فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

Maka jadilah ia seperti yang telah dipetik habis.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِfa-ashbahat ka-sh-shariimimaka jadilah ia seperti yang telah dipetik habis

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَأَصْبَحَتْfa-ashbahatmaka jadilah ia
  2. كَالصَّرِيمِka-sh-shariimiseperti malam yang gelap

Inti bacaan

Kehancuran total yang instan: 'jadilah ia seperti (kebun) yang telah dipetik (gelap)', transformasi drastis dari harapan panen melimpah menjadi kehancuran gelap dalam semalam, kontras tajam antara rencana dan realitas.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kebun)' dan '(gelap)' tidak dipakai: dipilih satu makna literal 'dipetik habis' tanpa menggabungkan dua kemungkinan tafsir dalam kurung.

Kata (فَأَصْبَحَتْ, fa-ashbahat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20. Kata (كَالصَّرِيمِ, kash-shariim) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20. Seluruh ayatnya cuma dua kata, dan dua-duanya tidak dipakai lagi di tempat lain mana pun.

Kedua kata itu bukan kata asing bagi kisahnya. Yang pertama seakar dengan (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) yang dipakai di 68:17 dan 68:21, yaitu kata untuk pagi hari. Yang kedua seakar dengan (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) di 68:17, yaitu kata dari sumpah mereka sendiri. Jadi dua kata yang melukiskan kerugian mereka diambil dari dua kata yang mereka pakai untuk merencanakan keuntungan.

Mereka bersumpah akan memetik kebun itu pada pagi hari. Yang terjadi, kebunnya sendiri menjadi seperti yang sudah dipetik, dan itu pun pada pagi hari. Kata kerja sumpahnya kembali sebagai gambaran kehilangannya, dan kata waktu rencananya kembali sebagai kata waktu akibatnya. Susunan seperti itu tidak menambah satu keterangan baru pun; ia cuma memulangkan kata-kata mereka kepada mereka.

Akar kata yang kedua berarti memotong atau memetik sampai putus. Bentuk yang dipakai di sini bisa menunjuk sesuatu yang telah dipotong. Sebagian penerjemah membacanya sebagai malam yang gelap, sebab malam dipandang terpotong dari siang. Terjemahan di sini memilih 'yang telah dipetik habis' karena bacaan itulah yang menyambung ke sumpah di 68:17 dan ke kata yang dipakai lagi di 68:22.

Kata kerja pertamanya menunjuk pelaku perempuan tunggal, dan yang dimaksud kebunnya. Pemiliknya tidak disebut sama sekali di ayat ini, padahal merekalah yang tadi bersumpah dan sekarang sedang tidur. Ayat ini memindahkan sorotan sepenuhnya kepada benda yang mereka rencanakan, dan orangnya baru muncul lagi di 68:21.

Huruf (فَ, fa) di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul. Antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di 68:20 tidak ada jeda yang diceritakan sama sekali. Prosesnya dilewati seluruhnya. Al-Qur'an menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu membiarkan pembaca sendiri yang menempuh jarak di antara keduanya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa. Perbandingannya pun dipakai tanpa penjelasan tambahan, yaitu 'seperti yang telah dipetik habis'. Yang membaca diberi hasil akhirnya dan tidak diberi jalan menuju ke sana, sehingga ia berhenti pada akibatnya dan bukan pada peristiwanya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kebun yang berubah total, habis tak bersisa.

Ayat dua kata ini menutup bagian pertama kisah kebun dengan menyebut hasilnya saja, tanpa prosesnya.

Kata (فَأَصْبَحَتْ, fa-ashbahat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20, dan kata (كَالصَّرِيمِ, kash-shariim) juga cuma di 68:20. Namun keduanya bukan kata asing bagi kisahnya: yang pertama seakar dengan kata untuk pagi hari yang dipakai di 68:17 dan 68:21, dan yang kedua seakar dengan kata dari sumpah mereka di 68:17.

Mereka bersumpah akan memetik kebunnya pada pagi hari, dan yang terjadi kebunnya sendiri menjadi seperti yang telah dipetik, pada pagi hari juga. Kata kerja sumpah dan kata waktu rencana mereka kembali sebagai gambaran akibatnya.

Akar kata yang kedua berarti memotong sampai putus. Sebagian penerjemah membacanya sebagai malam yang gelap; terjemahan di sini memilih 'yang telah dipetik habis' karena bacaan itu menyambung ke 68:17 dan ke 68:22. Kata kerjanya menunjuk kebun, bukan pemiliknya, dan pemiliknya baru muncul lagi di 68:21.

Huruf di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul, sehingga antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di sini tidak ada jeda yang diceritakan. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut hasilnya, bukan prosesnya. Sudah habis. Bagaimananya tidak diceritakan. Huruf di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul, sehingga antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di sini tidak ada jeda yang diceritakan sama sekali. Prosesnya dilewati seluruhnya. Allah menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu meninggalkan jarak di antaranya tanpa isi. Cerita yang melompat begitu memindahkan perhatian dari peristiwanya kepada akibatnya, dan akibatnya memang yang dipakai kisah ini sebagai pembanding.
  • Semalam saja jaraknya. Rencananya kemarin. Kebunnya pagi ini. Kata kerja pertama ayat ini seakar dengan kata untuk pagi hari yang mereka pakai sendiri di 68:17 ketika bersumpah. Pagi yang mereka tetapkan sebagai waktu panen datang tepat pada waktunya, dan yang berubah bukan waktunya melainkan isinya. Jarak antara rencana dan hasilnya cuma satu malam, dan malam itu mereka lewati dengan tidur. Semua yang mereka atur tetap berlaku kecuali satu hal yang tidak pernah mereka masukkan ke dalam hitungan.
  • Perbandingannya dipakai Allah, bukan keterangan langsung. Seperti yang dipetik habis. Yang membaca membayangkan sendiri. Perbandingannya dipakai tanpa penjelasan tambahan, dan kata yang dipakai untuk membandingkan pun tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa. Allah memberi hasil akhirnya dan menahan jalan menuju ke sana. Pembaca yang membayangkan sendiri akan berhenti pada akibat yang dibayangkannya, dan di situlah kisah ini bekerja.
  • Kata yang dipakai untuk melukiskan keadaan kebun itu seakar dengan kata kerja yang mereka pakai dalam sumpah di 68:17. Mereka bersumpah akan memetiknya; kebun itu menjadi seperti yang telah dipetik. Allah tidak memakai kata baru untuk menyebut kerugian mereka. Yang dipakai kata mereka sendiri, dikembalikan dengan pelaku yang berbeda. Balasan yang memakai kata orangnya sendiri tidak menuntut penjelasan tambahan apa pun untuk dipahami.
  • Ayat ini cuma dua kata, dan dua-duanya tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Namun keduanya seakar dengan kata yang sudah dipakai di dalam kisah yang sama, satu dengan kata untuk pagi hari di 68:17 dan 68:21, satu lagi dengan kata dari sumpah mereka. Jadi kebaruannya cuma pada bentuknya. Bahannya sudah ada sejak kalimat pertama kisah ini, dan yang berubah cuma siapa yang mengerjakan dan siapa yang dikenai.
  • Siapa yang sedang dibicarakan ayat ini? Bukan pemiliknya. Kata kerjanya menunjuk kebun, dan pemiliknya tidak disebut satu kata pun, padahal merekalah yang tadi bersumpah dan sekarang sedang tidur. Allah memindahkan sorotan sepenuhnya kepada benda yang mereka rencanakan, dan mereka baru muncul lagi di 68:21 ketika saling memanggil. Orang yang menghilang dari kalimat tentang miliknya sendiri sedang digambarkan sebagai orang yang tidak berperan apa-apa atas miliknya.