فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

Maka mereka berangkat sambil berbisik-bisik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَfa-nthalaquu wa-hum yatakhaafatuunamaka mereka berangkat sambil berbisik-bisik

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَانْطَلَقُواfa-nthalaquumaka mereka berangkat
  2. وَهُمْwa-humdan mereka
  3. يَتَخَافَتُونَyatakhaafatuunamereka berbisik

Inti bacaan

Kehati-hatian yang menyingkap niat jahat: 'mereka berangkat sambil berbisik-bisik', perilaku diam-diam yang mengungkap kesadaran bahwa rencana mereka (menghalangi orang miskin) sesungguhnya tidak pantas dibicarakan terbuka.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَانْطَلَقُوا, fanthalaquu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:23. Kata (يَتَخَافَتُونَ, yatakhaafatuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 20:103 dan 68:23. Ayat ini cuma tiga kata, dan dua di antaranya menanggung seluruh isinya.

Tempat lain yang memakai kata kedua itu 20:103, dan di sana yang berbisik orang-orang pada hari kebangkitan, ketika mereka saling berkata bahwa mereka tinggal tidak lebih dari sepuluh. Di dua tempat itu yang berbisik sekelompok orang yang keliru menilai keadaan mereka sendiri. Yang satu keliru tentang lamanya waktu yang sudah lewat, dan yang satu lagi keliru tentang apa yang masih tersisa di ujung jalan. Bisikan di dalam Al-Qur'an tidak pernah menjadi tanda kehati-hatian yang membuahkan hasil.

Bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang saling berbalas, sama seperti bentuk yang dipakai di 68:21. Di sana mereka bersahutan pada pagi hari, dan di sini mereka merendahkan suara. Pola katanya tidak berubah, dan yang berubah cuma tingkat suaranya. Semakin dekat mereka ke tujuan, semakin pelan mereka berbicara, dan penurunan itu direkam dengan pola kata yang sama persis.

Merendahkan suara di jalan sepi tidak diperlukan kecuali ada yang tidak boleh mendengar. Ayat ini tidak menyebutkan siapa yang mereka hindari, dan isi bisikannya baru dikutip di 68:24. Jadi ayat ini melaporkan cara berbicaranya lebih dahulu, dan baru sesudahnya pembaca mengetahui apa yang membuat suara itu harus diturunkan.

Kata kerja pertamanya berarti berangkat dan melepaskan diri untuk pergi. Terjemahan memakai 'berangkat' saja, dan yang hilang gambaran melepaskan diri yang ada di dalam akar katanya. Menahan gambaran itu dalam bahasa Indonesia menuntut kalimat yang lebih panjang, sedangkan ayat aslinya justru sangat pendek. Terjemahan mendahulukan kependekan yang setara daripada kelengkapan gambaran.

Huruf (فَ, fa) di awalnya menyatakan urutan yang langsung menyusul seruan di 68:22. Antara ajakan dan keberangkatan tidak ada jeda yang diceritakan, dan tidak ada juga satu kalimat pun tentang persiapan atau perjalanan. Kisah ini bergerak dari suara ke gerak dan dari gerak ke ucapan tanpa singgah di mana-mana.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa jauh jalannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah mereka melihat sesuatu yang aneh dari kejauhan. Yang disebut cuma bahwa mereka berangkat dan bahwa suaranya diturunkan. Dua keterangan itu saja sudah cukup untuk memberi tahu pembaca bahwa ada sesuatu yang mereka sembunyikan, sebelum satu kata pun dari bisikan itu dikutip.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kerahasiaan rencana mereka.

Ayat tiga kata ini melaporkan cara mereka berjalan, dan cara itu sendiri sudah menerangkan isi kepala mereka.

Kata (فَانْطَلَقُوا, fanthalaquu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:23. Kata (يَتَخَافَتُونَ, yatakhaafatuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 20:103 dan 68:23. Di 20:103 yang berbisik orang-orang pada hari kebangkitan yang saling berkata bahwa mereka tinggal tidak lebih dari sepuluh, sehingga di dua tempat itu yang berbisik sekelompok orang yang keliru menilai keadaannya sendiri.

Bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang saling berbalas, sama seperti di 68:21. Di sana mereka bersahutan keras dan di sini mereka merendahkan suara, dengan pola kata yang sama. Semakin dekat ke tujuan, semakin pelan mereka berbicara.

Merendahkan suara tidak diperlukan kecuali ada yang tidak boleh mendengar, dan isi bisikannya baru dikutip di 68:24. Kata kerja pertamanya berarti berangkat sekaligus melepaskan diri untuk pergi, dan terjemahan memilih kependekan yang setara daripada kelengkapan gambaran. Tidak disebut berapa jauh jalannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah mereka melihat sesuatu yang aneh dari kejauhan.

Renungan dan Hikmah

  • Suaranya diturunkan sendiri oleh mereka. Allah merekam bisikannya. Bukan diperintah diam. Memilih berbisik. Tidak ada yang menyuruh mereka merendahkan suara. Jalan itu sepi dan tidak ada yang mendengar, sehingga penurunan suara di sana lahir dari dalam, bukan dari keadaan di luar. Bentuk kata kerjanya pun menyatakan perbuatan yang saling berbalas, sama seperti bentuk yang dipakai ketika mereka bersahutan keras di 68:21. Pola katanya tetap, dan yang berubah cuma volumenya seiring jarak mereka ke tujuan.
  • Yang berbisik tahu ucapannya tak pantas terdengar. Bukan rahasia dagang. Rahasia yang memalukan. Kata yang dipakai untuk berbisik di sini cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempat yang satu lagi 20:103, yaitu bisikan pada hari kebangkitan tentang berapa lama mereka tinggal. Di dua tempat itu yang berbisik sekelompok orang yang keliru menilai keadaan mereka sendiri. Al-Qur'an tidak pernah memakai kata ini untuk kehati-hatian yang membuahkan hasil, dan letak keduanya sama-sama sebelum kenyataan terbuka.
  • Bisikannya Allah kutip persis di ayat sesudahnya. Berbisiknya dulu. Isinya kemudian. Allah melaporkan cara berbicaranya lebih dahulu dan menahan isinya sampai ayat berikutnya. Susunan itu membuat pembaca lebih dahulu menilai sikapnya, baru kemudian menilai kalimatnya. Kalau isinya dikutip lebih dahulu, cara berbicaranya akan terbaca sebagai keterangan tambahan yang bisa dilewati. Dibalik seperti ini, suara yang diturunkan itu sendiri menjadi berita, dan isi bisikannya cuma menegaskan apa yang sudah terbaca.
  • Di 68:21 mereka bersahutan keras pada pagi hari, dan di ayat ini mereka merendahkan suara. Allah memakai pola kata yang sama untuk keduanya, sehingga yang dibandingkan benar-benar hal yang sejenis. Yang berubah cuma volumenya. Semangat yang ramai di depan rumah menjadi bisikan begitu kaki mendekat ke tujuannya, dan penurunan itu terjadi tanpa ada seorang pun di jalan yang perlu mereka hindari. Suara yang turun sendiri, tanpa sebab dari luar, menunjuk sesuatu di dalam.
  • Kata untuk berbisik di ayat ini cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang satu lagi di 20:103, yaitu ketika orang-orang pada hari kebangkitan saling berbisik bahwa mereka tinggal tidak lebih dari sepuluh. Di dua tempat itu yang berbisik orang yang salah menilai keadaannya sendiri. Yang satu salah menghitung waktu yang sudah lewat, dan yang satu lagi salah menghitung apa yang masih tersisa di ujung jalan.
  • Mengapa cara berbicaranya disebut lebih dahulu, dan isinya baru dikutip di ayat berikutnya? Kalau kalimatnya yang didahulukan, suara yang diturunkan akan terbaca sebagai keterangan sampingan. Allah membalik urutannya, sehingga sikapnya menjadi berita utama dan ucapannya menyusul sebagai penegasan. Pembaca sudah menyimpulkan ada sesuatu yang disembunyikan sebelum satu kata pun dari bisikan itu sampai kepadanya.