قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ
Mereka berkata, “Celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَqaaluu yaa waylanaa innaa kunnaa thaaghiinamereka berkata, 'celaka kita, sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas'
Terjemahan per kata (6 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- يَاyaawahai
- وَيْلَنَاwaylanaacelakalah kami
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- كُنَّاkunnaakami adalah
- طَاغِينَthaaghiinaorang-orang yang melampaui batas
Inti bacaan
Pengakuan tegas melampaui batas: 'celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas', identifikasi diri yang jujur terhadap akar masalah (ketamakan yang menolak hak fakir), pengakuan yang tidak lagi mengelak dari tanggung jawab.
Penjelasan pilihan kata
Seruan (يَا وَيْلَنَا, yaa wailanaa) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 4 surah, yaitu di 21:14, 21:46, 21:97, 36:52, 37:20, dan 68:31; enam kemunculan tetapi empat surah karena surah 21 memakainya tiga kali. Di 21:97, 36:52, dan 37:20 seruan itu keluar pada hari yang dijanjikan. Di 21:14 dan 21:46 ia keluar ketika azab sudah menimpa. Di ayat ini ia keluar di tepi ladang yang sudah habis semalam.
Seruan itu punya pasangan tetap di tempat lain. Di 21:14 dan 21:46 ia disusul rangkaian (إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ, innaa kunnaa zhaalimiin), yang muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29. Rangkaian itulah yang sama persis dengan yang diucapkan rombongan ini di 68:29, sedangkan di ayat ini kata terakhirnya diganti. Jadi surah ini memuat dua bagian dari satu susunan yang di surah 21 berdiri dalam satu ayat, tetapi memecahnya ke dua ayat dan mengganti kata terakhirnya.
Kata (طَاغِينَ, thaaghiin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:30 dan 68:31. Di 37:30 kata itu dipakai pihak yang menyesatkan untuk menuduh pihak yang disesatkan, jadi arahnya keluar. Di ayat ini kata yang sama dipakai untuk menyebut diri sendiri. Ini kejadian kedua di dalam kisah yang sama, sebab kata yang mereka pakai di 68:26 juga kata yang di 83:32 dilemparkan kepada pihak lain.
Mereka memakai dua kata yang berbeda untuk diri sendiri dalam jarak dua ayat. Yang pertama di 68:29 kata untuk yang melanggar hak, dan yang kedua di sini kata untuk yang melewati batas. Al-Qur'an merekam dua-duanya tanpa menyatakan mana yang lebih tepat. Pengakuan yang bertambah dalam dari ucapan ke ucapan digambarkan dengan pergantian kata, bukan dengan keterangan tambahan.
Kata kerja pembukanya berbentuk jamak tanpa menyebut siapa yang bersuara. Sesudah 68:28 memisahkan satu suara dari rombongannya, dua ayat berikutnya kembali menyatukannya. Jadi pemisahan itu cuma berlaku untuk satu ayat, dan sesudahnya mereka kembali berbicara sebagai satu mulut. Yang berubah bukan susunannya, melainkan isi yang keluar dari mulut yang sama.
Terjemahan memakai 'melampaui batas' dan menahan gambaran melewati garis yang ada di dalam kata Arabnya. Memakai 'jahat' atau 'durhaka' akan memindahkannya ke penilaian umum, sedangkan kata aslinya menunjuk perbuatan yang keluar dari batas tertentu. Batas yang mereka lewati sudah disebutkan kisahnya sendiri di 68:24, yaitu ketika mereka melarang seseorang masuk.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut batas mana yang mereka maksud, tidak disebut apakah mereka menyebut nama siapa pun yang mereka rugikan, dan tidak disebut apakah ada yang menangis. Ucapannya berhenti pada penyebutan sifat. Menyebut sifat tanpa merinci perbuatannya membuat pengakuan itu tetap terbaca sebagai pengakuan, bukan sebagai laporan.
Tafsiran
Ayat ini mencatat pengakuan mereka telah melampaui batas.
Ayat ini memuat seruan mereka yang kedua, dan kali ini dengan kata yang berbeda untuk menyebut diri sendiri.
Seruan (يَا وَيْلَنَا, yaa wailanaa) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 4 surah, yaitu di 21:14, 21:46, 21:97, 36:52, 37:20, dan 68:31. Di tiga tempat ia keluar pada hari yang dijanjikan, di dua tempat ketika azab sudah menimpa, dan di sini di tepi ladang yang habis semalam.
Di 21:14 dan 21:46 seruan itu disusul rangkaian (إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ, innaa kunnaa zhaalimiin), yang muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:5, 21:14, 21:46, dan 68:29. Rangkaian itu sama persis dengan yang diucapkan rombongan ini di 68:29, sehingga surah ini memecah satu susunan ke dua ayat dan mengganti kata terakhirnya.
Kata (طَاغِينَ, thaaghiin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:30 dan 68:31. Di 37:30 ia dipakai untuk menuduh pihak lain, sedangkan di sini untuk menyebut diri sendiri. Kata kerja pembukanya jamak tanpa menyebut siapa yang bersuara, sehingga sesudah 68:28 memisahkan satu suara, dua ayat berikutnya kembali menyatukannya. Terjemahan memakai 'melampaui batas' dan menahan gambaran melewati garis yang ada di dalam kata Arabnya. Tidak disebut batas mana yang mereka maksud dan tidak disebut siapa yang mereka rugikan.
Renungan dan Hikmah
- Pengakuan itu direkam Allah dari mulut mereka sendiri. Bukan divonis. Mengaku. Seruan pembukanya muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:14, 21:46, 21:97, 36:52, 37:20, dan 68:31, dan di lima tempat selain ayat ini ia keluar pada hari yang dijanjikan atau ketika azab sudah menimpa. Di ayat ini ia keluar di tepi ladang yang habis semalam. Allah menempatkan seruan hari perhitungan itu di dalam peristiwa yang masih berlangsung di dunia, sehingga jarak antara dua keadaan tersebut menyempit sampai tinggal satu kalimat. Kalimat yang biasanya terdengar ketika semuanya sudah selesai ternyata bisa terdengar ketika hari masih pagi.
- Yang mereka sebut melampaui batas, bukan sial. Bukan nasib buruk. Kesalahan sendiri. Kata yang mereka pakai menunjuk perbuatan yang keluar dari batas tertentu, bukan penilaian umum tentang watak. Terjemahan memakai 'melampaui batas' dan menahan gambaran melewati garis yang ada di dalamnya. Batas yang dilewati sudah disebutkan kisahnya sendiri di 68:24, yaitu ketika mereka melarang seseorang masuk. Jadi ucapan ini menunjuk kembali ke satu kalimat tertentu yang pernah mereka ucapkan sendiri, bukan ke kesialan yang kebetulan menimpa mereka pada malam itu.
- Pengakuannya diulang sesudah mereka saling mencela. Allah merekam dua-duanya. Yang pertama zalim, yang kedua melampaui batas. Mereka memakai dua kata berbeda untuk menyebut diri sendiri dalam jarak dua ayat, yaitu kata untuk yang melanggar hak di 68:29 dan kata untuk yang melewati batas di sini. Allah merekam dua-duanya tanpa menyatakan mana yang lebih tepat. Pengakuan yang bertambah dalam dari ucapan ke ucapan digambarkan dengan pergantian kata saja, dan tidak satu kalimat keterangan pun ditambahkan untuk menandainya. Yang menandai kedalaman sebuah pengakuan cuma kata yang dipilih untuk menyebut diri.
- Di 21:14 seruan celaka itu disusul pernyataan bahwa mereka zalim, dan keduanya berdiri dalam satu ayat. Surah ini memuat dua bagian yang sama, tetapi memecahnya ke dua ayat: pernyataan zalim di 68:29 dan seruan celaka di 68:31, dengan kata terakhir yang diganti. Allah memakai bahan yang sudah ada lalu menyusunnya berbeda, dan penyusunan ulang itu memberi ruang bagi dua tahap pengakuan yang tidak ada di surah 21.
- Kata yang mereka pakai untuk diri sendiri di ayat ini juga dipakai di 37:30, dan di sana ia dilemparkan pihak yang menyesatkan kepada pihak yang disesatkan. Ini kejadian kedua di dalam kisah yang sama, sebab kata yang mereka pakai di 68:26 juga kata yang di 83:32 dilemparkan kepada pihak lain. Allah dua kali memulangkan kata tuduhan ke mulut yang menuduh dirinya sendiri, dan keduanya terjadi sesudah kebun habis.
- Di 68:28 satu suara dipisahkan dari rombongannya, dan di ayat ini mereka kembali berbicara sebagai satu mulut. Apakah yang memisahkan diri tadi ikut berbicara di sini? Ayatnya tidak menjawab. Allah menyatukan lagi suara mereka tanpa keterangan apa pun, dan yang berubah bukan susunan rombongannya melainkan isi yang keluar dari mulut yang sama seperti sebelumnya.