dan gambaran yang menetap jauh lebih sulit dianggap sudah lewat.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar sifat tercela dengan tabiat kasar dan reputasi buruk.

Kata (عُتُلٍّ, 'utull) dan kata (زَنِيمٍ, zaniim) masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Dengan tiga kata langka di 68:11 dan satu di 68:10, daftar sifat ini memuat enam kata yang tidak dipakai lagi di mana pun dalam empat ayat berturut-turut.

Kata yang pertama berarti kasar dan keras, dengan gambaran dasar sesuatu yang ditarik dengan paksa, sehingga ia bukan sekadar tidak halus melainkan menyiratkan tenaga yang dipakai untuk menyeret. Kata yang kedua berasal dari akar untuk sesuatu yang menggantung dan tidak menyatu dengan pokoknya, dan dari situ lahir arti orang yang dikenal karena tanda buruk yang menempel padanya.

Rangkaian (بَعْدَ ذَٰلِكَ, ba'da dzaalik) muncul 11 kali dalam 9 surah, antara lain di 2:178, 3:82, 5:12, 23:15, dan 68:13. Di ayat ini ia tidak menyatakan urutan waktu melainkan tambahan pada apa yang sudah disebut, dan terjemahan menahannya dengan 'sesudah itu'. Tidak disebut apa tanda buruk yang menempel, tidak disebut siapa yang menempelkannya, dan tidak disebut sejak kapan. Ayat ini menutup daftar yang dibuka di 68:10, dan dalam empat ayat itu tidak ada satu pun kata kerja penuh; semuanya sifat yang menempel pada satu kata, yaitu setiap orang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menutup daftar sifatnya dengan dua hal. Bertabiat kasar. Lalu terkenal kejahatannya. Dua hal itu berbeda jenisnya. Yang pertama tabiat yang ada pada orangnya, dan yang kedua kedudukannya di mata orang banyak. Menutup daftar dengan yang kedua memindahkan gambarannya dari apa yang ia kerjakan menjadi apa yang sudah tercatat tentangnya.
  • Yang disebut reputasinya, bukan perbuatannya. Bukan kejahatan tersembunyi. Sudah dikenal orang. Kejahatan yang sudah dikenal orang punya sifat yang aneh: ia berhenti mengejutkan. Orang di sekitarnya menyesuaikan diri, memaklumi, lalu berhenti menyebutnya sebagai perkara. Yang paling berbahaya dari nama buruk yang sudah mapan bukan namanya, melainkan bahwa ia tidak lagi menuntut siapa pun berbuat apa-apa.
  • Daftar ini disusun Allah menaik. Dari kelakuan ke nama. Yang berulang akhirnya membangun nama. Nama tidak dibuat dalam sehari, dan itu berlaku dua arah. Yang buruk menumpuk pelan, dan yang baik juga. Daftar ini menaik dari kelakuan ke nama justru untuk memperlihatkan bahwa yang di ujung bukan hukuman yang dijatuhkan, melainkan hasil yang dikumpulkan sendiri.
  • Kata عُتُلٍّ dan kata زَنِيمٍ masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, dan keduanya berada di ayat ini. Ditambah tiga kata di 68:11 dan satu di 68:10, daftar sifat ini memuat enam kata yang tidak dipakai lagi di mana pun, semuanya dalam empat ayat berturut-turut. Kepadatan seperti itu tidak terjadi di banyak tempat. Allah menyusun gambaran ini dari bahan yang khusus dibuat untuknya, dan sesudah dipakai sekali, bahannya tidak dipakai lagi.
  • Daftar delapan sifat yang dimulai di 68:10 bergerak dengan arah yang tetap. Yang disebut lebih dahulu perbuatan yang bisa dilihat: banyak bersumpah, mencela, membawa cerita, menahan kebaikan. Yang disebut kemudian keadaan dirinya: melampaui batas, banyak dosa, bertabiat kasar. Yang disebut terakhir kedudukannya di mata orang, yaitu sudah dikenal keburukannya. Jadi susunannya bergerak dari apa yang dikerjakan menuju siapa dirinya, lalu menuju siapa dirinya menurut orang lain. Tiga lapis itu tersusun tanpa satu kata penghubung pun.
  • Allah tidak menyebut siapa yang memberinya nama buruk itu. Bentuk kalimatnya cuma menyatakan bahwa hal tersebut sudah melekat padanya. Ketiadaan pelaku di situ penting. Nama buruk jarang ditetapkan seseorang; ia mengendap dari banyak peristiwa kecil yang masing-masing tidak cukup besar untuk diingat. Yang berlaku bagi yang buruk berlaku juga bagi yang baik, dan keduanya sama-sama tidak bisa dipercepat. Kalau nama memang dikumpulkan sedikit demi sedikit, apa yang sedang kita kumpulkan hari ini tanpa menyadarinya? Yang menumpuk biasanya bukan perbuatan besar yang kita timbang masak-masak, melainkan yang kecil-kecil yang tidak pernah sempat kita anggap sebagai sebuah pilihan, sebab masing-masing terasa terlalu ringan untuk ditimbang.