مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
Yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍmannaa'in li-l-khayri mu'tadin atsiiminyang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa
Terjemahan per kata (4 kata)
- مَنَّاعٍmannaa'inyang sangat menghalangi
- لِلْخَيْرِli-l-khayrikepada kebaikan
- مُعْتَدٍmu'tadinyang melampaui batas
- أَثِيمٍatsiiminyang banyak berdosa
Inti bacaan
Rangkaian sifat destruktif: 'yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi banyak dosa', kombinasi menghalangi kebaikan orang lain (bukan sekadar tidak berbuat baik) dengan pelanggaran batas dan dosa berulang, profil karakter yang secara aktif merusak lingkungan sosialnya.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya: di 50:25 tertulis (مُرِيبٍ, muriib), yang ragu, sedangkan di sini (أَثِيمٍ, atsiim), yang banyak dosa. Jadi dua ayat di dua surah memakai dua kata pertama yang sama persis dengan urutan yang sama, lalu berpisah di kata terakhir.
Kata (مُعْتَدٍ, mu'tad) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25, 68:12, dan 83:12. Kata (أَثِيمٍ, atsiim) muncul 5 kali, yaitu di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Kedua kata itu bertemu di dua tempat, yaitu di ayat ini dan di 83:12. Jadi pasangannya sendiri berulang, dan surah 83 juga memuat ayat yang sama persis dengan 68:15.
Kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, sama seperti dua kata di 68:11 dan satu kata di 68:10. Terjemahan memakai 'yang sangat menghalangi kebaikan' dan bukan 'yang tidak berbuat baik', sebab yang disebut bukan ketiadaan perbuatan melainkan perbuatan menahan. Menahan menuntut tenaga; tidak berbuat tidak menuntut apa pun.
Kata (الْخَيْرِ, al-khair) bertakrif dan tidak dibatasi jenisnya. Ia tidak disempitkan menjadi harta, menjadi ilmu, atau menjadi pertolongan tertentu. Terjemahan menahan keluasan itu dengan memakai 'kebaikan' tanpa keterangan tambahan, sebab menyempitkannya akan membuat pembaca merasa aman selama ia tidak menahan jenis kebaikan yang disebutkan.
Urutan tiga sifat di ayat ini bergerak dari luar ke dalam. Yang pertama tentang perbuatannya terhadap orang lain, yaitu menahan kebaikan. Yang kedua tentang batas yang dilanggarnya. Yang ketiga tentang keadaan dirinya sendiri. Susunan itu memperlihatkan bahwa kerusakan yang mengenai orang lain disebut lebih dahulu daripada kerusakan yang mengenai pelakunya, dan urutan tersebut tidak diterangkan Al-Qur'an sedikit pun.
Huruf (لِ, li) pada (لِلْخَيْرِ, lil-khair) menyatakan arah, sehingga bunyinya menahan terhadap kebaikan. Susunan itu tidak menyebut siapa yang dirugikan. Ia juga tidak menyebut bahwa kebaikan tersebut miliknya. Jadi yang digambarkan orang yang berdiri di jalan kebaikan lalu menutupnya, entah kebaikan itu berasal dari tangannya sendiri atau dari tangan orang lain yang hendak lewat.
Di 50:25 kata yang sama berdiri dalam rangkaian perintah melemparkan ke dalam neraka setiap orang yang ingkar lagi keras kepala. Letaknya di sana berbeda jauh dari letaknya di sini, sebab di sana ia bagian dari keputusan, sedangkan di sini bagian dari alasan supaya tidak dituruti. Satu susunan kata dipakai untuk dua keperluan: sekali menerangkan siapa yang dijatuhi hukuman, sekali menerangkan siapa yang tidak boleh diikuti selagi masih hidup.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan daftar sifat tercela: menghalangi kebaikan dan melampaui batas.
Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in lil-khair) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 50:25 dan 68:12. Di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya.
Kata (مُعْتَدٍ, mu'tad) muncul 3 kali, yaitu di 50:25, 68:12, dan 83:12, sedangkan (أَثِيمٍ, atsiim) muncul 5 kali, yaitu di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Kedua kata itu bertemu di dua tempat, yaitu di ayat ini dan di 83:12.
Kata pertama memakai pola yang menyatakan kebiasaan berlebihan, sama seperti dua kata di 68:11 dan satu kata di 68:10. Terjemahan memakai 'yang sangat menghalangi kebaikan' dan bukan 'yang tidak berbuat baik', sebab yang disebut perbuatan menahan dan bukan ketiadaan perbuatan. Kata untuk kebaikan tidak dibatasi jenisnya, dan terjemahan menahan keluasan itu apa adanya. Urutan tiga sifatnya bergerak dari perbuatan terhadap orang lain menuju keadaan diri pelakunya.
Huruf di depan kata untuk kebaikan menyatakan arah, sehingga bunyinya menahan terhadap kebaikan, tanpa menyebut siapa yang dirugikan dan tanpa menyebut bahwa kebaikan itu miliknya. Yang digambarkan orang yang berdiri di jalan kebaikan lalu menutupnya. Di 50:25 susunan yang sama berdiri dalam rangkaian keputusan, sedangkan di sini ia bagian dari alasan supaya tidak dituruti.
Renungan dan Hikmah
- Allah menderetkan tiga sifat sekaligus. Menghalangi kebaikan. Melampaui batas. Banyak dosa. Tiga sifat itu disebut tanpa kata penghubung yang menerangkan hubungannya. Al-Qur'an tidak berkata bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Ketiganya cuma ditumpuk, dan tumpukan itu sendiri yang menjadi keterangannya.
- Yang pertama tentang orang lain, dua berikutnya tentang dirinya. Merusak keluar. Lalu merusak diri. Urutan dari luar ke dalam itu tidak biasa. Biasanya orang menerangkan kerusakan mulai dari sebabnya di dalam diri, lalu akibatnya ke luar. Di sini urutannya dibalik, dan akibatnya pembaca lebih dahulu melihat apa yang dialami orang lain sebelum melihat keadaan pelakunya.
- Kata sangat ditambahkan Allah pada yang pertama. Bukan sekadar tidak membantu. Menghalangi keras. Menahan menuntut tenaga yang tidak diperlukan untuk sekadar berpangku tangan. Orang yang cuma diam tidak mengeluarkan apa-apa. Orang yang menahan harus hadir, harus memperhatikan, dan harus bertindak, cuma arahnya berlawanan.
- Rangkaian مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 50:25 dan 68:12, dan di kedua tempat itu ia langsung disusul kata yang sama untuk melampaui batas. Yang berbeda cuma kata ketiganya: di 50:25 yang disebut sifat ragu, dan di sini sifat banyak dosa. Dua ayat di dua surah yang berjauhan memakai dua kata pertama yang sama persis lalu berpisah di ujung. Yang diperlihatkan bukan dua orang yang berlainan, melainkan satu watak yang bisa berakhir di dua tempat: pada keraguan, atau pada dosa yang menumpuk. Allah memakai susunan yang sama untuk keduanya, dan yang membedakan cuma satu kata di ujungnya.
- Kata untuk melampaui batas muncul tiga kali di seluruh Al-Quran, di 50:25, 68:12, dan 83:12, sedangkan kata untuk banyak dosa muncul lima kali, di 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Keduanya bertemu di dua tempat saja, yaitu di ayat ini dan di 83:12. Kaitan antara dua surah itu tidak berhenti di sini, sebab 68:15 dan 83:13 pun sama persis huruf demi huruf. Dua surah yang tidak berdampingan ternyata memakai bahan yang sama untuk menggambarkan orang yang sama wataknya.
- Allah tidak menyebut kebaikan yang mana. Tidak disebut harta, tidak disebut ilmu, dan tidak disebut pertolongan tertentu. Keluasan itu menutup satu jalan keluar yang paling sering dipakai, yaitu merasa aman karena tidak menahan jenis kebaikan yang disebutkan. Menahan kebaikan pun tidak selalu berbentuk penolakan terbuka. Ia bisa berupa menunda tanpa alasan, mempersulit yang bisa dipermudah, atau diam ketika satu kata sudah cukup menolong. Berapa banyak kebaikan yang lewat di tangan kita hari ini dan tertahan bukan karena kita menolak, melainkan karena kita tidak menggerakkannya? Menahan tanpa menolak adalah bentuk yang paling sulit dikenali, sebab ia tidak meninggalkan jejak apa pun yang bisa dituntut orang lain.