فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ

Lalu mereka saling memanggil pada pagi hari,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَfa-tanaadaw mushbihiinalalu mereka saling memanggil pada pagi hari

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَتَنَادَوْاfa-tanaadawlalu mereka saling memanggil
  2. مُصْبِحِينَmushbihiinadi waktu pagi

Inti bacaan

Kesiapan yang penuh percaya diri: 'lalu mereka saling memanggil pada pagi hari', ironi persiapan bersemangat menuju kekecewaan yang belum mereka sadari, momen terakhir keyakinan sebelum kebenaran terungkap.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَتَنَادَوْا, fa-tanaadaw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:21. Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21. Seluruh ayatnya cuma dua kata, dan salah satunya kata yang sudah dipakai sebelumnya di dalam kisah yang sama.

Kata yang kedua itu yang mereka pakai sendiri ketika bersumpah di 68:17. Mereka bersumpah akan memetik pada pagi hari, dan pagi itu memang tiba tepat seperti yang mereka sebutkan. Al-Qur'an memakai kata yang persis sama untuk waktu rencana dan untuk waktu pelaksanaannya. Yang tidak berubah waktunya; yang berubah keadaan kebun mereka, dan perubahan itu sudah dilaporkan di 68:20 sebelum mereka membuka mata.

Bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang saling berbalas, sehingga bukan satu orang memanggil yang lain melainkan mereka saling bersahutan. Terjemahan menahan bentuk itu dengan 'saling memanggil'. Pola kata yang sama dipakai lagi di 68:23 untuk berbisik. Jadi dua ayat yang berdekatan memakai pola yang satu untuk dua tingkat suara yang berlawanan, dan yang berubah di antara keduanya cuma jaraknya dari kebun.

Urutan ayatnya menaruh kehancuran lebih dahulu, di 68:20, dan semangat mereka sesudahnya, di 68:21. Pembaca sudah tahu apa yang menanti, sedangkan pelakunya belum tahu apa-apa. Al-Qur'an bisa saja menceritakannya menurut urutan yang mereka alami, yaitu bangun, berangkat, lalu terkejut. Yang dipilih urutan yang lain, dan pilihan itulah yang membuat ayat sependek ini terbaca berat.

Yang mereka panggil satu sama lain, dan tidak ada satu kata pun tentang menyebut nama Allah pada pagi itu. Ketiadaan tersebut bukan simpulan pembaca, sebab di 68:28 nanti salah seorang di antara mereka sendiri yang menyebutkannya, ketika ia bertanya mengapa mereka tidak bertasbih. Jadi kisah ini menunjuk kekurangannya sendiri beberapa ayat kemudian, dan pembaca tidak diminta menebaknya.

Huruf (فَ, fa) di awalnya menyatakan urutan yang langsung menyusul, dan terjemahan memakai 'lalu' untuk menahan sambungan itu. Antara kebun yang sudah habis di 68:20 dan panggil-memanggil di 68:21 tidak ada jeda yang diceritakan. Dua keadaan yang berlawanan ditempelkan langsung tanpa satu kalimat penghubung pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang mereka serukan, tidak disebut berapa orang jumlah mereka, dan tidak disebut apakah ada di antaranya yang sempat menoleh ke arah kebun. Yang disebut cuma suara dan waktunya. Ayat berikutnya baru mengutip isi seruannya, sehingga ayat ini berdiri sebagai gambaran suasana, bukan sebagai laporan ucapan.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan pemilik kebun bergegas pada pagi hari dengan rencana rahasia mereka.

Ayat dua kata ini menggambarkan pagi keberangkatan mereka, dan letaknya persis sesudah laporan bahwa kebunnya sudah habis.

Kata (فَتَنَادَوْا, fa-tanaadaw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:21. Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21, dan kata itulah yang mereka pakai sendiri ketika bersumpah.

Pagi yang mereka sebutkan dalam sumpah tiba tepat pada waktunya. Yang tidak berubah waktunya, dan yang berubah keadaan kebunnya. Bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang saling berbalas, dan pola yang sama dipakai lagi di 68:23 untuk berbisik, sehingga dua ayat berdekatan memakai satu pola untuk dua tingkat suara yang berlawanan.

Urutan ayatnya menaruh kehancuran lebih dahulu dan semangat mereka sesudahnya, sehingga pembaca sudah tahu sedangkan pelakunya belum. Yang mereka panggil satu sama lain, dan tidak ada sebutan nama Allah pada pagi itu; kekurangan tersebut ditunjuk sendiri oleh kisahnya di 68:28. Tidak disebut apa yang mereka serukan, tidak disebut berapa orang jumlah mereka, dan tidak disebut apakah ada di antaranya yang sempat menoleh ke arah kebun.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka bersemangat, kebunnya sudah habis semalam. Allah menaruh kehancurannya lebih dulu. Semangatnya belakangan. Kata untuk pagi di ayat ini sama persis dengan kata yang mereka pakai sendiri ketika bersumpah di 68:17. Waktu yang mereka tetapkan datang tepat pada janjinya, dan tidak ada yang meleset dari perhitungan mereka kecuali satu hal yang tidak pernah masuk hitungan. Yang menepati janji justru waktunya, bukan hasilnya. Kesetiaan pagi itu pada jadwal mereka yang membuat ayat ini terbaca pahit, sebab yang meleset bukan waktunya melainkan anggapan bahwa waktu yang tepat sudah cukup.
  • Yang mereka panggil satu sama lain, bukan Tuhan. Bukan berdoa. Saling membangunkan. Ketiadaan sebutan nama Allah di sini bukan bacaan yang ditambahkan pembaca. Kisahnya sendiri yang menunjuknya di 68:28, ketika salah seorang di antara mereka bertanya mengapa mereka tidak bertasbih. Jadi ayat ini menyimpan satu kekosongan yang baru diberi nama tujuh ayat kemudian, oleh mulut orang yang ikut berangkat pagi itu, bukan oleh suara dari luar cerita. Kekosongan yang ditunjuk dari dalam lebih sulit dibantah daripada yang ditunjuk dari luar.
  • Pembaca sudah tahu, pelakunya belum. Allah menyusunnya begitu. Ironinya lahir dari urutan itu. Kisah ini bisa saja disusun menurut urutan yang mereka alami, yaitu bangun, berangkat, lalu terkejut. Allah memilih menaruh kehancurannya lebih dahulu di 68:20. Susunan itu memindahkan kedudukan pembaca dari ikut terkejut menjadi menyaksikan orang lain berjalan menuju kejutannya. Yang dibangun bukan ketegangan tentang apa yang terjadi, melainkan tentang bagaimana mereka akan menerimanya.
  • Ayat ini cuma dua kata. Satu di antaranya tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, dan satu lagi kata yang sudah dipakai empat ayat sebelumnya di dalam kisah yang sama. Allah tidak memperkenalkan kosakata baru untuk menggambarkan pagi mereka. Yang dipakai kata yang sudah ada di mulut mereka sendiri. Kisah yang memakai ulang kata pelakunya membuat pembaca mengukur jarak antara ucapan dan keadaan tanpa perlu diberi tahu.
  • Bentuk kata kerja di sini menyatakan perbuatan yang saling berbalas, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 68:23 untuk berbisik. Di ayat ini mereka bersahutan keras, dan dua ayat kemudian mereka merendahkan suara. Pola katanya tidak berubah, dan yang berubah cuma volumenya. Allah memakai satu pola untuk dua tingkat suara yang berlawanan, dan jarak mereka dari kebun yang menerangkan sebab perbedaannya.
  • Mengapa kehancurannya diberitahukan lebih dahulu, di 68:20, bukan pada saat mereka menemukannya? Kalau urutannya mengikuti pengalaman mereka, pembaca akan ikut terkejut bersama mereka. Allah menutup pintu itu. Pembaca ditempatkan di luar, mengetahui akhirnya, lalu menonton orang berjalan dengan semangat menuju sesuatu yang sudah selesai. Kisah yang dibalik begitu tidak lagi menguji tebakan; ia menguji cara membaca kepercayaan diri.