أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

Karena dia memiliki harta dan anak-anak.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَan kaana dzaa maalin wa-baniinakarena dia memiliki harta dan anak-anak

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَنْankarena
  2. كَانَkaanaadalah
  3. ذَاdzaayang
  4. مَالٍmaalinharta
  5. وَبَنِينَwa-baniinadan anak-anak lelaki

Inti bacaan

Akar kesombongan yang diidentifikasi: 'karena ia memiliki harta dan anak-anak', pengungkapan bahwa seluruh perilaku buruk sebelumnya berakar dari rasa aman palsu akibat kekayaan dan keturunan, peringatan bahwa kepemilikan material bisa menjadi sumber arogansi jika tidak diimbangi kerendahan hati.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (مَالٍ وَبَنِينَ, maalin wa-baniin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:55 dan 68:14. Di 23:55 tertulis (أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ, ayahsabuuna annamaa numidduhum bihi min maalin wa-baniin), apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka. Di sana pasangan itu berdiri dalam pertanyaan yang membantah anggapan bahwa pemberian tersebut tanda kebaikan; di sini ia berdiri sebagai sebab dari seluruh daftar sifat sebelumnya.

Adapun kata (بَنِينَ, baniin) sendiri muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 11 surah, antara lain di 3:14, 6:100, 17:6, 23:55, dan 68:14; dua belas kemunculan tetapi sebelas surah karena ada satu surah yang memakainya dua kali. Di banyak tempat itu ia disandingkan dengan harta, sehingga pasangan harta dan anak menjadi susunan yang berulang dalam Al-Qur'an untuk menyebut apa yang paling dibanggakan manusia.

Kata (أَنْ, an) di awal ayat menyatakan sebab, sehingga kalimatnya menyambung ke belakang, bukan berdiri sendiri. Bunyinya: janganlah engkau menaati orang yang sifatnya begini dan begitu, karena dia memiliki harta dan anak-anak. Jadi seluruh daftar delapan sifat di 68:10 sampai 68:13 dipulangkan kepada satu sebab, dan sebab itu bukan kejahatan melainkan pemberian.

Terjemahan memakai 'karena dia memiliki harta dan anak-anak' dan tidak menambahkan keterangan apa pun tentang kesombongan. Menambahkannya akan menutup pekerjaan yang justru diserahkan kepada pembaca, yaitu menimbang bagaimana pemberian bisa berubah menjadi sebab dari daftar sepanjang itu.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa banyak hartanya, tidak disebut berapa anaknya, dan tidak disebut apa yang diperbuatnya dengan keduanya. Yang disebut cuma bahwa ia memilikinya. Harta dan anak tidak dicela di ayat ini, dan tidak pula dipuji. Yang dipersoalkan hubungan antara memilikinya dan menjadi seperti yang digambarkan sebelumnya.

Kata (كَانَ, kaana) di dalam kalimatnya berbentuk lampau dan berarti telah menjadi atau memang begitu keadaannya. Jadi yang disebut bukan peristiwa mendapat harta pada suatu hari, melainkan keadaan yang sudah berlangsung. Perbedaannya terasa: orang yang baru mendapat sesuatu masih ingat bagaimana rasanya tidak memilikinya, sedangkan orang yang keadaannya sudah lama begitu kehilangan pembanding tersebut.

Ayat ini juga menutup rangkaian yang dimulai di 68:8. Susunan lengkapnya: jangan menuruti mereka, jangan menuruti setiap orang yang begini dan begitu, karena dia memiliki harta dan anak-anak. Jadi seluruh bagian itu satu kalimat panjang yang dipotong menjadi tujuh ayat, dan pemotongan tersebut membuat tiap sifat sempat berdiri sendiri sebelum semuanya dipulangkan kepada satu sebab di ujung.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan sumber kesombongan orang tercela tersebut: harta dan anak-anak.

Rangkaian (مَالٍ وَبَنِينَ, maalin wa-baniin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 23:55 dan 68:14. Di 23:55 pasangan itu berdiri dalam pertanyaan yang membantah anggapan bahwa pemberian tersebut tanda kebaikan; di sini ia berdiri sebagai sebab dari seluruh daftar sifat sebelumnya.

Kata (بَنِينَ, baniin) sendiri muncul 12 kali dalam 11 surah, antara lain di 3:14, 6:100, 17:6, 23:55, dan 68:14; dua belas kemunculan tetapi sebelas surah karena ada satu surah yang memakainya dua kali. Di banyak tempat itu ia disandingkan dengan harta.

Kata di awal ayat menyatakan sebab, sehingga kalimatnya menyambung ke belakang dan seluruh daftar delapan sifat di 68:10 sampai 68:13 dipulangkan kepada satu sebab, dan sebab itu bukan kejahatan melainkan pemberian. Terjemahan tidak menambahkan keterangan apa pun tentang kesombongan, sebab menambahkannya akan menutup pekerjaan yang diserahkan kepada pembaca. Tidak disebut berapa banyak hartanya, tidak disebut berapa anaknya, dan tidak disebut apa yang diperbuatnya dengan keduanya. Kata kerja di dalam kalimatnya berbentuk lampau dan berarti memang begitu keadaannya, sehingga yang disebut bukan peristiwa mendapat harta pada suatu hari melainkan keadaan yang sudah berlangsung lama.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut sebab kesombongannya dua hal. Harta. Dan anak-anak. Dua hal itu yang paling sering dipakai orang untuk mengukur keberhasilan hidupnya, dan dua-duanya bukan hal yang bisa dicela. Justru karena tidak bisa dicela, keduanya paling mudah berubah menjadi rasa aman yang tidak diperiksa.
  • Keduanya hal yang biasanya disyukuri. Bukan kejahatan. Yang menjadi soal sikapnya. Ayat ini tidak menyuruh melepaskan keduanya dan tidak menyebutnya buruk. Yang dipersoalkan hubungan antara memilikinya dan menjadi seperti yang digambarkan sebelumnya. Hubungan itu tidak diterangkan, dan tidak diterangkannya membuat pembaca harus memeriksanya sendiri pada dirinya.
  • Kata karena dipakai Allah untuk menyambung ke daftar kelakuan sebelumnya. Semua itu berakar di sini. Rasa aman yang keliru. Rasa aman yang lahir dari pemberian selalu terasa wajar, sebab pemberian itu memang nyata ada di tangan. Yang keliru bukan menikmatinya, melainkan menyimpulkan dari keberadaannya bahwa perhitungan sudah selesai.
  • Rangkaian مَالٍ وَبَنِينَ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 23:55 dan 68:14. Di 23:55 pasangan itu berdiri di dalam pertanyaan yang membantah anggapan bahwa harta dan anak yang diberikan berarti Allah sedang menyegerakan kebaikan bagi mereka. Di sini pasangan yang sama berdiri sebagai sebab dari delapan sifat buruk yang baru saja didaftar. Dua tempat itu saling menerangkan. Yang satu membantah kesimpulan yang diambil dari pemberian, dan yang satu lagi memperlihatkan apa yang bisa tumbuh dari kesimpulan tersebut kalau dibiarkan.
  • Kata di awal ayat ini menyatakan sebab, sehingga seluruh daftar delapan sifat di 68:10 sampai 68:13 dipulangkan kepada satu hal. Yang mengejutkan, hal itu bukan kejahatan. Yang disebut sebagai pangkalnya justru dua pemberian yang di tempat lain disyukuri orang. Susunan seperti itu memindahkan seluruh perkaranya dari daftar perbuatan ke sebuah pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman, yaitu apa yang terjadi pada seseorang ketika ia merasa sudah cukup punya.
  • Allah tidak menyebut hartanya haram, tidak menyebut jumlahnya berlebihan, dan tidak menyuruh melepaskannya. Yang disebut cuma bahwa ia memilikinya. Ketiadaan celaan itu membuat ayat ini jauh lebih sulit dihindari. Kalau yang dipersoalkan hartanya, orang bisa memeriksa asal hartanya lalu merasa selesai. Karena yang dipersoalkan hubungan antara memiliki dan berubah menjadi seperti daftar sebelumnya, pemeriksaannya tidak pernah selesai. Apa yang berubah pada cara kita memperlakukan orang lain sejak keadaan kita membaik? Perubahan seperti itu hampir tidak pernah terasa saat berlangsung, sebab ia bergerak sepelan membaiknya keadaan itu sendiri. Yang bisa memberi tahu kita biasanya bukan diri sendiri, melainkan orang yang sudah mengenal kita jauh sebelum keadaan itu berubah, dan orang seperti itu jarang kita tanyai.