هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Yang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍhammaazin masysyaa'in bi-namiiminyang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah
Terjemahan per kata (3 kata)
- هَمَّازٍhammaazinyang suka mencela
- مَشَّاءٍmasysyaa'inyang banyak berjalan
- بِنَمِيمٍbi-namiimindengan adu domba
Inti bacaan
Identifikasi perilaku toksik: 'yang suka mencela, yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah', deskripsi konkret tentang pola perilaku merusak yang aktif menyebar (bukan pasif), peringatan untuk menjauhi sumber gosip dan fitnah yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Penjelasan pilihan kata
Ketiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu (هَمَّازٍ, hammaaz), (مَشَّاءٍ, masysyaa'), dan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim). Tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun berdesakan dalam satu ayat yang cuma terdiri atas tiga kata. Kelangkaan sepadat itu jarang terjadi, dan ia menandakan bahwa gambaran yang dibangun di sini memang disusun khusus, bukan diambil dari perbendaharaan kata yang sudah dipakai di tempat lain.
Dua kata pertama memakai pola yang sama, yaitu pola yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan. Pola itu juga dipakai pada (حَلَّافٍ, hallaaf) di 68:10 dan pada (مَنَّاعٍ, mannaa') di 68:12. Jadi empat sifat berturut-turut dalam daftar ini memakai satu pola yang sama, dan pola tersebut tidak menyebut perbuatan sekali jalan melainkan tabiat yang sudah mengeras.
Kata (هَمَّازٍ, hammaaz) berasal dari akar yang berarti mencela dan menusuk dengan perkataan. Akar yang sama memberi kata (هُمَزَةٍ, humazah) di 104:1, yang menjadi nama surah tersebut. Jadi sifat yang di sini cuma satu butir dalam daftar panjang, di tempat lain menjadi pokok satu surah utuh.
Kata (مَشَّاءٍ, masysyaa') berasal dari akar berjalan, dan bentuknya menyatakan orang yang banyak berjalan. Ia disandingkan dengan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim), yaitu perkataan yang dibawa dari satu pihak ke pihak lain untuk merusak hubungan. Gabungan keduanya melukiskan gerak, bukan sifat diam: orangnya berpindah tempat sambil membawa muatan. Terjemahan memakai 'yang berjalan ke sana-sini menyebarkan fitnah' supaya gerak itu tetap terbaca; memakai kata 'tukang fitnah' saja akan menghilangkan bagian yang justru dipilih Al-Qur'an untuk disebut.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang dicelanya, tidak disebut kepada siapa cerita itu dibawa, dan tidak disebut apa akibatnya. Yang dilukiskan cara kerjanya saja. Melukiskan cara kerja, bukan menyebut sifat buruk secara umum, membuat gambaran ini bisa dikenali di lapangan, dan gambaran yang bisa dikenali jauh lebih berguna daripada celaan yang tidak berbentuk.
Ketiga kata itu tersusun sebagai satu gerak yang berurutan. Yang pertama melukiskan apa yang dikerjakannya di tempat orangnya berada, yaitu mencela. Yang kedua melukiskan perpindahannya. Yang ketiga melukiskan muatan yang dibawanya dalam perpindahan tersebut. Jadi satu ayat tiga kata memuat tiga tahap sekaligus: berbuat, berpindah, dan menyampaikan.
Huruf (بِ, bi) pada kata ketiga mengikatnya kepada kata kedua sebagai muatan yang dibawa, bukan sebagai perbuatan yang berdiri sendiri. Susunan itu penting. Kalau kata ketiga berdiri sendiri, yang disebut cuma perbuatannya. Karena ia terikat kepada gerak, yang disebut orang yang perbuatannya menempel pada perjalanannya, sehingga di mana pun ia berada, muatan itu ikut.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan daftar sifat tercela: suka mencela dan menyebarkan fitnah.
Ketiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu (هَمَّازٍ, hammaaz), (مَشَّاءٍ, masysyaa'), dan (بِنَمِيمٍ, bi-namiim). Tiga kata yang tidak dipakai lagi di mana pun berdesakan dalam satu ayat yang cuma terdiri atas tiga kata.
Dua kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan yang berlebihan, pola yang sama dengan (حَلَّافٍ, hallaaf) di 68:10 dan (مَنَّاعٍ, mannaa') di 68:12. Empat sifat berturut-turut dalam daftar ini karena itu tidak menyebut perbuatan sekali jalan, melainkan tabiat yang sudah mengeras.
Akar kata yang pertama berarti mencela dan menusuk dengan perkataan, dan akar yang sama memberi kata (هُمَزَةٍ, humazah) di 104:1 yang menjadi nama surah tersebut. Kata kedua berasal dari akar berjalan dan disandingkan dengan perkataan yang dibawa dari satu pihak ke pihak lain, sehingga yang dilukiskan gerak, bukan sifat diam. Terjemahan menahan gerak itu supaya bagian yang justru dipilih Al-Qur'an untuk disebut tidak hilang.
Ketiga kata itu tersusun sebagai satu gerak berurutan: mencela di tempatnya, berpindah, lalu menyampaikan muatan yang dibawanya. Huruf di depan kata ketiga mengikatnya kepada kata kedua sebagai muatan, bukan sebagai perbuatan yang berdiri sendiri, sehingga yang disebut orang yang perbuatannya menempel pada perjalanannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut dia bergerak, bukan diam. Berjalan ke sana-sini. Membawa cerita. Menyebut geraknya juga menerangkan mengapa kerusakannya menyebar. Perkataan yang tinggal di satu tempat berhenti sendiri; yang dibawa berkeliling tidak pernah berhenti, sebab di setiap tempat ia menemukan pendengar baru yang belum sempat memeriksanya.
- Dua kelakuan digabung: mencela dan menyebarkan. Yang satu di depan. Yang lain di belakang. Dua kelakuan itu saling menutupi. Yang mencela di depan tampak berterus terang, dan keterusterangan itu membuat orang mengira ia tidak menyimpan apa-apa di belakang. Justru gabungan keduanya yang membuat orangnya sulit dikenali dari salah satu sisinya saja.
- Yang digambarkan cara kerjanya, bukan sifatnya. Allah melukiskan geraknya. Bukan menyebut dia jahat. Melukiskan cara kerja, bukan menempelkan sebutan, juga membuat pembacanya tidak bisa sekadar menyetujui ayatnya. Sebutan cuma perlu dibenarkan; gambaran harus dicocokkan dengan yang ada di sekitar kita, dan kadang dengan yang ada pada diri sendiri.
- Ayat ini terdiri atas tiga kata, dan ketiganya masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: هَمَّازٍ, مَشَّاءٍ, dan بِنَمِيمٍ. Tidak ada ayat lain yang memakai satu pun di antaranya, sehingga tidak ada pembanding yang bisa dipakai untuk memperlembut atau memperluas maknanya. Kepadatan seperti itu menandakan gambaran ini disusun khusus. Allah tidak mengambil kata yang sudah tersedia lalu memakainya kembali; Dia menyusun tiga kata yang tidak dipakai lagi sesudahnya.
- Dua kata pertama di ayat ini memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, pola yang sama dengan kata untuk banyak bersumpah di 68:10 dan kata untuk sangat menghalangi di 68:12. Jadi empat sifat berturut-turut dalam satu daftar memakai satu bentuk yang sama. Pilihan itu menentukan siapa yang dimaksud. Yang dicela bukan orang yang pernah mencela, pernah membawa cerita, atau pernah bersumpah, sebab hampir semua orang pernah. Yang dicela orang yang menjadikannya kebiasaan sampai ia tidak lagi memutuskannya setiap kali.
- Akar kata yang pertama juga memberi kata yang menjadi nama surah 104, yaitu di 104:1. Di sana sifat tersebut berdiri sendiri sebagai pokok satu surah utuh, lengkap dengan akibatnya. Di sini ia cuma satu butir dalam daftar delapan sifat. Perbandingan itu menerangkan sesuatu tentang orang yang sedang digambarkan: satu sifat yang di tempat lain sudah cukup berat untuk dibicarakan sendirian, pada orang ini cuma bagian kecil dari daftar. Berapa banyak kebiasaan kita yang kita anggap kecil karena berada di antara hal-hal lain yang terasa lebih besar? Allah menyebutnya di sini tanpa memberi bobot yang berbeda-beda pada satu pun butirnya, dan ketiadaan urutan berat itu sendiri sebuah keterangan: yang kecil menurut kita tidak selalu kecil menurut yang menghitungnya.