إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Apabila tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “Dongengan orang-orang terdahulu.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَاidzaa tutlaa 'alayhi aayaatunaaapabila tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya
- قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَqaala asaathiiru l-awwaliinadia berkata, 'dongengan orang-orang terdahulu'
Terjemahan per kata (7 kata)
- إِذَاidzaaapabila
- تُتْلَىٰtutlaadibacakan
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- آيَاتُنَاaayaatunaatanda-tanda Kami
- قَالَqaalaberkata
- أَسَاطِيرُasaathiirudongeng-dongeng
- الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu
Inti bacaan
Respons meremehkan terhadap wahyu: 'apabila tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya, dia berkata: (ini adalah) dongengan orang-orang terdahulu', pola penolakan yang menampik pesan serius dengan label merendahkan tanpa sekali pun menyentuh isinya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Ini adalah)' tidak dipakai: kalimat tanpa kata kerja Arab tidak memerlukan kopula eksplisit.
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:15 dan 83:13, sama persis huruf demi huruf. Ini kaitan kedua antara dua surah tersebut, sebab 83:12 juga memuat pasangan kata yang sama dengan penutup 68:12. Dua surah yang tidak berdampingan memakai bahan yang sama untuk menggambarkan watak yang sama.
Rangkaian (تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا, tutlaa 'alaihi aayaatunaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 31:7, 68:15, dan 83:13. Di 31:7 yang menyusul bukan ucapan melainkan perbuatan: ia berpaling dengan sombong seakan tidak mendengarnya. Di dua tempat lainnya yang menyusul ucapan. Jadi satu keadaan yang sama, yaitu ayat dibacakan kepadanya, melahirkan dua macam tanggapan yang direkam Al-Qur'an.
Rangkaian (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiirul-awwaliin) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Pengulangan sebanyak itu menandakan bahwa yang direkam bukan ucapan satu orang pada satu peristiwa, melainkan kalimat yang berulang dipakai. Terjemahan memakai 'dongengan orang-orang terdahulu' supaya nada merendahkannya terbaca, sebab kata yang dipakai memang kata untuk cerita yang tidak dituntut kebenarannya.
Bentuk kata kerja (تُتْلَىٰ, tutlaa) berbentuk yang dikenai perbuatan, sehingga yang membacakan tidak disebut. Yang ditonjolkan keadaan orangnya, bukan siapa yang membacakan kepadanya. Terjemahan menahan bentuk itu dengan 'dibacakan kepadanya' dan tidak menyebutkan pelakunya, sebab menyebutkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam ayatnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut ayat yang mana yang dibacakan, tidak disebut apa alasan penilaiannya, dan tidak disebut ada bantahan isi. Yang direkam cuma satu kalimat pendek yang menempelkan sebutan. Menempelkan sebutan memang cara paling murah untuk menolak sesuatu, sebab ia tidak menuntut pemeriksaan apa pun terhadap yang ditolak.
Kata (إِذَا, idzaa) di awal ayat menyatakan sesuatu yang berulang terjadi, bukan satu kejadian tunggal. Jadi yang direkam bukan sekali ia berkata begitu, melainkan bahwa setiap kali ayat dibacakan kepadanya, itulah jawabannya. Susunan tersebut menutup kemungkinan membacanya sebagai kekhilafan sesaat.
Ayat sesudahnya, yaitu 68:16, tidak membantah ucapannya dan tidak menjelaskan apa pun kepadanya. Yang disebut di sana justru tanda yang akan diberikan padanya. Jadi ucapan yang menempelkan sebutan dibalas dengan tanda yang menempel juga. Al-Qur'an tidak menyusun hubungan itu dengan satu kalimat penghubung pun, dan letak dua ayat yang berdampingan itulah yang mengerjakannya.
Tafsiran
Ayat penutup rangkaian ini menggambarkan respons orang tercela terhadap wahyu, menuduhnya sekadar dongengan lama.
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:15 dan 83:13, sama persis huruf demi huruf. Ini kaitan kedua antara dua surah tersebut, sebab 83:12 juga memuat pasangan kata yang sama dengan penutup 68:12.
Rangkaian (تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا, tutlaa 'alaihi aayaatunaa) muncul 3 kali, yaitu di 31:7, 68:15, dan 83:13. Di 31:7 yang menyusul perbuatan, yaitu berpaling dengan sombong; di dua tempat lainnya yang menyusul ucapan.
Rangkaian (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiirul-awwaliin) muncul 9 kali dalam 9 surah, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13, sehingga yang direkam bukan ucapan satu orang pada satu peristiwa melainkan kalimat yang berulang dipakai. Bentuk kata kerja yang dipakai berbentuk yang dikenai perbuatan, sehingga yang membacakan tidak disebut dan yang ditonjolkan keadaan orangnya. Tidak disebut ayat yang mana yang dibacakan, dan tidak disebut ada bantahan isi. Kata di awal ayat menyatakan sesuatu yang berulang terjadi, bukan satu kejadian tunggal, sehingga yang direkam bukan sekali ia berkata begitu melainkan bahwa setiap kali ayat dibacakan kepadanya itulah jawabannya. Ayat sesudahnya pun tidak membantah ucapannya; yang disebut di sana tanda yang akan diberikan padanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menaruh reaksi itu pada satu orang, bukan pada kaum. Dia berkata. Tuduhannya perorangan. Menaruh ucapan itu pada satu orang, sesudah delapan sifat didaftar, membuat ucapannya terbaca sebagai buah dari wataknya. Yang berbicara bukan pemikir yang sedang menimbang; ia orang yang wataknya sudah diterangkan panjang lebar sebelum mulutnya terbuka.
- Yang dipakai kata dongeng, kata untuk cerita anak. Merendahkan tanpa membantah. Cukup diberi label. Menempelkan sebutan lebih murah daripada membantah isi. Membantah menuntut pembaca lebih dahulu memahami apa yang dibantahnya, dan pemahaman itu sendiri berbahaya bagi orang yang sudah memutuskan menolak.
- Ayat-ayat sebelumnya menderetkan sifat buruknya. Allah menutup daftar itu dengan ucapannya. Wataknya dijelaskan dahulu, kalimatnya kemudian. Urutan itu menutup satu pembelaan yang biasa dipakai. Kalau ucapannya disebut lebih dahulu, orang akan menimbang ucapan tersebut sebagai pendapat yang berdiri sendiri. Karena wataknya diterangkan lebih dahulu, ucapannya terbaca sebagai bagian dari watak itu.
- Seluruh kalimat ayat ini muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 68:15 dan 83:13, sama persis huruf demi huruf. Kaitan dua surah itu tidak berhenti di sini. Penutup 68:12 memakai pasangan kata yang sama dengan 83:12, sehingga dua ayat berdampingan di surah 83 berpasangan dengan dua ayat di surah 68. Dua surah yang tidak berdekatan letaknya memakai bahan yang sama untuk satu watak yang sama, dan pengulangan seperti itu memperlihatkan bahwa yang digambarkan bukan seorang tokoh melainkan sebuah pola. Allah memakai kalimat yang sama di dua tempat justru supaya ia tidak melekat pada satu nama.
- Rangkaian أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ muncul sembilan kali di seluruh Al-Quran, di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Sembilan tempat, sembilan surah, dan bunyinya tidak berubah sedikit pun. Kalimat yang diulang sebanyak itu bukan ucapan satu orang pada satu peristiwa. Ia jawaban yang dipakai berulang oleh orang yang berbeda-beda di keadaan yang berbeda-beda, dan keseragamannya justru memperlihatkan bahwa ia bukan hasil pemeriksaan melainkan kalimat yang sudah tersedia sebelum pemeriksaan dimulai.
- Yang direkam Allah cuma satu kalimat pendek yang menempelkan sebutan, tanpa satu pun bantahan terhadap isinya. Cara menolak seperti itu paling murah biayanya. Ia tidak menuntut pemahaman, tidak menuntut alasan, dan tidak menuntut kesediaan mendengar sampai selesai. Yang diperlukan cuma satu kata yang membuat perkaranya terdengar sudah selesai. Bahaya sesungguhnya bukan pada yang mengucapkannya, melainkan pada yang mendengarnya, sebab sebutan yang menempel biasanya bertahan jauh lebih lama daripada keterangan yang panjang. Sebutan apa yang pernah kita pakai untuk menutup sebuah perkara tanpa sekali pun memeriksanya? Allah merekam kalimat itu apa adanya tanpa membantahnya di tempatnya, dan pembiaran tersebut membuat bunyinya sendiri yang menjadi keterangannya.