فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

Maka sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling mencela.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَfa-aqbala ba'dhuhum 'alaa ba'dhin yatalaawamuunamaka sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling mencela

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَأَقْبَلَfa-aqbalamaka menghadap
  2. بَعْضُهُمْba'dhuhumsebagian mereka
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. بَعْضٍba'dhinsebagian
  5. يَتَلَاوَمُونَyatalaawamuunasaling mencela

Inti bacaan

Introspeksi kolektif yang menyakitkan: 'sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling mencela', konsekuensi sosial dari kesalahan bersama, ketika rencana buruk gagal, hubungan antar-pelaku ikut retak karena saling menyalahkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَتَلَاوَمُونَ, yatalaawamuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:30. Rangkaian (فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, fa-aqbala ba'dhuhum 'alaa ba'dh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:50 dan 68:30. Jadi pembuka ayat ini sudah pernah dipakai, sedangkan kata penutupnya belum pernah dan tidak akan dipakai lagi.

Di 37:50 rangkaian pembuka itu diikuti kata yang berarti saling bertanya, dan yang melakukannya penghuni surga. Di 68:30 pembuka yang sama diikuti kata yang berarti saling menyalahkan. Dua tempat memakai gerak yang sama, yaitu berpaling menghadap satu sama lain, tetapi mengisinya dengan dua hal yang berlawanan. Gerak menghadap itu sendiri netral; yang menentukan artinya kata yang mengikutinya.

Bentuk kata kerja penutupnya menyatakan perbuatan yang berbalas, dan bentuk yang sama sudah dipakai dua kali sebelumnya di dalam kisah ini. Di 68:21 mereka bersahutan pada pagi hari, di 68:23 mereka berbisik di jalan, dan di ayat ini mereka menyalahkan satu sama lain. Tiga tahap perjalanan mereka direkam dengan satu pola kata yang sama, dan yang berubah cuma isinya. Kebersamaan mereka tidak pernah putus; yang berubah untuk apa kebersamaan itu dipakai.

Letaknya sesudah pengakuan di 68:29, bukan sebelumnya. Mereka sudah menyucikan Allah dan sudah menyatakan diri melanggar batas, dan sesudah itu mereka berbalik satu sama lain. Urutan tersebut menahan pembaca dari membaca pengakuan tadi sebagai akhir cerita. Kisah ini memperlihatkan bahwa pernyataan yang benar bisa diikuti perbuatan yang belum berubah.

Kata kerja pertamanya berarti menghadap dan berpaling kepada. Terjemahan memakai 'menghadap' dan menahan gambaran itu. Yang digambarkan bukan pertengkaran yang berhamburan, melainkan gerak berputar badan supaya saling berhadapan. Gambaran itu menempatkan mereka berhadap-hadapan dalam lingkaran kecil, dan bukan tersebar.

Isi celaannya tidak dikutip sama sekali. Di sepanjang kisah ini ucapan mereka dikutip berkali-kali, yaitu seruan di 68:22, bisikan di 68:24, ucapan pertama di 68:26, ralatnya di 68:27, pertanyaan di 68:28, dan pengakuan di 68:29. Justru pada bagian ini kutipannya berhenti. Al-Qur'an menyebutkan bahwa mereka menyalahkan tanpa menyebutkan satu kalimat pun dari celaan itu.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa menyalahkan siapa, tidak disebut apa alasan yang mereka ajukan, dan tidak disebut apakah ada yang membela diri. Kalimat yang tidak dikutip tidak bisa ditimbang isinya. Yang tertinggal pada pembaca cuma gambarannya, yaitu sekelompok orang yang baru saja menyebut nama Tuhannya lalu berputar menghadap satu sama lain untuk hal yang lain sama sekali.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan saling menyalahkan di antara mereka.

Ayat ini melukiskan apa yang mereka kerjakan tepat sesudah pengakuan, dan yang dikerjakan bukan kelanjutan pengakuan itu.

Kata (يَتَلَاوَمُونَ, yatalaawamuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:30. Rangkaian (فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, fa-aqbala ba'dhuhum 'alaa ba'dh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:50 dan 68:30. Di 37:50 pembuka itu diikuti kata yang berarti saling bertanya dan yang melakukannya penghuni surga, sedangkan di sini ia diikuti kata yang berarti saling menyalahkan.

Bentuk kata kerja penutupnya menyatakan perbuatan yang berbalas, dan bentuk yang sama sudah dipakai di 68:21 ketika mereka bersahutan dan di 68:23 ketika mereka berbisik. Tiga tahap perjalanan mereka direkam dengan satu pola kata, dan yang berubah cuma isinya.

Letaknya sesudah pengakuan di 68:29, bukan sebelumnya, sehingga pengakuan tadi tidak boleh dibaca sebagai akhir cerita. Isi celaannya tidak dikutip sama sekali, padahal ucapan mereka dikutip berkali-kali di sepanjang kisah ini. Kata kerja pertamanya berarti menghadap dan berpaling kepada, sehingga yang digambarkan bukan pertengkaran yang berhamburan melainkan gerak berputar badan supaya berhadapan. Tidak disebut siapa menyalahkan siapa, tidak disebut apa alasan yang mereka ajukan, dan tidak disebut apakah ada yang membela diri.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka menghadap satu sama lain, bukan kepada Allah. Bukan menyesal ke atas. Menyalahkan ke samping. Bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang berbalas, dan bentuk yang sama sudah dipakai dua kali sebelumnya di dalam kisah ini. Di 68:21 mereka bersahutan pada pagi hari dan di 68:23 mereka berbisik di jalan. Tiga tahap perjalanan direkam dengan satu pola kata, dan yang berubah cuma isinya. Kebersamaan mereka tidak pernah putus sejak malam itu; yang berubah untuk apa kebersamaan tersebut dipakai.
  • Yang retak berikutnya hubungan mereka. Kebunnya habis. Persekutuannya ikut habis. Kata kerja pertamanya berarti menghadap dan berpaling kepada, dan rangkaian pembuka ini juga dipakai di 37:50 untuk penghuni surga yang berhadapan sambil bertanya-tanya. Gerak menghadap itu sendiri netral. Yang menentukan artinya kata yang mengikutinya, dan di ayat ini kata yang mengikutinya berarti menyalahkan. Allah memakai gerak yang sama untuk dua keadaan yang letaknya sejauh mungkin.
  • Allah menaruh celaan itu di antara dua pengakuan. Sebelumnya mengaku zalim. Sesudahnya mengaku melampaui batas. Letaknya sesudah pengakuan di 68:29, bukan sebelumnya. Mereka sudah menyucikan Allah dan sudah menyatakan diri melanggar batas, lalu berbalik satu sama lain. Urutan itu menahan pembaca dari membaca pengakuan tadi sebagai penutup cerita. Pernyataan yang benar ternyata bisa diikuti perbuatan yang belum berubah, dan kisah ini memperlihatkannya tanpa satu kalimat penilaian pun.
  • Bentuk kata kerja yang menyatakan perbuatan berbalas dipakai tiga kali di dalam kisah ini. Di 68:21 mereka bersahutan pada pagi hari, di 68:23 mereka berbisik di jalan, dan di ayat ini mereka menyalahkan satu sama lain. Allah memakai satu pola untuk tiga tahap, sehingga yang dibandingkan benar-benar hal sejenis. Yang tidak pernah putus kebersamaan mereka, dan yang berubah cuma untuk apa kebersamaan itu dipakai. Rombongan yang sama, suara yang sama-sama berbalas, dan tiga isi yang semakin jauh dari yang pertama.
  • Rangkaian pembuka ayat ini juga dipakai di 37:50, yaitu ketika penghuni surga berpaling menghadap satu sama lain sambil bertanya-tanya. Gerak yang digambarkan sama persis, yaitu berputar badan supaya berhadapan. Yang membedakan cuma kata yang menyusulnya. Allah memakai gambaran tubuh yang sama untuk dua keadaan yang letaknya sejauh mungkin, dan tidak menambahkan satu kalimat pun untuk menerangkan perbandingannya.
  • Ucapan mereka dikutip berkali-kali di sepanjang kisah ini, yaitu seruan di 68:22, bisikan di 68:24, ucapan pertama di 68:26, ralatnya di 68:27, pertanyaan di 68:28, dan pengakuan di 68:29. Mengapa justru celaan ini tidak dikutip satu kalimat pun? Kalimat yang tidak dikutip tidak bisa ditimbang isinya, dan yang tertinggal pada pembaca cuma gambarannya. Allah membiarkan gambaran itu berdiri tanpa kata-kata, dan gambaran tanpa kata lebih sulit dijadikan bahan pembelaan daripada kalimat yang bisa ditimbang.