قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ
Yang paling bijak di antara mereka berkata, “Bukankah aku telah berkata kepada kalian, mengapa kalian tidak bertasbih?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَqaala awsathuhum a-lam aqul lakum lawlaa tusabbihuunayang paling bijak di antara mereka berkata, 'bukankah aku telah berkata kepada kalian, mengapa kalian tidak bertasbih?'
Terjemahan per kata (7 kata)
- قَالَqaalaberkata
- أَوْسَطُهُمْawsathuhumyang paling bijak di antara mereka
- أَلَمْa-lamtidakkah
- أَقُلْaqulaku katakan
- لَكُمْlakumkepada kalian
- لَوْلَاlawlaamengapa tidak
- تُسَبِّحُونَtusabbihuunakalian bertasbih
Inti bacaan
Suara kebijaksanaan yang terlambat didengar: 'yang paling bijak di antara mereka berkata: bukankah aku telah berkata kepada kalian, mengapa kalian tidak bertasbih?', pengingat bahwa nasihat untuk mengingat Allah (bertasbih) sebelumnya telah disampaikan namun diabaikan, peran individu yang menyuarakan kebenaran meski suaranya awalnya tidak didengar kelompok.
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَوْسَطُهُمْ, awsathuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:28. Kata (تُسَبِّحُونَ, tusabbihuun) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:28. Dua kata sekali pakai berada di dalam satu ayat, dan keduanya menanggung bagian terpenting ayat ini, yaitu siapa yang berbicara dan apa yang dahulu dia tuntut.
Kata pertama seakar dengan kata yang dipakai di 2:143 untuk menyebut umat pertengahan. Akar tersebut berarti tengah, yaitu yang tidak condong ke salah satu ujung. Jadi yang bersuara di sini bukan yang tertua, bukan yang terkaya, dan bukan yang paling banyak bagiannya. Yang membuatnya bersuara kedudukannya di tengah, dan terjemahan memakai 'yang paling bijak' untuk menahan makna itu tanpa memindahkannya ke ukuran usia.
Susunan 'bukankah aku sudah mengatakannya' menyatakan bahwa ucapan itu pernah keluar sebelumnya. Al-Qur'an sama sekali tidak melaporkannya di 68:17 sampai 68:25. Jadi ada satu suara yang hadir sejak malam perencanaan, tetapi baru diperdengarkan sesudah semuanya selesai. Menahan suara itu di awal membuat pembaca ikut mengalami apa yang mereka alami, yaitu tidak mendengarnya ketika masih berguna.
Yang dahulu dia tuntut disebut dengan kata untuk menyucikan Allah. Di 68:18 dilaporkan bahwa mereka tidak mengucapkan pengecualian, dan isi pengecualian itu dibiarkan kosong di sana. Di ayat ini kekosongan tersebut diberi nama, dan yang memberi nama bukan suara dari luar cerita melainkan salah seorang yang ikut berangkat pagi itu. Kisah ini menutup kekosongannya sendiri sepuluh ayat kemudian.
Ucapannya berupa dua pertanyaan berturut-turut, bukan satu pernyataan. Ia tidak berkata bahwa mereka salah dan tidak menyebut hukuman apa pun. Ia cuma bertanya. Pertanyaan yang diajukan sesudah kejadian tidak menuntut jawaban, sebab jawabannya sudah terhampar di depan mata semua yang hadir.
Bentuk kata kerja pada tuntutannya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, bukan satu perbuatan tunggal. Jadi yang dahulu dia tuntut bukan satu kalimat yang diucapkan sekali, melainkan kebiasaan yang seharusnya berjalan. Itu sejalan dengan bentuk yang dipakai di 68:18, yang juga menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sehingga dua ayat tersebut berbicara tentang hal yang sama dari dua sisi.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan dia dahulu mengucapkannya, tidak disebut bagaimana tanggapan mereka waktu itu, dan tidak disebut apakah dia ikut menyetujui rencana panennya. Yang disebut cuma bahwa dia pernah berbicara dan bahwa yang dia tuntut tidak dikerjakan. Dua keterangan itu sudah cukup untuk menempatkannya di tengah, yaitu ikut berangkat tetapi tidak ikut sepenuhnya.
Tafsiran
Ayat ini mencatat teguran dari anggota paling bijak tentang pentingnya bertasbih.
Ayat ini memisahkan satu suara dari rombongan yang sejak awal diperlakukan sebagai satu mulut.
Kata (أَوْسَطُهُمْ, awsathuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:28. Kata (تُسَبِّحُونَ, tusabbihuun) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:28. Kata pertama seakar dengan kata di 2:143 untuk umat pertengahan, dan akarnya berarti tengah, yaitu yang tidak condong ke salah satu ujung.
Jadi yang bersuara bukan yang tertua dan bukan yang terkaya, melainkan yang berada di tengah. Susunan ucapannya menyatakan bahwa kalimat itu pernah keluar sebelumnya, padahal Al-Qur'an sama sekali tidak melaporkannya di 68:17 sampai 68:25. Menahan suara itu membuat pembaca ikut tidak mendengarnya ketika masih berguna.
Yang dahulu dia tuntut disebut dengan kata untuk menyucikan Allah, dan itu memberi nama kepada kekosongan yang dibiarkan terbuka di 68:18. Ucapannya berupa dua pertanyaan berturut-turut, bukan pernyataan, dan tidak menyebut hukuman apa pun. Bentuk kata kerja tuntutannya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sejalan dengan bentuk di 68:18. Tidak disebut bagaimana tanggapan mereka dahulu.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam suara yang dahulu diabaikan. Ia sudah mengingatkan. Baru sekarang didengar. Susunan ucapannya menyatakan bahwa kalimat itu pernah keluar sebelumnya, padahal Al-Qur'an sama sekali tidak melaporkannya di 68:17 sampai 68:25. Ada satu suara yang hadir sejak malam perencanaan dan baru diperdengarkan sesudah semuanya selesai. Menahannya di awal membuat pembaca mengalami persis apa yang mereka alami, yaitu tidak mendengarnya ketika suara itu masih bisa mengubah sesuatu.
- Yang bicara disebut paling bijak di antara mereka. Bukan paling tua. Bukan paling kaya. Kata yang menyebutnya seakar dengan kata di 2:143 untuk umat pertengahan, dan akar itu berarti tengah, yaitu yang tidak condong ke salah satu ujung. Yang membuatnya bersuara bukan usia dan bukan besarnya bagian, melainkan kedudukannya di tengah. Terjemahan memakai 'yang paling bijak' supaya makna itu terbawa tanpa berpindah menjadi ukuran umur, sebab ayatnya memang tidak menyebut umur siapa pun.
- Tegurannya berbentuk pertanyaan, bukan makian. Allah merekam nada itu. Yang benar tidak perlu berteriak. Ucapannya berupa dua pertanyaan berturut-turut, bukan satu pernyataan. Ia tidak menyatakan mereka salah dan tidak menyebut hukuman apa pun. Pertanyaan yang diajukan sesudah kejadian tidak menuntut jawaban, sebab jawabannya sudah terhampar di depan mata semua yang hadir. Allah merekam bentuk pertanyaannya, dan bentuk itu sendiri sudah membedakan suara ini dari suara yang menuntut pembelaan diri.
- Di 68:18 dilaporkan bahwa mereka tidak mengucapkan pengecualian, dan isi pengecualiannya dibiarkan kosong di sana. Di ayat ini kekosongan itu diberi nama, yaitu menyucikan Allah. Yang memberi nama bukan suara dari luar cerita melainkan salah seorang yang ikut berangkat pagi itu. Kisah ini menutup kekosongannya sendiri sepuluh ayat kemudian, dan penutupan yang datang dari dalam lebih sulit ditolak daripada yang datang dari luar.
- Ayat ini memuat dua kata yang tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya menanggung bagian terpentingnya, yaitu siapa yang bersuara dan apa yang dahulu dituntutnya. Allah memakai kata baru pada titik ketika satu orang dipisahkan dari rombongannya. Sebelum ayat ini semua disebut sebagai satu mulut, dan pemisahan yang datang belakangan itu ditandai dengan kata yang belum pernah dipakai di mana pun. Kata baru untuk kedudukan baru, dan keduanya muncul pada ayat yang sama.
- Mengapa peringatan itu tidak dilaporkan pada tempatnya, yaitu di malam perencanaan? Kalau dilaporkan di sana, pembaca akan berdiri di pihak yang memperingatkan sejak awal dan menonton dari tempat yang aman. Allah menahannya, sehingga pembaca ikut berjalan bersama rombongan tanpa mendengar apa-apa. Peringatan yang baru terdengar sesudah semuanya selesai terasa berbeda beratnya dari peringatan yang terdengar tepat waktu, dan perbedaan itulah yang sedang dipasang di hadapan pembaca.