سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

Kelak Kami akan memberinya tanda pada belalainya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِsa-nasimuhu 'alaa l-khurthuumikelak Kami akan memberinya tanda pada belalainya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. سَنَسِمُهُsa-nasimuhuKami akan menandainya
  2. عَلَى'alaaatas
  3. الْخُرْطُومِl-khurthuumibelalai

Inti bacaan

Konsekuensi yang menghinakan: 'kelak Kami akan memberinya tanda pada belalainya', hukuman yang secara khusus menyasar organ yang sering dikaitkan dengan kesombongan (hidung terangkat), ironi puitis antara kesombongan dan penghinaan yang menyasar simbol keangkuhan itu sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini cuma tiga kata, dan dua di antaranya tidak dipakai di tempat lain mana pun. Kata kerja (سَنَسِمُهُ, sa-nasimuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:16. Kata (الْخُرْطُومِ, al-khurthuum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:16. Sesudah enam ayat yang mendaftar watak dengan kata-kata yang lazim dipakai di banyak surah, ayat penutupnya justru memakai dua kata yang tidak punya pasangan di mana-mana.

Akar kata kerjanya dipakai juga dalam wujud kata benda. Bentuk (سِيمَاهُمْ, siimaahum) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 5 surah, yaitu di 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 48:29, dan 55:41; enam kemunculan tetapi lima surah karena surah 7 memakainya dua kali. Di semua tempat itu maknanya tanda yang membuat seseorang dikenali. Di 7:46 ada yang mengenali masing-masing pihak dengan tanda mereka, dan di 48:29 tandanya disebut ada di wajah. Yang berbeda di ayat ini, tandanya bukan untuk mengenali melainkan untuk ditaruh.

Kata (الْخُرْطُومِ) dipakai untuk belalai dan untuk moncong binatang. Al-Qur'an punya kata lain untuk hidung manusia, dan kata itu dipakai di 5:45. Jadi yang dipilih di sini bukan kata yang biasa, sedangkan kata yang biasa tersedia. Terjemahan menahannya dengan 'belalainya' dan tidak menghaluskannya jadi 'hidungnya', sebab penghalusan itu membuang justru yang sedang dikerjakan ayatnya.

Awalan (سَ, sa) di depan kata kerjanya menyatakan yang akan datang. Semua yang didaftar dari 68:10 sampai 68:15 disebut dengan bentuk yang berlaku sekarang atau dengan rangkaian kata benda tanpa kata kerja sama sekali. Ayat ini satu-satunya di rangkaian itu yang menoleh ke depan. Daftarnya berhenti, dan yang menggantikannya bukan sifat kesebelas melainkan sebuah janji.

Kata kerjanya berbentuk orang pertama jamak, yaitu 'Kami', sedangkan yang dikenainya orang ketiga tunggal, yaitu 'nya'. Terjemahan menahan susunan itu apa adanya. Yang berbuat disebut dengan terang, dan yang dikenai tetap tidak dinamai sampai rangkaian ini habis. Sepuluh sifat sudah didaftar tentang seseorang yang namanya tidak pernah muncul satu kali pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan tandanya diberikan, tidak disebut rupanya seperti apa, tidak disebut di dunia atau sesudahnya, dan tidak disebut siapa yang akan melihatnya. Yang disebut cuma tempatnya. Menyebut tempat tanpa menyebut rupa menahan pembaca dari memastikan hal yang memang tidak diberitahukan kepadanya.

Letaknya tepat sesudah 68:15, dan letak itu bagian dari maksudnya. Di 68:15 orang tersebut menempelkan sebutan pada ayat yang dibacakan kepadanya, tanpa membantah isinya sedikit pun. Di 68:16 yang dijanjikan kepadanya juga berupa penempelan. Al-Qur'an tidak menyambung keduanya dengan satu kalimat penghubung pun, dan urutan dua ayat itulah yang mengerjakan sambungannya.

Tafsiran

Ayat ini mengancam tanda kehinaan bagi orang tercela yang dibahas pada ayat-ayat sebelumnya.

Ayat penutup rangkaian ini tidak menambah sifat, melainkan menyebut balasan yang akan datang.

Kata kerja (سَنَسِمُهُ, sa-nasimuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:16, dan kata (الْخُرْطُومِ, al-khurthuum) juga cuma di 68:16. Ayat tiga kata ini memuat dua kata yang tidak punya pasangan di tempat lain.

Akar kata yang pertama dipakai juga dalam wujud (سِيمَاهُمْ, siimaahum), yang muncul 6 kali dalam 5 surah, yaitu di 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 48:29, dan 55:41. Di semua tempat itu maknanya tanda pengenal, misalnya di 48:29 yang menyebutnya ada di wajah. Yang berbeda di sini, tandanya bukan untuk mengenali melainkan untuk ditaruh.

Kata untuk belalai dipakai padahal Al-Qur'an punya kata lain untuk hidung manusia, yang dipakai di 5:45. Terjemahan menahan pilihan itu dan tidak menghaluskannya. Awalan yang menyatakan masa depan membuat ayat ini satu-satunya di rangkaian 68:10 sampai 68:15 yang menoleh ke depan, sehingga daftar sifat berhenti dan digantikan janji. Tidak disebut kapan, tidak disebut rupanya, dan tidak disebut siapa yang akan melihatnya; yang disebut cuma tempatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tandanya di bagian yang paling menonjol. Bukan di punggung. Di wajah. Tempat itu yang paling tidak bisa disembunyikan oleh pemiliknya. Punggung bisa ditutup pakaian dan tangan bisa dimasukkan ke saku, tetapi wajah dibawa ke mana pun orang pergi dan dilihat lebih dahulu daripada bagian mana pun. Menaruh tanda di sana berarti menjadikan keterangan tentang seseorang melekat pada dirinya sendiri, bukan pada catatan yang disimpan orang lain.
  • Kata belalai dipakai untuk hidungnya. Bahasanya merendahkan. Yang diangkat tinggi disebut belalai. Al-Qur'an punya kata biasa untuk hidung manusia dan memakainya di 5:45, tetapi di sini kata itu tidak dipakai. Yang dipakai kata untuk moncong binatang. Pilihan kata itu sendiri sudah menjatuhkan kedudukan, sebelum tandanya diberikan. Orang yang menaikkan dirinya dengan harta dan anak, seperti yang didaftar di 68:14, dijawab bukan dengan bantahan melainkan dengan pemilihan kata.
  • Tandanya disebut Allah kelak, bukan sekarang. Belum diberikan. Sudah dijanjikan. Semua ayat sebelumnya memakai bentuk yang berlaku sekarang, dan cuma ayat ini yang memakai bentuk yang akan datang. Perpindahan bentuk itu memindahkan seluruh rangkaian dari penggambaran menjadi keputusan. Selama sepuluh sifat didaftar, pembaca membaca laporan; pada ayat kesebelas ia membaca ketetapan. Janji yang tanggalnya tidak disebut tetap menggantung di atas orangnya, dan menggantung lebih lama daripada hukuman yang sudah jatuh.
  • Ayat ini cuma tiga kata, dan dua di antaranya tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Allah memakai kata baru justru di kalimat penutup, sesudah sepuluh sifat didaftar dengan kata-kata yang lazim. Kata yang tak punya pasangan menahan pembaca dari menyamakan ayat ini dengan ayat lain yang pernah dibacanya. Ia harus berhenti di sini dan membacanya sendiri. Kepadatan seperti itu jarang, dan letaknya persis di tempat rangkaian panjang tadi ditutup.
  • Kata untuk tanda dipakai enam kali di tempat lain, dan di semua tempat itu maknanya tanda pengenal. Orang dikenali karenanya, seperti di 7:46, atau tandanya melekat di wajah orang beriman seperti di 48:29. Di ayat ini akar yang sama berubah kedudukan sepenuhnya. Tandanya tidak menerangkan siapa orangnya kepada orang lain; ia ditaruh padanya sebagai balasan. Allah memakai kata yang sama untuk dua urusan yang berbeda arah, dan yang membedakannya cuma kalimat di sekitarnya.
  • Kapan tandanya diberikan? Bagaimana rupanya? Di dunia atau sesudahnya? Siapa yang akan melihatnya? Tidak satu pun dijawab. Allah menyebut tempatnya saja dan menutup ayatnya di situ. Kekosongan itu bukan kekurangan keterangan, sebab ayat yang sama bisa saja memuat semuanya. Yang tidak diberitahukan menahan pembaca dari memastikan, dan orang yang tidak bisa memastikan tidak bisa juga menyiapkan diri untuk mengelak.