أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ

“Pergilah pagi-pagi ke kebun kalian jika kalian hendak memetik.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَani ghduu 'alaa hartsikum in kuntum shaarimiina'pergilah pagi-pagi ke kebun kalian jika kalian hendak memetik'

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَنِaniyaitu
  2. اغْدُواghduuberangkatlah kalian
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. حَرْثِكُمْhartsikumladang kalian
  5. إِنْinjika
  6. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  7. صَارِمِينَshaarimiinaorang-orang yang memetik

Inti bacaan

Instruksi yang penuh antisipasi: 'pergilah pagi-pagi ke kebun kalian jika kalian hendak memetik', kepercayaan diri penuh terhadap rencana yang sudah diatur rapi, tanpa kesadaran bahwa segalanya sudah berubah.

Penjelasan pilihan kata

Kata (اغْدُوا, ughduu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Kata (حَرْثِكُمْ, hartsikum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Kata (صَارِمِينَ, shaarimiin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Satu ayat enam kata yang memuat tiga kata sekali pakai sekaligus, dan ketiganya ada di dalam ucapan mereka sendiri.

Yang diucapkan mereka sebut 'ladang kalian', sedangkan kisahnya di 68:17 menyebut tempat yang sama dengan kata untuk taman. Kata yang mereka pakai kata untuk tanah garapan, yaitu tempat yang ditanami dan dipanen. Jadi tempat yang satu punya dua nama di dalam kisah yang sama, satu dari suara yang menceritakan dan satu dari mulut pemiliknya. Yang menyebutnya taman menyebut keindahannya; yang menyebutnya ladang menyebut hasilnya.

Kata terakhir seakar dengan kata kerja yang mereka pakai dalam sumpah di 68:17 dan dengan kata yang melukiskan keadaan kebun di 68:20. Jadi akar yang sama muncul tiga kali di dalam kisah ini, yaitu pada sumpah mereka, pada gambaran kerugiannya, dan pada seruan pagi ini. Ketika kata itu diucapkan untuk yang ketiga kalinya, hal yang dinamainya sudah terjadi pada mereka, bukan oleh mereka.

Susunan 'jika kalian hendak memetik' berbentuk syarat, dan syarat itu mereka pasang pada diri sendiri. Yang mereka anggap masih bisa dipilih justru bagian yang sudah tidak ada lagi. Terjemahan menahan bentuk syaratnya dan tidak mengubahnya menjadi kepastian, sebab justru bentuk syarat itu yang membuat ucapan mereka terbaca ganjil sesudah 68:20 dibaca.

Kata kerja pertamanya berbentuk perintah dan ditujukan kepada banyak orang. Mereka saling memerintah, bukan diperintah dari luar. Seluruh gerak mereka pagi itu digerakkan sesama mereka sendiri, dan tidak ada satu pun kalimat di dalam kisah ini yang menunjukkan mereka meminta izin atau menyebut kehendak yang lebih tinggi.

Huruf (أَنِ, ani) di awal ayat menyambungkan ucapan ini ke seruan di 68:21. Jadi ayat ini bukan kalimat baru, melainkan isi dari seruan yang tadi disebut tanpa isinya. Al-Qur'an memisahkan suara dan isinya ke dalam dua ayat, sehingga pembaca lebih dahulu mendengar ributnya, baru kemudian mengetahui apa yang diributkan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang berseru, tidak disebut kepada berapa orang, dan tidak disebut apakah ada yang menjawab. Ucapannya dikutip apa adanya tanpa satu pun keterangan tentang keadaan yang sebenarnya. Al-Qur'an membiarkan kalimat itu berdiri utuh dengan seluruh kepercayaan dirinya, dan tidak menyisipkan bantahan di dalamnya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat seruan mereka untuk bergegas ke kebun.

Ayat ini mengutip isi seruan mereka pada pagi hari, lengkap dengan syarat yang mereka pasang pada diri sendiri.

Kata (اغْدُوا, ughduu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Kata (حَرْثِكُمْ, hartsikum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Kata (صَارِمِينَ, shaarimiin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:22. Ayat enam kata ini memuat tiga kata sekali pakai sekaligus, dan ketiganya ada di dalam ucapan mereka.

Mereka menyebut tempat itu ladang, sedangkan kisahnya di 68:17 menyebutnya dengan kata untuk taman. Satu tempat, dua nama: yang satu menyebut keindahannya dan yang satu lagi menyebut hasilnya.

Kata terakhirnya seakar dengan kata kerja sumpah di 68:17 dan dengan kata yang melukiskan keadaan kebun di 68:20, sehingga akar yang sama muncul tiga kali di dalam kisah ini. Susunan syarat 'jika kalian hendak memetik' mereka pasang pada diri sendiri, padahal bagian itulah yang sudah tidak ada. Kata kerja pertamanya perintah kepada banyak orang, jadi mereka saling memerintah dan tidak ada kehendak yang lebih tinggi yang disebut. Tidak disebut siapa yang berseru dan apakah ada yang menjawab.

Renungan dan Hikmah

  • Ucapan mereka Allah kutip apa adanya. Penuh percaya diri. Padahal kebunnya sudah habis. Kata kerjanya berbentuk perintah kepada banyak orang, sehingga mereka saling memerintah dan bukan diperintah dari luar. Seluruh gerak pagi itu digerakkan sesama mereka sendiri. Tidak ada satu kalimat pun di sini yang menyebut izin atau kehendak yang lebih tinggi, dan ketiadaan itu baru diberi nama di 68:28 oleh salah seorang yang ikut berangkat, bukan oleh suara dari luar cerita.
  • Syarat yang mereka pasang justru sia-sia. Jika hendak memetik. Tak ada yang tersisa. Bentuk syaratnya mereka pasang pada diri sendiri, seakan yang menentukan tinggal kemauan mereka. Yang mereka anggap masih bisa dipilih justru bagian yang sudah tidak ada lagi sejak semalam. Terjemahan menahan bentuk syarat itu dan tidak mengubahnya menjadi kepastian, sebab kalimat bersyarat inilah yang terbaca ganjil begitu 68:20 sudah dibaca lebih dahulu oleh pembacanya.
  • Cara berangkatnya Allah sebut sesudahnya. Ajakannya dulu. Bisikannya kemudian. Ucapan ini dikutip apa adanya, utuh dengan seluruh kepercayaan dirinya, dan Allah tidak menyisipkan satu pun bantahan di dalamnya. Kalimat yang dibiarkan berdiri sendiri lebih tajam daripada kalimat yang langsung dikoreksi. Pembaca yang sudah membaca 68:20 mengerjakan koreksinya sendiri, dan koreksi yang dikerjakan sendiri tinggal lebih lama daripada yang disodorkan.
  • Mereka menyebutnya ladang, sedangkan kisahnya di 68:17 menyebut tempat yang sama dengan kata untuk taman. Nama yang keluar dari mulut pemiliknya menyebut hasil yang dipanen, dan nama yang dipakai Allah menyebut tempat yang tumbuh. Perbedaan nama itu memperlihatkan cara mereka memandang miliknya. Yang mereka lihat bukan sesuatu yang tumbuh dan diberi, melainkan sesuatu yang tinggal diambil pada waktu yang sudah mereka tetapkan. Nama yang dipakai seseorang untuk miliknya memberitahukan apa yang dianggapnya sebagai sumber milik itu.
  • Ayat enam kata ini memuat tiga kata yang tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya berada di dalam ucapan mereka sendiri. Bagian kisah yang paling padat kata sekali pakai justru bagian yang berisi kalimat manusia, bukan keterangan Allah tentang mereka. Ucapan yang direkam dengan kata-kata yang tak berulang di mana pun menahan pembaca dari menyamakannya dengan ucapan siapa pun yang lain. Allah bisa saja meringkas seruan itu menjadi satu keterangan, dan yang dipilih justru mengutipnya dengan kata-kata yang tidak berulang di mana-mana.
  • Kata terakhir ayat ini seakar dengan kata kerja sumpah mereka di 68:17 dan dengan kata yang melukiskan keadaan kebun di 68:20. Berapa kali sebuah kata boleh dipulangkan kepada orang yang mengucapkannya? Di kisah ini tiga kali, dan pada kali ketiga hal yang dinamainya sudah terjadi pada mereka, bukan oleh mereka. Allah tidak menambah keterangan apa pun; Dia cukup membiarkan mereka mengucapkannya sekali lagi, di pagi ketika kata itu sudah berpindah pemilik.