قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ
Mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَqaaluu subhaana rabbinaa innaa kunnaa zhaalimiinamereka berkata, 'Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim'
Terjemahan per kata (6 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
- رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- كُنَّاkunnaakami adalah
- ظَالِمِينَzhaalimiinaorang-orang yang zalim
Inti bacaan
Pengakuan yang akhirnya tulus: 'Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim', titik balik dari kebingungan menuju kejujuran penuh, mengakui kesalahan diri sendiri tanpa lagi mencari pembenaran atau menyalahkan keadaan.
Penjelasan pilihan kata
'Mahasuci' adalah pengecualian baku disiplin larangan awalan superlatif.
Rangkaian (سُبْحَانَ رَبِّنَا, subhaana rabbinaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:108 dan 68:29. Di 17:108 kalimat itu diucapkan mereka yang diberi ilmu ketika mendengar bacaan wahyu, dan mereka menyusulinya dengan pernyataan bahwa janji Tuhan pasti terlaksana. Di 68:29 kalimat yang sama diucapkan sesudah kebun habis. Ucapan yang di satu tempat lahir dari ilmu, di tempat lain lahir dari kehilangan.
Rangkaian (إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ, innaa kunnaa zhaalimiin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29; empat kemunculan tetapi tiga surah karena surah 21 memakainya dua kali. Di 7:5 kalimat itu menjadi satu-satunya seruan mereka ketika azab datang. Di 21:14 ia keluar ketika mereka merasakan siksa. Di 21:46 ia disebut sebagai yang pasti mereka ucapkan jika sedikit saja azab menyentuh mereka. Jadi di seluruh Al-Qur'an kalimat tersebut tidak pernah terdengar sebelum pukulan jatuh.
Urutan di dalam ucapan mereka menempatkan penyucian Allah lebih dahulu, baru kemudian pernyataan tentang diri sendiri. Mereka tidak memulai dengan membela diri dan tidak memulai dengan menyalahkan keadaan. Yang disebut pertama Tuhan mereka. Urutan itu persis kebalikan dari urutan pada malam sebelumnya, ketika yang disebut pertama ladang dan hasilnya, sedangkan Allah tidak disebut sama sekali.
Mereka menjawab pertanyaan di 68:28 bukan dengan menjawabnya, melainkan dengan mengerjakan yang ditanyakan. Yang ditanya mengapa mereka tidak menyucikan Allah, dan yang mereka lakukan menyucikan-Nya. Bentuk tanggapan seperti itu menutup perdebatan sebelum dimulai, sebab tidak ada yang bisa dibantah dari perbuatan yang langsung dikerjakan.
Bentuk (كُنَّا, kunnaa) menyatakan keadaan yang sudah berlangsung, bukan satu perbuatan tunggal. Jadi yang mereka nyatakan bukan bahwa semalam mereka berbuat satu kesalahan, melainkan bahwa memang begitulah keadaan mereka selama ini. Terjemahan menahan bentuk tersebut dengan 'kami adalah', dan menyempitkannya menjadi 'kami telah berbuat' akan memindahkannya ke satu peristiwa.
Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri kata yang lazim dipakai Al-Qur'an untuk pelanggaran batas. Mereka tidak memakai kata untuk kekeliruan perhitungan dan tidak memakai kata untuk kesialan. Pilihan katanya sendiri sudah memindahkan perkaranya dari urusan panen ke urusan yang lebih besar, dan pemindahan itu dikerjakan mulut mereka sendiri.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apakah ucapan mereka diterima, tidak disebut apakah kebunnya dikembalikan, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sesudahnya. Ayat berikutnya justru memperlihatkan mereka berbalik saling menyalahkan. Jadi ucapan ini tidak diperlakukan kisahnya sebagai akhir, melainkan sebagai satu tahap yang masih diikuti tahap lain.
Tafsiran
Ayat ini mencatat pengakuan tobat dan kezaliman diri mereka.
Ayat ini merekam tanggapan rombongan itu atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan salah seorang di antara mereka.
Rangkaian (سُبْحَانَ رَبِّنَا, subhaana rabbinaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:108 dan 68:29. Di 17:108 kalimat itu diucapkan mereka yang diberi ilmu ketika mendengar bacaan wahyu, sedangkan di sini ia diucapkan sesudah kebun habis.
Rangkaian (إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ, innaa kunnaa zhaalimiin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29. Di tiga tempat lainnya kalimat itu keluar ketika azab datang atau ketika siksa dirasakan, sehingga di seluruh Al-Qur'an ia tidak pernah terdengar sebelum pukulan jatuh.
Urutan ucapan mereka menempatkan penyucian Allah lebih dahulu, baru pernyataan tentang diri sendiri, dan urutan itu kebalikan dari urutan pada malam sebelumnya. Mereka menjawab pertanyaan di 68:28 dengan mengerjakan yang ditanyakan, bukan dengan membantah. Bentuk kata kerjanya menyatakan keadaan yang sudah berlangsung, bukan satu perbuatan tunggal. Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri kata untuk pelanggaran batas, bukan kata untuk keliru berhitung, sehingga perkaranya berpindah dari urusan panen ke urusan yang lebih besar oleh mulut mereka sendiri. Tidak disebut apakah ucapan itu diterima, tidak disebut apakah kebunnya dikembalikan, dan ayat berikutnya justru memperlihatkan mereka berbalik menyalahkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam mereka menyucikan Tuhannya sebelum menyalahkan diri. Mahasuci Tuhan kami. Baru mengaku. Urutan di dalam ucapan mereka menempatkan penyucian Allah lebih dahulu, baru pernyataan tentang diri sendiri. Mereka tidak memulai dengan membela diri dan tidak memulai dengan menyalahkan keadaan. Urutan itu persis kebalikan dari urutan pada malam sebelumnya, ketika yang disebut pertama ladang dan hasilnya, sedangkan nama Allah tidak muncul satu kali pun di sepanjang rencana mereka.
- Yang disalahkan diri sendiri, bukan keadaan. Bukan kebunnya sial. Kami yang zalim. Bentuk kata kerjanya menyatakan keadaan yang sudah berlangsung, bukan satu perbuatan tunggal. Jadi yang mereka nyatakan bukan bahwa semalam ada satu langkah yang keliru, melainkan bahwa memang begitulah keadaan mereka selama ini. Kata yang dipakai pun kata untuk pelanggaran batas, bukan kata untuk keliru berhitung. Pilihan kata itu sendiri memindahkan perkaranya dari urusan panen ke urusan yang jauh lebih besar.
- Pengakuan itu datang sesudah kebunnya habis. Allah merekam waktunya. Kejujuran yang dibayar mahal. Kalimat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29, dan di tiga tempat selain ayat ini ia keluar ketika azab datang atau ketika siksa mulai dirasakan. Jadi kalimatnya tidak pernah terdengar sebelum pukulan jatuh. Allah merekamnya selalu pada kedudukan yang sama, dan keseragaman letak itu memberitahukan sesuatu tentang harga yang biasa dibayar sebelum kalimat sependek ini sanggup diucapkan.
- Kalimat pengakuan ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29. Di 7:5 ia menjadi satu-satunya seruan mereka ketika azab datang, di 21:14 ia keluar ketika siksa dirasakan, dan di 21:46 ia disebut sebagai yang pasti diucapkan jika sedikit saja azab menyentuh. Tidak sekali pun Allah menempatkannya sebelum pukulan jatuh, dan keseragaman letaknya itulah beritanya.
- Pertanyaan di 68:28 menanyakan mengapa mereka tidak menyucikan Allah. Tanggapan mereka bukan membantah dan bukan menjelaskan, melainkan langsung menyucikan-Nya. Adakah bantahan yang mungkin diajukan sesudah itu? Tidak ada, sebab yang ditanyakan sudah dikerjakan di kalimat yang sama. Allah merekam bentuk tanggapan yang menutup perdebatan sebelum dimulai, dan bentuk itu sendiri bagian dari isinya.
- Kalimat penyucian yang mereka ucapkan sama persis dengan yang diucapkan di 17:108. Di sana yang mengucapkannya mereka yang diberi ilmu, ketika mendengar bacaan wahyu, dan mereka menyusulinya dengan pernyataan bahwa janji Tuhan pasti terlaksana. Di sini kalimat yang sama lahir dari kehilangan. Allah menerima bunyi yang sama dari dua sumber yang berbeda, dan kisah ini tidak berhenti untuk menerangkan mana yang lebih utama. Yang satu lahir sebelum ada yang hilang, yang satu lagi sesudahnya, dan jarak itu tidak dinilai satu kalimat pun di sini.