فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ

Maka ketika mereka melihatnya, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar tersesat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَfa-lammaa ra'awhaa qaaluu innaa la-dhaalluunamaka ketika mereka melihatnya, mereka berkata, 'sesungguhnya kita benar-benar tersesat'

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  2. رَأَوْهَاra'awhaamereka melihatnya
  3. قَالُواqaaluumereka berkata
  4. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  5. لَضَالُّونَla-dhaalluunabenar-benar tersesat

Inti bacaan

Kebingungan awal yang menyembunyikan kebenaran: 'ketika mereka melihatnya, mereka berkata: sesungguhnya kita benar-benar tersesat', reaksi pertama yang masih berharap ada kesalahan lokasi, penundaan singkat sebelum realitas pahit benar-benar disadari.

Penjelasan pilihan kata

Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 83:32 kata itu diucapkan pendosa tentang pihak lain, yaitu ketika mereka memandang kaum beriman lalu menyebut kaum itu sesat. Di 68:26 kata yang sama diucapkan tentang diri sendiri. Satu kata, dua arah tuduhan yang berlawanan, dan yang membalikkannya cuma siapa yang sedang ditunjuk.

Surah 83 muncul kembali sebagai pasangan surah ini. Seluruh kalimat 68:15 sama persis huruf demi huruf dengan 83:13, dan sekarang kata di ayat ini bertemu lagi dengan 83:32. Dua surah yang tidak berdampingan memakai bahan yang sama untuk kedudukan yang berlawanan, dan pertemuan seperti itu tidak ditandai apa pun di dalam teksnya.

Yang mereka pandang disebut cuma dengan akhiran 'nya', tanpa nama. Sejak 68:20 kebun itu tidak pernah dinamai lagi di dalam kisahnya. Terjemahan menahan susunan tersebut dengan 'melihatnya' dan tidak menyisipkan kata kebun, sebab penyisipan itu akan mengembalikan nama yang justru sedang ditahan oleh ayatnya.

Ucapan pertama mereka tentang diri sendiri, bukan tentang apa yang rusak di depan mata. Mereka tidak menyebut tanamannya, tidak menyebut kerugiannya, dan tidak menyebut siapa yang berbuat. Yang keluar lebih dahulu penilaian atas diri. Namun kalimatnya masih bisa dibaca dua arah, yaitu tersesat jalan sehingga salah tempat, atau keliru dalam menilai. Ayat berikutnya yang memutuskan bacaan mana yang mereka maksud.

Terjemahan memilih 'tersesat' dan membiarkan dua arah bacaan itu tetap terbuka. Menyempitkannya menjadi 'kita salah jalan' akan menutup bacaan yang kedua, dan menyempitkannya menjadi 'kita keliru' akan menutup yang pertama. Ayat aslinya menahan keduanya, dan pilihan terjemahan mengikutinya sampai 68:27 mengerjakan penyempitannya sendiri.

Susunan (فَلَمَّا, falammaa) menyatakan sesuatu yang terjadi begitu syaratnya terpenuhi. Antara memandang dan bersuara tidak ada jeda yang diceritakan. Kalimat itu keluar seketika, dan bentuk kalimat yang keluar seketika biasanya bukan hasil pertimbangan melainkan tanggapan yang belum tersaring.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut dari jarak berapa mereka mulai memandang, tidak disebut siapa yang bersuara lebih dahulu, dan tidak disebut apakah ada yang diam. Ucapannya dikutip sebagai suara bersama, seakan satu mulut. Kisah ini memperlakukan mereka sebagai satu rombongan sejak awal, dan baru di 68:28 satu suara dipisahkan dari yang lain. Menyatukan suara mereka lebih dahulu membuat pemisahan yang datang belakangan terasa lebih tajam.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kebingungan pemilik kebun saat melihat kehancuran total.

Ayat ini merekam kalimat pertama yang keluar dari mulut mereka begitu memandang keadaan kebunnya.

Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 83:32 kata itu diucapkan pendosa tentang pihak lain, yaitu ketika mereka memandang kaum beriman lalu menyebutnya sesat, sedangkan di sini kata yang sama diucapkan tentang diri sendiri.

Surah 83 muncul kembali sebagai pasangan surah ini, sebab seluruh kalimat 68:15 sama persis huruf demi huruf dengan 83:13. Yang mereka pandang disebut cuma dengan akhiran 'nya', tanpa nama, dan sejak 68:20 kebun itu memang tidak pernah dinamai lagi.

Ucapan pertama mereka tentang diri sendiri, bukan tentang apa yang rusak di depan mata. Kalimatnya masih bisa dibaca dua arah, yaitu tersesat jalan sehingga salah tempat atau keliru dalam menilai, dan ayat berikutnya yang memutuskannya. Terjemahan membiarkan dua arah itu tetap terbuka. Susunan awal ayatnya menyatakan sesuatu yang terjadi begitu syaratnya terpenuhi, sehingga antara memandang dan bersuara tidak ada jeda. Tidak disebut siapa yang bersuara lebih dahulu dan apakah ada yang diam.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam reaksi pertama mereka. Kita benar-benar tersesat. Salah jalan, pikirnya. Kalimatnya masih terbuka dua arah, yaitu tersesat jalan sehingga salah tempat, atau keliru dalam menilai. Terjemahan menahan keduanya dan tidak memilih salah satunya, sebab ayat aslinya juga tidak memilih. Yang mengerjakan penyempitannya ayat berikutnya, bukan ayat ini, dan jarak satu ayat itu yang membuat pembaca sempat merasakan kebimbangan mereka sebelum mereka sendiri menutupnya.
  • Yang dikira kesalahan arah, bukan kehilangan kebun. Bukan ini kebun kami yang hancur. Ini bukan kebun kami. Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempat yang satu lagi 83:32, yaitu ketika pendosa memandang kaum beriman lalu menyebut kaum itu sesat. Kata yang sama, arah tuduhan yang berlawanan. Yang di sana dilemparkan ke luar, di sini jatuh ke dalam, dan yang membalikkannya cuma siapa yang sedang ditunjuk oleh mulut yang mengucapkannya.
  • Kalimat ini mendahului pengakuan mereka. Allah merekam urutannya. Menyangkal dulu, menerima kemudian. Susunan awal ayat menyatakan sesuatu yang terjadi begitu syaratnya terpenuhi, sehingga antara memandang dan bersuara tidak ada jeda yang diceritakan. Kalimat yang keluar seketika biasanya bukan hasil pertimbangan melainkan tanggapan yang belum tersaring. Allah merekam justru kalimat yang belum tersaring itu, dan bukan simpulan yang mereka susun kemudian, sebab yang belum tersaring lebih jujur menunjukkan isi kepala.
  • Sejak 68:20 kebun itu tidak pernah dinamai lagi di dalam kisahnya. Di ayat ini pun yang mereka pandang disebut cuma dengan akhiran 'nya'. Allah menahan namanya justru pada saat pemiliknya berhadapan langsung dengan keadaannya. Nama yang ditahan membuat pembaca ikut merasakan sesuatu yang tidak tertampung kata, dan itulah yang biasa terjadi pada orang yang menemukan miliknya sudah berubah sama sekali. Nama yang ditahan juga menjaga kisah ini tetap bisa dikenakan pada milik apa pun, bukan pada kebun satu keluarga saja.
  • Mereka tidak menyebut tanamannya, tidak menyebut kerugiannya, dan tidak menyebut siapa yang berbuat. Yang keluar lebih dahulu penilaian atas diri sendiri. Allah merekam urutan itu apa adanya. Sesuatu yang hilang biasanya membuat pemiliknya berbicara tentang barangnya, dan yang terjadi di sini kebalikannya. Kalimat pertama mereka menunjuk ke dalam, dan itu tanda bahwa yang goyah bukan cuma miliknya.
  • Siapa yang bersuara lebih dahulu, dan adakah yang memilih diam? Ayatnya tidak menjawab. Ucapannya dikutip sebagai suara bersama, seakan keluar dari satu mulut. Allah memperlakukan mereka sebagai satu rombongan sejak kalimat pertama kisah ini, dan baru di 68:28 satu suara dipisahkan dari yang lain. Pemisahan yang datang belakangan itu terasa lebih tajam justru karena sebelumnya semua disatukan.