فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ

Maka kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَfa-thaafa 'alayhaa thaa'ifun min rabbika wa-hum naa'imuunamaka kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَطَافَfa-thaafamaka menimpa
  2. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  3. طَائِفٌthaa'ifunbisikan
  4. مِنْmindari
  5. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  6. وَهُمْwa-humdan mereka
  7. نَائِمُونَnaa'imuunaorang-orang yang tidur

Inti bacaan

Kejutan bencana yang datang di saat lengah: 'kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur', momentum konsekuensi yang datang justru saat kewaspadaan paling rendah, pengingat bahwa perencanaan matang tidak menjamin kekebalan dari faktor tak terduga.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَطَافَ, fa-thaafa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:19. Kata (طَائِفٌ, thaa'if) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:201 dan 68:19. Keduanya dari akar yang sama, dan ayat ini memakai keduanya berturut-turut di dalam satu kalimat yang pendek.

Kedua tempat yang memakai kata benda itu berlawanan arah. Di 7:201 yang berkeliling datang dari setan dan mengenai orang yang bertakwa, lalu mereka ingat dan seketika melihat. Di 68:19 ia datang dari Tuhanmu dan mengenai kebun, sedangkan pemiliknya sedang tidur dan tidak tahu apa-apa. Satu kata yang sama, dua sumber yang berlawanan, dan dua akibat yang berlawanan juga. Yang satu membangunkan kesadaran, yang lain justru datang ketika kesadaran sedang padam.

Kata (نَائِمُونَ, naa'imuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:97 dan 68:19. Di 7:97 pertanyaannya apakah penduduk negeri merasa aman dari azab yang datang kepada mereka di malam hari ketika mereka sedang tidur. Jadi di dua tempat itu tidur bukan sekadar keterangan waktu, melainkan keadaan ketika pukulan jatuh. Al-Qur'an tidak memakai kata tersebut untuk tidur yang biasa.

Rangkaian (مِنْ رَبِّكَ, min rabbika) memakai kata ganti 'mu', bukan 'mereka'. Padahal yang sedang diceritakan pemilik kebun, dan mereka bukan lawan bicara ayat ini. Al-Qur'an berpindah sebentar dari cerita kepada orang yang sedang diajaknya bicara, lalu kembali lagi ke ceritanya. Perpindahan itu menahan kisahnya dari berdiri sendiri sebagai berita tentang orang lain di zaman lain.

Terjemahan memilih 'bencana' untuk kata bendanya, dan pilihan itu menerangkan akibatnya tetapi kehilangan gambaran aslinya. Kata Arabnya berarti sesuatu yang berkeliling atau berputar mengitari. Yang dilukiskan ayatnya sesuatu yang mengelilingi kebun itu, bukan sesuatu yang jatuh menimpanya dari atas. Menahan gambaran tersebut di dalam bahasa Indonesia menuntut kalimat yang jauh lebih panjang, dan terjemahan mendahulukan hasil yang terbaca daripada gambaran yang utuh.

Kata kerja dan kata bendanya seakar dan berdampingan, susunan yang menguatkan tanpa menambah keterangan. Bahasa Arab memakai susunan seperti itu untuk menegaskan, dan bahasa Indonesia tidak punya padanan yang selancar itu. Terjemahan melewatinya, dan yang hilang bukan makna melainkan tekanannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut bencananya berupa apa, tidak disebut berapa lama berlangsungnya, dan tidak disebut apakah ada yang terbangun. Yang disebut cuma arah datangnya dan keadaan mereka. Ayat sesudahnya pun langsung meloncat ke hasilnya, sehingga bagian tengah kisah ini memang sengaja dikosongkan.

Tafsiran

Ayat ini mencatat bencana menimpa kebun saat pemiliknya lengah tertidur.

Ayat ini menyebut datangnya bencana pada waktu pemilik kebun sedang tidur, dan menyebut arah datangnya dengan terang.

Kata (فَطَافَ, fa-thaafa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:19. Kata (طَائِفٌ, thaa'if) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:201 dan 68:19. Kedua tempat itu berlawanan arah: di 7:201 yang berkeliling datang dari setan dan mengenai orang bertakwa lalu mereka ingat, sedangkan di sini ia datang dari Tuhanmu dan mengenai kebun ketika pemiliknya tidur.

Kata (نَائِمُونَ, naa'imuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:97 dan 68:19, dan di kedua tempat itu tidur menjadi keadaan ketika pukulan jatuh. Kata ganti 'mu' pada 'dari Tuhanmu' berpindah sebentar dari cerita kepada lawan bicara ayatnya, lalu kembali lagi.

Terjemahan memilih 'bencana' dan dengan itu kehilangan gambaran aslinya, sebab kata Arabnya berarti sesuatu yang berkeliling mengitari, bukan sesuatu yang jatuh dari atas. Kata kerja dan kata bendanya seakar dan berdampingan, susunan yang menegaskan tanpa menambah keterangan, dan bahasa Indonesia tidak punya padanan yang selancar itu.

Tidak disebut bencananya berupa apa, tidak disebut berapa lama berlangsungnya, dan tidak disebut apakah ada yang terbangun. Ayat sesudahnya langsung meloncat ke hasilnya, sehingga bagian tengah kisah ini memang sengaja dikosongkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut waktunya saat mereka tidur. Bukan saat berjaga. Saat paling lengah. Kata untuk tidur di ayat ini cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang satu lagi di 7:97, yaitu ketika azab datang kepada penduduk negeri pada malam hari. Kedua tempat itu memakainya untuk keadaan yang sama, yaitu saat pukulan jatuh. Tidur di dalam Al-Qur'an tidak pernah disebut sebagai istirahat yang biasa ketika kata ini yang dipakai. Ia selalu jadi ukuran bagi jarak antara merasa aman dan benar-benar aman.
  • Mereka sudah merencanakan semalam sebelumnya. Rencananya matang. Tidurnya nyenyak. Tidur nyenyak itu buah dari rencana yang rapi, bukan lawannya. Karena semuanya sudah diatur semalam sebelumnya, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan sampai pagi. Kematangan rencana menghasilkan ketenangan, dan ketenangan itulah yang membuat mereka tidak terjaga. Allah menaruh peristiwanya persis di jam ketika kerja mereka sudah selesai dan hasilnya dianggap tinggal diambil.
  • Bencananya disebut Allah dari Tuhanmu. Bukan kebetulan cuaca. Yang direncanakan tidak menjamin apa-apa. Arah datangnya disebut dengan kata ganti 'mu', bukan 'mereka', padahal yang diceritakan pemilik kebun. Al-Qur'an berpindah sebentar kepada orang yang sedang diajaknya bicara, lalu kembali ke ceritanya. Perpindahan itu menahan kisahnya dari terbaca sebagai berita tentang orang lain di zaman lain. Yang dijelaskan bukan cuma bahwa kebun itu habis, melainkan dari mana datangnya, dan keterangan tentang arah inilah yang membuatnya bukan kecelakaan.
  • Kata yang dipakai untuk bencana di sini cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an. Yang satu lagi di 7:201, dan di sana yang berkeliling datang dari setan lalu orang bertakwa ingat dan seketika melihat. Di ayat ini ia datang dari Allah dan yang dikenainya orang yang tertidur. Kata yang sama membangunkan di satu tempat dan datang ketika mata terpejam di tempat lain. Yang menentukan bukan katanya, melainkan siapa yang mengirimnya dan dalam keadaan apa orangnya.
  • Kata Arabnya berarti sesuatu yang berputar mengitari, bukan sesuatu yang jatuh dari atas. Terjemahan memilih 'bencana' supaya akibatnya terbaca, dan dengan itu gambaran berkelilingnya hilang. Yang dilukiskan aslinya sesuatu yang mengitari kebun itu sampai selesai, bukan satu pukulan yang mendarat sekali. Kata kerja dan kata bendanya pun seakar dan berdampingan, susunan yang menegaskan tanpa menambah keterangan baru sedikit pun.
  • Bencananya berupa apa? Berapa lama berlangsung? Adakah yang sempat terbangun? Ayatnya tidak menjawab, dan ayat sesudahnya langsung meloncat ke hasilnya. Allah menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu membiarkan jaraknya kosong. Mengisi kekosongan itu dengan rupa bencana tertentu akan memindahkan perhatian pembaca kepada peristiwanya. Yang dikehendaki bukan itu, sebab kisah ini sejak 68:17 sudah dinyatakan sebagai pembanding, bukan sebagai laporan kejadian.