وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ
Dan mereka berangkat pada pagi hari dengan niat kuat menghalangi, merasa mampu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَwa-ghadaw 'alaa hardin qaadiriinadan mereka berangkat pada pagi hari dengan niat kuat menghalangi, merasa mampu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَغَدَوْاwa-ghadawdan mereka berangkat pagi
- عَلَىٰ'alaaatas
- حَرْدٍhardinkemarahan
- قَادِرِينَqaadiriinayang berkuasa
Inti bacaan
Kepercayaan diri berlebihan atas kendali: 'berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi. mereka mengira kuasa (melakukan hal itu)', ilusi kendali penuh atas rencana jahat, tanpa memperhitungkan kekuatan yang jauh melampaui kendali mereka.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(orang-orang miskin)' dan '(melakukan hal itu)' tidak dipakai. 'Hardin' (tekad/niat kuat menghalangi) dan 'qaadiriina' (merasa mampu) diterjemahkan lengkap tanpa restitusi objek tambahan.
Kata (وَغَدَوْا, wa-ghadaw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25. Kata (حَرْدٍ, hardin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25. Kata (قَادِرِينَ, qaadiriin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25 dan 75:4. Ayat empat kata ini memuat dua kata sekali pakai dan satu kata yang tempat keduanya jauh dari sini.
Tempat lain yang memakai kata terakhir itu 75:4, dan di sana yang disifati Allah sendiri, yaitu ketika Dia menyatakan kuasa menyusun kembali jari-jemari manusia. Di ayat ini kata yang sama dipakai untuk sekelompok orang yang berjalan menuju ladang yang sudah habis. Satu kata untuk dua pihak: yang benar-benar kuasa dan yang menyangka dirinya kuasa. Jarak antara dua pemakaian itu seluruh isi kisah ini.
Kata kerja pertamanya seakar dengan seruan mereka sendiri di 68:22. Di sana mereka menyuruh 'pergilah pagi-pagi', dan di sini dilaporkan bahwa mereka memang pergi pagi-pagi. Perintah mereka dipenuhi dengan tepat, dan yang memenuhinya mereka sendiri. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun tentang hasilnya di ayat ini; ia cuma mencatat bahwa apa yang mereka rencanakan berjalan persis seperti rencananya.
Kata (حَرْدٍ) tidak dipakai lagi di mana pun, dan itu membuat maknanya cuma bisa didekati dari susunan kalimatnya. Terjemahan memilih 'niat kuat menghalangi' karena kalimat sebelumnya, yaitu 68:24, memang berisi larangan agar tidak ada yang masuk. Jadi pilihan terjemahan di sini bersandar pada ayat tetangganya, bukan pada pemakaian kata itu di tempat lain, sebab tempat lain memang tidak ada.
Kata terakhir ayat ini berbentuk keterangan keadaan, sehingga ia melukiskan bagaimana mereka berangkat, bukan menyatakan bahwa mereka memang kuasa. Terjemahan memakai 'merasa mampu' untuk menahan perbedaan itu. Yang direkam sangkaan mereka tentang kekuatan sendiri, dan sangkaan itu ditaruh persis di ayat sebelum mereka melihat kenyataannya di 68:26.
Seluruh ayat ini menghadap ke depan, sedangkan pembaca sudah membaca 68:20. Tidak ada satu kata pun di sini yang menyiratkan keraguan. Al-Qur'an membiarkan gambaran percaya diri itu utuh sampai kata terakhirnya, dan baru ayat berikutnya yang memutusnya. Susunan seperti itu membuat titik putusnya jatuh di antara dua ayat, bukan di dalam salah satunya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa lama perjalanannya, tidak disebut apa yang mereka bicarakan di sisa jalan, dan tidak disebut kapan tepatnya mereka mulai bisa melihat ladangnya. Yang disebut cuma waktu berangkat, niat yang dibawa, dan perasaan mampu. Tiga keterangan itu semuanya tentang isi kepala mereka, dan tidak satu pun tentang keadaan yang sebenarnya di depan sana.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan keberangkatan penuh percaya diri yang akan segera terbantahkan.
Ayat ini menutup bagian keberangkatan dengan melukiskan perasaan mereka, tepat sebelum mereka melihat kenyataannya.
Kata (وَغَدَوْا, wa-ghadaw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25. Kata (حَرْدٍ, hardin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25. Kata (قَادِرِينَ, qaadiriin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:25 dan 75:4, dan di 75:4 yang disifati Allah sendiri ketika Dia menyatakan kuasa menyusun kembali jari-jemari manusia. Satu kata dipakai untuk yang benar-benar kuasa dan untuk yang menyangka dirinya kuasa.
Kata kerja pertamanya seakar dengan seruan mereka di 68:22, sehingga perintah mereka sendiri terpenuhi dengan tepat. Kata kedua tidak dipakai lagi di mana pun, sehingga terjemahan bersandar pada larangan di 68:24 ketika memilih 'niat kuat menghalangi'.
Kata terakhirnya berbentuk keterangan keadaan, jadi ia melukiskan cara mereka berangkat dan bukan menyatakan mereka memang kuasa; terjemahan memakai 'merasa mampu' untuk menahan perbedaan itu. Tidak disebut berapa lama perjalanannya, tidak disebut apa yang mereka bicarakan di sisa jalan, dan tidak disebut kapan tepatnya mereka mulai bisa melihat ladangnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka berangkat pagi hari dengan niat menghalangi. Direncanakan. Yang dikerjakan bukan kelalaian, melainkan keberangkatan yang disiapkan. Kata kerjanya seakar dengan seruan mereka sendiri di 68:22, yaitu ajakan pergi pagi-pagi. Perintah itu dipenuhi dengan tepat, dan yang memenuhinya mereka sendiri. Allah mencatat bahwa segala yang mereka atur berjalan persis seperti aturannya, tanpa satu bagian pun yang meleset. Yang tidak berjalan menurut aturan mereka cuma satu hal, dan hal itu sudah selesai semalam sebelum kaki mereka melangkah.
- Kata yang dipakai merasa mampu. Bukan mampu. Yang digambarkan sangkaan mereka sendiri tentang kekuatannya. Kata terakhirnya berbentuk keterangan keadaan, sehingga ia melukiskan cara mereka berangkat dan bukan menyatakan bahwa mereka memang mampu. Kata yang sama dipakai di 75:4 untuk menyifati Allah, ketika Dia menyatakan kuasa menyusun kembali jari-jemari manusia. Satu kata dipakai untuk dua pihak, dan yang membedakannya bukan katanya melainkan siapa yang berhak memakainya.
- Allah menaruh kalimat ini tepat sebelum mereka menemukan kebunnya sudah hangus. Berdempetan. Percaya dirinya digambarkan saat urusannya sudah selesai tanpa mereka tahu. Seluruh ayat ini menghadap ke depan tanpa satu kata pun yang menyiratkan keraguan, sedangkan pembaca sudah membaca 68:20 sejak lima ayat sebelumnya. Allah membiarkan gambaran itu utuh sampai kata terakhirnya, dan baru ayat berikutnya yang memutusnya. Titik putusnya jatuh di antara dua ayat, bukan di dalam salah satunya, sehingga pembaca merasakan jatuhnya pada pergantian baris.
- Kata terakhir ayat ini cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an. Yang satu lagi di 75:4, dan di sana yang disifatinya Allah sendiri, ketika Dia menyatakan sanggup menyusun kembali jari-jemari manusia. Di sini kata yang sama melekat pada sekelompok orang yang berjalan menuju ladang yang sudah habis semalam. Perbandingan itu tidak dinyatakan dengan satu kalimat pun; ia berdiri sendiri pada pilihan katanya.
- Kata kedua ayat ini tidak dipakai lagi di mana pun dalam Al-Qur'an, sehingga maknanya cuma bisa didekati dari kalimat di sekitarnya. Terjemahan bersandar pada larangan di 68:24, bukan pada pemakaian kata itu di tempat lain, sebab tempat lain memang tidak ada. Bagaimana sebuah kata dipahami ketika ia sendirian? Jawabannya di sini: dari tetangganya, dan tetangganya di ayat ini sebuah larangan.
- Yang disebut cuma waktu berangkat, niat yang dibawa, dan perasaan mampu. Tiga-tiganya tentang isi kepala mereka, dan tidak satu pun tentang keadaan yang sebenarnya di depan sana. Allah menutup bagian ini dengan sudut pandang yang seluruhnya milik mereka, lalu memindahkannya sekaligus di ayat berikutnya ketika mata mereka bertemu ladangnya. Perpindahan sudut pandang itu yang mengerjakan seluruh beban kisah ini.