أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

“Jangan sampai pada hari ini ada orang miskin masuk ke dalamnya kepada kalian.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌan laa yadkhulannahaa l-yawma 'alaykum miskiinun'jangan sampai pada hari ini ada orang miskin masuk ke dalamnya kepada kalian'

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. أَنْanagar
  2. لَاlaajanganlah
  3. يَدْخُلَنَّهَاyadkhulannahaasungguh memasukinya
  4. الْيَوْمَl-yawmahari ini
  5. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  6. مِسْكِينٌmiskiinunorang miskin

Inti bacaan

Niat jahat yang terungkap eksplisit: 'jangan sampai pada hari ini ada orang miskin masuk ke dalamnya', pengungkapan motif sesungguhnya di balik kerahasiaan mereka, kesengajaan menghalangi hak kaum fakir yang biasanya mendapat bagian dari hasil panen.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menemui)' tidak dipakai, preposisi 'alaykum' diterjemahkan literal 'kepada kalian'.

Kata (مِسْكِينٌ, miskiin) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 11 surah, yaitu di 2:184, 17:26, 30:38, 58:4, 68:24, 69:34, 74:44, 76:8, 89:18, 90:16, dan 107:3. Hitungan itu memasukkan ujung kata yang berubah menurut kedudukannya dalam kalimat. Di sepuluh tempat selain ayat ini, yang dibicarakan memberi makan atau memberikan haknya, atau celaan karena tidak melakukannya. Cuma di ayat ini yang dibicarakan melarangnya masuk.

Kata bendanya tunggal dan tanpa kata sandang, sehingga yang dilarang bukan rombongan melainkan satu orang mana pun. Terjemahan memakai 'ada orang miskin' untuk menahan bentuk itu. Larangan yang disusun begitu tidak menyisakan celah bagi satu pengecualian pun, dan kerapiannya sebanding dengan kerapian rencana panen mereka.

Kata kerjanya memakai huruf penegas di ujungnya, yaitu penanda yang sama dengan yang dipakai pada sumpah mereka di 68:17. Jadi dua kalimat terpenting dari mulut mereka di dalam kisah ini sama-sama dikuatkan dengan penanda tersebut, yaitu janji akan memetik dan larangan agar tidak ada yang masuk. Tekad yang sama kuatnya dipakai untuk mengambil dan untuk menahan.

Kata (الْيَوْمَ, al-yauma) membatasi larangan itu pada hari tersebut saja. Mereka tidak menyatakan sikap tetap tentang orang yang membutuhkan; yang mereka atur cuma satu hari, yaitu hari ketika ada yang bisa diambil. Batas waktu itu justru memberatkan, sebab ia memperlihatkan bahwa larangannya bukan pendirian melainkan perhitungan.

Rangkaian 'kepada kalian' menempatkan kedatangan orang itu sebagai sesuatu yang menimpa mereka. Susunan bahasanya membalik kedudukan: yang datang membutuhkan digambarkan seakan mendatangi dan membebani, sedangkan yang punya digambarkan sebagai pihak yang perlu dilindungi. Terjemahan menahan susunan itu dengan 'masuk ke dalamnya kepada kalian' dan tidak meratakannya, sebab pembalikan tersebut bagian dari yang direkam.

Huruf (أَنْ, an) di awalnya menyambungkan kalimat ini ke bisikan di 68:23. Jadi inilah isi bisikan yang tadi cuma disebut caranya. Al-Qur'an mengutipnya persis, tanpa satu kata bantahan pun di dalam atau di sesudahnya. Kalimatnya dibiarkan berdiri utuh, dan pembaca yang sudah membaca 68:20 mengerjakan sendiri penilaiannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apakah selama ini memang ada yang datang, tidak disebut berapa banyak, dan tidak disebut apa yang biasanya mereka terima. Yang direkam cuma satu kalimat larangan. Kalimat itu sendiri yang memberi tahu bahwa kedatangan seperti itu sudah biasa, sebab orang tidak melarang sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Tafsiran

Ayat ini mengungkap niat jahat menghalangi orang miskin mendapat bagian dari kebun.

Ayat ini mengutip isi bisikan mereka, dan isinya berupa larangan yang ditujukan kepada satu orang mana pun yang membutuhkan.

Kata (مِسْكِينٌ, miskiin) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 11 surah, yaitu di 2:184, 17:26, 30:38, 58:4, 68:24, 69:34, 74:44, 76:8, 89:18, 90:16, dan 107:3. Di sepuluh tempat selain ayat ini yang dibicarakan memberi makan atau memberikan haknya, atau celaan karena tidak melakukannya, dan cuma di sini yang dibicarakan melarangnya masuk.

Kata bendanya tunggal dan tanpa kata sandang, sehingga yang dilarang bukan rombongan melainkan satu orang mana pun. Kata kerjanya memakai huruf penegas yang sama dengan yang dipakai pada sumpah mereka di 68:17, sehingga tekad yang sama kuatnya dipakai untuk mengambil dan untuk menahan.

Kata untuk hari ini membatasi larangan itu pada satu hari saja, yaitu hari ketika ada yang bisa diambil, sehingga larangannya terbaca sebagai perhitungan dan bukan pendirian. Rangkaian 'kepada kalian' menggambarkan kedatangan orang itu seakan menimpa mereka. Tidak disebut apakah selama ini memang ada yang datang, dan kalimat larangan itu sendiri yang memberitahukannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam niat mereka lengkap dengan kalimatnya. Bukan disimpulkan. Diucapkan sendiri. Kalimatnya dikutip utuh tanpa satu kata bantahan pun di dalamnya maupun sesudahnya. Allah tidak menilai ucapan itu di ayat ini, dan tidak juga menyisipkan keterangan tentang keadaan kebun yang sudah habis. Kalimat yang dibiarkan berdiri sendiri lebih berat daripada kalimat yang langsung dikoreksi, sebab pembaca mengerjakan penilaiannya sendiri dengan bekal yang sudah diberikan kepadanya di 68:20.
  • Yang dihalangi bukan pencuri, melainkan orang miskin. Yang datang bukan mengancam. Yang datang membutuhkan. Kata untuk orang miskin muncul sebelas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 17:26, 76:8, dan 107:3, dan di sepuluh tempat selain ayat ini yang dibicarakan memberi makan atau memberikan haknya, atau celaan karena tidak melakukannya. Cuma di sini kata itu muncul di dalam kalimat larangan. Satu tempat berdiri sendiri melawan sepuluh tempat lainnya, dan yang membuatnya berdiri sendiri bukan katanya melainkan kerja yang dilekatkan padanya.
  • Kalimat ini diucapkan saat berangkat, bukan saat sampai. Allah menaruh waktunya. Niatnya sudah lengkap sejak di jalan. Kata bendanya tunggal dan tanpa kata sandang, sehingga yang dilarang bukan rombongan melainkan satu orang mana pun. Larangan yang disusun begitu tidak menyisakan celah bagi satu pengecualian pun. Kerapiannya sebanding dengan kerapian rencana panen mereka, dan keduanya disiapkan pada malam yang sama. Yang tidak mereka siapkan cuma kemungkinan bahwa yang akan mereka jaga sudah tidak ada.
  • Kata kerja larangan ini memakai huruf penegas yang sama dengan yang dipakai pada sumpah mereka di 68:17. Dua kalimat terpenting dari mulut mereka di dalam kisah ini sama-sama dikuatkan dengan penanda itu, yaitu janji akan memetik dan larangan agar tidak ada yang masuk. Allah merekam keduanya dengan alat penegasan yang sama. Tekad untuk mengambil dan tekad untuk menahan ternyata satu tenaga yang sama, dipakai ke dua arah.
  • Larangan mereka dibatasi pada hari itu saja. Mereka tidak sedang menyatakan pendirian tentang orang yang membutuhkan; yang mereka atur cuma satu hari, yaitu hari ketika ada yang bisa diambil. Batas waktu itu justru memberatkan mereka. Sikap yang berubah menurut ada atau tidaknya sesuatu yang bisa hilang bukan sikap melainkan perhitungan, dan Allah merekam kata pembatas waktunya tanpa memberi satu pun keterangan tambahan.
  • Siapa yang sebenarnya sedang mereka lindungi? Susunan kalimatnya menempatkan orang yang datang membutuhkan sebagai sesuatu yang menimpa mereka, dan pemilik ladang sebagai pihak yang perlu dijaga. Pembalikan kedudukan itu ada di dalam susunan bahasanya, bukan ditambahkan pembaca. Terjemahan menahannya dan tidak meratakannya, sebab justru pembalikan inilah yang memperlihatkan bagaimana mereka memandang orang yang tidak punya apa-apa.