بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ
Bahkan kita tidak memperoleh apa pun.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَbal nahnu mahruumuuna'bahkan kita tidak memperoleh apa pun'
Terjemahan per kata (3 kata)
- بَلْbalbahkan
- نَحْنُnahnukami
- مَحْرُومُونَmahruumuunaorang-orang yang terhalang
Inti bacaan
Pengakuan realitas yang menyakitkan: 'bahkan kita tidak memperoleh apa pun', momen kesadaran penuh bahwa kehancuran nyata, ironi bahwa mereka yang berniat menghalangi orang miskin kini justru menjadi pihak yang kehilangan segalanya.
Penjelasan pilihan kata
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:67 dan 68:27, sama persis huruf demi huruf. Dua tempat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang tanaman yang tidak jadi dipanen, dan itu membuat pertemuan keduanya bukan kebetulan pilihan kata.
Di 56:63 sampai 56:67 Al-Qur'an bertanya kepada pembacanya tentang apa yang mereka tanam, lalu bertanya siapa yang menumbuhkannya. Sesudah itu disebut satu kemungkinan: sekiranya Dia menghendaki, tanaman itu dijadikan hancur, dan mereka akan berucap bahwa mereka merugi, bahkan tidak mendapat hasil apa pun. Di surah 68 kemungkinan tersebut diceritakan sudah terjadi, dan kalimat penutup yang sama diucapkan mereka yang benar-benar mengalaminya.
Kata (تَحْرُثُونَ, tahrutsuun) di 56:63 seakar dengan kata yang dipakai pemilik kebun di 68:22 ketika mereka menyebut ladangnya. Jadi kaitan dua surah ini tidak berhenti pada satu kalimat penutup. Bahan katanya pun bertemu di tempat lain, dan dua pertemuan itu terjadi di dalam pokok pembicaraan yang sama, yaitu tanaman yang sudah ditunggu hasilnya lalu tidak jadi dipanen.
Huruf (بَلْ, bal) menyatakan ralat atas kalimat yang baru saja diucapkan. Jadi mereka meralat diri sendiri di dalam jarak satu ayat. Yang tadi disebut kekeliruan menilai atau salah tempat sekarang ditutup, dan yang mereka tetapkan kerugian yang sudah pasti. Kecepatan ralat itu memperlihatkan bahwa kalimat pertama tadi memang cuma tanggapan sesaat.
Kata (مَحْرُومُونَ, mahruumuun) berbentuk yang dikenai perbuatan, dan artinya pihak yang dihalangi memperoleh sesuatu. Semalam sebelumnya mereka bersepakat menghalangi seseorang masuk, seperti terekam di 68:24. Pagi ini mereka menamai diri dengan kata dari urusan yang sama, cuma dengan kedudukan yang bertukar. Yang menghalangi kemarin menyebut dirinya yang dihalangi hari ini.
Pelaku yang menghalangi tidak disebutkan di dalam kata itu. Bentuknya menyatakan ada yang dikenai perbuatan tanpa menyatakan siapa yang berbuat. Terjemahan menahan kekosongan tersebut dengan 'tidak mendapat hasil apa pun' dan tidak menyebutkan pelakunya, sebab menyebutkannya akan menambahkan keterangan yang tidak ada di dalam ayatnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang mereka rasakan, tidak disebut apa yang mereka kerjakan sesudah itu, dan tidak disebut berapa lama mereka berdiri di sana. Ayatnya berhenti pada ralat itu saja. Ralat yang berhenti tanpa kelanjutan menyisakan ruang bagi suara berikutnya, dan suara itu datang di 68:28 dari salah seorang di antara mereka sendiri.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan pengakuan kebingungan mereka.
Ayat ini memuat ralat mereka atas kalimatnya sendiri, dan seluruh kalimatnya sama persis dengan sebuah ayat di surah lain.
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:67 dan 68:27, sama persis huruf demi huruf. Di 56:63 sampai 56:67 Al-Qur'an bertanya tentang apa yang ditanam dan siapa yang menumbuhkannya, lalu menyebut satu kemungkinan bahwa tanaman itu dijadikan hancur sehingga mereka akan mengucapkan kalimat tersebut. Di surah 68 kemungkinan itu diceritakan sudah terjadi.
Kata yang dipakai di 56:63 untuk apa yang ditanam seakar dengan kata yang dipakai pemilik kebun di 68:22, sehingga kaitan dua surah ini tidak berhenti pada satu kalimat penutup saja.
Huruf pertamanya menyatakan ralat atas kalimat yang baru saja diucapkan, jadi mereka meralat diri di dalam jarak satu ayat. Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri berarti pihak yang dihalangi memperoleh sesuatu, padahal semalam sebelumnya merekalah yang bersepakat menghalangi seseorang masuk di 68:24. Pelaku yang menghalangi tidak disebutkan, dan terjemahan menahan kekosongan itu. Tidak disebut apa yang mereka rasakan dan berapa lama mereka berdiri di sana.
Renungan dan Hikmah
- Pengakuan itu naik satu tingkat. Allah merekam keduanya. Kita tersesat. Bahkan tak dapat apa-apa. Huruf pertama ayat ini menyatakan ralat atas kalimat yang baru saja keluar dari mulut mereka. Jarak antara ucapan dan ralatnya cuma satu ayat. Kecepatan itu memperlihatkan bahwa kalimat pertama tadi memang tanggapan sesaat, bukan simpulan. Allah merekam dua-duanya, yang belum tersaring dan yang sudah, dan membiarkan pembaca melihat sendiri betapa dekat jarak di antara keduanya.
- Yang berangkat hendak menghalangi, pulang tanpa apa pun. Bukan berkurang. Habis. Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri berbentuk yang dikenai perbuatan, dan artinya pihak yang dihalangi memperoleh sesuatu. Semalam sebelumnya merekalah yang bersepakat menghalangi seseorang masuk, seperti terekam di 68:24. Kedudukannya bertukar dalam satu malam, dan yang menandai pertukaran itu bukan kalimat keterangan melainkan kata yang mereka pilih sendiri untuk menamai keadaannya.
- Suara yang paling bijak disebut Allah sesudahnya. Pengakuannya dulu. Teguran dari dalam kemudian. Ayat ini berhenti pada ralat itu saja, tanpa satu keterangan pun tentang apa yang mereka kerjakan sesudahnya. Allah membiarkan kalimatnya menggantung. Ralat yang berhenti tanpa kelanjutan menyisakan ruang bagi suara berikutnya, dan suara itu datang di 68:28 bukan dari luar cerita melainkan dari salah seorang yang ikut berangkat pagi itu bersama mereka.
- Seluruh kalimat ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 56:67. Di sana ia diucapkan sebagai kemungkinan: sekiranya Allah menghendaki, tanaman dijadikan hancur dan beginilah yang akan mereka katakan. Di sini kemungkinan itu diceritakan sudah terjadi pada sekelompok pemilik kebun. Satu kalimat yang di surah lain masih berupa andaian, di surah ini keluar dari mulut yang benar-benar mengalaminya. Andaian yang dipakai untuk menegur pembaca ternyata punya wujudnya sendiri di dalam kisah, dan wujud itu ditaruh di surah yang berbeda.
- Kaitan surah ini dengan surah 56 tidak berhenti pada satu kalimat penutup. Kata yang dipakai di 56:63 untuk apa yang ditanam seakar dengan kata yang dipakai pemilik kebun di 68:22 ketika menyebut ladangnya. Jadi dua surah itu bertemu pada kalimatnya dan bertemu lagi pada bahan katanya, dan kedua pertemuan berada di dalam pokok pembicaraan yang sama, yaitu tanaman yang tidak jadi dipanen. Pertemuan sebanyak itu tidak ditandai apa pun di dalam teksnya, dan cuma terbaca oleh yang membandingkan.
- Kata yang mereka pakai menyatakan ada pihak yang dihalangi, tetapi tidak menyatakan siapa yang menghalangi. Siapa yang mereka maksud? Ayatnya tidak menjawab, dan terjemahan menahan kekosongan itu tanpa menambahkan pelakunya. Allah membiarkan mereka menyebut keadaan tanpa menyebut sebabnya, dan kekosongan itu baru diisi di 68:28 oleh salah seorang di antara mereka yang menunjuk kekurangan sejak malam sebelumnya. Menahan nama pelakunya membuat kalimat mereka terbaca sebagai keluhan, bukan sebagai tuduhan.