وَلَا يَسْتَثْنُونَ

Dan mereka tidak mengucapkan pengecualian.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا يَسْتَثْنُونَwa-laa yastatsnuunadan mereka tidak mengucapkan pengecualian

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَسْتَثْنُونَyastatsnuunamengucapkan pengecualian

Inti bacaan

Kelalaian spiritual dalam perencanaan: 'mereka tidak mengucapkan pengecualian (insya Allah)', pengabaian terhadap kebiasaan menyandarkan rencana pada kehendak yang lebih besar, kesombongan implisit dalam kepastian mutlak terhadap hasil yang direncanakan sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(insya Allah)' tidak dipakai: spesifikasi jenis pengecualian tidak eksplisit di teks Arab.

Kata (يَسْتَثْنُونَ, yastatsnuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:18. Seluruh ayatnya cuma dua kata, dan yang pertama gabungan huruf sambung dengan huruf ingkar. Jadi yang menanggung isi ayat ini praktis satu kata saja, dan kata itu tidak dipakai lagi di mana pun.

Di surah ini ada lima ayat yang cuma dua kata, yaitu 68:5, 68:6, 68:18, 68:20, dan 68:21. Tiga di antaranya berada di dalam kisah kebun. Ayat pendek dipakai di tempat yang perpindahannya cepat, dan bagian kisah ini memang berpindah cepat dari rencana ke akibat tanpa singgah di mana-mana.

Kata kerjanya tidak punya objek. Apa yang tidak mereka kecualikan tidak disebut, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Terjemahan menahan kekosongan itu dengan 'tidak mengucapkan pengecualian' dan tidak menyisipkan kalimat yang lazim diucapkan orang untuk menyandarkan rencana pada kehendak Allah, sebab kalimat tersebut tidak ada di ayatnya. Menyisipkannya akan mengubah ayat yang menyebut ketiadaan menjadi ayat yang menyebut satu kalimat tertentu.

Akar kata yang dipakai berarti melipat atau menekuk, dan dari akar itu lahir kata untuk mengecualikan. Mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya. Sumpah mereka tidak ditekuk sedikit pun. Ia lurus dari ujung ke ujung, dan justru kelurusan itu yang dicatat sebagai kekurangannya.

Bentuk kata kerjanya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpah di ayat sebelumnya memakai bentuk yang sudah lewat. Perbedaan bentuk itu memindahkan bacaannya. Yang direkam bukan bahwa pada satu malam mereka lupa, melainkan bahwa begitulah kebiasaan mereka. Kelalaian satu malam masih bisa dibaca sebagai kekhilafan, sedangkan kebiasaan tidak bisa dibaca begitu.

Letaknya disisipkan di antara dua hal yang sebenarnya bisa langsung bersambung. Di 68:17 ada sumpah dan rencana, dan di 68:19 ada bencana. Ayat ini berdiri di antara keduanya, dan isinya bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan. Al-Qur'an memberi tempat tersendiri kepada sesuatu yang tidak terjadi, dan tempat itu persis di antara sebab dan akibat.

Huruf (وَ, wa) di awalnya menyambungkan ayat ini ke sumpah tadi, bukan memulai kalimat yang berdiri sendiri. Jadi ini bagian dari gambaran sumpah itu, bukan keterangan tambahan yang terpisah. Sumpah mereka utuh justru karena tidak ada yang disisakan di dalamnya, dan keutuhan itulah yang sedang dilaporkan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kalimat apa yang seharusnya diucapkan, tidak disebut kepada siapa diucapkan, dan tidak disebut apakah mereka sadar ada yang kurang. Ayat sependek ini menyebut satu hal saja, dan hal itu berupa sesuatu yang tidak ada.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kelalaian pemilik kebun menyisihkan hak Allah dalam sumpah mereka.

Ayat dua kata ini menyebut sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan letaknya persis di antara rencana dan akibat.

Kata (يَسْتَثْنُونَ, yastatsnuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:18. Kata kerjanya tidak punya objek, sehingga apa yang tidak mereka kecualikan tidak disebut dan tidak pernah dilengkapi di ayat sesudahnya.

Terjemahan menahan kekosongan itu dan tidak menyisipkan kalimat yang lazim diucapkan orang untuk menyandarkan rencana pada kehendak Allah, sebab kalimat tersebut tidak ada di ayatnya. Akar katanya berarti melipat, dan mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya; sumpah mereka tidak ditekuk sedikit pun.

Bentuk kata kerjanya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpah di ayat sebelumnya sudah lewat, sehingga yang direkam kebiasaan dan bukan kelalaian satu malam. Huruf di awalnya menyambungkan ayat ini ke sumpah tadi, jadi ini bagian dari gambaran sumpahnya. Di surah ini ada lima ayat yang cuma dua kata, yaitu 68:5, 68:6, 68:18, 68:20, dan 68:21, dan tiga di antaranya berada di dalam kisah kebun.

Letaknya pun berarti. Ayat ini disisipkan di antara dua hal yang sebenarnya bisa langsung bersambung, yaitu sumpah di 68:17 dan bencana di 68:19, dan isinya bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut yang tidak diucapkan, bukan yang diucapkan. Satu kalimat kecil yang hilang. Akibatnya besar. Ayatnya sendiri cuma dua kata, dan salah satunya gabungan huruf sambung dengan huruf ingkar. Jadi ayat terpendek di bagian ini dipakai untuk melaporkan hal terkecil yang bisa dilaporkan, yaitu sesuatu yang tidak diucapkan. Ukuran ayatnya sejalan dengan ukuran yang dilaporkannya. Namun letaknya tidak kecil sama sekali, sebab ia dipasang persis di antara rencana yang rapi dan bencana yang menghabiskannya.
  • Isi pengecualiannya tidak dirinci. Cuma disebut mereka tidak mengucapkannya. Bentuknya dibiarkan terbuka. Kata kerjanya tidak punya objek, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Membiarkannya terbuka menjaga ayat ini tetap berbicara tentang sikap, bukan tentang satu kalimat yang harus dihafal. Kalau kalimatnya disebutkan, yang tertinggal kelak cuma bunyinya. Yang dilaporkan Allah bukan kelalaian menyebut rumusan, melainkan ketiadaan ruang di dalam kepala mereka bagi sesuatu yang bukan keputusan mereka sendiri.
  • Sumpah mereka penuh kepastian, dan itu masalahnya. Allah menyebut celah yang tidak mereka sisakan. Yakin tanpa menyisakan ruang. Akar kata yang dipakai berarti melipat atau menekuk, dan mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya. Sumpah mereka lurus dari ujung ke ujung. Bentuk kata kerjanya pun menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpahnya memakai bentuk yang sudah lewat, sehingga yang dilaporkan bukan satu malam melainkan kebiasaan. Kekhilafan sesaat masih bisa dimaklumi; watak yang tetap tidak diperlakukan sama.
  • Rencana ada di 68:17 dan bencana ada di 68:19. Keduanya bisa bersambung langsung tanpa kehilangan apa-apa sebagai cerita. Allah menyisipkan satu ayat di antaranya, dan isi ayat itu bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan. Memberi tempat tersendiri kepada sesuatu yang tidak terjadi berarti menyatakan bahwa di situlah letak perkaranya. Yang menghubungkan sebab dan akibat di kisah ini bukan apa yang mereka kerjakan, melainkan apa yang tidak ada pada mereka.
  • Kata kerja ayat ini tidak dipakai lagi di seluruh Al-Qur'an. Padahal yang dibicarakannya perkara yang paling sehari-hari, yaitu menyisakan ruang ketika menyebutkan rencana. Allah memakai kata sekali pakai untuk urusan yang berulang setiap hari pada setiap orang. Kata yang tidak punya pasangan menahan pembaca dari melewatinya sebagai kalimat yang sudah dikenalnya. Ia harus berhenti pada dua kata ini, dan berhenti memang yang dituntut isinya.
  • Kalimat apa yang seharusnya mereka ucapkan? Kepada siapa? Dan apakah mereka sendiri sadar ada yang kurang? Ayatnya tidak menjawab satu pun. Kalau jawabannya disebutkan, yang tersisa pada pembaca kelak cuma rumusan yang bisa diucapkan tanpa dipikirkan, dan rumusan yang diucapkan tanpa dipikirkan tidak berbeda dari tidak mengucapkannya. Allah menyebut ketiadaannya dan menahan isinya, sehingga yang dituntut sikapnya dan bukan bunyinya.