إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ
Sesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetiknya pada pagi hari,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِinnaa balawnaahum ka-maa balawnaa ashaaba l-jannatisesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun
- إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَidz aqsamuu la-yashrimunnahaa mushbihiinaketika mereka bersumpah akan memetiknya pada pagi hari
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- بَلَوْنَاهُمْbalawnaahumKami menguji mereka
- كَمَاka-maasebagaimana
- بَلَوْنَاbalawnaaKami menguji
- أَصْحَابَashaabagolongan
- الْجَنَّةِl-jannatitaman
- إِذْidzketika
- أَقْسَمُواaqsamuumereka bersumpah
- لَيَصْرِمُنَّهَاla-yashrimunnahaasungguh mereka akan memetiknya
- مُصْبِحِينَmushbihiinadi waktu pagi
Inti bacaan
Perumpamaan sebagai peringatan universal: 'Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetik (hasil)nya pada pagi hari', pembukaan kisah yang menjadi cermin bagi siapa pun yang merencanakan keuntungan tanpa mempertimbangkan faktor di luar kendalinya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(hasil)' tidak dipakai.
Kata (بَلَوْنَاهُمْ, balawnaahum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:168 dan 68:17. Di 7:168 alat ujinya disebut dengan terang, yaitu kebaikan dan keburukan, dan tujuannya disebut juga, yaitu agar mereka kembali. Di 68:17 dua-duanya tidak disebut. Yang dirinci justru pembandingnya, dan seluruh sisa kisah inilah rinciannya.
Rangkaian (أَصْحَابَ الْجَنَّةِ, ash-haabal-jannah) muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, yaitu di 2:82, 7:42, 7:44, 7:46, 7:50, 10:26, 11:23, 25:24, 36:55, 46:14, 46:16, 59:20, dan 68:17; tiga belas kemunculan tetapi sembilan surah karena surah 7 memakainya empat kali dan surah 46 dua kali. Hitungan itu memasukkan ujung kata yang berubah menurut kedudukannya dalam kalimat. Bentuk yang persis sama dengan yang di ayat ini ada di 7:46, 7:50, 36:55, dan 68:17.
Dari tiga belas tempat itu, dua belas berbicara tentang penghuni taman di akhirat. Cuma satu yang berbicara tentang pemilik kebun di dunia, yaitu ayat ini. Rangkaian kata yang sama persis dipakai untuk dua hal yang letaknya sejauh mungkin, yaitu yang kekal dan yang habis dalam semalam. Yang menentukan bacaannya bukan kata-katanya, melainkan kalimat yang mengelilinginya.
Terjemahan memilih 'para pemilik kebun', bukan 'penghuni taman' seperti di dua belas tempat lainnya, sebab yang dibicarakan di sini orang yang memiliki dan memetik, bukan orang yang ditempatkan. Kata Arabnya sendiri berarti yang menyertai atau yang punya urusan dengan sesuatu, dan urusan apa yang dimaksud ditentukan oleh cerita yang mengikutinya, bukan oleh katanya.
Kata (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:17. Huruf (لَ) di depannya dan (نَّ) di ujungnya dua-duanya penanda penegasan, dan keduanya dipakai sekaligus. Jadi yang direkam bukan sekadar niat, melainkan sumpah yang diperkuat dua lapis. Terjemahan sudah memuat kata 'bersumpah', sehingga penegasannya terbawa oleh kata itu dan tidak perlu diulang lagi di belakangnya.
Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21; lima kemunculan tetapi tiga surah karena surah 15 dan surah 68 masing-masing memakainya dua kali. Di 15:66 kata itu menandai pagi ketika akar suatu kaum ditumpas habis, di 15:83 pagi ketika suara yang menggelegar menimpa mereka, dan di 37:137 pagi ketika orang melewati bekas mereka. Di luar surah ini, kata tersebut selalu melekat pada pagi sesudah kehancuran. Di ayat ini ia dipakai untuk pagi yang mereka tetapkan sendiri sebagai waktu panen.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut di mana kebunnya, tidak disebut kapan kejadiannya, tidak disebut berapa orang pemiliknya, dan tidak disebut siapa nama mereka. Yang disebut cuma perbuatan dan waktunya. Kisah tanpa nama dan tanpa tempat lebih mudah dikenakan pada siapa pun yang membacanya, dan pembuka ayat ini memang sudah menyatakan bahwa kisah itu dipakai sebagai pembanding.
Tafsiran
Ayat ini membuka kisah perumpamaan pemilik kebun sebagai ujian, sejajar dengan ujian yang dihadapi umat Mekah.
Ayat ini membuka kisah pemilik kebun dan menyatakan sejak awal bahwa kisah itu dipakai sebagai pembanding.
Kata (بَلَوْنَاهُمْ, balawnaahum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:168 dan 68:17. Di 7:168 alat uji dan tujuannya disebut; di sini dua-duanya tidak, dan yang dirinci justru pembandingnya.
Rangkaian (أَصْحَابَ الْجَنَّةِ, ash-haabal-jannah) muncul 13 kali dalam 9 surah, yaitu di 2:82, 7:42, 7:44, 7:46, 7:50, 10:26, 11:23, 25:24, 36:55, 46:14, 46:16, 59:20, dan 68:17. Dari tiga belas tempat itu, dua belas berbicara tentang penghuni taman di akhirat, dan cuma ayat ini yang berbicara tentang pemilik kebun di dunia. Kata yang sama dipakai untuk yang kekal dan untuk yang habis dalam semalam.
Kata (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:17, dan memakai dua penanda penegasan sekaligus. Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21; di luar surah ini kata tersebut selalu melekat pada pagi sesudah kehancuran. Tidak disebut di mana kebunnya, kapan kejadiannya, dan siapa pemiliknya.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai kisah kebun sebagai cermin. Bukan cerita lama. Perbandingan untuk yang sekarang. Kata kerjanya satu untuk dua pihak sekaligus, dan itu yang membuat kisahnya bukan berita lama. Pembaca tidak diberi jarak untuk menonton dari luar. Sebelum satu peristiwa pun diceritakan, kedudukannya sudah ditetapkan lebih dahulu sebagai cermin. Kisah yang dibuka begitu tidak menuntut pembaca menyimpulkan sendiri pelajarannya, sebab pelajarannya sudah dipasang di kalimat pertama dan ceritanya menyusul sebagai buktinya.
- Sumpah mereka disebut lebih dahulu daripada kegagalannya. Akan memetik pagi-pagi. Rencananya rapi. Waktunya ditetapkan, sasarannya jelas, dan tekadnya dikuatkan dengan sumpah yang memakai dua penanda penegasan sekaligus. Tidak ada yang keliru pada perencanaan itu jika diukur sebagai perencanaan. Justru kerapiannya yang membuat kisah ini bekerja, sebab kalau rencananya kacau, kegagalannya bisa dijelaskan tanpa membawa Allah ke dalam ceritanya. Yang gagal di sini rencana yang tidak punya cacat teknis satu pun.
- Kata menguji dipakai untuk dua pihak sekaligus. Allah menyamakan keduanya. Yang dahulu dan yang sekarang. Kata untuk menguji cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 7:168. Di tempat yang satu lagi alat ujinya disebut, yaitu kebaikan dan keburukan, dan tujuannya juga disebut. Di ayat ini keduanya dibiarkan kosong. Allah menyamakan dua zaman dengan satu kata kerja tanpa menerangkan isinya, sehingga yang mengisi kekosongan itu kisah yang menyusul, bukan keterangan tambahan.
- Rangkaian kata yang dipakai di sini muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:82, 36:55, dan 46:14, dan dua belas di antaranya berbicara tentang penghuni taman di akhirat. Cuma ayat ini yang memakainya untuk pemilik kebun di dunia. Allah memakai satu nama untuk yang kekal dan untuk yang habis dalam semalam. Yang membedakan bukan kata-katanya, melainkan kalimat di sekitarnya. Pembaca yang menghafal kata tanpa membaca kalimatnya akan salah tempat pada ayat pertama kisah ini.
- Kata untuk pagi hari yang dipakai di sini muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21. Di luar surah ini ketiganya menandai pagi sesudah suatu kaum ditumpas. Mereka memilih kata itu untuk waktu panen mereka. Yang mereka tetapkan sebagai waktu keuntungan justru kata yang di tempat lain menandai waktu perhitungan. Allah tidak perlu memberi isyarat apa pun tentang akhir kisah ini, sebab pilihan katanya sudah mengerjakannya.
- Di mana kebunnya? Kapan kejadiannya? Berapa orang pemiliknya, dan siapa nama mereka? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma perbuatan dan waktunya. Kekosongan itu bukan karena keterangannya hilang, melainkan karena kisah yang diberi nama dan tempat akan berhenti sebagai riwayat satu keluarga di satu negeri. Kisah tanpa nama menempel pada siapa saja yang membacanya, dan ayat ini sudah menyatakan sejak kalimat pertamanya bahwa itulah yang dikehendaki.